Prinsip Memahami Bid’ah (Kajian Ringkas)

Desember 16, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Perdebatan seputar Sunnah dan bid’ah sudah lama terjadi. Disini ada dua golongan, pihak pertama dan pihak kedua. Pihak pertama, sering menyebut suatu perbuatan seperti peringatan Maulid Nabi, tahlilan, yasinan, bacaan puji-pujian di masjid, tawassul, dll. sebagai perbuatan bid’ah. Alasan pihak pertama ini, “Semua perbuatan itu tidak ada contohnya di zaman Nabi. Perbuatan yang tidak dicontohkan Nabi adalah bid’ah.”

Pihak kedua menolak tuduhan bid’ah itu. Mereka memiliki alasan yang sering dikemukakan, “Pesawat terbang, telepon, televisi, internet, HP, dan lainnya tidak ada di zaman Nabi. Apakah semua itu juga bid’ah? Kalau bid’ah, ya sudah Anda tinggalkan semua produk teknologi itu!”

Pihak kedua ini lalu beralasan dengan ucapan Umar bin Khattab Radhiyyalahu ‘Anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid. Umar pernah mengatakan bahwa shalat tarawih tersebut merupakan ni’mal bid’atu hadzihi (sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini). Dengan riwayat ini mereka membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) dan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Bid’ah yang dilarang menurut mereka, ialah bid’ah dhalalah. “Kalau bid’ah hasanah boleh, malahan baik,” kata mereka.

BID'AH: Tidak Diperintahkan Syariat, Tidak Ada Maslahatnya, Mematikan Sunnah.

Kemudian pihak pertama memberikan alasan baru. Kata mereka, makna kata bid’ah dalam ucapan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu itu adalah makna lughawi (makna bahasa), bukan makna syar’i (makna hukum Syariat). Sehingga ucapan Umar itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan bid’ah.

Tetapi pihak kedua yang dituduh melakukan bid’ah, mereka mengemukakan alasan tambahan, bahwa pembukuan Al Qur’an, penyatuan Qira’ah Sab’ah, istilah-istilah dalam ilmu, penulisan kitab-kitab agama, penerapan sistem administrasi Kekhalifahan Islam, penggajian tentara mujahidin, dll. adalah hal-hal baru. Itu bukan hanya bermakna bahasa, tetapi secara Syariat memang belum ada contoh sebelumnya.

Mereka berdalil, bahwa Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pernah menolak ide pembukuan Al Qur’an yang dilontarkan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Abu Bakar beranggapan pembukuan Al Qur’an itu termasuk bid’ah (tidak ada contohnya di masa Nabi). Begitu juga ketika sebagian Shahabat memutuskan jabatan Khalifah pengganti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu secara musyawarah, hal itu juga tidak sesuai dengan cara Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam saat menunjuk pengganti beliau sebagai Khalifah, yaitu Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu melalui isyarat-isyarat tertentu.

Sampai disini polemiknya semakin rumit dan ruwet. Kalangan yang sudah istiqamah di atas Sunnah menjadi ragu. Sedangkan kalangan yang sudah menjalani amal-amal yang dianggap bid’ah, semakin jauh tenggelam dalam amal-amal mereka. Orang-orang yang mulai belajar ilmu semakin bingung. “Katanya semua bid’ah itu sesat, tapi ada yang bilang bahwa bid’ah itu ada yang baik? Mendirikan universitas, membuat situs internet Islami, membuat majalah, dll. itu termasuk bid’ah atau bukan ya?”

Baca entri selengkapnya »

Iklan