Nikah Beda Jamaah? Gimana Ya?

Februari 22, 2009

Simak dialog berikut:

A: Tau ngga? semangka sama durian ngga akan bisa dikawinin tau. Klo dipaksain juga ngga akan berbuah.
B: Ya iya lah! beda spesies gitu!
A: Ada satu faktor lagi, bukan hanya karena beda spesies. Mereka (si durian dan si semangka)  ngga disetujuin sama orang tuanya! Hahahaha…!
B: Yaelah! kirain kita lagi ngomongin dalam konteks ilmiah, lagi bercanda toh! Hahahaha…!


Percakapan di atas sebenarnya adalah percakapan saya dengan seorang teman sefakultas. Intinya waktu itu kita sedang bincang-bincang ringan soal fenomena pernikahan para aktivis Islam yang berafiliasi di dua Harakah Islamiyah (Pergerakan Islam) yang berbeda, dan dialog di atas sebagai penutupnya.

Disini ada dua kasus yang kita bicarakan. Kasus pertama, seorang ikhwan salafy yang menikahi seorang akhwat Tarbiyah/PKS. Awalnya karena mereka memang sudah saling cinta, kemudian mereka pun meneruskan ke tahap yang lebih serius alias pernikahan. Setelah mereka nikah selangkah demi selangkah dengan rela si akhwat mengikuti suaminya sebagai seorang yang notabene Salafy. Kasus kedua, seorang akhwat salafy yang bercadar dinikahi oleh seorang aktivis ikhwan yang berafiliasi di Hizbut Tahrir, proses “penggebetannya” pun tidak mudah, bagaimana dia harus menghadapi ayah si akhwat yang juga Salafy tulen penuh dengan perjuangan. Akhirnya jadi deh nikah, tapi sayangnya si ikhwan ini menyuruh si akhwat untuk tidak lagi memakai cadarnya. Namun saya yakin kasus “kawin silang” tersebut tidak hanya terjadi pada dua kasus itu saja, namun terjadi banyak kasus di beberapa tempat. Sampai-sampai dalam forum MyQuran.com saya sempat baca bagaimana teman-teman Tarbiyah/PKS ribut-ribut gara-gara banyak akhwat Tarbiyah/PKS “diculikin” sama ikhwan-ikhwan Salafy.

Beberapa Fenomena

Saking penasarannya dengan fenomena tersebut saya pernah menanyakan langsung pada seorang akhwat Tarbiyah/PKS via SMS, “Menurut kamu bagaimana tentang penikahan dau orang ikhwan akhwat yang beda harakah?” Dengan logika yang cukup bagus dan simpel dia pun menjawab, “Wah, bakal sulit tuh. Ibaratnya seperti sebuah perahu yang dinaiki dua orang, terus masing-masing ingin menuju tujuannya masing-masing, kalo dipaksain lama-lama perahu itu kan bisa karam.”

Di lain hari akhwat yang saya tanya ini pun bercerita bahwa sepupunya yang juga seorang salafy pernah bertanya hal yang serupa dengan saya, tentu saja pendapat sepupunya yang salafy tersebut berpendapat dengan gaya khas keilmiahan salafy-nya, “Ini Bid’ah yang diada-adakan!” Artinya sepupunya tersebut menganggap bahwa pernikahan beda harakah itu sah-sah aja, wong sama-sama Muslim kan. Justru kalau dipersulit hanya karena beda harakah itu bid’ah yang diada-adakan. Namun di sisi lain, akhwat yang saya tanya itu lebih memandang realistis, bahwa hampir tidak mungkin disatukan, masing-masing punya pemikiran dimana mereka punya prinsip yang dipegang teguh oleh masing-masing, tentunya akan banyak benturan, dan inilah penyebab dari karamnya bahtera rumah tangga.

Ada lagi pendapat dari sahabat saya yang sekarang sudah menikah (dengan akhwat yang harakahnya sama tentunya), mungkin pendapat ini adalah pertengahan antara dua pendapat yang barusan saya sebutkan tentang kasus nikah beda harakah. Sahabat saya ini berpendapat, “Sebenarnya sah-sah aja. Kan ngga ada dalil yang melarang. Ditinjau dari segi fiqh boleh dan ngga bermasalah. Boleh, kenapa ngga? Tapi saya lebih setuju kalau yang dinikahinya seharakah dengan dia, tujuannya biar lebih menyatukan kekuatan da’wah harakahnya. Kalo nikah dengan yang beda harakah tentunya kemungkinan besar salah satu di antaranya (baik suami atau istri) akan berpindah afiliasi jama’ah/harakah, dan bagi harakah yang ditinggalnya maka akan dirugikan karena berkurangnya SDM yang dimiliki harakah tersebut. Apalagi kalo SDM harakah tersebut terus-tersuan ‘diculik’, bisa tekor SDM tuh! Beda kalo nikahnya dengan harakah yang sama, kan lebih ‘mempersatukan kekuatan’ da’wah, bisa lebih sinergi dan ngga akan ada benturan pemahaman.”

Fenomena semacam ini bila kita tanyakan kepada seorang ulama yang faqih, sepertinya fatwa untuk masalah ini tidak mudah, Wallahu a’lam. Apalagi kalau saya ditanya masalah seperti itu ditinjau dari segi fiqh halal, haram, makruh, atau mubah. Tentunya untuk saat ini saya hanya bisa angkat tangan. Tapi saya coba untuk mengkaji fenomena ini, karena hal ini cukup menarik. Tidak hanya sakedar menarik, tapi urgen. Pasalnya, seperti kita ketahui kebangkitan Islam saat ini boleh dibilang ada di tangan-tangan Harakah Islamiyah yang punya niat ikhlas memperjuangkan Islam sampai ia kembali berkuasa atas seluruh dunia dan meninggikan Kalimatullah, dengan metode dan manhaj Nubuwwah. Nah, apa jadinya beberapa harakah dimana kebangkitan Islam menaruh harapan pada mereka, namun kondisinya tidak stabil gara-gara percekcokan antar harakah. Percekcokan itu salah satu faktornya adalah kasus saling “culik-menculik” dengan jalan pernikahan.

Misal, harakah “Jamiil Jiddan” sering sewot dan marah-marah gara-gara akhwatnya “diculikin” sama harakah “Jayyid Jiddan”. Lalu para pemimpin harakah “Jamiil Jiddan” ngomong ke orang-orang harakah “Jayyid Jiddan”: “Woi, ikhwan-ikhwan Jayyid Jiddan! Antum ini kehabisan stok akhwat ya? Masa nikahin akhwat kita terus!? stok SDM akhwat kita udah mulai berkurang nih gara-gara antum culikin satu-satu! Kita tekor!” Ironis memang, bila memang ada kejadian seperti itu, mengisyaratkan sebuah tafarruq (perpecahan) antar Ummat Islam yang semestinya menjalin persatuan walapun berbeda harakah atau jama’ah. Inilah sisi urgennya sesuatu yang mungkin selama ini dianggap sepele.

Pernah suatu hari, tepatnya tanggal 14 November 2009 hari Jum’at sekitar pukul 16.00 bertepatan saya habis menyelesaikan UTS mata kuliah Psikologi Abnormal. Saat itu saya ditelpon oleh seorang akhwat, kebetulan akhwat ini seorang aktivis dari sebuah harakah Islamiyah yang cukup ternama. Ceritanya si akhwat ini “ngelabrak” saya tentang ulah ikhwan-ikhwan salafy yang kerap kali “menculik” akhwat harakahnya. Maklum, karena oleh akhwat ini saya dianggap sebagai person yang bisa mewakili komunitas salafy karena dia pernah tahu literatur-literatur yang sering saya baca dan style saya yang berjenggot walau masih sedikit plus celana ngatung. Saya sendiri bingung harus menjawab apa, karena saya sendiri belum tahu apa-apa tentang metode yang digunakan kawan-kawan salafy untuk menuju jenjang pernikahan. Kalau di komunitas Tarbiyah/PKS jelas dengan metode saling tukar biodata lewat murabbinya masing-masing. Paling banter yang saya tahu kawan-kawan di komunitas salafy ini kalau sudah berniat menikah menggunakan metode “jantan”, langsung datang ke orangtua si akhwat.


Baca entri selengkapnya »