Membaca Pidato Anas

Februari 24, 2013

Surprised !!!

Itulah komentar pendek yang bisa disampaikan untuk pidato politik Anas Urbaningrum, di kantor pusat DPP Demokrat di Jl. Kramat Raya Jakarta, 23 Februari 2013. Ini adalah pidato untuk merespon pengumuman KPK yang menyatakan Anas sebagai tersangka korupsi gratifikasi proyek Hambalang, sehari sebelumnya.

Dari sisi komunikasi, pidato Anas disampaikan tanpa teks, runut, perlahan-lahan, tidak ada kata-kata “eee…eee…” Seluruhnya disampaikan dengan bahasa yang lugas, tenang, kronologis. Ia tidak keluar dari karakter Anas yang tenang, kalem, memilih kata-kata. Dalam sejarah politik Indonesia, ini termasuk salah satu pidato terbaik yang perlu dicatat; dari sisi komunikasi politik.

Dari sisi politik, Anas telah mengeluarkan sebagian serangan keras-nya ke sosok SBY dan politisi-politisi Demokrat di sekitarnya. Anas baru mengeluarkan sebagian dari amunisi yang dia simpan. Sungguh, serangan lewat pidato politik Anas ini amat sangat keras…keras sekali; terutama menohok jantung SBY dan dapur politik Partai Demokrat. Yakinlah, SBY butuh ketegaran khusus untuk mendengar serangan dari Anas ini.

Selain menyerang SBY, pidato Anas juga secara telak menyerang KPK. KPK dianggap sebagai lembaga “super body” yang tidak suci dari intervensi politik. Bahkan Burhanuddin Mubtadi juga menyesalkan pernyataan Abraham Samad yang bebarengan dengan keluarnya 8 poin statement politik SBY. Seakan, pernyataan Samad memberi amunisi kepada SBY untuk terus mendesak Anas. Yang lebih aneh lagi, salah satu butir pakta integritas yang ditanda-tangani Anas, isinya kurang lebih: kader Demokrat siap mundur, kalau menjadi tersangka KPK. Seakan segalanya sudah dipersiapkan, agar Anas cepat tersingkir dan tidak berkutik lagi.

Sebagai perbandingan, untuk menghadapi Muhammad Nazaruddin saja, Partai Demokrat sudah hancur-lebur; apalagi menghadapi Anas yang lebih kuat, pintar, dan memiliki jaringan politik luas. Badai politik yang akan dihadirkan oleh Anas, secara teori, bisa lebih hebat dari Nazaruddin. Harus dicatat juga, baik Nazaruddin maupun Anas, sama-sama dari daerah pemilihan Jawa Timur. Intinya, SBY bisa mendapatkan lawan politik baru yang tangguh.

Oh ya, satu yang ingin kita komentari dari pidato Anas Urbaningrum, yaitu tentang istilah: “Bayi yang tidak diharapkan kelahirannya“. Mengapa muncul pernyataan sekeras itu?

Dari informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis, kira-kira background masalah itu sebagai berikut: Ketika terjadi Kongres Demokrat di Padalarang, Kab. Bandung Barat. Ketika itu pertarungan memperebutkan posisi Ketua Umum PD mengerucut ke dua figur, yaitu: Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum. Pihak Cikeas secara umum mendukung Andi Malarangeng; Irfan Baskoro gandeng-renteng dengan Andi Malarangeng kesana-kemari menyampaikan dukungan politik Cikeas ke sosok Andi. Tapi dalam satu pertemuan tertutup elit-elit Demokrat terjadi insiden yang mengejutkan. Waktu itu pertemuan ingin menyepakati suatu keputusan politik tertentu, lalu ada yang berkata: “Tunggu dulu! Jangan putuskan dulu! Kita perlu menunggu pandangan Ibu Ani Yudhoyono.”

Ketika mendengar nama Ibu Ani Yudhoyono disebut-sebut, seketika Ahmad Mubarok, salah seorang elit Demokrat, segera memberikan tanggapan keras. Dia menolak ide untuk meminta persetujuan Bu Ani terlebih dulu. “Tidak perlu Ibu Ani Ibu Ani-an!” kira-kira begitulah ucapan Ahmad Mubarok. Maka ucapan Ahmad Mubarok ini segera dilaporkan ke Bu Ani yang ada di Cikeas. Mendengar namanya disepelekan oleh Ahmad Mubarok yang notabene adalah pendukung Andi Malarangeng juga; maka Bu Ani segera memberikan “hukuman politik” untuk grup Andi Malarangeng. Dia menyerukan agar dukungan politik dialihkan ke Anas Urbaningrum. Sementara Pak SBY hanya bisa menonton intervensi isterinya ke arena kongres. Inilah insiden politik yang kemudian berujung terpilihnya Anas. Jadi, pada awalnya dukungan kubu Cikeas memang bukan untuk Anas.

Begitu kira-kira informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis terkait situasi di Kongres Demokrat di Padalarang yang akhirnya menguntungkan posisi Anas Urbaningrum. Maka itu, posisi Ahmad Mubarok di Demokrat jadi seperti tenggelam. Baru-baru ini Ahmad Mubarok menyatakan bahwa Ibas tidak mungkin akan menjadi pengganti Anas. Seakan, Ahmad Mubarok masih memendam rasa kesal dengan seorang ibu tertentu.

Bagi yang belum mendengar pidato Anas Urbaningrum, silakan lihat di link berikut ini:

Oke. Selamat bersiap-siap membaca buku-buku selanjutkan yang akan dibuka oleh Anas seputar aurat-aurat Partai Demokrat dan politik SBY. Selamat membaca ya!

Mine.

Iklan

Anas Pasti Terjungkal!

Februari 8, 2012

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.