Sebagian Pengalamanku dalam Dakwah

Agustus 10, 2009

Alhamdulillah laa haula wa laa quwwata illa billah. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan beberapa pengalaman yang pernah saya alami dalam dakwah Islam. Rata-rata adalah pengalaman bernuansa kerpihatinan. Namun semua ini hanya sebagian pengalaman saja, sekedar sebagai ibrah untuk dipahami. Dan misi utama dari penuturan ini adalah agar kita lebih mengerti kondisi sebenarnya saat berhadapan dengan kaum Muslimin di Indonesia.

Pihak-pihak yang saya hadapi dalam aktivitas dakwah itu sendiri beragam. Disini sengaja tidak disinggung nama-nama atau sebutan mereka secara verbal, karena tujuannya memang untuk mengambil pelajaran. Kalau dihitung secara waktu, bisa jadi semua pengalaman itu terjadi dalam rentang waktu lebih dari 10 tahunan. Dan jika dalam penuturan ini ada salah dan kekurangan, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Kepada Allah juga kita memohon rahmat, hidayah, dan ampunan-Nya. Allahumma amin.

Berikut beberapa pengalaman dakwah yang pernah saya alami:

[ 1 ] Waktu itu saya masih remaja. Tapi alhamdulillah, sudah mulai memahami aspek-aspek ajaran Islam. Di masjid kami setiap bulan diadakan pengajian umum, diisi oleh seorang ustadz senior dari Kabupaten Malang. Masjid tempat kami shalat, adalah masjid warga Nahdhatul Ulama. Dalam tradisi NU, mereka sangat menghormati para alim-ulamanya. Termasuk bentuk-bentuk penghormatan secara fisik.

Suatu hari, setelah Shalat Isya’, jamaah masjid sedang menanti datangnya ustadz (Bapak Kyai Haji) pengisi pengajian. Jamaah yang menanti sudah banyak, tetapi ustadz-nya masih belum kunjung datang. Kami menanti dengan gelisah. Pihak Ta’mir Masjid (semacam DKM) kelihatan keluar-masuk masjid sambil gelisah. Saya sendiri hanya diam saja di dalam masjid sambil menanti.

Tidak lama kemudian tampak kegaduhan. Oh, rupanya ustadz yang dinanti sudah tiba. Para jamaah yang tadinya menanti di masjid, mereka segera bangkit dari duduknya, lalu menghambur keluar ruangan masjid, untuk menyambut ustadz tersebut. Mereka berdiri, bergerombol, berdesak-desak mendekati ustadz yang baru masuk ruangan. Sebagian mereka, mencium tangan ustadz tersebut sambil membungkuk-bungkukkan badannya.

Sari sekian banyak hadirin yang ada di dalam masjid, hanya saya sendiri yang tetap duduk. Saya tidak bereaksi, selain melihati tingkah orang-orang itu. Terus-terang saya tidak suka menyambut seseorang secara berlebihan seperti itu. Nabi Saw pernah datang ke suatu majlis, lalu para Shahabat Ra. berdiri menyambut kedatangannya. Ternyata, Nabi bukan senang, justru beliau mengecam perbuatan seperti itu. Kata beliau, cara penghormatan seperti itu telah membuat kaum-kaum di masa lalu binasa.

Akhirnya, pengajian pun dimulai. Saya duduk agak ke depan, meskipun tidak paling depan. Sepanjang acara pengajian itu, saya perhatikan ustadz penceramah tersebut. Beliau tidak mau mengarahkan wajahnya ke saya. Jangankan tersenyum, sekedar mata menatap ke arah saya pun tidak. Materi pengajian itu sendiri sudah tidak teringat di benak saya. Tetapi sikap ustadz tersebut selalu teringat.

[ 2 ] Ketika SMA, saya masuk sekolah favorit di Malang. Sebagian besar siswa di sekolah ini dari keluarga yang mapan ekonomi. Saya mungkin termasuk sebagian siswa yang kurang bisa bersaing karena lemah dari sisi fasilitas. Di sekolah ini saya jumpai seorang pelajar laki-laki yang istimewa. Dia dari kelas sebelah. Selain pintar secara akademik, dia aktif di OSIS dan berprestasi dalam kompetisi-kompetisi antar pelajar. Kalau tidak salah, dia sempat menjadi pelajar teladan se-Indonesia. Di sekolah kami, meraih gelar tingkat Indonesia itu bukan hal aneh, sudah sering terjadi.

Hanya saja, siswa itu dalam pergaulan sehari-hari bersikap sekuler. Ya, seperti umumnya teman-teman di sekolah kami waktu itu. Mayoritas bersikap sekuler, hanya sedikit yang peduli dengan nilai-nilai keislaman. Yang berani memakai jilbab pun bisa dihitung dengan jari. Itu pun masih bongkar-pasang, sebab belum diperbolehkan memakai jilbab secara penuh di kelas. Klub-klub kajian Islam pun sepi peminat. Jika ada anggota, suasananya terkesan formalistik.

Suatu saat, di sekolah ada peringatan hari besar Islam. Saya lupa tepatnya, apakah Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj. Di aula sekolah diadakan seremoni peringatan hari besar tersebut. Menariknya, siswa tadi didaulat untuk memberikan orasinya di depan hadirin. Padahal saya tahu, dia bukanlah pelajar yang komitmen dengan nilai-nilai Islam. Dia bersikap sekuler, atau hanya berorientasi akademik saja. Entahlah, atas dasar apa siswa itu dipilih untuk berorasi? Yang jelas, dia sama sekali tidak dianggap mewakili arus semangat Islam di sekolah.

Setelah orasi itu, suatu saat seorang teman sekelas berbicara kepada saya. Dia memuji siswa yang berprestasi itu. Kata teman saya, selain siswa itu pintar secara akademik, dia juga bisa menyampaikan orasi keislaman. Prestasi sekolah bagus, pengetahuan keislaman bagus. Begitulah kesimpulan sederhana dari teman saya.

Terus terang, saya tidak suka dengan pujian terhadap siswa itu. Bukan karena saya iri hati, atau saya menginginkan kesempatan berorasi. Saya sendiri kalau diminta mengisi orasi itu, belum tentu bisa melakukannya. Tetapi saya melihat, siswa itu bercorak sekuler, jauh dari nilai-nilai Islami. Dia sangat mendukung budaya “glamor klas menengah” di sekolah. Menurut saya, orang seperti itu tidak layak berbicara tentang Islam. Dia hanya bicara Islam dalam tataran teori, bukan sebagai tanggung-jawab. Namun, di mata guru-guru kami waktu itu, sosok seperti siswa itu sudah dianggap memadahi untuk berbicara tentang Islam. Maklum, segala sesuatu diukur dari sisi seremoni, bukan tanggung-jawab.

Saat ini, siswa itu menjadi seorang eksekutif di sebuah perusahaan telekomunikasi. Kalau melihat penampilan dan foto-fotonya, tampaknya sikap sekuler itu masih terus dipegang sampai saat ini. Semoga Allah Al Hadi memberikan hidayah kepada hamba-Nya agar sadar dari kekeliruan-kekeliruannya. Allahumma amin.

[ 3 ] Kami sekeluarga pernah tinggal di dekat sebuah kampus negeri di Bandung. Disana kami mengontrak sebuah rumah, di tengah-tengah pemukiman penduduk. Berkali-kali kami berpindah kontrakan dari satu rumah ke rumah lain. Saya, isteri, dan anak-anak yang waktu itu masih kecil-kecil; kami hidup berumah-tangga, sambil tetap menjalani aktivitas kuliah.

Di dekat rumah kami ada sebuah mushalla kecil. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi alhamdulillah setiap hari selalu diadakan shalat berjamaah di dalamnya. Kami berkenalan baik dengan tetangga, anak-anak, para remaja, serta ustadz pembimbing di masjid itu. Seperti umumnya masjid lain, warga disana juga orang-orang NU. Sementara kami sendiri waktu itu terlibat dalam sebuah jamaah dakwah modern.

Secara umum, warga masjid menyambut baik kedatangan kami. Anak-anak dan para remaja sangat senang dengan kehadiran kami di masjid. Mereka sering datang ke rumah untuk silaturahmi. Sebenarnya, yang banyak terlibat dengan anak-anak adalah isteri. Saya hanya mendukung saja. Istri bisa dikatakan aktif dengan kreasi-kreasi kegiatan untuk menyemarakkan kegiatan anak-anak.

Anak-anak itu tampak begitu haus dengan ilmu-ilmu dan kegiatan keislaman. Mereka sering datang ke rumah. Mereka juga begitu nurut ketika diarahkan. Karena begitu tulusnya mereka, suatu saat saya menawarkan untuk mengajar mereka di masjid, setiap habis Shalat Ashar. Disana saya mengajarkan hadits-hadits pendek, cara membacanya, arti terjemahnya, dan pemahamannya. Hal ini terjadi beberapa kali. Dan alhamdulillah anak-anak sangat antusias dengan pelajaran itu.

Namun setelah pelajaran itu berlangsung beberapa kali, ustadz pembimbing di masjid itu melakukan tindakan di luar dugaan. Dia mengambil porsi pelajaran yang biasa saya berikan, tanpa terlebih dulu bericara kepada saya. Sejak saat itu, saya tidak bisa lagi mengajar anak-anak. Pelajaran diambil-alih ustadz tersebut. Bahkan anak-anak pun mulai menjauhi kami. Mereka tidak tampak datang silaturahmi ke rumah kami. Bahkan yang kami dengar, mereka sibuk dengan berbagai acara di rumah ustadz itu.

Saya menduga, ustadz itu khawatir pengaruhnya tergeser oleh kami. Dia melakukan hal-hal yang tidak mengenakkan, untuk menjauhkan anak-anak dari kami. Padahal, awalnya kami hanya mau membantu mengisi kegiatan anak-anak. Itu pun atas permintaan anak-anak sendiri. Bahkan ustadz itu pun meminta dukungan kami untuk membantunya membimbing anak-anak.

Baca entri selengkapnya »

Iklan