Kerusuhan Ambon = Ongkos Politik!

September 13, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di Ambon terjadi lagi kerusuhan, meskipun tak sedahsyat kerusuhan 19 Januari 1999. Tetapi skalanya lumayan serius. Beberapa warga meninggal, rumah-rumah ada yang dibakar, ratusan orang jadi pengungsi. Tentu saja kita prihatin atas semua ini.

Kerusuhan Ambon terbaru kalau dikaji lebih dalam, sebenarnya HASIL REKAYASA juga. Sama seperti kerusuhan-kerusuhan sosial yang terjadi selama ini, umumnya hasil rekayasa. Hal seperti ini kan merupakan bentuk PENGALIHAN ISU, seperti yang sering kita dengar selama ini.

Alhamdulillah, saat ini sudah lebih jarang terjadi kasus-kasus terorisme, dalam rangka pengalihan isu. Tetapi rupanya, di negeri ini “selalu gak kekurangan bahan” untuk pengalihan isu. Tentu kita masih ingat, bagaimana insiden Ciketing, Kerusuhan Cikeusik, kerusuhan di Kuningan, dll. yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat isu-isu terorisme mulai mereda, isu kerusuhan marak.

Ini kan tidak lepas dari EPISENTRUM POLITIK, yaitu isu-isu seputar korupsi yang saat ini sangat kuat berhembus di Jakarta. Lihat disana, ada Nazarudin, Wisma Atlet SEAGAMES, Andi Nurpati, kericuhan internal KPK, elit-elit Partai Demokrat yang didakwa terlibat korupsi, dll. Semua itu, butuh sarana untuk dialihkan dari perhatian publik.

Ya mungkin yang jadi pertanyaan, mengapa elit-elit politik di Jakarta begitu tega mengorbankan rakyat kecil di bawah, demi melindungi kepentingan politik dan ekonominya? Jawabnya mudah saja. Secara fisik, kita memang berbicara tentang manusia; tetapi secara jiwa, kesadaran, nurani, kepribadian, kita hakikatnya sedang bicara tentang SYAITAN. Inilah yang dikenal sebagai syaitan dari golongan manusia. (Untuk lebih jelasnya, silakan baca artikel berikut: Syaitan Di Sekitar Kita).

Disinilah dilemanya hidup di Indonesia. Kalau kita katakan pentingnya bangsa ini meganut sistem Islami, agar tidak terus terpuruk seperti ini. Seketika kita dituduh radikal, ekstrem, garis keras, bahkan teroris. Tetapi kalau menyerahkan semua ini kepada orang-orang gak genak ini, urusan juga tidak selesai-selesai. Selalu saja mereka menghidangkan kehidupan ruwet di hadapan masyarakat yang sudah keletihan ini.

Harapan kita kepada Allahur Rahmaanur Rahiim, semoga kehidupan kita nanti menjadi lebih baik. Kalau bukan kita, setidaknya kehidupan anak-cucu kita lebih baik. Allahumma amin.

 

AM. Waskito.

(Kosa kata gak genah = tidak beres alias menyimpang).


Cara Licik Mencari Duit!

Maret 19, 2011

Banyak cara mencari duit. Ada yang halal dan ada yang haram. Cara haram pun bermacam-macam. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang terang-terangan, ada yang tersembunyi. Ada yang dilakukan secara kolektif, ada yang sendiri-sendiri. Intinya, mencari duit (get income).

Salah satu modus mencari duit secara licik ialah dengan: Menciptakan ancaman (create a threat). Cara ini banyak digunakan. Tetapi para penggunanya rata-rata pintar. Kalau orang “tidak pintar”, kecil kemungkinan akan memakai cara ini.

Modus operandinya sederhana. Pada suatu tempat disebarkan ancaman-ancaman, dalam bentuk apa saja. Ketika muncul ancaman, orang-orang di tempat itu segera mencari solusi. Nah, pihak yang menciptakan ancaman itu sudah punya solusinya. Maka masyarakat pun berbondong-bondong memakai produk mereka untuk mengatasi ancaman itu.

***

"Kitab Suci-nya" Manusia Berhati Bengis. Na'udzubillah Min Dzalik.

Contoh. Seorang pawang ular menyebarkan ular-ular di suatu kampung. Setelah ular tersebar, penduduk kampung geger dan gelisah. Maka mereka memakai jasa pawang ular itu untuk menangkapi ular.

Contoh lain. Seorang tukang ban menyebarkan paku-paku kecil di sekitar tempat bengkel “tambal ban” miliknya. Setiap motor yang terkena paku-paku itu ban-nya bocor. Maka mereka pun mendatangi bengkel motor itu untuk mendapatkan solusi.

Contoh berikutnya. Seorang kepala preman memerintahkan anak buahnya untuk berbuat onar di suatu pasar. Banyak pedagang merasa takut dan terancam. Lalu kepada preman itu pura-pura datang sebagai pahlawan. “Biarlah kami atasi preman-preman perusuh ini. Mereka hanya biang onar,” kata kepala preman tersebut. Sejak itu, pedagang pasar mau membayar iuran keamanan kepada kepala preman itu.

Contoh lain lagi. Sebuah pabrik racun tikus menyuruh anak buahnya menyebarkan tikus di sawah-sawah. Para petani kecewa, sebab hasil padinya banyak dimakan tikus. Lalu para sales racun tikus datang ke petani-petani itu. “Nah, ini racun tikus yang hebat, Pak. Silakan dicoba. Perusahaan kami sangat mengenal sifat tikus ini.” (Ya, gimana tidak mengenal, wong mereka sendiri yang mengembang-biakkan tikus itu?).

***

Di dunia modern. Bisnis dengan “menciptakan ancaman” juga banyak dipakai. Contoh, perusahaan-perusahaan software aktif membuat virus untuk menyerang pemakai komputer. Virus disebar via internet. Lalu mereka menawarkan program Anti Virus tercanggih untuk mengatasi virus-virus itu. Siapa yang buat, siapa yang mengatasi?

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan vaksin dunia sengaja membuat virus penyakit manusia. Virus itu disebarkan di negara-negara berkembang, misalnya berupa virus Flu Burung atau virus Flu Babi. Maka wabah penyakit pun bermunculan. Tanpa menunggu waktu lama, permintaan vaksin anti virus itu segera berdatangan dari penjuru dunia. “Waktu panen sudah tiba, kawan!” kata salah satu manajer pemasaran vaksin itu.

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan senjata kebingungan. Mereka terus produksi senjata, tetapi permintaan terus merosot. Maka mereka pun mengutus agen-agen tertentu untuk membuat adu-domba di Afrika. Mereka harus memantik konflik di Afrika. Setelah beberapa tahun bekerja, konflik berdarah pun terjadi. Maka mereka pun menawarkan produknya kepada suku-suku Afrika itu. “Ini produk terbaru kami. Pengembangan dari versi AK47 dengan ditambah tenaga nuklir dan efek sinar laser,” celoteh penjual senjata dengan segala bumbunya.

Contoh lain. Lembaga-lembaga keuangan dunia bingung untuk mencari debitor (negara pengutang). Maka dicarilah cara agar negara-negara tertentu mau berhutang kepadanya. Kalau mereka berhutang, jelas pintu-pintu kekayaan terbuka lebar di depan mata. Maka lembaga-lembaga itu pun menerbitkan: HASIL SURVE, INDEKS KEMAJUAN EKONOMI, INDEKS KUALITAS HIDUP, dll. Intinya, melalui indeks-indeks itu, negara-negara berkembang ditekan agar merasa rendah diri, merasa miskin, merasa terbelakang, dll. Setelah perasaan putus-asa itu muncul, barulah lembaga-lembaga itu menawarkan paket pinjaman keuangan.

Licik ya… Tapi nyata… Ya, itulah sebagian tingkah manusia…

***

Lalu ada lagi bisnis lain yang sama modusnya. Ini seputar “bisnis keamanan”. Banyak lembaga/instansi keamanan bermunculan. Baik yang resmi atau swasta. Mereka mencari duit juga. Caranya, dengan memberikan: jasa pengamanan situasi.

Untuk sampai ke tahap PANEN, tentu mereka harus menciptakan masalah dulu. Istilahnya, “menciptakan rasa tidak aman”, atau “menciptakan ketidak-amanan”, atau bisa juga disebut “menciptakan suasana terteror”. Masyarakat harus merasakan suasana penuh ketakutan. Kalau tidak begitu, bisnis tidak akan jalan. Namanya juga jasa pengamanan, kalau masyarakat merasa tenang dan nyaman, jelas tidak ada income.

Misalnya, di sebuah negara XYZ. Disana dibentuk sebuah badan, misalnya saja nama badan itu: Instansi untuk Mengatasi Gangguan Keamanan (disingkat IMGK). Badan IMGK ini mendapat biaya operasional dari Pemerintah negara XYZ. Tetapi dengan syarat, badan itu harus jelas kerjanya. Kalau tidak ada kerjanya, ia akan dibubarkan. Itu otomatis. “Buat apa memberi anggaran ke sebuah badan yang tak ada kerjanya?” kata seorang Menteri Keuangan sambil bersungut-sungut.

Para pemimpin di lembaga IMGK itu putar otak. “Gimana nih caranya, agar badan kite tidak dibubarkan? Kita harus mencari cara agar anggaran terus mengucur. Kita harus menciptakan kondisi yang membuat masyarakat membutuhkan keberadaan kita. Apa ya kira-kira?”

***

Hidup di jaman modern memang tidak mudah. Banyak orang sudah keburu hidup dengan standar biaya tinggi. Mereka tidak bisa hidup dengan duit sedikit. Sekali duit merosot, merosot juga kesenangan mereka. Ya maklum, mereka tidak bisa berharap apa-apa lagi; selain kesenangan dunia ini. Mereka sudah yakin akan masuk NERAKA, karena dosa-dosa perbuatan mereka sudah terlampau amat banyak. Dosa darah, dosa nyawa, dosa kemaluan wanita, dosa kepada anak-isteri, dosa kepada agama, dosa kepada masyarakat, dosa kepada Allah Ta’ala. Banyak, banyak sekali.

Mereka terus menekuni bisnis “ala Mafia”. Panduan hidup mereka, buku Mafia Manajer. “Kadang, bisnis menjadi lebih mudah, dengan sedikit tekanan dan todongan pistol,” begitu filosofi dasarnya.

Orang-orang ini sudah tercebur dalam arus kotornya bisnis, dan kejinya usaha. Mereka tidak bisa keluar darinya. Apa yang bisa mereka lakukan, hanyalah menciptakan ancaman, membuat fitnah, menyebarkan onar, lalu ujungnya memanen income. Kasihan sekali memang!

Ya, namanya juga manusia. Makar manusia bisa bagaimana saja. Tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Kuat. Makar mereka pasti akan digulung, dipatahkan, dan dilipat sampai tuntas. Hanya waktu saja yang kita nantikan. “Innallah laa yukhliful mi’aad” (sesungguhnya Allah itu tidak mengingkari janji-Nya). Orang-orang yang berbinis licik itu, pasti akan menangis, meraung, dan menjerit-jerit seperti lolongan srigala. Amin.

Semoga Allah menetapkan kita selalu istiqamah dalam kebaikan, sampai akhir hayat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.


Syaitan Di Sekitar Kita

Agustus 15, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat penting bagi kita untuk memahami hakikat syaitan dan mengenali sifat-sifatnya. Dalam Al Qur’an syaitan disebut sebagai ‘aduwun mubin (musuh yang nyata). Bagaimana bisa kita waspada terhadap musuh yang nyata, jika kita tidak memahaminya? Sungguh, pemahaman terhadap hakikat syaitan ini akan memberikan maslahat besar dalam kehidupan Muslim.

Selama ini, menurut pandangan umum, yang disebut syaitan adalah hantu (ghost) yang suka menakut-nakuti orang. Atau paling jauh, masyarakat memahami syaitan sebagai jin yang merasuk ke tubuh, lalu membuat orang kesurupan; jin yang membantu tukang sihir, jin yang digunakan para dukun untuk memperkaya diri, melempar tenung, santet, dll. Cakupan syaitan lebih jauh dari sekedar jin durhaka yang banyak menyesatkan manusia. Bahkan ada syaitan yang lebih bahaya dari itu.

PANDANGAN SALAF

Ketika menafsirkan ayat Al Qur’an dalam Surat Al Baqarah ayat 14, “Wa idza khalau ila sya-ya-thi-nihim” (ketika mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka); Abi Malik rahimahullah mengatakan, “Syaitan-syaitan mereka maksudnya pemimpin-pemimpin mereka, pembesar mereka dari kalangan pendeta-pendeta Yahudi, kepala-kepala kaum musyrikin dan munafiqin.” Ibnu Mas’ud Ra dan sebagian Shahabat Nabi Ra mengatakan, “Syaitan-syaitan mereka adalah pemimpin mereka dalam kekufuran.” Ibnu Abbas Ra. mengatakan, “Dari kalangan Yahudi yang menyuruh mereka berdusta dan menyelisihi apa yang datang kepada Nabi Saw.” Demikian dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal. 67.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Dan syaitan itu adalah siapa saja yang keluar dari pandangannya berupa kejahatan.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid III, hal. 230). Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah, “Syaitan adalah apa saja yang durhaka, dan syaitan itu bisa dari golongan manusia dan jin.” (Jilid I, hal. 67). Ibnu Katsir menyimpulkan, “Bagaimanapun yang shahih adalah seperti sebelumnya, yaitu hadits Abu Dzar Ra, bahwa bagi manusia ada syaitan dari kalangan mereka (sesama manusia), dan syaitan adalah setiap sesuatu yang mendurhakainya.”  (Jilid III, hal. 231).

Syaitan tidak hanya sebatas jin, dari kalangan manusia juga ada syaitan. Mereka adalah orang-orang yang durhaka, memusuhi kebenaran, memusuhi risalah Nabi Saw, pemimpin-pemimpin kekufuran dari kalangan kafirin, musyrikin, munafiqin. Semua ini adalah syaitan yang kita diperintahkan berlindung kepada Allah, a’udzubillah minas syaithanir rajiim, jika melihatnya.

Syaitan bukanlah makhluk, tetapi KARAKTER (sifat). Siapa saja yang ada padanya sifat kekufuran, pengingkaran terhadap kebenaran, permusuhan terhadap kebajikan, mendurhakai Syariat Nabi Saw, menzhalimi hak-hak kaum Muslimin; mereka semua adalah syaitan. Bahkan syaitan bisa berupa binatang. Nabi Saw mengatakan, “Anjing berbulu hitam adalah syaitan.” (HR. Muslim).

SYAITAN MANUSIA

Syaitan bisa berupa jin, makhluk ghaib yang tak terlihat mata. Syaitan jenis ini bisa masuk ke dalam darah manusia, bisa membuat orang lalai mengalami kesurupan, bisa disuruh-suruh oleh tukang sihir untuk mencelakai manusia, bisa menakut-nakuti orang lemah iman, dll. Tetapi syaitan juga bisa berwujud: Pejabat birokrasi, pemimpin partai politik, bankir, wartawan media, presenter TV, pakar politik, pengacara, kepala polisi, anggota satuan khusus, koruptor, pemain bisnis, pelaku kriminal, preman, artis, selebritis, penceramah, penipu berkedok ustadz, dll.

Warning: Syaitan Jenis Manusia Lebih Berbahaya!!!

Syaitan dari jenis jin, mereka melihat kita, tetapi kita tak mampu melihat mereka. Sedangkan syaitan dari jenis manusia, mereka bisa melihat kita, sementara kita juga tak mampu melihat isi hati mereka. Tubuh mereka seperti manusia biasa, tetapi hatinya syaitan. Syaitan dari jenis manusia ini justru sangat berbahaya. Mereka disifati oleh Nabi Saw dengan ucapan, “Qulubuhum syaithan fii jusmanil insi” (hati-hati mereka syaitan, dalam tubuh manusia).

Kalau ada manusia yang mengatakan, “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an,” tidak diragukan lagi bahwa orang itu adalah syaitan. Kalau kita melihat wajahnya, atau mendengar namanya disebutkan, lebih baik kalau mengucapkan, a’udzubillah minas syaithanir rajiim.

Begitu pula kalau ada pejabat birokrasi atau satuan militer yang terang-terangan memusuhi Syariat Islam, membenci Syariat Islam, memusuhi sistem Islam, memerangi perjuangan menegakkan Islam, memusuhi para aktivis pembela Islam; tidak diragukan lagi, mereka adalah syaitan dan kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatannya. Bila kita tak mampu menghadang kezhaliman mereka, maka doakan agar mereka sadar dan bertaubat. Jika mereka durhaka, dan tidak mau bertaubat, semoga mereka dikutuk oleh Allah, dihancurkan bisnisnya, dirusak kehormatannya, dicerai-beraikan harta-bendanya, serta dirusak kehidupan anak-isteri dan orangtuanya. Amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Begitu pula, kalau ada yang berpendapat, Syariat Islam tidak relevan lagi, Syariat Islam hanya cocok di jaman batu di Arab, Nabi Muhammad tidak perlu dibela, homoseksual halal, Al Qur’an harus diedit, hadits Nabi harus dibuang, Islam sama benarnya dengan agama lain, orang non Muslim bisa masuk syurga asalkan baik hatinya, dll. Tidak diragukan lagi, semua itu adalah syaitan. Kalau mampu, hentikan kezhaliman mereka; kalau tidak, bantah kesesatan-kesesatan mereka; kalau tidak mampu juga, doakan kebinasaan bagi mereka.

KARAKTER SYAITAN

Ada yang berpendapat, bahwa syaitan adalah siapa saja yang mengikuti jejak Iblis laknatullah ‘alaih. Pandangan seperti ini tidak jauh dari kebenaran. Pada hakikatnya pemimpin segala kejahatan adalah Iblis. Maka siapa saja yang mengikuti jejaknya adalah syaitan. Ibnu Jarir At Thabari mengatakan, “Syaitan adalah apa saja yang durhaka, dan syaitan itu bisa dari golongan manusia dan jin.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid I, hal. 67). Para pengikut Iblis jelas termasuk kaum durhaka ini, bahkan mereka adalah puncak-puncaknya kedurhakaan. Iblis sendiri missi hidupnya hanya satu, yaitu mengajak manusia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Lalu bagaimana sifat-sifat syaitan itu?

[PERTAMA], syaitan itu percaya kepada Allah, namun mereka mendurhakai-Nya. Sifat Iblis seperti itu. Iblis percaya kepada Allah, namun mendurhakai-Nya. Ketika terjadi Perang Badar, syaitan mendorong kaum musyrikin berperang melawan Rasulullah dan para Shahabat. Tetapi setelah kaum musyrikin masuk dalam peperangan, syaitan lari meninggalkan mereka. Syaitan itu mengatakan, “Aku berlepas diri dari kalian (orang-orang musyrikin), aku melihat apa yang kalian tidak melihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (Al Anfaal: 48).

Sangat salah kalau Anda menyangka bahwa syaitan itu tidak tahu tentang Allah. Mereka tahu, bahkan mungkin mereka bergelar profesor dalam studi Islam. Namun sayangnya, pengetahuan itu tidak membuat mereka beriman dan beramal shalih. Mereka tahu dan percaya, tetapi durhaka kepada Allah Ta’ala. Maka jangan terkecoh jika ada orang yang fasih mengucapkan, “Assalamu’alaikum, alhamdulillah, insya Allah, masya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tetapi perilakunya memusuhi Syariat Islam.

[KEDUA], syaitan itu sudah putus-asa dari mendapat rahmat Allah. Iblis juga demikian, ia putus-asa dari mendapat rahmat Allah. Maksudnya, di mata Iblis dan syaitan, mereka sudah sangat yakin bahwa dirinya akan masuk neraka, dan tak ada harapan masuk syurga. “Diri kami kotor, penuh dosa, kami sudah terlalu banyak zhalim ke manusia. Kami tak ada harapan masuk syurga, pintu-pintu taubat sudah tertutup, kami sudah pasti akan masuk neraka,” demikian sifat putus-asa para syaitan itu.

Iblis berkata kepada Allah, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka (anak-cucu Adam As) dari jalan-Mu yang lurus.” (Al A’raaf: 16). Ayat ini menggambarkan puncak keputus-asaan Iblis terhadap rahmat Allah. Setelah berbuat salah, tidak mau diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis bukan bertaubat, malah menyombongkan diri.

Dalam hadits dijelaskan, jika seorang Muslim membaca Al Qur’an, lalu menjumpai Ayat Sajadah, lalu dirinya bersujud, seketika itu syaitan akan menyingkir sambil menangis. Syaitan berkata, “Celakalah dia (syaitan mengutuk orang yang melakukan sujud)! Dia diperintahkan sujud, lalu mau bersujud, sehingga dia mendapatkan syurga. Sedangkan aku diperintahkan sujud, namun aku durhaka, maka bagiku siksa neraka.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

Banyak pejabat, kepala polisi, hakim, jaksa, pengusaha, politisi, pakar politik, selebritis, penipu berkedok ulama, dll. mereka merasa berlumuran dosa, penuh kezhaliman, penuh kejahatan. Begitu putus-asanya, sampai mereka tak lagi merasa takut dengan neraka, dan tak berharap akan masuk syurga. “Dosa atau neraka, biar kami tanggung sendiri,” begitu ucapan yang sering mereka ucapkan.

[KETIGA], syaitan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak masuk neraka. Para syaitan sadar dirinya akan masuk neraka, dan mereka tahu siksa neraka amat sangat berat. Maka mereka tak mau masuk neraka sendirian. “Enak saja, mereka mau bebas. Aku disini tersesat, mereka mau selamat. Tidak bisa! Kita harus sama-sama sesat, sama-sama masuk neraka. Aku tidak mau masuk neraka sendirian. Kalau aku rusak, mereka juga harus rusak,” begitu klaim para syaitan itu. Maka Anda akan menjumpai para syaitan ini terus bergerak mencari kawan. Para pemabuk mencari pemabuk baru, kaum pezina akan menarik pezina-pezina baru, penggila narkoba mencari korban narkoba lain, polisi jahat akan menyesatkan polisi-polisi baru, pejabat korup akan mencetak koruptor-koruptor baru, wartawan amoral akan mencari kader wartawan sejenis, selebritis bejat akan mencari kawan dalam kebejatan, guru-guru kesesatan akan mencari murid-murid baru, dan seterusnya.

Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh (bagi kalian). Bahwasanya syaitan itu mengajak bala tentaranya (para pengikutnya) agar mereka menjadi penghuni neraka sa’ir.” (Faathir: 6).

Banyak orang-orang baik di Indonesia ini menjadi rusak karena dijerumuskan oleh syaitan-syaitan itu. Lalu orang-orang baik yang telah tersesat tersebut menjerumuskan orang-orang lain, agar sama-sama menjadi syaitan seperti diri mereka. Orang-orang seperti ini sering mengucapkan kata-kata berbisa, misalnya, “Ayolah coba makan babi. Kalau sedikit gak apa-apa kok. Namanya juga anak muda, boleh main-main seks. Itu tandanya mereka normal. Korupsi itu dilarang, kalau ketahuan. Kalau tidak ketahuan, itu halal. Yang haram saja sudah didapat, apalagi yang halal? Bukan laki-laki sejati, kalau tidak pernah memakai PSK. Coba narkoba ini! Gratis kok. Nanti kalau suka, silakan beli.” Kata-kata seperti ini sangat keji dan rusak. Tetapi mudah menyesatkan manusia lemah akal.

[KEEMPAT], syaitan banyak sekali berbohong mendustai manusia. Berbohong adalah karakter dasar Iblis. Iblis pernah menipu Adam As dalam soal pohon khuldi, sehingga Adam dan isterinya terusir dari neraka. Iblis membisikkan kepada Adam, “Hai Adam, maukah kamu aku beritahu pohon khuldi dan kerajaan yang tak akan binasa?” (Thahaa: 120). Iblis menipu Adam dengan mengatakan, kalau Adam memakan buah dari pohon itu, dia akan kekal di syurga seperti para Malaikat.

Para syaitan banyak sekali menipu manusia, melalui perkataan-perkataan menipu. Mereka bicara di depan TV, di hadapan wartawan-wartawan, di hadapan jamaah pengajian, di hadapan rapat terbuka, di forum-forum rapat partai, di hadapan masyarakat luas. Mereka berbicara sambil memutar-mutar lidahnya, menggerakkan kepala, dan tangannya. Mereka berbicara tentang keadilan, penegakan hukum, pemerintahan bersih, bebas korupsi, kesejahteraan, kemajuan, persatuan bangsa, dll. Tetapi kenyataan yang ada sangat jauh dari harapan. Kata-kata mereka ke Barat, sementara kenyataan yang ada lari ke Timur. Tidak ada kata-kata yang bisa dipegang, selain kebohongan belaka.

Hebatnya lagi, mereka sering sekali mengucapkan kata, “Alhamdulillah, assalamu’alaikum, insya Allah, rahmatan lil ‘alamiin, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dll.” Seolah diri mereka beriman, santri, komitmen dengan Islam. Padahal semua itu hanya kedok belaka.

[KELIMA], para syaitan mengisi hidupnya dengan membuat kerusakan sebanyak-banyaknya di muka bumi. Sebagai makhluk yang dikutuk, tidak ada pilihan bagi syaitan, selain membuat kerusakan sebanyak-banyaknya, selagi diri mereka masih punya kemampuan merusak.

Dalam Al Qur’an disebutkan komitmen syaitan untuk merusak kehidupan manusia, “Aku benar-benar akan menyesatkan mereka (manusia), aku akan bangkitkan angan-angan kosong mereka, aku akan suruh mereka (berbuat kejahatan), maka mereka pun memotong telinga-telinga ternak, dan aku akan perintahkan mereka mengubah-ubah ciptaan Allah. Maka siapa yang menjadikan syaitan sebagai wali dengan meninggalkan Allah, maka dia telah rugi serugi-ruginya.” (An Nisaa’: 119).

Perbuatan rusak kaum syaitan ini sangat banyak. Mereka menghalalkan ribawi, menghalalkan wanita membuka aurat, menghalalkan pornografi di media-media, menghalalkan prostitusi dan minuman keras, menghalalkan pembunuhan atas pemuda-pemuda Islam yang istiqamah, menghalalkan fitnah atas ustadz dan ulama, menghalalkan aliran sesat, menghalalkan pemiskinan terhadap rakyat lemah, menghalalkan korupsi dan skandal, menghalalkan kebohongan publik, dll. Mereka juga mengharamkan Syariat Islam, mengharamkan pembelaan terhadap Muslim yang teraniaya, mengharamkan nikah dini, mengharamkan nikah sirri, mengharamkan poligami, mengharamkan dakwah, mengharamkan majlis taklim, mengharamkan Jihad Fi Sabilillah, dan seterusnya.  Kaum syaitan ini mengisi kehidupan dengan kemungkaran, serta membenci kebajikan.

Dan hebatnya, di antara kaum Muslimin ada yang mengukuhkan mereka sebagai ulil amri, lalu memberikan perlakuan-perlakuan istimewa kepadanya. Pemimpin seperti itu ditaati, didoakan, dihormati, dipuji, dilarang dicela, dilarang di-ghibahi, dst. Bila diingatkan, mereka tidak terima, dan menuduh orang-orang yang mengingatkan sebagai teroris khawarij. Padahal perbuatan durhaka para pemimpin itu sudah sangat nyata. Hal-hal yang baik diharamkan, sedangkan hal-hal yang buruk malah dihalalkan. Semua ini sudah cukup disebut sebagai kufrun bawahan.

Dalam Surat An Nisaa’ ayat 119 di atas disebutkan, “Wa man yatta-khi-dzis syai-thana wali-yan min dunillah, faqad kha-sira khus-ranan mubinan” (dan siapa yang menjadikan syaitan sebagai wali dengan meninggalkan Allah, maka benar-benar dia rugi serugi-ruginya). Semoga mereka segera bertaubat dari kesesatan, rujuk kepada kebenaran, dan bersama berjuang membela Islam. Allahumma amin.

Posisi ulil amri sangat jelas dalam Islam, yaitu siapa saja yang menunaikan kepemimpinan politik dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kepemimpinan itu didedikasikan untuk menjaga: agama, jiwa, harta-benda, akal, dan keturunan kaum Muslimin. Jika ada kepemimpinan yang merusak ke-5 urusan Ummat itu, jelas ia bukan ulil amri seperti yang diinginkan Islam. Ia adalah imarah syaithaniyyah.

PENUTUP

Wahai kaum Muslimin, lihatlah kehidupan di sekitarmu! Apa yang Anda saksikan? Apakah disana ada keadilan, kemakmuran, pemerataan, ketenangan bathin, perlindungan hidup, martabat yang mulia, keimanan yang tumbuh subur, serta kebajikan yang luas? Demi Allah, kita sama-sama menyaksikan bahwa kehidupan bangsa kita jauh dari harapan-harapan itu.

Beberapa tahun lalu, sebuah lembaga internasional menyebut Indonesia masuk kategori failed nation (negara gagal). Disini korupsi subur, pelayanan publik buruk, transparansi buruk, taraf pendidikan warganya rendah, kualitas gizi buruk, dst. Hingga orang non Muslim pun mengakui, bahwa kehidupan bangsa Indonesia sangat buruk. Peringkat korupsi di negeri ini selalu top. Bahkan pelanggaran HAM juga top, terutama terkait pembunuhan pemuda-pemuda Muslim yang dituduh terlibat terorisme. Mereka dibunuh dimana saja, tanpa mekanisme pengadilan.

Jika para pemimpin baik, shalih, dan lurus, tidak mungkin akan tercipta kehidupan ancur-ancuran seperti ini. Jelas tidak mungkin! Islam adalah, rahmatan lil ‘alamiin. Jika pemimpin-pemimpin shalih, ‘alim, dan taqwa, pasti akan tersebar barakah yang luas dalam kehidupan masyarakat. Hanya saja karena kebanyakan pemimpin dan elit di negeri ini berkarakter syaitan, maka inilah yang terjadi dan kita saksikan, kehidupan penuh angkara murka, rusak lahir-batin, agama dan dunia.

Kini Anda telah paham kenyataan ini. Janganlah lagi tertipu dan tersesatkan. Kenali sifat-sifat syaitan, lalu jauhilah mereka. Berkumpullah dengan orang-orang yang shalih, binalah kekuatan, dan perjuangkan masa depan Islam. Jangan ragu untuk bersikap tegas atau berlepas diri dari para syaitan itu. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Pemimpin kita.

Allah menjadi Wali bagi orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dan orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah para thaghut, mereka mengeluarkan orang-orang kafir itu dari cahaya menuju kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 257).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.