Di Balik Kolaps-nya MQ TV

Oktober 27, 2008

Baru-baru ini harian Surya memuat headline sangat sangat, TV Aa Gym Bangkrut. Itu ditulis besar-besar dan sangat menyolok. Menurut berita Surya ini, MQTV bangkrut sehingga harus mem-PHK 60 dari 63 karyawannya. Untuk membayar pesangon bagi 60 karyawan itu, manajemen MQTV mencari pinjaman senilai 1 miliar rupiah. (Surya, 21 Oktober 2008).

Saya tertarik mengomentari kasus ini, sebab dulu pernah menjadi orang MQ, kerja di bawah manajemen MQ, sejak awal 2002 sampai pertengahan 2003. Sekitar Juni 2003 saya keluar dari MQ dan memilih usaha mandiri, sampai saat ini. Sebagai mantan orang MQ saya pernah melihat pertumbuhan MQTV, dan disini ada hikmah berharga yang ingin disampaikan.

Setelah keluar dari MQ saya tidak lagi berkunjung atau mampir-mampir kesana. Tetapi kalau kebetulan bertemu teman-teman sekantor dulu, kita tetap saling tegur sapa, ramah-tamah, kadang ngobrol. Pendek kata, masalah keluar dari MQ adalah masalah pribadi saya, sedangkan pertemanan dengan teman-teman tetap dipelihara (meskipun tidak intensif lagi). Padahal berulang-kali teman-teman meminta saya mampir kesana, kalau ada waktu. Terus terang saya segan, sebab khawatir nanti dikira “ingin meminta jatah kerjaan atau proyek”. Nah, kesan seperti itu sangat saya khawatirkan.

Suatu saat, ketika sedang berjalan di kawasan Geger Kalong, saya bertemu teman lama, Mas Hadi namanya. Beliau ini teman baik selama saya di MQ. Beliau sedikit memaksa saya masuk ke warung nasi, dan kami berbincang-bincang disana. Seperti biasa, beliau tanya bagaimana keadaan saya, begitu pula saya juga menanyakan keadaan dia. Lebih penting lagi, “Bagaimana perkembangan MQ sekarang?” tanya saya. Ternyata setelah sekian lama saya keluar, MQ mengalami perkembangan-perkembangan. Mas Hadi sendiri pindah dari Divisi MQ Publikasi menjadi Sekretaris MQ Corporation (perusahaan induk MQ).

Selain, dia juga bercerita bahwa sekarang MQTV bukan lagi production house (PH), tetapi sudah menjadi sebuah stasiun TV mandiri. Mendengar informasi itu saya takjub, sekaligus merasa penuh keheranan. “Lho, sekarang jadi stasiun TV, bukan PH lagi?” Mas Hadi mengiyakan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan