Prabowo dan Nelson Mandela

Agustus 29, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat relevan kita membandingkan sosok Prabowo Subianto dengan pahlawan modern asal Afrika Utara, Nelson Mandela. Kedua sosok mewakili missi perjuangan yang luhur, di negara masing-masing. Jika Nelson Mandela memperjuangkan penghapusan politik APHARTEID (rasialisme yang menempatkan kaum kulit putih lebih mulia dari kaum kulit hitam); maka Prabowo membawa missi memperjuangkan kedaulatan hakiki bangsa Indonesia atas pihak-pihak lain yang terus mengeksploitasi kehidupan di negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Missi luhur perjuangan Prabowo terangkum dalam kalimat: Memperjuangkan kehidupan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kalau bangsa Indonesia masih menghargai Proklamasi 17 Agustus; masih menghargai Pembukaan UUD 1945, masih menghargai Pancasila, masih menghargai status sebagai BANGSA MERDEKA; ya harus mendukung perjuangan itu. Bagaimana kita mengaku diri sebagai bangsa merdeka, tapi tidak memiliki kedaulatan mengatur kehidupan?

Jadi perjuangan Prabowo ini -setahu kami- tidak bercorak perjuangan politik praktis; tetapi politik kebangsaan. Sama luhurnya dengan perjuangan para pahlawan bangsa di masa lalu yang berkorban habis-habisan meraih kemerdekaan. Kalau perjuangan Prabowo itu dihinakan atau dilecehkan; lalu apa artinya kita memiliki HARI PAHLAWAN setiap 10 November? Apa artinya kita memelihara taman-taman makam pahlawan?

Demi missi mulianya, Nelson Mandela harus berkorban dipenjara hingga 27 tahun. Dia dipenjara saat masih muda; ketika dibebaskan, dia sudah tua, lebih kurus, dan beruban. Itulah sifat komitmen seorang pahlawan Afrika Selatan, rela menderita demi missi kemuliaan. Prabowo pun sudah menerima segala kepahitan, jadi korban kezhaliman, hingga urusan rumah tangga menjadi taruhan. Itulah harga untuk sebuah missi luhur yang terus diperjuangkan.

Hebatnya, Nelson Mandela tidak menyimpan dendam kepada musuh-musuhnya. Setelah sekali dia memimpin Afrika Selatan, setelah itu tidak mencalonkan lagi. Dia tulus berjuang untuk maslahat rakyatnya. Begitu juga perjuangan menuju kemandirian bangsa, harus terus dinyalakan sampai berhasil mencapai tujuan; dengan tetap menjaga ketulusan.

Harus ada di negara kita ini para PATRIOT yang berjuang ikhlas, bukan untuk maksud apapun, selain demi KEMASLAHATAN kehidupan bangsa kita. Biarpun dilecehkan, dihina, mendapat tekanan-tekanan; missi seperti itu harus terus dilakukan. Bila diniatkan ibadah Lillahi Ta’ala, insya Allah sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Dalam riwayat dikatakan: “Wa man qutila duna maalihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna dinihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna ahlihi, wa huwa syahid” (siapa yang mati karena membela hartanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela agamanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela keluarganya, dia mati syahid).

Perjuangan demi kemaslahatan bangsa ini tidak dibatasi oleh ruang-ruang keterbatasan politik. Ia menjadi seruan yang bersifat universal, diakui oleh semua fitrah insani; sebagaimana layaknya kenyataan yang sedang dihadapi para pejuang Palestina saat ini. Maka kekalahan dalam pemilu, dengan cara apapun, tidak boleh menghentikan usaha-usaha untuk mencapai kemandirian, kedaulatan, dan kemuliaan hidup bangsa ini.

Jangan sekedar memandang Prabowo sebatas kontestan politik; namun pandanglah ia sebagai simbolisasi perjuangan universal bangsa Indonesia. Pilpres boleh silih-berganti berapa kali pun; tapi missi perjuangan jangan berubah dan melenceng.

Cukuplah janji Allah sebagai spirit yang terus menggelorakan semangat juang; “Innallaha yuhibbul muhsinin” (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak berbuat kebajikan).

Terus berjuang wahai saudaraku! Wallahu Waliyut taufiq.

(Mine).

Iklan

Pembunuhan Tokoh Hamas di Dubai

Maret 24, 2010

Beberapa waktu seorang tokoh militer Hamas, Mahmud Mabhuh, dibunuh agen-agen Mossad di Dubai. Pembunuhan ini dilakukan dengan operasi intelijen yang rapi dan sistematik. Termasuk dengan modus pemalsuan paspor dan pengecohan aparat keamanan Dubai.

Ada sebuah hikmah besar yang ingin disampaikan disini. Bukan soal kecanggihan operasi Mossad, bukan soal teledornya aparat keamanan di Dubai, bukan soal missi yang dibawa tokoh Hamas itu, dll. Intinya, jauh dari pembicaraan publik dunia selama ini seputar kematian Mahmud Mabhuh tersebut. Ini kaitannya dengan kita sendiri, sebagai bangsa Indonesia.

Coba perhatikan dengan cermat, secermat-cermatnya! Banyak tokoh-tokoh Hamas (perlawanan Islam) yang dibunuh oleh tentara Israel atau Mosad. Baik dibunuh karena tembakan bom/roket, ditembak mati, dihukum dipenjara, diracun, dan sebagainya. Kita masih ingat almarhum Yahya Ayasy, Imad Aql, Abdul Aziz Rantisi, Syaikh Ahmad Yasin, Fathi Syaqaqi, Syuhada ‘Ein Hilweh, dll. Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al pernah akan dibunuh dengan suntikan beracun di Yordania, tetapi operasi Mosad ini gagal total. Bahkan agen Mosad berhasil ditangkap, lalu dibarter dengan penawar racun yang telah merasuk ke tubuh Misy’al.

Coba perhatikan, rata-rata target yang dibunuh Israel (Mosad) adalah tokoh-tokoh militer, pakar senjata, ahli perang, komandan pasukan, dan lain-lain. Rata-rata target selalu memiliki koneksi sangat kuat dengan dunia militer.

Adapun kalau tokoh-tokoh yang tidak berhubungan dengan militer, atau Israel tidak menemukan indikasi keterlibatan orang itu dalam operasi-operasi militer, biarpun tokoh tersebut sekritis apapun kepada Israel, mereka rata-rata aman. Israel hanya membidik target-target potensial yang berhubungan dengan militer. Adapun kalau kalangan kitikus yang “ngomong doang” tidak terlalu dihiraukan oleh Israel.

Oleh karena itu, Anda pasti merasa heran dengan melihat kritisnya tokoh-tokoh di Indonesia dalam mengecam perilaku brutal Zionis Israel. Tetapi mereka lempeng-lempeng saja, tidak ada resiko. Begitu pula, segala macam studi kritis tentang Freemasonry, akhir-akhir ini seperti membanjir, baik lewat buku, majalah, atau internet. Tetapi kalangan Freemasonry sendiri seperti tidak peduli. Mereka tidak cemas. Seperti sebuah ungkapan, everything must go on.

Mungkin pertanyaannya, mengapa hanya bidang MILITER yang menjadi perhatian? Mengapa bidang-bidang lain kurang menjadi perhatian? Bahkan, andai Israel menjumpai seorang teknolog Palestina, selama teknolog itu tidak berhubungan dengan senjata, atau tidak difungsikan untuk senjata, mereka tidak terlalu peduli. Contoh, seperti teknologi bedah, sipil bangunan, pertanian, transportasi, dll. yang tidak digunakan untuk senjata; para ahli Palestina di bidang itu tidak terlalu dihiraukan.

Intinya, keahlian seputar militer, strategi perang, senjata, dll. termasuk dalam kategori perkara “multiple effect”. Ia seperti sebuah pintu yang membuka berbagai pintu-pintu lainnya. Kalau Hamas memiliki kekuatan senjata, memiliki pasukan dengan disiplin prajurit tempur, apalagi sampai memiliki satuan intelijen sendiri, itu sama saja dengan kenyataan bahwa Hamas memiliki kekuasaan politik dan wilayah. Persis seperti Hizbullah di Libanon yang menguasai senjata, amunisi, dan memiliki banyak prajurit. Dengan kekuatan ini, sulit bagi Israel untuk merebut kembali Libanon Selatan.

Dalam konteks ini, dapat dimengerti jika negara-negara Barat sangat takut, ketika ada negara Muslim yang ingin membuat instalasi nuklir, seperti Irak, Pakistan, Libya, Indonesia, dan lainnya. Meskipun dalihnya, nuklir untuk perdamaian, bukan untuk senjata. Selain instalasi nuklir itu bisa dipakai untuk “menakut-nakuti” negara lain, ia juga berpotensi mendukung pengembangan senjata secara umum.

Kalau membaca sejarah Indonesia, ada satu fakta yang sangat sering dilupakan. Sejarawan Taufik Abdullah, Anhar Gongong, Asvi Warman, dll. dalam analisis-analisisnya pasti sering melupakan fakta ini. Ia adalah fakta tentang PETA (Pembela Tanah Air) dan pasukan-pasukan cadangan yang dibentuk Jepang seperti Heiho, Keybodan, Seinendan, dll. PETA dibentuk oleh Jepang, sebagai pasukan cadangan yang direkrut dari pemuda-pemuda pribumi, dalam rangka membela kepentingan militer Jepang. Pada mulanya seperti itu. Para pemuda pribumi disana diajarkan senam militer, baris-berbaris, kedisiplinan, menguasai senjata, kedisiplinan, dll. Maksud Jepang mempersiapkan pasukan untuk membela missi kolonialismenya menghadapi Perang Dunia melawan Blok Sekutu. Tetapi pasukan itu kemudian berbalik menjadi kekuatan militer yang menuntut Kemerdekaan.

Andaikan rakyat Indonesia waktu itu bergantung kepada tokoh-tokoh nasional hasil didikan Belanda, yang pintar otaknya, tapi tidak memiliki keahlian militer, dijamin bangsa ini tidak akan merdeka-merdeka. Untuk membedakannya sangat mudah. Lihatlah sosok Ir. Soekarno dan Jendral Soedirman. Keduanya mewakili pribadi yang sangat berbeda. Pak Dirman dilahirkan dari kultur tentara rakyat (militer), sementara Soekarno dari kalangan priyayi yang sangat terpengaruh pemikiran-pemikiran Barat (Belanda). Pak Dirman merupakan sosok anti perdamaian dengan Belanda, sedang Soekarno sangat senang berdamai, meskipun terus-menerus ditipu oleh trik-trik diplomasi Belanda. Perundingan KMB yang sebenarnya melecehkan Indonesia itu, juga merupakan hasil “ijtihad politik” Soekarno.

Bangsa Indonesia kalau mengikuti gaya pemikiran tokoh-tokoh didikan Belanda seperti Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Ki Hajar Dewantoro, Setiabudhi, dan sejenisnya, pasti tidak akan memiliki kebanggaan sebagai bangsa berdaulat penuh. Hanya karena kita memiliki tokoh-tokoh berlatar-belakang militer (combatan), seperti Pak Dirman, Bung Tomo, eks PETA, Hizbullah, Fi Sabilillah, dll. maka kita diberi jalan menuju kemerdekaan. Ini fakta yang sering dilupakan. Andaikan Jepang tidak membentuk pasukan cadangan, lalu mendidik pemuda-pemuda Indonesia dengan segala keahlian militer, entah kapan bangsa kita akan merdeka. (Dan uniknya, kita tidak perlu terlalu berterimakasih kepada Jepang, sebab mereka sendiri memiliki tujuan politik di balik pelatihan-pelatihan militer yang mereka lakukan, yaitu untuk mengekalkan dominasi kolonialisnya di Indonesia).

Bangsa manapun yang kehilangan nyali militernya, dia akan lemah. Maka itu di negara-negara maju selalu ada instrumen WAJIB MILITER. Seperti di Indonesia, ketika wajib militer tidak ada, ketika urusan pertahanan murni diserahkan kepada TNI, lalu rakyat dibombardir budaya hedonistik; maka penjaga-penjaga kedaulatan negeri ini menjadi semakin lemah. Siapa yang diandalkan bangsa Indonesia sekarang? Paling hanya TNI. Sementara TNI sendiri saat ini berada dalam kondisi yang lemah, tidak seperti dulu.

Ada kesalahan berpikir yang komplek pada pengambil kebijakan politik di Indonesia. Mereka secara sistematik menjauhkan masyarakat luas dari akses kemiliteran, lalu memastikan bahwa hanya TNI/Polri saja yang berhak memikul masalah itu. Dulu istilahnya ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Maka karena TNI sudah memegang monopoli, rakyat kita menjadi lemah, segala masalah kemiliteran diserahkan urusannya kepada TNI. Pada saat yang sama, manajemen organisasi TNI kerap ditunggangi niat-niat buruk, di luar konteks menjaga kedaulatan bangsa. Misalnya, TNI dipakai untuk tujuan politik, untuk mengamankan kepentingan bisnis, untuk jenjang pejabat publik, dll. Maka tidak heran terjadi aneka kesewenang-wenangan. Ada kalanya kalangan militer menjadi backing perusahaan, melindungi perjudian, backing diskotik, dll. Ini jelas salah arah.

Betapa susahnya bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka. Nah, setelah merdeka, kedaulatan kita harus dijaga sebaik-baiknya. Dijaga dengan kecanggihan politik, juga dengan kekuatan militer. Baiklah, TNI diberi tugas resmi sebagai pengemban amanah menjaga kedaulatan itu. Tetapi akses atau minat kemiliteran jangan dijauhkan dari masyarakat luas, sebab mereka adalah KEKUATAN CADANGAN yang sangat potensial. Yakinlah, kalau masyarakat memiliki mental sebagai prajurit, meskipun tidak pernah terjun dalam peperangan, mereka akan jauh lebih mampu menjaga KEDAULATAN bangsanya. Orang-orang asing akan berpikir seribu kali untuk menjajah kita, dalam segala bentuk dan modusnya. Tetapi dengan keadaan seperti saat ini, kedaulatan Indonesia adalah sesuatu yang lama-lama akan hilang dari kehidupan kita. [Ingat sekali lagi, perkara militer itu “multiple effect“].

Tetapi kalau kita bicara seperti ini, nanti agen-agen Liberal mulutnya pada nyolot. Mereka biasanya akan mengoceh, “Itu militerisme. Itu anti demokrasi. Itu sih menjurus ke sistem totaliter. Itu berpotensi melanggar HAM.” Ya, masalahnya, mereka tidak memiliki solusi untuk menjaga kedaulatan bangsanya. Kaum Liberal itu persis seperti Dr. Soetomo, Setiabudhi, Ki Hajar Dewantoro, dll. di masa lalu. Sama-sama berpikir pro asing.

Dalam perang modern, sebenarnya peperangan bukan hanya terjadi dalam konteks kontak senjata. Area perang bisa terjadi dalam bidang politik, ekonomi, budaya, informasi, opini media, dan sebagainya. Tetapi tetap saja, kata kuncinya, adalah kekuatan militer. Amerika Serikat membuang uang puluhan miliar dollar untuk memerangi terorisme di dunia. Sepintas lalu, Amerika seperti membawa missi luhur memerangi biang kerok keonaran dunia. Padahal sejatinya, target utama mereka adalah mematikan potensi kekuatan militer negara-negara yang menjadi sasaran perang anti teroris yang mereka gelar.

Pembunuhan tokoh militer Hamas bagi Israel, merupakan satu langkah strategis untuk mengeliminir kekuatan dan pengaruh politik Hamas di Palestina. Selama Hamas masih memiliki kekuatan militer, selama itu kekuasaan ada bersamanya. Maka Al Qur’an menyebut hal ini dengan istilah “al hadid” (kekuatan besi). Agar kita belajar, bahwa agama itu senantiasa dijaga dengan ilmu para ulama dan pedang para penguasa.

Wallahu A’lam bisshawaab.