Kapan Kita Mulai Puasa Ramadhan 1433 H…

Juli 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

[1]. Seperti kita ketahui, ormas Muhammadiyah sejak awal sudah memutuskan, bahwa awal Ramadhan 1433 H adalah hari Jum’at, 20 Juli 2012, berdasarkan perhitungan hisabĀ wujudul hilal. Hal ini kemudian didukung oleh Ru’yatul Hilal di kawasan Cakung Jakarta Timur yang mengaku telah melihat hilal pada petang hari, 19 Juli 2012, sekitar pukul 17.50 menit (maaf kalau penyebutan jamnya tidak tepat). Front Pembela Islam (FPI) mendukung keputusan awal Ramadhan pada 20 Juli 2012, sehingga pada malam ini (Kamis, 19 Juli 2012) mereka sudah mulai Tarawih. Selain FPI, keputusan ini juga didukung oleh ormas An Najat.

[2]. Dalam sidang Itsbat Departemen Agama RI, 19 Juli 2012, sejak sekitar pukul 19.00 WIB; mayoritas suara peserta sidang menetapkan awal Ramadhan pada hari Sabtu, 21 Juli 2012. Mereka adalah: ormas Islam yang berpedoman pada hisab imkanur ru’yah, hasil ru’yat dari Tim Depag RI, para ahli falakiyah dan ru’yah ormas Islam (seperti NU), para ahli astronomi, dll. Mereka semua sepakat awal puasa Ramadhan dimulai pada 21 Juli 2012. Mayoritas ormas Islam mendukung keputusan ini.

Rumitnya Melihat Hilal: Seperti Mencari Sehelai Uban di Atas Tumpukan Pasir.

Pihak yang menetapkan awal puasa pada 21 Juli 2012 memiliki sandaran: “Posisi hilal pada petang hari 19 Juli 2012 tidak memungkinkan untuk melihat hilal dengan mata telanjang. Posisi hilal masih di bawah 2 derajat, padahal idealnya posisi hilal sekitar 4-5 derajat. Hal itu didukung oleh kesaksian banyak pengamaat dan ahli astronomi yang tidak melihat hilal pada petang hari 19 Juli 2012.”

Pihak yang menetapkan awal puasa pada 20 Juli 2012 memiliki sandaran: “Menurut hitungan kami, hilal sudah ada pada malam Jum’at, 19 Juli 2012, berarti esok harinya kita sudah puasa Ramadhan. Kalau Rasulullah Saw menyuruh menetapkan awal puasa dengan ru’yat hilal, bukan berarti harus diputuskan dengan melihat bulan semata. Bisa saja, di masa itu teknologi memang masih sederhana, sehingga cara penentuan awal bulan juga sederhana. Tapi sekarang sudah ada kemudahan teknologi, ya manfaatkan sarana yang ada. Kalau hilal dapat diperkirakan secara pasti, ya kita manfaatkan teknologi hisabĀ  itu. Asalkan patokannya, tetap mengacu ke hilal. Jika sudah ada hilal, meskipun belum bisa dilihat, itu sudah menandakan tiba bulan baru.”

KESIMPULAN:

(a). Bagi setiap Muslim yang mau memulai puasa pada 20 Juli 2012, seperti Muhammadiyah, FPI, Pesantren Husainiyyah Cakung, ormas An Najat; hal itu sah, karena mereka ada yang mengaku telah melihat hilal dan sudah disumpah. Adapun hitungan hisab ormas Muhammadiyah dianggap telah dikonfirmasi oleh penglihatan ru’yat di Cakung.

(b). Bagi setiap Muslim yang mau memulai puasa pada 21 Juli 2012, seperti yang disampaikan dalam sidang itsbat Depag RI dan didukung mayoritas ormas Islam; hal itu sah, karena mereka mewakili jumlah MAYORITAS kaum Muslimin di Indonesia; sehingga jika mengikuti keputusan itu dengan alasan demi menjaga persatuan Ummat adalah benar.

Singkat kata, bagi yang mengacu kepada hasil ru’yat dari Cakung, silakan. Itu ada dasarnya. Ia juga didukung perhitungan hisab Muhammadiyah. Bagi yang mengacu pada keputusan mayoritas ormas Islam, seperti yang disebutkan dalam Sidang Itsbat Depag RI, 19 Juli 2012, juga benar. Menurut Dewan Dakwah Islam, keputusan Depag RI dianggap sebagai keputusan Ahlul Balad (pengelola negara) yang mesti diikuti; Wahdah Islamiyyah mendukung keputusan Depag RI sebagai bentuk menjaga persatuan kaum Muslimin. Malah ekstrimnya, kalau nanti Depag RI memakai metode hisab murni, Wahdah akan mendukung juga. (Catatan: Ya jangan hisab murni lah, kan kaidah Sunnah-nya, dengan melihat hilal. Kalau keputusan tak sesuai Sunnah, ya tak perlu ditaati).

Silakan ikuti mana yang lebih tentram di hati Anda. Boleh mulai 1 Ramadhan pada Jum’at, 20 Juli 2012; boleh juga bagi yang memulai 1 Ramadhan pada 21 Juli 2012. Kedua-duanya benar, dan memiliki dalil kuat. Sikap lapang dada dalam perbedaan, sadar dalam memilih, dan tidak merendahkan Muslim yang lain; hal itulah akhlaq Islami yang mesti dijaga.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

Iklan