Pak Mahfud MD Emosian…

Oktober 7, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Terkait soal Akil Mochtar, ada yang aneh dari pendapat Pak Mahfud MD. Setelah terbongkar kasus Akil, dia menyarankan agar lembaga MK dibubarkan saja.

[a]. Ini kan cara berpikir emosional. Gara-gara perbuatan satu orang, sebuah institusi harus dibubarkan. Misalnya ada perwira polisi atau TNI terlibat korupsi, apakah lembaga kepolisian/TNI harus dibubarkan?

[b]. Kalau MK dibubarkan gara-gara ketuanya melakukan korupsi, berarti lembaga MK itu memang sangat lemah. Ia bisa bubar karena kelakuan anggotanya.

[c]. Lembaga MK menyumbang popularitas besar buat Pak Mahfud. Itu tak diragukan lagi. Artinya, lembaga itu masih ada gunanya, minimal buat Pak Mahfud.

[d]. Kalau harus memilih, lebih baik mana membersihkan sebuah lembaga dari korupsi, atau membentuk lembaga yang sama sekali baru?

[e]. Apa pembubaran MK karena kasus korupsi, itu sesuai prosedur hukum yang jadi patokan MK itu sendiri?

Kalau menurutku ya… Andaika MK dibubarkan, lalu dibentuk lembaga sejenis MK yang mengacu kepada Syariat Islam…ya bolehlah MK lama dibubarkan. Tapi kalau acuannya masih sama saja, tidak usahlah dibubarkan. Pakai saja lembaga yang ada; daripada membuat lembaga baru; ya tahu inilah orang Indonesia kan banyak yang “mata duitan”; dimana ada pembentukan lembaga baru, pasti ada buang-buang uang disana.

Kasihan rakyat kecil deh… Gak ikut berbuat, tapi harus menangggung beban pajak. Oke Pak Mahfud, semoga semakin dewasa dan tenang. Amin.

Mine.


Pak Mahfud MD…Itu Pak.

Maret 1, 2012

Saat deklarasi lembaga Islam baru, MIUMI, di Hotel Sahid, 28 Februari 2012 lalu; ada satu momen yang mengesankan. Ia adalah pidato Ketua MK, Mahfud MD. Sebenarnya banyak yang berkesan, tetapi pidato ini tampak memiliki keunikan tersendiri. Bahasa gaul jurnalistiknya, “I catch U!”

Sebenarnya forum MIUMI itu cocok untuk para aktivis Islam, para dai, atau kawan-kawan yang selama ini diklaim fundamentalis Islam. Pak Mahfud MD sebenarnya tidak terlalu cocok disini. Bayangkan saja, salah satu gagasan MIUMI seperti yang diklaim Ustadz Bachtiar Nasir, Lc (Sekjen MIUMI) adalah menghadang Liberalisme, Syiah, dan aliran sesat.

Okelah tak usah diributkan soal itu, mari kita sentuh soal isi pidato Prof. Mahfud MD, salah satu guru besar hukum di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Pidato beliau tidak lama, tetapi ada substansi penting yang ingin disampaikan disini. Antara lain beliau bicara:

“Rusaknya suatu masyarakat, karena pemerintahnya rusak. Rusaknya pemerintah, karena ulamanya rusak. Rusaknya ulama, karena mereka tenggelam mencintai dunia.”

Jujur saya setuju dengan ungkapan ini. Ketika saya diskusikan masalah ini dengan seorang kawan, dia juga setuju.

Hitam-putih kehidupan rakyat, tergantung pemerintahannya. Kalau pemerintahan sakit, rakyat ikut sakit; kalau ia sehat, rakyat juga akan sehat. Sementara rusaknya pemerintahan, karena para ulama berdiam diri, tidak melaksanakan amanah nahyul munkar, tidak menasehati pemimpin zhalim, serta tidak melakukan ishlah secara intensif. Ya, siapa lagi bisa disalahkan atas rusaknya pemerintah, kalau para ulama selalu mencari aman? Dan ulama akan rusak ketika ambisi duniawinya melebihi ketakutannya kepada Allah Ta’ala. Kalau dunia sudah menguasai hati ulama, alamat hancur konsistensinya.

Intinya, ungkapan Pak Mahfud di atas ada benarnya; memiliki hujjah yang rasional; bisa dimengerti secara wajar. Kita tak usah berdebat panjang soal substansi pernyataan tersebut.

***

Lalu apa masalahnya?

Ya, sebenarnya tidak ada masalah serius.

Jangan bercanda, Anda pasti punya maksud tertentu?

Ada sih, tapi sabarlah.

Tidak, sampaikan saja, apa adanya. Jangan ditutup-tutupi! Apa masalah Anda?

Ya, ini hanya masalah Pak Mahfud saja kok.

Iya benar, tapi apa masalahnya? Anda membuat banyak orang penasaran? Mentang-mentang penulis…

Jangan begitulah, santai saja. Biasa saja.

Tidak bisa, apa masalahnya? Anda sudah sebut-sebut nama Pak Mahfud MD. Maka jelaskan masalahnya secara terang. “Seterang-terangnya,” meminjam ungkapan Pak Sebeye.

Oke, oke, saya jelaskan ya…

Ayo cepat, tidak usah lama-lama. Batere HP-ku mau habis tahu; aku sedari tadi sudah ngempet mau ke toilet; itu orang-orang sudah pada menunggu; 5 menit lagi pesawat akan take off; dan lain-lain alasan serba “darurat”.

Begini ya…pernyataan Pak Mahfudh MD itu…

Ayo cepat!!!

Waduh, jangan dipotong dulu, dong! Baru juga mau dijelaskan, sudah main potong saja. Tadi waktu Anda bicara saya tidak memotong. Tolong ya, hargai kata-kata orang lain.

Huh, belagak kayak debat di TVOne dan MetroTV, sok “potong-memotong”...

***

Jujur ya…pernyataan Pak Mahfud MD itu benar, logis, dan argumentatif. Bisa jadi ia dibangun di atas pemahaman, renungan, serta telaah ilmiah dan realitas, dalam masa panjang. Pernyataan itu kita hargai. Hanya masalahnya, kita kurang suka dengan gaya Pak Mahfud MD yang terkesan “disini senang, disana senang”. Maksudnya, Pak Mahfud itu kalau berbicara terkesan selalu “ingin menyenangkan tuan rumah”. Dimana saja dia berada, dia akan mengutarakan sesuatu yang “enak didengar” orang sekitar.

Kalau dia bicara di depan aktivis Islam, akan mengungkap isu-isu “seksi” di kalangan aktivis Islam. Kalau dia bicara bersama elit-elit politik, akan mencari isu yang “paling hot” sesuai selera elit politik. Kalau bicara di depan media, akan menyesuaikan dengan “opini media”. Kalau bicara di depan Pak Sebeye, akan mencari “celah batin” yang bersangkutan. Kalau bicara di depan aktivis LSM, juga akan bersikap “adaptatif”.

Nah, hal-hal semacam itu yang tidak kita sukai dari KARAKTER Mahfud MD. Istilahnya, dalam bahasa Biologi seperti “mimikri”. Atau dalam dunia Pramuka digambarkan dengan lagu “disini senang, disana senang”.

Sebagai argumen, ada seorang pakar mengatakan bahwa rusaknya pemerintahan karena rusaknya ulama. Masalahnya, kalangan pemerintahan itu juga tak mau dinasehati oleh ulama. Ketika ada ulama mengatakan “pentingnya Syariat Islam“…mukanya langsung merah, berubah menjadi hitam, jingga, kuning, warna zebra, dan seterusnya. Ya bagaimana ulama akan menasehati kalau omongan mereka tak didengar?

Orang yang mengatakan pemerintah begini dan begitu, sebenarnya dia bagian dari pemerintah itu sendiri. Harusnya dia melakukan perbaikan, bukan sekedar retorika atau pencitraan. Kalau seorang pemimpin konsisten dengan jalan kebenaran, dia pasti akan banyak diam, berbuat, dan terus melakukan perbaikan. Tidak tebar pesona, retorika, dan citra.

Ya, ini sebatas renungan saja. Betapa kita mesti berusaha untuk konsisten dan memohon pertolongan Allah Jalla Jalla Luhu agar senantiasa istiqamah di jalan yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.

Maap, maapin ya kalo ade salah-salah kate… Wassalamu’alaikum warahhmatullah wabarakaatuh.

Mine.


Apakah Indonesia Bisa Menjadi Baik?

Mei 29, 2010

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pernahkah Anda membayangkan negara ini akan menjadi lebih baik, lebih bermartabat, lebih adil dan sejahtera?

Jika Anda pernah bermimpi demikian, apakah Anda yakin bahwa harapan itu akan tercapai? Jika Anda pesimis dengan nasib Indonesia, lalu persiapan apa yang telah Anda siapkan untuk menyambut era kehancuran Indonesia nanti?

Terus terang, pertanyaan ini untuk kita semua, untuk saya dan untuk Anda semua, wahai para pembaca. Anda kan orang Indonesia, maka Anda harus menentukan apakah akan masuk golongan “masih optimis”, atau masuk golongan “sudah pesimis”? Setelah itu, sebagai golongan apapun, apa yang akan Anda lakukan?

"Negara dibangun untuk melayani hawa nafsu kaum ELIT atau PRIYAYI."

Mohon, pertanyaan ini dijawab oleh setiap pembaca tulisan ini, yang saat ini sedang memandang monitor, sedang online, serta hatinya masih ada di dada. Mohon Anda jawab, sebagaimana saya juga harus menjawab pertanyaan tersebut, sebab saya menjadi bagian dari orang Indonesia.

Lambat atau cepat, suka atau tidak suka, biarpun Anda hendak bersembunyi di liang semut sekalipun, sebagai orang Indonesia, Anda harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika Anda tidak berani menjawab, bahkan tidak bisa berpikir apapun untuk menjawab, ya sudahlah banyak-banyak saja beristighfar, sambil menanti saat datangnya maut. Ya, hidup seperti itu tak ada bedanya antara kematian dan kehidupan; hidup tapi mati, mati tapi masih hidup.

Bulan April lalu ada sebuah tulisan kecil di koran Pikiran Rakyat. Judulnya, “Perubahan Sistem Tak Ubah Iklim Koruptif”, edisi 12 April 2010, halaman 16. Dalam artikel itu disebutkan pandangan Ketua MK, Mahfud MD., tentang kegagalan proses Reformasi di Indonesia. Pak Mahfud mengatakan, bahwa meskipun sistem manajemen lembaga negara sudah diubah, nyatanya korupsi tetap subur.

Disini coba saya kutip ulang artikel di PR tersebut:

Perubahan sistem perbankan dan peradilan sejak era Reformasi, sepertinya bukan jawaban dalam mengatasi lembaga negara yang koruptif, karena langkah strategis ini nyatanya melahirkan mafia hukum di peradilan ataupun di perbankan. “Maka skandal Bank Century, Yayasan Pengembangan Bank Indonesia (YPBI), skandal pajak, hakim disuap, semua menunjukkan bahwa perubahan system bukan jawaban mengatasi masalah,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi, M. Mahfud MD saat berbicara di Yogyakarta, Minggu (11/4).

Dia mengatakan, belum ada strategi lain untuk mengatasi masalah perbankan dan lembaga negara, selain perubahan sistem. Kenyataannya, perubahan sistem di perbankan, peradilan, dan perpajakan, tetap saja melahirkan berbagai mafia hukum. Itu pertanda, perubahan sistem bukan terapi mengatasi masalah. Menurut dia, BI sebelum independen dianggap sering diintervensi oleh Pemerintah Orde Baru. Ketika BI independen pun, sejumlah skandal korupsi muncul dari dalam. Hal yang sama dialami peradilan. (Pikiran Rakyat, 12 April 2010, hal. 16).

Pernyataan Mahfud MD. ini sangat berarti, sebab ia muncul dari seorang Ketua MK yang mempelajari perubahan-perubahan tatanan hukum sejak era Reformasi berlangsung. Singkat kata, “Bangsa Indonesia ini susah menjadi baik. Perubahan aturan atau tatanan apapun, korupsi tetap merajalela.”

Kalau dengan bahasa saya sendiri, “Reformasi selama 12 tahun terakhir hanya basa-basi saja. Kulitnya berubah, tetapi hakikat sistem korupsinya tetap tidak bergeming. Seakan sistem korupsi itu sudah berurat-berakar, sehingga bila terjadi perubahan, hanya berubah person-nya saja, tidak berubah sistemnya.”

PKS pernah membuat kampanye publik lewat spanduk-spanduk yang berbunyi, “Harapan itu masih ada!” Tetapi secara pribadi, saya tak yakin dengan optimisme seperti itu, selama kita tidak mau bicara AKAR masalahnya.

Kerusakan yang menimpa bangsa Indonesia ini sudah sangat akut. Andaikan di negeri ini terjadi 100 kali Reformasi, tetap saja susah berubah, jika yang diubah hanya kulit atau kemasannya saja. Tanpa ada perubahan yang radikal dan dramatis, rasanya susah berharap. Paling, bangsa ini akan “mati pelan-pelan”.

Lalu akar masalah bangsa kita apa?

Bangsa Indonesia menjadi rusak dan hancur seperti saat ini ialah karena dominasi sistem FEODALISME. Dulu feodalisme itu dikaitkan dengan raja-raja, keluarga raja, dan kaum bangsawan; dominasi politik di tangan kaum bangsawan. Para bangsawan ketika itu berkuasa dan keluarganya hidup nyaman karena mengabdi kepentingan kaum KOLONIAL. Sebagai imbalan atas jasanya bagi kolonial, mereka diberi gaji, kedudukan, jabatan, tanah, perlindungan, dll.

Ternyata, sistem seperti itu belum berubah sampai sekarang. Kalau dulu, dominasi oleh para bangsawan, sekarang oleh KAUM ELIT. Bisa elit politik, elit birokrasi, elit pengusaha, elit akademisi, elit militer/kepolisian, elit media, dan lain-lain. Tanpa disadari, kaum elit inilah yang selama ini mendominasi percaturan kehidupan di Indonesia ini. Dan tidak berlebihan jika kebanyakan mereka masih memiliki garis keturunan dengan kaum bangsawan di masa lalu.

Seharusnya, negara dibangun untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Tetapi dalam praktiknya, negara ini bekerja melayani nafsu hedonisme kaum elit. Negara sebesar ini dengan kekayaan besar luar biasa, bukannya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk segelintir kaum elit yang rakus kesenangan dunia. Boro-boro mereka ingat dengan rakyat, ingat dengan anak-isterinya sendiri saja, mereka jauh. Ketika selingkuh, mereka lupa anak-isterinya.

Lalu bagaimana kaum elit itu bisa eksis dan mendominasi?

Jawabnya mudah saja: Mereka dipelihara oleh para KOLONIALIS baru. Konsorsium para penjajah asing sangat berterimakasih dengan kehadiran kaum elit durjana dan terkutuk itu, sebab merekalah yang menjadi makelar untuk menjual kekayaan bangsa ke tangan asing. Para kolonialis justru sangat tidak suka jika ada peranan orang-orang yang idealis dan mencintai negerinya, sebab bila mereka banyak berperan, proses penjajahan akan sangat terganggu.

Jadi kondisinya masih sama seperti jaman penjajahan Belanda dulu. Masih sama saja. Tidak banyak berubah. Dulu kaum bangsawan menjajah rakyatnya sendiri dalam rangka melayani nafsu Belanda. Kini kaum elit menjajah rakyatnya kembali, demi melayani konsorsium penjajah asing. Sama belaka, Mas!

Selama sistem FEODALISTIK ini masih bercokol kuat, jangan berharap Indonesia akan berubah. Itu omong kosong belaka. Apa yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD, bukan sesuatu yang aneh. Andai ada perubahan sistem sampai 100 kali pun, selama dominasi kaum elit pelayan penjajah ini tidak diamputasi, jangan pernah berharap ada masa depan bagi Indonesia.

Tugasku disini hanya mengingatkan, sebatas amanah yang Allah bebankan ke pundakku. Setelah itu semua persoalan kembali kepada Anda sendiri. Mau berubah, atau mau tertindas? Mau menjadi hamba Allah yang mulia, atau menjadi jongos orang kafir? Silakan, itu pilihan Anda. Senang atau susah, syurga atau neraka, ada dalam pilihan hidup Anda.

AMW.


Mahfud Md: “Fiqih Hanya Buatan Manusia!”

Februari 23, 2010

Kadang saya merasa pening memikirkan bangsa Indonesia ini. Negara besar, penduduk ratusan juta, kepulauan terbesar di dunia, Muslim terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam besar, sejarah perjuangannya juga panjang. Tetapi mengapa saat ini kita dipimpin orang-orang bodoh? Nah, inilah sesuatu yang sangat mengherankan.

Tidak pernah belajar agama ya?

Ada kalanya, seseorang sudah menjadi guru besar, bergelar profesor tentunya, puluhan tahun malang-melintang di dunia kampus, pernah menjadi menteri, pernah menjadi pejabat negara, bahkan ada yang menjadi ketua mahkamah tertinggi di Indonesia. Nah, mengapa orang seperti itu menjadi bodoh, bicaranya ngawur, seperti orang yang sama sekali tidak pernah sekolah? Inilah yang mengherankan.

Dalam sebuah berita dikatakan:

Hati-hati Anda yang menjalani pernikahan siri. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfudz MD menyatakan setuju jika pernikahan siri dipidanakan. “Saya setuju saja, karena pernikahan itu hanya permasalahan fiqih. Sedangkan fiqih hanya buatan manusia saja,” ujar Mahfud, Ahad (14/2). [Sumber: http://www.republika.co.id, 14 Februari 2010].

Dalam pandangan saya, ucapan Mahfud Md ini memiliki 3 makna: Kotor, bodoh, dan menghujat Islam. Tidak terbayangkan, seorang Ketua Mahkamah Konstitusi bisa mengucapkan kata-kata jorok seperti itu. Dia benar-benar seperti orang yang tidak pernah belajar agama. Jangan-jangan sejak kecil memang dia tidak pernah belajar agama? Darasnya mungkin hukum kolonial terus, sejak kecil sampai tua.

Tidak usah berpanjang kata, mari kita kritisi ucapan Mahfud Md, sang Ketua Mahkamah Konstitusi ini. Tapi perlu saya jelaskan juga, saya dan isteri menikah secara formal melalui mekanisme KUA, tahun 1993 lalu di Depok. Jadi, ini murni masalah pemikiran atau prinsip, bukan persoalan yang kita alami sebagai fakta sosial di lapangan.

[1] Mahfud: “Sedangkan fiqih hanya buatan manusia saja.” Kita sangat mengenal kalimat-kalimat seperti ini. Ini adalah statement khas orang-orang kafir Liberal. Mereka sejak lama menolak Fiqih Islami, lalu merujuk kepada fiqih hawa nafsu. Sampai di kalangan mereka membuat buku, Fiqih Lintas Agama. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ujungnya nanti ya Pluralisme itu sendiri. Kesana lagi nanti ujungnya.

[2] Demi Allah, ilmu Fiqih bukanlah buatan manusia. Secara istilah, benar bahwa kata Fiqih (Fiqhun) memang merupakan kata-kata yang disebutkan oleh para ulama Ahli Ushul di jaman Salaf. Tetapi materi Fiqih itu sendiri, hikmahnya dalam kehidupan Islam, semata-mata adalah dari sisi Allah. Argumentasinya: Ilmu Fiqih lahir dari Kitabullah dan Sunnah, sedangkan Kitabullah dan Sunnah adalah dua macam Wahyu yang turun dari sisi Allah Ta’ala. Maka tidak bisa dikatakan, Fiqih adalah buatan manusia.

[3] Andaikan Fiqih dianggap buatan manusia, bagaimana manusia bisa membuat ilmu Fiqih itu? Harus dicatat dengan tinta tebal, sebelum Rasulullah Saw menjadi Rasul, manusia tidak mengenal Fiqih Islam sama sekali. Muhammad (sebelum menjadi Nabi) juga tidak mengenal Fiqih Islam. Malah beliau tidak bisa membaca alias ‘ummi. Jadi tradisi Fiqih Islam itu mulai berkembang bersama turunnya Risalah Islam. Ini bukan ciptaan manusia, tetapi turun sebagai rahmat Allah.

[4] Misalnya, dalam Al Qur’an terdapat ayat, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum” (diwajibkan atas kalian menjalankan puasa, seperti diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian). Ayat ini menjadi dalil diwajibkannya puasa Ramadhan. Dalam Al Qur’an banyak ayat-ayat seperti ini. Perhatikan dengan jelas, ayat ini berkaitan dengan masalah Fiqih, tetapi ia murni datangnya dari Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an itu dari mana? Apakah Al Qur’an ciptaan manusia? Tanyakan deh sama Mahfud Md, saya khawatir dia tidak tahu dari mana Al Qur’an berasal.

[5] Selama ini ada banyak fitnah kotor dari para pemeluk agama Liberal. Mereka menganggap bahwa ajaran Fiqih terlalu banyak dicampuri oleh peranan para ulama. Sampai mereka menyimpulkan, Fiqih itu buatan para ulama tersebut, seperti halnya Talmud ditulis oleh tangan-tangan para Rabi Yahudi. Ini adalah persepsi yang kacau-balau. Saya mengira, Mahfud terpengaruh pemikiran bodoh ini. Tentu saja, sumber pemikiran konyol itu dari kalangan orientalis. Mohon dicatat dengan tinta tebal: Tugas para ulama atau mujtahid ahli fiqih, mereka itu bukan membuat hukum-hukum Islam. Sama sekali tidak. Mereka itu hanya membantu memahami, memberi koridor, memudahkan menarik kesimpulan, serta memberi pilihan-pilihan pendapat hukum. Mereka sama sekali tidak menciptakan hukum. Hukum itu tetap sumbernya dari Allah dan Rasul-Nya, sedangkan para ulama berperan memudahkan memahami khazanah Al Qur’an dan Sunnah secara lurus, benar, dan sesuai pemahaman Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Andaikan ada ulama yang mengatakan, “Ini adalah pendapat-pendapat fiqih buatanku sendiri, murni hasil karanganku, dari proses berpikir yang aku lakukan.” Jika ada yang demikian, secara MUTLAK kita harus menolak ucapan itu. Islam bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, bukan dari selain keduanya.

[6] Kalaupun ada ijtihad para ulama dalam masalah Fiqih, itu bukan murni hasil pikiran mereka sendiri. Ulama ini tentu menyimpulkan hukum berdasarkan Kitabullah, As Sunnah, dan kaidah-kaidah Fiqih yang sudah masyhur. Artinya, pendapat itu tidak murni dari akalnya sendiri, melainkan memiliki sandaran dari Khazanah keilmuwan Islam. Semoga Mahfud Md bisa mengerti, bahwa segala ilmu yang dikaitkan dengan Islam, tidak ada satu pun yang murni hasil pikiran manusia sendiri. Kalau dari pikiran manusia sendiri secara murni, 100 %, itu tidak bisa dikaitkan dengan Islam. Dinamakan paham Islam, selalu dihubungkan kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Catat itu, wahai Mahfud!!!

[7] Dalam persoalan Nikah Sirri atau nikah secara Syariat, tetapi tidak dicatatkan di KUA. Ini bukan buatan manusia, ini murni berasal dari tuntunan Wahyu Allah. Mengapa demikian? Sebab yang memberi teladan untuk melakukan pernikahan itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Dalam hadits diceritakan, ada 3 orang yang bertanya kepada Aisyah Ra tentang sifat ibadah Nabi Saw. Lalu diberi jawaban bahwa ibadah Nabi sangat mengagumkan. Kemudian mereka bertiga merasa kecil hati dengan ibadah mereka selama ini. Sejak itu mereka komitmen akan shalat malam terus sepanjang malam, akan puasa terus sepanjang siang, dan ada yang tidak akan menikah. Nabi mendengar ucapan mereka, lalu Nabi Saw menjelaskan, bahwa dirinya shalat tetapi juga istirahat, puasa tetapi juga berbuka, dan beliau menikahi wanita. Di bagian akhir hadits itu Nabi Saw bersabda, “Wa man raghiba ‘an sunnati falaisa minni” (siapa yang membenci Sunnah-ku, dia bukan bagian dari Ummat-ku). Jadi, pernikahan ini bukan pendapat manusia, tetapi amalan yang dilakukan Nabi. Bahkan beliau menegaskan, orang yang membenci Sunnah-nya, bukan bagian dari ummatnya. Nabi Saw dalam mengamalkan amalan, itu bukan dari hawa nafsunya sendiri, tetapi mendapat bimbingan dari Wahyu Allah.

[8] Terakhir, kalau Fiqih Islam dianggap buatan manusia, lalu bagaimana dengan hukum-hukum sekuler yang selama ini digeluti oleh Mahfud Md? Apakah itu ciptaan Allah? Apakah itu bersumber dari Wahyu? Apakah itu merupakan ilmu yang turun dari langit? Ya, kalau Mahfud Md saja berani meremehkan dan melecehkan Fiqih Islam, lalu bagaimana sikap kita terhadap produk-produk hukum yang setiap hari dimakan oleh Mahfud Md itu? Apa yang akan kita katakan terhadap hukum-hukum yang diturunkan dari akal pikiran dan hawa nafsu penjajah Belanda itu? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Inilah makanya, betapa sedih dengan kenyataan hidup di jaman seperti ini. Orang-orang yang baik, komitmen, dan memiliki ilmu tidak diberi tempat yang layak dalam kepemimpinan. Sementara orang-orang bodoh, nalarnya rusak, argumentasinya kacau, malah mendapat tempat terhormat di mahkamah negara.

Ummat Islam harus berhati-hati dengan Mahfud Md ini. Sebab kita masih memiliki urusan terkait dengan tuntutan gerombolan Liberaliyun dalam masalah UU penistaan agama. Saya sempat membaca di running text MetroTV, kata Mahfud, sebenarnya banyak pihak yang ingin terlibat dalam judicial review UU penistaan agama.

Satu sisi, kita harus mengawal UU tersebut. Jangan sampai dicabut, sehingga melegalkan segala macam hujatan kepada Islam (dan agama-agama lain). Tetapi di sisi lain, kalau sampai UU penistaan agama itu dicabut, lalu bermunculan orang-orang yang terus menghujat Islam, sebaiknya mereka diadili dengan pengadilan jalanan saja! Tidak apa-apa kita dipenjara, dijatuhi hukuman, atau apapun, dalam rangka menghancurkan para penista agama itu. Kata orang Betawi, “Lu jual, gue beli!

Ya, bagaimana lagi kita hendak membela Islam, kalau negara selalu memojokkan agama ini? Ya sudah, sekalian saja vis a vis. Dipenjara karena membela Islam bukanlah kehinaan, tetapi kemuliaan. Catat itu!!!

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.