“Gusti Allah Mboten Sare!”

Maret 10, 2011

Gusti Allah mboten sare!”

Ini adalah ungkapan dalam bahasa Jawa tinggi. Artinya, “Allah itu tidak tidur.” Ungkapan ini pernah dikatakan oleh nenek seorang pejuang buruh di Surabaya, Marsinah. Mbak Marsinah meninggal karena penganiayaan yang sangat kejam. Kejam sekali. Dia dibunuh karena membela hak-hak buruh. Sayang sekali, kasus Marsinah ini masuk ke dalam jurang “black hole” dunia hukum kita, khususnya di Surabaya.

Alih-alih, para pembunuh Mbak Marsinah tertangkap. Malah disana terjadi rekayasa hukum yang sangat menyakitkan. Begitu kuatnya rekayasa itu sehingga kasus tersebut tidak bisa dilimpahkan ke pengadilan. Berkali-kali pihak kepolisian Surabaya membawa kasus itu ke tingkat kejaksaan, tetapi selalu ditolak. Karena syarat-syarat administrasinya dianggap tidak memenuhi. Lama-lama kasus itu ditutup dengan dalih, ia sudah kedaluwarsa dan bukan murni kasus hukum lagi, tetapi penuh rekayasa.

Selalu Ada Kemurahan dari Sisi-Nya. Hanya Kerap Kali, Kita Tidak Memahaminya.

Keluarga Marsinah tentu sangat kecewa. Harapan mendapat keadilan, malah mendapat pengkhianatan. Saat itulah nenek Marsinah mengucapkan kalimat di atas, “Gusti Allah mboten sare!” Allah Ta’ala tidak tidur. Dia tentu tak akan membiarkan kezhaliman itu menggelinding seenaknya, tanpa hukum keadilan-Nya.

Kalimat “Gusti Allah mboten sare!” adalah kalimat yang benar. Dalam Ayat Kursyi dikatakan, “Laa ta’khudzuhu sinatun wa laa naum” (Dia Allah tidak merasa kantuk dan tidak tidur). Allah Ta’ala pasti selalu menjaga, memelihara, dan mengawasi kehidupan ini; tanpa sedetik pun lalai dari penjagaan-Nya.

Sebuah hikmah agung yang WAJIB diketahui oleh setiap Muslim. Hikmah tentang Kemurahan Allah Ta’ala atas kehidupan ini, khususnya kehidupan kaum Muslimin.

Singkat kata…

Tanggal 3 Maret 1924 Khilafah Islamiyyah di Turki dibubarkan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Sejak saat itu sejarah Khilafah Islamiyyah berakhir. Di dunia Islam lalu muncul berbagai negara-negara atas dasar nasionalisme dan menganut sistem sekuler (non Islami). Termasuk Kerajaan Saudi juga berdasarkan nasionalisme Su’udiyyah. Meskipun  dari sisi keislaman di Saudi relatif lebih baik daripada umumnya negara-negara Muslim.

Terhapusnya lembaga Khilafah Islamiyyah ini menjadi duka-cita, nestapa, fitnah, dan mengundang linangan air-mata kaum Muslimin sedunia. Gerakan-gerakan Islam pun segera muncul dimana-mana, dalam rangka membangun kembali Khilafah Islamiyyah itu. Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaat Islami, Jamaah Islamiyyah, gerakan Salafiyyah, Daarul Islam, Masyumi, dll. berkepentingan terhadap bangkitnya kembali Khilafah Islamiyyah.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan di bawah “khilafah jahiliyyah” sungguh amat berat bagi Ummat. Komitmen keislaman dan keshalihan tidak mendapat tempat disini. Bahkan keimanan generasi Ummat terus digunting sedikit demi sedikit, sehingga hanya tersisa selain serpihan-serpihannya saja. Rasa kecewa, benci, marah, bahkan putus-asa menyelimuti hati-hati Ummat. “Ya Allah, sampai kapan bencana ini kan terus berlangsung?” begitu rintih kaum Mukmininan di berbagai tempat dan waktu.

Dalam pada itu, sebagai manusia biasa, kita merasa penuh TEKANAN. Ujian, fitnah, marabahaya moral dan fisik, mengintai dimana-mana. Ya, “khilafah jahiliyyah” tidak bisa diandalkan sama sekali. Justru khilafah semacam itu hanya menzhalimi kehidupan saja. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Saat-saat puncak keputus-asaan, rasa kekalahan oleh ideologi kapitalis-liberalis, rasa gelisah karena konspirasi Freemasonry yang tanpa henti, rasa bimbang melihat musuh-musuh Islam terus mengepung Ummat dari segala lini,  rasa ngeri membayangkan masa depan Ummat ini ke depan…

Saat seperti itu, Allah mengingatkan kita. “Wallahu yakh-tash-shu bi rahmatihi man yasya-u, wallahu dzul fadhlil ‘azhiim” (Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar). Al Baqarah 105.

Salah satu hikmah dari ayat ini…

Tanggal 3 Maret 1924 Khilafah Utsmaniyyah di Turki dibubarkan oleh Mustafa Attaturk. Namun hanya berselang dua tahun dari itu, Allah menakdirkan lahir manusia gagah berani yang kemudian berjuang keras untuk memberantas SEKULARISME di Turki. Dialah Prof. Dr. Najmuddin Erbakan. Beliau lahir tanggal 29 Oktober 1926 di Sinop, tepian Laut Hitam, Turki Utara.

Sejarah hidup Prof. Erbakan ini menjadi EJEKAN besar bagi sekularisme di Turki. Studi beliau dijalani di lingkungan umum. Mendapatkan gelar sarjana teknik dari Fak. Teknik Mesin, Universitas Teknik Istambul dengan IKP sempurna, 4,00. Gelar doktor diraih dari Universitas Aachen Jerman. Lalu beliau kembali ke Turki dan menjadi pengajar di Universitas Teknik Istambul (ITU). Kemudian beliau mendapat gelar profesor karena pengabdian dan kepakarannya. Beliau ahli di bidang teknik pembuatan tank. Jadi, profesor Erbakan berkiprah di dunia umum, bukan menggeluti dunia keilmuwan Islam. Dari sisi penampilan, beliau juga sangat sederhana. Tidak tampak janggut lebat seperti umumnya ulama-ulama di Timur Tengah.

Bahkan menariknya, Prof. Erbakan lahir dari ISTERI KEDUA ayahnya, Mehmet Shabri (atau Muhammad Shabri). Ketika Mustafa Kemal Attaturk mencampakkan hukum-hukum Islam, apalagi hukum tentang poligami, Prof. Erbakan justru lahir dari berkah amalan Sunnah yang agung ini.

Dalam sejarah hidupnya, Prof. Erbakan lebih dikenal di dunia politik Islam. Beliaulah kekuatan dahsyat yang berani menghadapi TIRANI SEKULER Turki dengan penuh keberanian, kecerdikan, dan kesabaran luar biasa. Berhembusnya hawa sejuk suasana keislaman masyarakat Turki saat ini, tak lepas dari usaha-usaha yang digalakkan Prof. Erbakan dan kawan-kawan, atas ijin dan pertolongan Allah.

Saat beliau wafat, 27 Februari 2011 lalu, dirinya tetap memegang teguh komitmen POLITIK Islami, yaitu memperjuangkan Islam tanpa basa-basi di Turki. Wafatnya Prof. Erbakan disambut duka cita puluhan ribu manusia yang melayat dan menghantarkan jenazahnya ke pekuburan. Beliau tidak mau dimakamkan dengan cara RESMI, seperti layaknya para pejabat negara. Beliau mau prosesi sederhana saja. Bangsa Turki merasa kehilangan atas wafatnya PAHLAWAN satu ini. Sekaligus ia menjadi EJEKAN keras ke sekian kalinya terhadap sekularisme Turki.

Disinilah Saudaraku, hendaknya engkau mau mengambil pelajaran…

Seperih apapun hidup ini, seberat apapun tantangan hidup kita, sekeras apapun fitnah menghimpit perjuangan Islam; maka ketahuilah, Allah Ta’ala tidak membiarkan kita. Dia selalu mengadakan pertolongan-pertolongan, Dia selalu menampakkan Kuasa-Nya, menampakkan pembelaan-Nya kepada orang-orang beriman; di tempat-tempat yang kadang kita tidak memahaminya.

Allah tetap memberikan pertolongan, penjagaan, dan oembelaan terhadap orang-orang beriman; meskipun konspirasi musuh-musuh sudah ampun-ampunan kejinya. Dan pertolongan itu tidak semata karena Allah mengasihi penderitaan kita, mendengar doa kita, atau karena kita telah merintih tidak karuan. Tetapi Allah memberikan semua itu, semata-mata karena Kemurahan-Nya belaka. Allah Maha Pemurah, memberi kepada manusia tanpa sebab apapun, selain Sifat Kemurahan-Nya itu sendiri. “Wallahu dzul fadhlil ‘azhim” (Allah itu memiliki karunia besar).

Maka sudah sepantasnya bagi orang-orang beriman untuk selalu merenungi ayat ini,  “Wa laa tahinuu wa laa tahzanu, wa antum a’launa in kuntum mu’minin” (janganlah merasa hina, janganlah merasa berduka cita, kalian adalah THE TOP ONE jika kalian beriman kepada Allah).

Ingatlah selalu: Gusti Allah mboten sare. Allah tidak tidur. Laa ta’khudzuhu sinatun wa laa nauum.

[Abu Syakir Al Malanji].


FIQIH KEMUDAHAN dalam IBADAH RAMADHAN

Agustus 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Atas karunia Allah dan rahmat-Nya, kita kembali bertemu Ramadhan Karim. Orang-orang beriman menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan bahagia dan suka-cita. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah bi nikmatihi. Segala puji hanya untuk Allah atas segala Kemurahan-Nya kepada Ummat ini.

Ramadhan bukan hanya bulan yang di dalamnya disyariatkan kewajiban puasa dan berbagai amal ibadah lainnya. Tetapi Ramadhan juga merupakan anugerah besar bagi ummat manusia. Bulan ini menjadi penjaga eksistensi kehidupan manusia di muka bumi. Di dunia ini tidak ada satu pun ummat beragama yang diampuni dosanya, selain kaum Muslimin. Sementara kaum Muslimin tidak akan mampu menggugurkan dosa-dosanya, jika Allah tidak menolongnya dengan ibadah Ramadhan. Dengan ibadah Ramadhan, dosa-dosa Ummat Islam diampuni sampai bersih. Tanpa Ramadhan, dosa-dosa Ummat akan bertumpuk, dan semakin besar dari tahun ke tahun. Ramadhan adalah anugerah Ilahiyyah yang sangat efektif untuk mentralkan dosa-dosa Ummat Muhammad Saw. Nah, andai dosa-dosa manusia di dunia sudah bertumpuk, termasuk dosa kaum Muslimin di dalamnya, maka dunia ini pasti akan dihancurkan oleh Allah dengan adzab-Nya.

Salah satu prinsip yang perlu dipahami ketika kita bicara tentang IBADAH, adalah prinsip kemudahan (al ushulut taisir). Allah Ta’ala tidak zhalim dalam menetapkan kewajiban ibadah kepada manusia. Dia menetapkan kewajiban ibadah selaras dengan kesanggupan hamba-Nya. Pada dasarnya, ibadah itu bukan untuk Allah, sebab Dia Maha Kaya. Ibadah adalah demi kebaikan manusia sendiri. Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka hal itu lebih baik bagi dirinya (sendiri).” (Al Baqarah: 184).

Tentang prinsip KEMUDAHAN ini dalilnya disebutkan dalam Al Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (Al Baqarah: 185). Menariknya, ayat ini latar-belakangnya berbicara tentang ibadah Puasa di bulan Ramadhan.

Singkat kata, ibadah di bulan Ramadhan seharusnya penuh dengan kemudahan-kemudahan, bukan kesulitan-kesulitan. Sayangnya, selama ini FIQIH TAISIR (kemudahan) dalam ibadah Ramadhan kurang dipahami oleh masyarakat. Mereka beribadah dengan mengikuti tradisi, lalu secara fanatik bertahan dengan tradisi tersebut. Alangkah baik jika Ummat ini memahami Kemurahan Allah Ta’ala yang telah melapangkan Syariat-Nya.

Sekedar sebagai catatan. Hari dalam Islam tidak dimulai dari jam 00.00 pada dini hari. Hari dalam Islam dimulai sejak adzan Maghrib pada petang hari. Itulah “jam 00.00” menurut versi Islam. Jika sudah masuk waktu Maghrib, berarti kita telah masuk hari yang baru. Jadi hari dalam Islam dimulai dengan malam, baru kemudian siang. Waktu malam adalah sejak Maghrib sampai fajar Shubuh. Waktu siang muncul setelahnya, membentang sejak Shubuh sampai saat Maghrib. (Kalau dalam kalender Masehi hari dimulai dari jam 00.00 tengah malam, kemudian pagi, lalu siang, dan berakhir di jam 24.00 malam lagi). Ketika masuk tanggal 1 Ramadhan, itu artinya pada malam harinya kita tidak berpuasa, tetapi sudah mulai menjalankan Shalat Tarawih. Baru keesokan harinya kita berpuasa, sejak Shubuh sampai Maghrib.

Berikut ini kemudahan-kemudahan Syariat Islam dalam ibadah Ramadhan. Silakan disimak baik-baik. Semoga bermanfaat bagi Anda, saya, keluarga kami, dan kaum Muslimin seluruhnya. Allahumma amin.

[1] Ibadah Shaum Ramadhan dimulai dengan niat. Seseorang yang menjalankan shaum tanpa niat terlebih dulu di malam harinya, puasanya tidak sah. “Siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, tidak ada puasa baginya.” (HR. An Nasa’i, Baihaqi, Ibnu Hazm). Dan niat ini adalah kehendak di hati untuk menyengaja melakukan suatu ibadah. Disini tidak perlu melafadzkan kalimat “nawaitu shauma ghadin”, sebab Nabi tidak mencontohkan hal itu. Ketentuan niat ini maksudnya untuk membedakan dengan shaum sunnah. Nabi Saw pernah berniat puasa di siang hari ketika beliau belum makan-minum, dan di rumahnya tidak didapati makanan. (HR. Muslim). Dalam Shaum Ramadhan tidak boleh niat pada siang hari, tetapi harus sejak malam hari sebelum fajar. Namun perlu dicatat, seseorang yang sejak awal telah berniat menyelesaikan shaum Ramadhan sebulan penuh, sebenarnya dia telah berniat puasa setiap malamnya. Allah Maha Tahu niat di hati-hati kita.

[2] Orang-orang yang lemah, atau sedang berada dalam kesulitan, boleh meninggalkan shaum. Bagi orang lanjut usia (manula), yang menderita sakit menahun, ibu-ibu hamil atau menyusui, mereka boleh meninggalkan shaum secara mutlak. Kompensasinya, mereka membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sejumlah hari-hari ketika mereka tidak berpuasa. Jika sebulan penuh tidak puasa, maka sebulan pula mereka memberi makan orang miskin. (Ketentuannya: Satu hari tidak puasa, pada hari itu seseorang memberi makan satu orang miskin senilai makanan sehari yang biasa dia makan. Boleh memberi makanan matang, atau bahan makanan mentah. Kalau bahan mentah, sebaiknya dihitung untuk beberapa hari sekaligus, agar tidak merepotkan yang diberi makan). Bagi yang sakit temporer, sedang dalam safar, sedang bekerja menguras tenaga, sedang berjuang membela agama, atau kondisi semisal itu, mereka boleh tidak puasa. Tetapi kompensasinya, mereka harus mengganti puasa yang dia tinggalkan, dikerjakan pada hari-hari lain di luar Ramadhan. Itulah shaum qadha’. (Shaum qadha’ ini puasa wajib, maka niatnya juga sejak malam hari, bukan “terpaksa” setelah siang hari). Dalil tentang masalah ini adalah Surat Al Baqarah ayat 184.

[3] Musafir yang berada dalam perjalanan (safar), boleh meninggalkan shaum dan boleh juga tetap mengerjakannya. Nabi Saw pernah melakukan kedua cara itu. Tinggal dilihat urusan yang sedang dihadapi. Jika perjalanan itu ringan dan tidak memberatkan, silakan teruskan puasa sampai Maghrib. Jika perjalanan itu berat atau dalam rangka Jihad Fi Sabilillah, lebih utama tidak puasa. Saat penaklukan Makkah, Nabi Saw pernah membatalkan puasa ketika perjalanan, saat beliau dan para Shahabat sampai di Kura’ Al Ghamim (HR. Muslim). Hamzah bin Amru Al Aslami Ra. pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mendapati diriku mampu berpuasa dalam safar. Apakah aku berdosa?” Nabi menjawab, “Ia adalah keringanan dari Allah. Siapa yang mengambil keringanan itu (tidak puasa), itu baik. Dan siapa yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.” (HR. Muslim).

[4] Boleh melakukan perbuatan-perbuatan mubah di siang hari Ramadhan, yang dimaksudkan untuk menuntaskan puasa sampai Maghrib. Misalnya, tidur di luar waktu-waktu shalat, melakukan permainan-permainan untuk melupakan diri dari rasa lapar, jalan-jalan sambil menanti datangnya adzan Maghrib, dll. Syaratnya, semua perbuatan-perbuatan itu bukan yang diharamkan. Namun jika waktu-waktu tersebut bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat, tentu lebih baik. Pada dasarnya Allah Ta’ala itu Syakirun ‘Alim (Maha Mensyukuri amal-amal hamba-Nya dan Maha Mengetahui).

[5] Wanita yang sedang masak di dapur, dia boleh mencicipi makanan yang dimasaknya, sekedar untuk mengetahui apakah rasa makanan itu sudah cocok atau belum. Hal ini bukan termasuk definisi makan (akala) sebagaimana yang dilarang dilakukan orang-orang yang sedang berpuasa. Melakukan test rasa bukanlah makan-minum yang membatalkan puasa. Dalil penguatnya adalah atsar dari Ibnu Abbas Ra., “Tidak masalah seseorang mencicipi cuka atau sesuatu yang lain, selama ia tidak masuk ke kerongkongannya, sedangkan dia sedang shaum.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari’).

[6] Boleh berkumur-kumur ketika sedang shaum. Kumur-kumur bisa dilakukan saat wudhu atau di luar wudhu. Berkumur-kumur ini ditujukan untuk membuang bau busuk di mulut, untuk membuang rasa pahit di mulut, atau agar mulut terasa lebih segar. Dalilnya, kumur-kumur bukan termasuk definisi minum (syariba) sebagaimana yang membatalkan puasa. Dalam hadits diceritakan, Umar bin Khattab Ra. saat berpuasa menciumi isterinya, lalu dia bertanya ke Nabi Saw, apakah perbuatan seperti itu boleh? Nabi Saw menjawab: “Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sementara engkau sedang shaum?” Umar menjawab: “Tidak masalah.” Lalu Nabi berkata lagi: “Lalu mengapa masih ditanyakan juga.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Namun harus berhati-hati saat kumur-kumur agar air tidak tertelan ke perut. Sebagian ulama menyebut kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu sebagai perbuatan makruh (tidak disukai). Kumur-kumur ini dilakukan seperlunya saja, kalau memang membutuhkan. Saya sarankan, kalau Anda selesai kumur-kumur, cobalah membuang sisa-sisa air yang masih di mulut. Tetapi lakukan hal itu biasa-biasa saja, jangan berlebihan. Sejauh di hati kita tidak ada niat untuk memasukkan tetes-tetes air ke dalam perut, Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan.

[7] Selama berpuasa, kita boleh bersiwak. Bersiwak caranya dengan menggosokkan kayu siwak ke gigi, baik untuk membersihkan gigi atau mengusir bau busuk di mulut. Dalilnya, Nabi Saw pernah bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan Ummat-ku, tentu akan aku perintahkan mereka bersiwak di setiap shalat.” (HR. Bukhari-Muslim). Yang dimaksud shalat disana tentu mencakup shalat di setiap waktu, termasuk dalam bulan Ramadhan. Dalam praktik modern, bersiwak diganti dengan gosok gigi memakai pasta gigi. Kayu siwak bukanlah barang yang mudah didapat di negari kita. Gosok gigi boleh dilakukan selama sedang shaum; baik ditujukan untuk membersihkan gigi, menghilangkan bau busuk di mulut, atau melakukan terapi pengobatan. Dalam gosok gigi ini kita memakai pasta gigi. Pasta gigi rata-rata berasa manis dan mengandung mint. Alangkah baik kalau dalam puasa, mulut kita berpuasa juga dari aneka rasa (kecuali ibu-ibu yang mencicipi rasa makanan saat memasak). Disarankan, kalau Anda gosok gigi, cukuplah Anda mengambil sedikit pasta gigi, jangan berlebihan. Setelah gosok gigi, cobalah berkumur-kumur yang bersih, sehingga sisa-sisa “deterjen” di mulut jadi bersih. (He he he… Maaf, jadi menyisipkan “kritik produk” disini). Jika gosok gigi bisa dilakukan saat berbuka (saat halal makan-minum), itu lebih baik. Jika gosok gigi di siang hari, sebaiknya dilakukan sekali saja, misalnya ketika Zhuhur.

Baca entri selengkapnya »