Ujian Nasional (UN) dan Bangsa Kita

April 28, 2010

Hasil Ujian Nasional (UN) SMA baru saja diumumkan. Untuk tahun 2010 ini hasilnya lebih buruk dari tahun 2009  lalu. Belum setahun Muhammad Nuh menjadi Mendiknas, langsung disambut dengan hasil UN yang buruk. Menurut data Depdiknas, ada sekitar 267 sekolah SMU di seluruh yang angka kelulusannya 0 % (Pikiran Rakyat, 28 April 2010). Tentu ini merupakan hasil yang sangat memprihatinkan.

Sejak mulai diberlakukan konsep UN pada era SBY-JK (2004-2009), sampai saat ini UN terus mengundang perdebatan sengit di kalangan para pemerhati pendidikan. Bahkan sebagian orang melakukan judicial review ke MK menggugat aturan UN. Dan ternyata dikabulkan oleh MK. UN dianggap tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Namun anehnya, Pak M. Nuh bukannya mengakomodasi keputusan MK, malan melanjutkan program UN itu.

Kasihan kalian Nak...

Kalau melihat UN, ada dua sisi persoalan yang kerap kali disalah-pahami, baik oleh pihak pembela UN (Depdiknas), maupun pihak penggugat UN (kalangan masyarakat, praktisi pendidikan, mahasiswa, dll). Pertama, tentang standar pendidikan nasional; dan kedua, tentang aturan kelulusan. Du hal ini sebenarnya sangat berbeda. Ketika kita tidak membedakannya secara tegas, akhirnya muncul kesalah-pahaman yang berlarut-larut.

Ujian Nasional (UN) sebagai sarana untuk melakukan evaluasi pendidikan secara nasional, itu SANGAT PENTING. Bangsa kita perlu memiliki standar pendidikan nasional. Bahkan bangsa manapun membutuhkan standar itu.  Jadi, UN sebagai alat untuk mengukur kemampuan siswa sesuai standar yang ditetapkan secara nasional, ia sangat PENTING. Kalau mau jujur, sejak saya lulus SD sekitar tahun 85-an, waktu itu sudah ada EBTANAS.

Nah, dalam konteks standar pendidikan nasional ini, keberadaan UN jangan diganggu gugat. Itu sudah tepat. Kita butuh suatu instrumen untuk melihat kemajuan hasil pendidikan melalui UJIAN standar. Bahkan hal ini sudah puluhan tahun ditempuh di Indonesia, melalui EBTANAS itu. Bayangkan, kalau untuk helm motor saja ada SNI, bagaimana mungkin untuk pendidikan tidak butuh standar? Jelas tidak mungkin.

Kalaupun kemudian kita persoalkan, sebenarnya bukan instumen UN-nya, tetapi ATURAN KELULUSAN yang mengikuti nilai hasil UN. Jadi, ini biang kerok masalahnya, bukan instrumen UN itu sendiri. Andaikan aturan kelulusan ini dicabut, UN tetap perlu dilaksanakan dan ditingkatkan pelaksanaannya. Sasaran yang diprotes masyarakat selama ini, sebenarnya aturan kelulusan ini. Disana seorang siswa disebut tidak lulus, kalau nilai UN-nya tidak memenuhi standar tertentu.

Kerancuan yang muncul selama ini: Depdiknas selalu beralasan dengan pentingnya UN sebagai alat uji standar pendidikan nasional. Di sisi lain, para penentang UN tidak spesifik membidik aturan kelulusan yang mengikuti UN, tetapi mereka menyerang nama UN-nya. Kedua belah pihak sama-sama tidak tepat.

Seharusnya, Depdiknas memisahkan aturan kelulusan dari UN. Kemudian masyarakat luas jangan menggugat instrumen UN-nya, sebab kita membutuhkan itu. Tapi gugatlah ATURAN KELULUSAN di balik UN.

Kemudian pertanyaannya: “Bagaimana pandangan kita terhadap aturan kelulusan yang ditetapkan oleh Depdiknas itu? Apakah aturan seperti itu baik atau zhalim?”

Ya, tidak diragukan lagi, aturan kelulusan seperti itu JUSTRU MEMATIKAN MISSI PENDIDIKAN itu sendiri. Dimana-mana yang namanya pendidikan itu untuk mendidik manusia sebaik-baiknya. Yang tadinya buta huruf, jadi melek huruf; yang tadinya miskin ilmu, menjadi kaya ilmu; yang tadinya lemah fisik, menjadi sehat segar; yang tadinya nol keahlian, akhirnya terampil; yang tadinya kurang adab, menjadi beradab, dan seterusnya. Ibaratnya, terjadi transformasi dari kegelapan menuju cahaya.

Para filosof, para ahli, para pemuka pendidikan dimanapun, tidak akan menilai hasil pendidikan hanya dari beberapa LEMBAR JAWABAN UJIAN saja. Ujian ini hanya instrumen untuk mengetahui, apakah materi didik yang ditetapkan sudah terserap dengan baik atau tidak? Itu saja. Ujian itu dimanapun hanya alat evaluasi, bukan tujuan pendidikan.

Sungguh Depdiknas bisa dianggap sebagai institusi yang paling zhalim terhadap missi mendidik warga negara, jika mereka menjadikan hasil UN sebagai standar kelulusan. Untuk meluluskan siswa dari sekolah, harusnya alat ukur dan instrumen sangat banyak. Mulai dari prestasi akademik, moralitas siswa, kedisiplinan, karya ilmiah, kesehatan, sikap sosial, kepedulian sosial, kreativitas, inisiatif, dll. Banyak instrumennya.

Kalau kita hanya menilai dari sisi prestasi akademik saja, itu sudah dianggap ZHALIM. Padahal alat ukur nilai akademik bisa ulangan harian, tugas, ujian semester, ujian lokal, dll. Apalagi ini alat ukurnya hanya hasil UN saja? Allahu Akbar, betapa SANGAT ZHALIM sistem pendidikan seperti ini. Tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa” amat sangat jauh dari harapan.

Kalau dirunut lebih dalam, mengapa harus ada aturan kelulusan yang sangat zhalim seperti itu? Bahkan dinilai dari tujuan pendidikan nasional pun, jauh panggang dari api.

Semua ini terjadi karena Pemerintahan SBY menganut SISTEM LIBERAL. Itu harus diingat dan dicatat dengan tinta sangat tebal. Anda harus ingat, salah satu prinsip sistem liberal ialah: menghargai manusia berdasarkan ukuran-ukuran materialis belaka! Di mata kaum liberal, manusia banyak atau sedikit, tidak dilihat sisi manusiawinya. Manusia hanya dilihat sisi produktifitas komersialnya, kontribusinya bagi pasar, kontribusi bagi peningkatan modal, kontribusi bagi mobilitas modal, dll. Adapun manusia yang lemah, tidak pintar, tidak memiliki skill tinggi, kurang teredukasi, dll. mereka dianggap sebagai: beban anggaran, menghambat investasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi, tidak siap kompetisi pasar bebas, dll.

Nah, aturan kelulusan yang mengikuti UN, sebenarnya merupakan perwujudan dari sistem kehidupan nasional yang LIBERALIS di bawah kepemimpinan SBY. Di mata kaum liberal, ada jutaan siswa yang tidak terdidik dengan baik, mereka dianggap “beban anggaran” atau “beban subsidi”. Bukan dianggap sebagai manusia beradab yang berhak dididik, diajari, dan diberdayakan sebaik-baiknya.

Dan lebih ironisnya lagi: kebanyakan guru-guru di Indonesia adalah pengagum SBY dan pemilihnya dalam Pilpres kemarin! Nah, inilah salah satu contoh balada kehidupan di Indonesia.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, dalam rangka mengembalikan missi pendidikan ke arah semula, yaitu: “Mencerdaskan kehidupan bangsa!” Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

Antara Amal Jama’i dan Tuduhan Hizbiyyah

Januari 28, 2010

ألحمد لله رب العلمين و الصلا ة و السلا م على ر سو ل الله محمد و على أله و أصحا به أجمعين أ ما بعد

Selama ini ada kerancuan dalam persepsi sebagian Ummat tentang Amal Jam’i dan Hizbiyyah. Kedua hal ini sebenarnya merupakan hakikat yang berbeda, tetapi seringkali dicampur-adukkan. Amal jama’i yang dilakukan sebagian Muslim dituduh sebagai hizbiyyah, sehingga harus dijauhi sejauh-jauhnya. Sementara praktik hizbiyyah yang seharusnya dijauhi malah diklaim sebagai amal jama’i, sehingga dibela secara membabi-buta, disertai penolakan terhadap nasehat dalam bentuk apapun. Jelas kedua sikap ini sama-sama salahnya.

Kalau Anda berbicara dengan kelompok pengajian tertentu, pengikut majelis taklim tertentu, pembaca majalah tertentu, atau fanatikus ustadz dan syaikh tertentu; mereka sangat sering menyebut kata hizbiyyah. Bukan hanya menyebut kata, tetapi sering menuduh orang lain sebagai hizbiyyah, lalu menerapkan sanksi sosial atasnya, berupa celaan, peringatan, boikot, dan seterusnya.

Jika pihak-pihak yang menjadi sasaran celaan, peringatan, boikot itu adalah kalangan Muslim yang ikhlas melaksanakan amal jama’i, persoalannya menjadi sangat serius. Para penuduhnya akan terkena kesalahan, memusuhi amal Islami, menjauhkan manusia dari jalan Allah, serta ikut memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Hal-hal demikian ini bukan masalah kecil, tapi sangat serius. Ia mencerminkan amal perbuatan musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang kafir. Na’udzubillah min dzalik, zhahiran wa bathinan.

Begitu pula, sikap hizbiyyah (fanatik buta) yang sebenarnya merupakan penyimpangan dalam agama, hal itu kerap diklaim sebagai amal jama’i. Tentu saja, klaim demikian merupakan kesalahan besar. Bahkan ia termasuk sikap membohongi Ummat dengan pemikiran-pemikiran palsu.

Kita perlu memahami amal jama’i dan hizbiyyah secara jernih, serta mengenal batasan-batasannya, sehingga tidak timbul kerancuan pemikiran yang merugikan Islam, sekaligus menyesatkan Ummat. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ilmu, hidayah, dan taufiq untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya. Amin.

KONTEKS AMAL JAMA’I

Amal jama’i bisa didefinisikan sebagai: amal kebajikan yang dikerjakan oleh kaum Muslimin secara berjamaah, demi mencapai tujuan kebaikan Islami. Sifat amal jama’i itu merupakan amal shalih, yang ditunaikan secara bersama-sama, demi mencapai tujuan kebaikan.

Contoh amal jama’i, antara lain: Shalat berjamaah di masjid, menunaikan Shalat Jum’at, mengurus Zakat kaum Muslimin, mengurus hewan kurban, melaksanakan majelis taklim, melakukan bimbingan Manasik Haji, dan sebagainya. Amal-amal ini baik seluruhnya, dilaksanakan secara bersama-sama, demi menunaikan perintah Allah dan mencapai keridhaan-Nya.

Contoh lain, misalnya: Kerjasama menyalurkan bantuan untuk korban bencana, membentuk lembaga pendidikan Islam, membuat lembaga pengajaran bahasa Arab, membangun media Islami, membuat lembaga pelatihan SDM Muslim, membuat lembaga anti pemurtadan, membuat lembaga penelitian aliran-aliran sesat, membangun rumah sakit Islam, membangun jaringan usahawan Muslim, membangun dewan perjuangan politik Islam, dan sebagainya. Karakternya jelas, berupa amal shalih, dilakukan secara bersama-sama, untuk mencapai tujuan-tujuan kebaikan. Ini semua adalah amal jama’i.

Amal jama’i dalam wujudnya yang sempurna ialah Hayatul Islamiyyah tahta zhilalid Daulatil Islamiyyah (kehidupan Islami di bawah naungan sebuah negara Islami). Ini adalah amal jama’i dalam bentuknya yang sempurna, kolektif, dan meliputi segala bidang kehidupan Ummat. Ia dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra., serta imam-imam kaum Muslimin yang istiqamah menempuh jalan mereka rahimahumullah jami’an.

DALIL AMAL JAMA’I

Banyak dalil-dalil yang bisa diutarakan untuk membenarkan amal jama’i, serta melaksanakannya dalam kehidupan ini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Perintah Allah, “Dan berpeganglah kalian dengan tali (agama) Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali Imran: 103). Ini adalah dalil Syar’i terkuat dalam perkara ini. Ayat ini memerintahkan kita berpegang kepada agama Allah secara berjamaah, dan kita sekaligus dilarang untuk berpecah-belah. Lalu dikuatkan dengan ayat lain, “(Allah) telah mensyariatkan atas kalian dalam agama ini, sesuatu yang telah Dia mewasiatkan kepada Nuh, dan apa yang Dia wahyukan kepadamu, dan yang Dia wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama ini dan janganlah berpecah-belah di dalamnya.” (Asy Syura: 13). Disini dijelaskan, bahwa menegakkan agama dan bersatu-padu di atasnya merupakan karakter agama Allah sejak masa Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa As dan sampai kepada Nabi Muhammad Saw.

[2] Allah memerintahkan kita taat kepada pemimpin, dan larangan mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Wahai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59). Ayat ini merupakan perintah agar kita mengangkat seorang pemimpin yang akan memandu Ummat dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Allah melarang orang beriman mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman. Dan siapa yang melakukan hal itu, niscaya lepaslah ia dari (pertolongan) Allah dalam bentuk apapun.” (Ali Imran: 28). Hikmah dari ayat-ayat ini mengharuskan kita bersekutu, berserikat, berjamaah. Sebab, tidak mungkin muncul pemimpin, kecuali di atas suatu persekutuan.

[3] Nabi Saw pernah bersabda, “Jika dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah khalifah yang terakhir dibaiat.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri Ra). Dalam lafadz yang lain, “Siapa yang telah membaiat seorang imam, lalu memberikan kepadanya apa yang disenanginya, maka hendaklah dia mentaati imam itu semampunya. Maka jika datang orang lain hendak merebut posisi imam itu, maka penggallah leher imam terakhir itu.” (HR. Muslim dari Abdurrahmah Ra). Hadits ini menjadi hujjah, bahwa Ummat ini harus bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Jika ada yang berniat menduakan kepemimpinan, pemimpin yang kedua harus disingkirkan.

[4] Sebagian besar ayat-ayat dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan perintah dan larangan kepada orang-orang beriman, disampaikan dengan menggunakan khithab jama’ (plural), misalnya dengan kata “Ya aiyuhalladzina amanu” atau dengan kata “Ya aiyuhan naas”. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah Ta’ala lebih ridha berbicara kepada kaum Muslimin sebagai jamaah, bukan sebagai pribadi-pribadi. Hingga dalam hadits dijelaskan, bahwa Shalat berjamaah pahalanya lebih afdhal 27 kali dibandingkan shalat sendiri-sendiri.

[5] Banyak amal-amal yang tidak bisa dilaksanakan melainkan hanya dengan cara berjamaah, misalnya Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, akad jual-beli, Jihad Fi Sabilillah, pernikahan, musyawarah, shilaturahim, dan sebagainya. Amal-amal ini tidak mungkin dilaksanakan sendiri-sendiri. Bahkan dalam fiqih, kita mengenal istilah Fardhu Kifayah. Ia adalah amal-amal fardhu yang harus ditunaikan secara kolektif. Jika sudah ada yang menunaikan, yang lainnya gugur kewajiban.

[6] Demi menjaga persatuan Ummat, seseorang yang telah melihat hilal Idul Fithri secara munfarid (sendirian), dia dipersilakan membatalkan puasanya. Sementara Ummat Islam yang lain tetap berpuasa sesuai dengan pengumuman yang disampaikan oleh negara.

[7] Shirah perjuangan Nabi Saw di Makkah menjadi bukti besar tentang amal jama’i. Para Shahabat Ra bergerak, bertindak, dan berjuang dengan petunjuk dari Nabi Saw. Mereka tidak berani mendurhakai perintah Nabi Saw. Nabi memerintahkan mereka berdakwah, bersabar, bantu-membantu, berhijrah, dan sebagainya. Hingga Abu Bakar As Shiddiq Ra, beliau tidak berani menempuh hijrah ke Madinah, meskipun para Shahabat yang lain sudah berhijrah, melainkan setelah diijinkan oleh Nabi. Komando perjuangan ketika itu ada di tangan Nabi, dan para Shahabat taat kepada beliau, mengikuti perintah-perintahnya.

[8] Sudah menjadi ijma’ kaum Muslimin selama ribuan tahun tentang wajibnya menegakkan kepemimpinan Islam, serta membelanya dari berbagai rongrongan musuh-musuh Islam. Atas itu pula kaum Muslimin menempuh Jihad Fi Sabilillah secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi lain. Tujuannya untuk menegakkan tatanan Islam, memperluas wilayah Islam, menyebarkan dakwah Islam, serta melindungi kehidupan Islam.

Dalam riwayat juga dijelaskan, “Yadullah ‘alal ja’amaah” (Tangan Allah ada di atas jamaah). Maka kehidupan Islami, di bawah pemimpin Muslim, berdasarkan hukum Islam, dan menegakkan nilai-nilai Islam, hal itu kerap disebut sebagai Jamaatul Muslimin (jamaah orang-orang Islam).

Maka tidak diragukan lagi, amal jama’i adalah kewajiban dalam islam, sesuai kondisi-kondisi yang menyertainya. Lenyapnya amal jama’i menjadi pertanda lenyapnya agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

TIGA FAIDAH BESAR

Sejauh berbicara tentang amal jama’i dalam Islam, kita akan mendapati bahwa amal jama’i merupakan kebajikan besar dalam agama ini. Setidaknya ia terwujud dalam 3 keadaan di bawah ini, yaitu sebagai berikut:

Pertama, amal-amal shalih yang tidak mungkin bisa dikerjakan sendiri-sendiri, seperti Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, Jihad Fi Sabilillah, jual-beli, pernikahan, mengumpulkan Zakat, menentukan awal Ramadhan, menunaikan Shalat ‘Ied, mengembangkan ilmu, dan sebagainya.

Kedua, proses perjuangan untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Nabi Saw dan para Shahabat Ra menempuh amal jama’i, maka siapapun yang komitmen dengan Sunnah-nya, pasti akan menempuh amal jama’i juga. Meskipun seorang Muslim sanggup berjuang sendiri, dia pasti akan menempuh amal jama’i, sebab hal itu lebih berkah dan lebih dekat kepada kemenangan.

Ketiga, kehidupan kaum Muslimin, di bawah naungan pemimpin Islam, berdasarkan hukum Islam, dengan menjalankan nilai-nilai Islam secara konsisten. Itulah kehidupan yang dikenal sebagai Jama’atul Muslimin.

Sebaik-baik kehidupan Muslim adalah dalam naungan kepemimpinan dan sistem Islam. Jika hal itu tidak terwujud, setidaknya ada upaya sungguh-sungguh untuk menegakkan Islam secara kaffah. Jangan sampai kita wafat dalam keadaan lalai atau fasiq. Na’udzubillah min dzalik. Paling minimal, kita tetap melaksanakan amal-amal fardhu kifayah dengan apapun kondisi yang ada.

Baca entri selengkapnya »