AL IKHWAN DAN SAUDI…

Desember 21, 2015

Bismillah. Rata-rata RAJA SAUDI keturunan SUDAIR bersikap baik kepada Al Ikhwan Al Muslimun. Itu bahkan sejak era Raja Abdul Aziz Al Saud rahimahullah.
.
Sikap TIDAK BERSAHABAT kepada Al Ikhwan mulai terjadi sejak KRISIS TELUK 1990-1991. Ketika itu kebijakan politik di tangan PANGERAN ABDULLAH (kmudian jadi Raja Saudi). Raja Fahd sendiri sejak tahun 80an sudah SAKIT-SAKITAN. Tidak menjabat secara efektif.
.
Dalam Krisis Teluk itu ada salah paham. Al Ikhwan dianggap mendukung Sadam Husein, padahal para aktivis Al Ikhwan banyak yang diburu di Irak. Maksud mereka adalah kampanye ANTI AMERIKA, bukan mendukung Sadam atau menentang Saudi dan Kuwait. Mengapa Anti Amerika? Sebab mereka melindungi Zionis Israel. Ini disalahpahami.
.
Di masa hidup Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, beliau pernah DITAWARI MENJADI GURU di Saudi; dan beliau bersedia. Namun karena satu dan lain hal agenda ini tidak jadi.
.
Bagi Raja Abdul Aziz, bekerjasama dengan Al Ikhwan lebih baik, karena mereka lebih ISLAMI. Sedangkan Raja Farouk atau Gamal Abdun Naser lebih pro SEKULARISME. Kerajaan yang Islami pasti suka bermitra dengan gerakan Islam. Pasti itu!!!
.
Ketika tokoh-tokoh Al Ikhwan, seperti Sayyid Quthb, Hasan Hudaibi, Ali Gharisah, Zainab Al Ghazali, Umar Tilmisani, dll. menhadapi ancaman eksekusi mati Gamal Abdun Naser; Mufti Saudi, Syaikh Bin Baz melayangkan surat protes ke Mesir. Tapi surat itu tak dianggap.
.
SEBAGAI bukti kesungguhan Saudi, mereka membuka pintu seluas-luasnya bagi para ulama, aktivis, dai-dai Al Ikhwan yang menyelamatkan diri dari rezim penindas di Mesir. Ini adalah fakta dan nyata. Syaikh Al Qaradhawi termasuk salah satu tamu Kerajaan Saudi di masa itu.
.
Ketika ribuan aktivis Al Ikhwan di Suriah dibantai Hafezh Assad (ayah Bashar) tahun 80an; maka Syaikh Bin Baz lagi-lagi menyerukan kaum Muslimin agar membela Al Ikhwan di Suriah.
.
Banyak lagi fakta-fakta kerjasama TA’AWUN ALAL BIRRI WAT TAQWA antara Kerajaan Saudi dengan Al Ikhwan. Ini hanya sekilas saja.
.
[1]. Bukan sesuatu yang aneh kalau pemuda-pemuda Saudi tertarik kepada Al Ikhwan; atau pemuda Al Ikhwan menjadi Salafi. Lha wong keduanya sangat berdekatan. Titik temunya: Komitmen TAUHID dan SYARIAT ISLAM.
.
[2]. Kalau jujur, madzhab fiqih keduanya juga mirip, sama-sama BERNUANSA ZHAHIRI.
.
[3]. Isu yang selalu digembar-gemborkan sebagai fitnah: “Al Ikhwan ingin mengubah sistem Kerajaan Saudi menjadi demokrasi.” Padahal jasa-jasa Saudi besar bagi Al Ikhwan, dan tak mungkin mereka akan membalas jasa-jasa itu dengan PENGKHIANATAN. Apa Anda pikir di Al Ikhwan tidak ada lagi orang berakhlak yang punya rasa malu? Nas’alullah al ‘afiyah.
.
[4]. Sebuah contoh, tentang Kerajaan Qatar. Negara ini seperti “rumah kedua” bagi Al Ikhwan setelah Mesir. Syaikh Al Qaradhawi lama di sini. Andai Al Ikhwan mau, negara Qatar jauh lebih kecil daripada Saudi. Faktanya Al Ikhwan bersikap baik, tidak ada agenda memberontak Pemerintah Qatar.
.
[5]. Bagi Al Ikhwan, situasi kehidupan Islami seperti di Saudi, telah memenuhi SEBAGIAN BESAR cita-cita perjuangan mereka. Mereka ingin kehidupan seperti itu terlaksana di negeri-negeri Muslim yang bercorak sekuler, seperti Mesir, Turki, dll.
.
JADI sangat mengherankan jika ada sekelompok orang, berlabel “Salafi”, tapi AMAT SANGAT BENCI kepada Al Ikhwan. Al Ikhwan mereka sikapi SEPERTI ORANG KAFIR. Na’udzubillah min dzalik.
.
BOLEH PERCAYA BOLEH TIDAK… Raja Abdul Aziz dan Pangeran-pangeran putra SUDAIR baik sikapnya pada Al Ikhwan. Syaikh Bin Baz dan ulama-ulama lain juga begitu. Bangsa dan rakyat Saudi menyantuni perjuangan Al Ikhwan sampai kini.
.
LHA terus, siapa yang menjadi acuan orang-orang aneh itu? Mereka ikut siapa? Ikut manhaj kecurigaan, permusuhan, dan dendamkah? Atau manhaj apa?
.
Wallahu a’lam bis shawaab. SUMEDANG, 3 Desember 2015.

(Al Wasath).

Iklan

AL IKHWAN ITU AHLUS SUNNAH

Februari 19, 2015

* Alhamdulillah Pemerintah Saudi ada tanda-tanda berubah lebih baik, insya Allah. Di bawah Raja Salman, Pemerintah Saudi mau rekonsiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

* Al Ikhwan dekat coraknya dengan Salafiyah (Wahabi). Dekat sekali. Hanya saja, mereka terjun berpolitik dan tidak menafikan JIHAD, jika keadaan memaksa.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

* Ada yang mengatakan, Al Ikhwan PRO DEMOKRASI dan ANTI MONARKHI. Anggapan ini lebih banyak salah paham, atau merupakan fitnah. Aslinya Al Ikhwan PRO KEBANGKITAN ISLAM, termasuk dalam sektor politik. Tapi mereka juga TAHU DIRI dan menyesuaikan langkah-langkah politik sesuai kesempatan yang ada. Maka itu Al Ikhwan tidak pernah membuat makar politik di Qatar, Kuwait, Yordan, atau Saudi yang menganut sistem Kerajaan.

* Bagi Al Ikhwan, mengubah SISTEM KERAJAAN menjadi demokrasi, ongkosnya sangat mahal. Hasilnya belum tentu lebih baik. FAKTA, setelah Tragedi Lapangan Rabi’ah, Al Ikhwan menempuh strategi JIHADUS SILMI, atau Jihad Damai. Karena mereka tidak mau Mesir jadi seperti Suriah. Ini membuktikan mereka berhitung tentang ONGKOS SOSIAL.

* Mengapa kemudian muncul gerakan dakwah dari Saudi yang benar-benar anti Al Ikhwan? Menurut kami, itu lebih besar karena alasan prasangka buruk, bisikan fitnah, dan hasutan. Karena sebelum tahun 1990, sikap Kerajaan Saudi selalu baik ke Al Ikhwan. Banyak tokoh-tokoh dan dainya diberi suaka politik di Saudi. FAKTA, sampai hari ini tidak pernah terungkap ada konsep MAKAR dari Al Ikhwan di Saudi.

* Sangat menggembirakan bila Kerajaan Saudi mengubah sikap prasangka, menjadi bersahabat. Karena itulah cara Raja-raja Saudi bersikap sebelum era 1990. FAKTA, Kerajaan Qatar tidak phobia dengan Al Ikhwan, padahal sama-sama kerajaan.

* Dan yang lebih penting lagi, Al Ikhwan adalah ASET BESAR Ahlus Sunnah di dunia. Ini harus jadi FOKUS smua pihak. Jangan sampai kita menghancurkan bagian dari keluarga kita sendiri!!!

* Kalau diungkap dengan bahasa yang mudah: “Al Ikhwan itu organisasi dakwah yang rapi, dekat dengan ciri-ciri Salafiyah, bersikap terbuka kepada berbagai elemen Ahlus Sunnah.”

* Al Ikhwan didirikan untuk menegakkan peradaban Islam; mengutamakan persatuan Ummat; dan konsisten di atas akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

* Ahlan wa sahlan ya Malik Salman hafizhakumullah. Wa shulhu khair ya Malik, wa innamal Mukminuna ikhwah. Barakallah fik ya Malik.

(AM. Waskito).


Antara Saudi dan Lawrence Arabiya

Januari 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di kalangan perbukuan di Indonesia, nama Rizki Ridyasmara bukan nama yang asing. Beliau dikenal sebagai ahli seputar isu Zionisme, konspirasi, freemasonry, dan lainnya. Dia juga mempunyai perhatian terhadap dominasi perusahaan-perusahaan kapitalis dunia di Nusantara. Tulisan beliau yang berjudul “The Knight Templar, The Knight of Chris” sempat menjadi best seller, ketika sedang merebak isu seputar “The Davinci Code”.

Lawrence Arabiya: Serpihan Sejarah yang Kerap Dipakai untuk Menutupi Jasa Muhammad bin Saud (Pendiri Saudi, 1737-1765 M).

Saya pernah bertanya kepada beliau tentang aliran Kristen Magdalenian, yang meyakini bahwa Yesus memiliki wanita simpanan (yaitu Magdalena itu sendiri). Dari rahim Magdalena ini diyakini lahir keturunan Yesus yang terus beranak-pinak sampai saat ini. Katanya, gereja Katholik Kepausan selalu memusuhi anak-keturunan Yesus dari Magdalena ini. Mereka selalu dikejar-kejar, dibunuh, ditangkap, dsb. Nah, untuk melindungi keturunan Yesus itu, maka dibentuklah kesatuan para kesatria, Knights Of Chris. Di bagian akhir penjelasannya, Bang Rizki menyimpulkan, bahwa Kestria Kristus itu sama saja dengan Knight Templar atau Freemasonry (di kemudian hari).

Ada satu pembahasan dalam sebagian buku Rizki yang tampaknya tidak obyektif, atau terkesan hanya berlandaskan sentimen. Ia adalah menyangkut peranan seorang kolonel Inggris, Thomas E. Lawrence. Atau kerap disebut Lawrence Arabiya. Dalam tulisan Rizki disebutkan, bahwa berdirinya Kerajaan Saudi adalah bagian dari konspirasi Zionis Internasional.

Dalam tulisan A. Hakim di eramuslim.com, disebutkan pernyataan dari Rizki Ridyasmara sebagai berikut:

Hal senada juga disampaikan Rizki Ridyasmara, sekalu penulis Novel-novel Konspirasi. Ia menyatakan bahwa Mekkah tengah dijadikan lahan mega proyek pemerintah Saudi. Tidak heran kini disamping Ka’bah telah dibangun hotel-hotel mewah, bahkan gerai makanan yang menyangga dana zionis seperti Mc Donald pun telah bermunculan di sekitar Mekkah. “Bisa kita bayangkan bagaimana kita bisa khusyuk beribadah jika kita dikelilingi oleh kemenawahan seperti itu,” terangnya.

Rizki Ridyasmara menyatakan bahwa penetrasi Jaringan Zionis Yahudi Internasional di Arab Saudi telah berlangsung lama. Baginya, lepasnya Arab Saudi dari Kekhilafahan Turki Utsmani tidak lepas dari permainan Zionis Internasional. Salah satunya adalah ketika perwira Yahudi Inggris, Letnan Terrecen Edward Lawrence disusupkan untuk mengendalikan Pasukan Saudi. (Ke Depan, Kita Mungkin Tak Bisa Naik Haji).

Singkat kata, sebelum Saudi berdiri, Inggris menerjunkan seorang kolonel yang bernama Thomas Edward Lawrence untuk memprovokasi keluarga Ibnu Saudi agar memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ternyata, gerakan Lawrence sukses besar, sehingga Saudi berdiri, dan akhirnya Khilafah Utsmaniyyah runtuh. Dapat disimpulkan, Lawrence berhasil menghasut berdirinya Kerajaan Saudi, dengan konsekuensi (resiko) runtuhnya Khilafah Utsmani. Karena Saudi dibentuk oleh Lawrence yang berasal dari agen Inggris (Zionis), disimpulkan bahwa Kerajaan Saudi adalah bentukan Zionis, atau bahkan diyakini sebagai Zionis itu sendiri.

Kalau ada pengamat, sejarawan, atau penulis berpikir dengan logika seperti di atas, wah sangat disayangkan. Ia bukan logika yang benar. Ia tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah. Ia mencampur-adukkan realitas sejarah secara gegabah. Sebaiknya kita tidak menulis sejarah dengan cara seperti itu.

Tidak dipungkiri, bahwa kondisi Kerajaan Saudi tidak ideal, seperti yang diharapkan. Banyak kelemahan-kelemahan di dalamnya. Hal itu bukan saja disadari oleh kaum Muslimin di luar Saudi, di dalam Saudi pun banyak yang prihatin. Hal ini terjadi karena memang kondisi kaum Muslimin di seluruh dunia sedang lemah. Andaikan negara-negara Muslim lain seperti Mesir, Suriah, Pakistan, Indonesia, Turki, dll. dalam keadaan kuat; niscaya Saudi juga akan kuat. Tetapi ya itulah yang terjadi…kita begitu detail dalam mengeritik Saudi, sementara kita lupa dengan kondisi bangsa kita sendiri.

Kesimpulan bahwa Kerajaan Saudi didirikan oleh Lawrence Arabiya, atau didirikan oleh Zionis Israel, adalah kesimpulan SESAT. Begitu juga, berdirinya Kerajaan Saudi berakibat meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani, juga merupakan kesimpulan SESAT. Hal-hal demikian hanya akan diyakini oleh mereka yang apriori, sentimen, dan tidak obyektif.

Bantahannya sebagai berikut:

[1]. Akar Kerajaan Saudi adalah kekuasaan Emir Muhammad bin Saud di Dir’iyyah, Najd. Inilah pendiri Dinasti Saudi. Beliau menjadi Emir pada periode tahun 1737-1765 M (Lihat buku: Sejarah Islam, Ahmad Al Usairy, hal. 380-381). Lihatlah dengan mata hati, keluarga Dinasti Saud sudah muncul sejak tahun 1737 H, bahkan sejak sebelumnya. Sedangkan, runtuhnya Khilafah Utsmani baru terjadi tahun 1924.

[2]. Sudah merupakan hal biasa ketika dalam Dinasti-dinasti Islam selalu ada perebutan kekuasaan. Secara fakta sejarah, itu sudah terjadi sejak era Muawiyyah Ra, era Dinasti Umayyah, era Dinasti Abbasiyyah, era Andalusia, Dinasti Mamalik, Dinasti Ayyubiyyah, hingga akhirnya Dinasti Turki Utsmani. Bagi yang membaca sejarah, perebutan kekuasaan antar keluarga bangsawan, bukan hal asing dalam sejarah dinasti-dinasti Muslim.

[3]. Keadaan yang terjadi antara Keluarga Dinasti Saud dengan Khilafah Turki Ustmani ada dalam konteks konflik perebutan kekuasaan. Akibat dari konflik ini, Kerajaan Saudi jatuh-bangun sampai ada 3 periode kekuasaan Saudi. Hal-hal demikian jarang diperhatikan oleh pemerhati yang sentimen. Pihak-pihak yang ingin merdeka dari Turki Utsmani, atau ingin memiliki wilayah sendiri, bukan hanya Dinasti Saudi di Najd, tetapi banyak. Ada yang dari wilayah Irak, Mesir, Afrika Utara, Asia Tengah, Eropa, dll. Jadi tidak adil, jika dalam konflik politik ini, hanya Kerajaan Saudi yang dipojokkan. (Ingin tahu fakta lebih banyak, baca tulisan Dr. Ali Muhammad Shalabi, tentang Daulah Ustmaniyyah).

[4]. Dalam literatur sejarah dituliskan fakta Zionisme Internasional: “Pada tahun 1897, diselenggarakan Konferensi Zionisme Pertama di Basel, Swiss, dibawah pimpinan Theodore Hertzl.” Lihatlah fakta ini dengan mata terbuka. Kalau belum terbuka, cobalah membuka mata di ember berisi air penuh, agar hilang rasa kantuk. Wallahi, Zionisme yang sering dituduhkan itu merancang gerakan politiknya di konferensi Basel ini. Nantinya, Theodore Hertzl akan datang ke Sultan Abdul Hamid II untuk meminta tanah Palestina dengan imbalan uang emas jutaan gulden. Sedangkan, Kerajaan Dinasti Saudi sudah muncul sebelum itu, sejak era Muhammad bin Saud (1737-1765). Ia sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelumnya.

[5]. Kalau membaca buku Road To Mecca karya Ustadz Muhammad Asad (Leopold Weiss), disana dijelaskan kronologi berdirinya Kerajaan Saudi Jilid III di Riyadh. Gerakan itu dipimpin Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal Al Saud. Dia bergerak bersama 40 pemuda-pemuda dari suku Badui Najd untuk merebut kekuasaan Ibnu Rasyid di Riyadh. Disini sama sekali tidak ada peranan Lawrence Arabiya. Lawrence baru muncul kemudian, setelah Kerajaan Saudi memiliki fondasi di Riyadh dan sekitarnya.

[6]. Adalah kenyataan tak terbantahkan, bahwa kondisi Khilafah Turki Utsmani semakin melemah di awal abad ke-20. Banyak wilayah-wilayah Turki di Eropa yang melepaskan diri, seperti Rumania, Bulgaria, Polandia, dll. Di sisi lain, gerakan politik Abdul Aziz Al Saud tidak pernah menyentuh wilayah Turki. Bagaimana hal itu bisa dianggap sebagai pemicu kehancuran. Bahkan karena lemahnya Turki Utsmani, mereka tak sanggup menghadapi pasukan Kerajaan Saudi, sehingga harus meminta bantuan Gubernur Mesir, M. Ali Pasha. Kerajaan lemah dimanapun, ia akan kehilangan wibawa dan wilayahnya. Hal ini sudah menjadi RAHASIA SEJARAH yang sangat umum. Jadi kalau wilayah-wilayah itu melepaskan diri, yang disalahkan ialah kekuasaan induknya. Mengapa mereka lemah dan tidak berwibawa?

[7]. Banyak orang begitu senang mengungkap peranan Lawrence Arabiya, tetapi mereka tidak mau mendengar penuturan dari saudara-saudaranya sendiri sesama Muslim. Mengapa mereka begitu nafsu menonjolkan peranan Lawrence, dan mengecilkan peranan kaum Muslimin sendiri?

Singkat kata, Lawrence Arabiya itu muncul belakangan setelah fondasi Kerajaan Saudi di Riyadh dan sekitarnya. Begitu juga konflik antara Dinasti Saudi dengan Khilafah Turki Utsmani adalah sejenis konflik politik (perebutan kekuasaan) yang sudah biasa terjadi dalam sejarah Islam. Dan hal itu sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelum Zionisme internasional membuat konferensi pertama di Basel, Swiss.

Kalau menulis, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai mau menerangi Ummat, malah akibatnya menyebarkan fitnah. Fitnah yang tersebar itu sangat berat timbangannya di sisi Allah Al Khabir.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abah Syakir].


Publikasi Media dan Wahhabi

Mei 14, 2009

Akhir-akhir ini eramuslim.com aktif mempublikasikan artikel-artikel yang nadanya menyerang Wahhabi (disebut begini saja, biar jelas, tidak ewuh pakewuh lagi). Artikel yang paling populer adalah soal “Indonesia jadi wisata seks orang Saudi”. Artikel itu menjadi bahan pembicaraan meluas, sebab isinya antara lain mendiskreditkan ulama tertentu di Saudi. Termasuk artikel soal Imam Masjid Haram yang menyebut ulama Syi’ah kafir seperti yang menjadi perbincangan di MyQuran ini.

Saya sendiri bukan orang yang apriori terhadap koreksi yang dialamatkan kepada Saudi atau penganut paham Wahhabi (jika boleh dikatakan demikian). Toh, ketika Kerajaan Saudi menolak boikot kepada Israel pasca tragedi Ghaza, saya menulis artikel keras yang mengecam sikap Kerajaan itu. Sampai konsekuensinya saya dikritik keras oleh sebagian pembela Kerajaan itu. Jadi, tidak ada unsur apriori dalam memilih dan menetapi kebenaran, insya Allah. Jika memang benar adanya, mengapa harus ditolak?

Namun, adalah tidak adil menyebut Wahhabi dengan sekali pukul rata. “Pokoke sing berbau Wahhabi disikat ae,” begitu kredonya. Ya jelas, ini bukan lagi diskusi ilmiah, apalagi dialog menuju kesatuan Ummat yang sering didengung-dengungkan oleh eramuslim.com sendiri. Dan sungguh tidak berbudi kita mengingkari jasa-jasa dakwah Salafiyah (Wahhabi menurut sebagian yang lain). Cukuplah sikap hormat dan kerjasama yang pernah ditunjukkan oleh M. Natsir rahimahullah kepada Kerajaan Saudi di masa Malik Faishal dulu sebagai bukti, bahwa orangtua-orangtua kita bersikap bijaksana kepada mereka. Meskipun tidak lantas menelan mentah-mentah segala yang “made in” Saudi.

Eramuslim.com kan aktif menulis data-data seputar kemuliaan Buya M. Natsir rahimahullah, mengapa tidak bisa bersikap bijak seperti beliau? Sikap permusuhan yang “no compromise” kepada sesama Muslim adalah sikap yang sangat serius. Anda kelak akan berhadapan dengan Allah karena sikap seperti itu. Sikap bara’ muthlaq hanya berlaku bagi kaum kafir harbi yang jelas-jelas kafir dan memusuhi Islam. Termasuk di dalamnya pelaku bid’ah mukaffirah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, kemudian mereka memerangi Ahlus Sunnah dengan segala daya yang mereka miliki. (Contohnya, regim Syi’ah Itsna Asyari yang saat ini berkuasa di Iran. Fakta-fakta kekejaman regim Revolusi Syiah Iran sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bayangkan, komunitas Ahlus Sunnah di Iran di masa Reza Pahlevi cukup kuat di Iran, tetapi saat ini terbabat habis, tokoh-tokoh Muslim Sunni disana dibunuhi sampai punah).

Disini setidaknya saya ingin mengemukakan beberapa fakta dan pandangan, sebagai berikut:

  • Wahhabi bukanlah paham baru. Ia sifatnya merevitalisasi konsep pemahaman yang pernah dibangun Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya. Intinya sederhana saja: Kembali kepada nilai murni dua kalimat Syahadat. Pemahaman tauhid anti syirik adalah aplikasi dari “Laa ilaha illa Allah”; sedangkan menetapi Sunnah anti bid’ah adalah realisasi kalimat “Muhammad Rasulullah”. Apa yang aneh dari konsep Syahadat ini? Apakah Syahadat sesuatu yang asing bagi seorang Muslim? Kalau kemudian di jajaran ulama Wahhabi dan pengikutnya ditemukan berbagai sikap-sikap yang tidak proporsional, maka ia tidak boleh mementahkan fundamental ajaran Wahhabi sendiri, yaitu: kembali ke Dua Kalimat Syahadat.
  • Baca entri selengkapnya »