Sikap Elegan PP Muhammadiyyah

Juli 6, 2009

Saat kaum Muslimin mulai kehilangan kepercayaan melihat sikap partai-partai label Islam yang pragmatis dan berorientasi kekuasaan. Justru ormas-ormas Islam menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal kepentingan Ummat. Alhamdulillah, semua ini patut disyukuri.

Forum Ummat Islam (FUI) baru-baru ini mendeklarasasikan dukungannya kepada JK-Wiranto, dalam bentuk menitipkan amanah Ummat kepadanya. Ya, mungkin JK-Wiranto belum ideal seperti yang diinginkan mayoritas para aktivis dakwah Islam. Tetapi disana telah tampak sikap-sikap pembelaannya yang significant terhadap urusan Ummat (mayoritas bangsa Indonesia adalah Ummat Islam). Kemudian muncul pembelaan dari Wahdah Islamiyyah, dalam hal pernyataan rasis yang diucapkan oleh Ruhut Sitompul (“mantan” anggota tim sukses SBY-Boediono).

Dan terakhir, adalah sikap elegan PP Muhammadiyyah yang memberi tempat bagi pertemuan dua kandidat Capres, Mega Prabowo dan JK Wiranto di kantor PP Muhammadiyyah sendiri. Sebagai mediator pertemuan, adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyyah sendiri.

Apa yang ditunjukkan oleh PP Muhammadiyyah adalah praktik siyasah Islami yang kental. Ini merupakan salah satu contoh aplikasi siyasah Islami, dalam situasi sistem demokrasi, serta berbagai kondisi komplek di jaman kontemporer ini.

Mengapa dikatakan demikian?

[1] Pihak PP Muhammadiyyah tidak memiliki tendensi politik tertentu, misalnya ingin kekuasaan atau mengejar kursi menteri. Mereka netral saja, dalam rangka menjalankan tugas moral membimbing Ummat.

[2] PP Muhammadiyyah tidak dalam kapasitas mendukung salah satu Capres (Mega Pro atau JK-Wiranto). Tetapi mendorong supaya proses Pemilu Presiden berjalan jujur, adil, demokratis. Jelas semua pihak mengharapkan mekanisme Pemilu seperti itu.

[3] PP Muhammadiyyah lebih melihat kepentingan bangsa yang lebih besar, daripada soal dukung-mendukung pasangan Capres. Oleh karena itu mereka memberi fasilitas kepada dua kandidat Capres sekaligus, tidak salah satunya saja. Jika Pilpres Juli 2009 ini terjadi lagi cara-cara curang seperti Pileg April 2009 lalu, besar kemungkinan bangsa Indonesia ke depan akan penuh dengan masalah-masalah sosial. Mengapa? Sebab ada puluhan juta “dendam sosial” yang tersimpan di hati-hati masyarakat, akibat pelaksanaan Pemilu yang curang.

[4] PP Muhammadiyyah bertindak berani, ketika suara-suara politik partai label Islam tidak bisa diharapkan untuk mengawal tujuan-tujuan luhur siyasah Islamiyyah. Politik Islam yang dipertontonkan oleh partai-partai label Islam itu sangat bersifat TRANSAKSIONAL. (Tergantung nilai dan arah transaksi politiknya, bukan berdasarkan misi perjuangan politik Islam lagi).

[5] PP Muhammadiyyah berani berbeda sikap dengan PAN dan PMB yang notabene saat ini menjadi bagian dari koalisi SBY-Boediono. Sama pula, sikap PWNU Jawa Timur berani berbeda sikap dengan pilihan politik PKB yang merapat ke kubu SBY-Boediono.

Apa yang ditempuh oleh PP Muhammadiyyah, paling tidak melalui mediasi Prof. Dr. Din Syamsuddin, adalah sikap elegan yang patut diacungi jempol. Pertemuan kemarin malam yang melahirkan pernyataan politik berupa desakan kepada KPU agar membereskan berbagai persoalan seputar DPT, sebelum pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009 bukan untuk kepentingan politik sempit. Tetapi untuk keluhuran martabat bangsa itu sendiri.

Apalah artinya menang 70 % dalam Pilpres, kalau kemenangan itu ditempuh dengan cara curang? Apalah artinya, menang “satu putaran”, kalau melahirkan berjuta-juta kecewa di hati masyarakat? Apalah artinya jabatan RI-1, jika rakyat tidak ridha kepadanya?

Kita sangat khawatir, moralitas bangsa Indonesia akan masuk era “PASAR GELAP”. Maksudnya, kita akan masuk suatu era yang mendewa-dewakan PASAR, dengan cara-cara moralitas GELAP. Ya, praktik Pemilu yang curang secara telanjang dengan segala macam dalih dan argumentasinya, adalah indikasi-indikasi kuat ke arah era “PASAR GELAP” itu.

Ya, kasihan Ummat Islam dong kalau begitu… Iya, benar! Kita sangat mengkhawatirkan nasib Ummat Islam. Maksud hati melakukan gerakan REFORMASI, tetapi hasilnya bisa LEBIH BURUK dari praktik Pemerintahan Orde Baru. Kata pepatah, “Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut penggilingan daging.” (Maaf, istilah “mulut harimau” saat ini kurang relevan lagi, jadi diganti “penggilingan daging”, sebab lebih kejam).

Secara khusus, kita bersyukur kepada Allah, masih ada dalam kalangan Ummat ini yang menunjukkan sikap politik yang gentle. Alhamdulillah. Lalu kita berterimakasih kepada PP Muhammadiyyah, khususnya Prof. Dr. Din Syamsuddin atas prakarsa baiknya.

Dan satu lagi, seruan Hidayat Nur Wahid, agar ormas-ormas Islam mau mendirikan partai politik sendiri, tampaknya itu usulan bagus. Silakan direspon. Dalam rangka mereformasi cara berpolitik partai-partai konvensional pragmatis.

Demikian, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan