Ketika Qatar Diblokade…

Juli 10, 2017

SEJAK 5 Juni 2017 Bahrain menyatakan memutus hubungan diplomatik dengan Qatar. Lalu diikuti beberapa negara lain, yaitu: Saudi, UEA, Mesir, Yaman, Maladewa, dan lainnya. Pemutusan hubungan diplomatik ini diikuti penutupan wilayah dan akses negara-negara tersebut terhadap Qatar. Karena posisi Qatar begitu dekat dengan UEA, Bahrain, juga Saudi, dampaknya sangat hebat. Praktis, Qatar kini DIBLOKADE.

Posisi Qatar di Depan Ujung Meriam IRAN

Apa makna blokade ini? Tentu saja sangat dahsyat.

Negeri Sunni seperti Qatar, dengan jutaan kaum Muslimin tinggal di dalamnya, diblokade dari darat, laut, dan udara oleh negara-negara tetangganya tersebut. Andaikan jarak negara-negara tersebut JAUH dari Qatar, tidak masalah, atau paling ada sedikit masalah. Lha, ini mereka bertetangga. Bayangkan, kalau jalan ke rumah Anda dari kanan, kiri, depan, belakang ditutup oleh tetangga Anda. Apa akibatnya?

Ya Rabbi ya Aziz… Di Qatar terdapat jutaan Muslim, laki-laki, wanita, anak-anak, remaja, pemuda, gadis-gadis, orang tua, dan seterusnya. Akses mereka terhadap transportasi, makanan, sarana-prasarana luar, hubungan kekerabatan, kerjasama bisnis, dan sebagainya ditutup. Ya Rabbi, apa ini? Apa ini ya Rabb?

Apakah SIFAT-SIFAT JAHILIYAH ARAB LAMA sudah tumbuh berkembang lagi? Apakah kejahiliyahan telah menang, setelah mereka diberi cahaya Islam? Sangat menyedihkan.

Bahkan Qatar dituduh mendukung TERORIS dan seterusnya. Siapa terorisnya? Katanya, Ikhwanul Muslimin. Mungkin semua ulama Ikhwanul Muslimin dan karya-karya mereka yang sehari-hari kita baca untuk mendapat ilmu dan inspirasi dalam PENDAKIAN menuju Ridha Allah; mereka masukkan juga sebagai teroris. Na’udzubillah min kulli dzalik.

Yang tidak teroris siapa? Mungkin jawab mereka, Abdul Fattah As-Sissi, yang telah membunuhi ribuan Muslim di Mesir. Atau mungkin Emir UEA yang melegalkan HEDONISME dan seterusnya di negerinya.

Yang baik dituduh teroris, yang brutal dan anti agama, diklaim sebagai pahlawan atau pemimpin sejati. Jika demikian, berarti otak kita yang sudah TERBALIK. Kebajikan agama dianggap musuh, pembangkangan agama dianggap kawan.

Apa benar SIFAT-SIFAT JAHILIYAH ARAB LAMA sudah berkembang lagi di tengah kaum Muslimin? Entahlah. Semoga saja, Allah memenangkan Al-Haq dan meruntuhkan al-bathil, dengan Kuasa dan Perkasa-Nya. Amin amin ya Rabbal ‘alamiin.

(Ibnu Fatah).

 

Iklan

Antara KEKERASAN dan KEADILAN

Oktober 11, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu Andy F. Noya mewawancarai KH. Musthafa Bisri, pimpinan pondok pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang. Acara ini seperti spesial dibuat dengan menghadirkan host utama, Gus Mus itu. Temanya sekitar relasi antara agama dan kehidupan politik.

Satu pertanyaan menarik disampaikan oleh Andy F. Noya, “Mengapa sampai saat ini masih sering terjadi kekerasan atas nama agama?”

Pertanyaan stereotip itu lalu dijawab oleh Musthafa Bisri dengan analagi anak-anak sekolah. Katanya, kalau sekolah masih TK, SD, SMP, atau SMA, masih sering berkelahi, tawuran, dll. Tetapi kalau sudah sarjana, magister, doktoral, otomatis akan jauh dari kekerasan. “Berarti, menurut Anda kekerasan atas nama agama itu hanya berlaku bagi orang-orang yang pemahaman agamanya dangkal,” tanya Andy F. Noya sekaligus menyimpulkan.

Siapa Merindukan Kedamaian, Ciptakanlah Keadilan.

Begini ya…

SATU, selemah-lemahnya cacing, kalau dia diinjak, akan melawan, meskipun perlawanannya itu tak banyak berguna. Untuk hewan seperti cacing saja masih memiliki “harga diri”, apalagi manusia.

DUA, kebodohan manusia jaman modern di Indonesia, termasuk presenter-presenter TV yang sering memuat jargon “knowledge to elevate”. Mereka ini kalau melihat kebakaran, maka yang dilihat pasti ASAP-nya saja. Mereka tak mau melihat asal API-nya. Jurnalisme TV di Indonesia sejak tahun 2005 madzhab-nya seperti itu, jadi sejenis jurnalisme “asap doang“. Makanya jurnalisme seperti ini tak ada manfaatnya, dan banyak madharatnya.

TIGA, dalam kehidupan ini berlaku sistem KESEIMBANGAN (balance). Ia sudah menjadi sunnatullah. Sains modern mengukuhkan berlakunya hukum balance dalam gerakan, sifat, dan realitas alam. Kekerasan sering terjadi karena banyaknya perkara yang tidak adil di negeri ini. Jika keseimbangan kekuatan tak terjadi, maka akan muncul kekerasan, kerusakan, kehancuran, serta disharmoni. Pilihannya hanya dua, keadilan yang ditegakkan sehingga muncul damai; atau kezhaliman dibiarkan sehingga melahirkan kekerasan.

EMPAT, para mafia di bidang politik, bisnis, dan birokrasi; mereka berpikir bisa mengendalikan kehidupan dengan membuat makar-makar kezhaliman, sehingga mendapat keuntungan. Tetapi sunnatullah tak akan mungkin mereka patahkan. Sunnatullah telah berlaku, bahwa hukum keadilan senantiasa berjalan. Kezhaliman yang mereka buat hanya akan menyusahkan banyak orang, sebab ia akan memicu munculnya kekerasan-kekerasan. Mereka tak akan bisa menahan kekerasan itu, sebab ia akan muncul alamiah, untuk memenuhi hukum keseimbangan tersebut.

LIMA, jangan pernah bermimpi di Indonesia akan bebas dari kekerasan, akan selalu damai, aman, dan stabil. Ini hanya impian kosong, selama kezhaliman-kezhaliman terus diciptakan. Cara-cara memfitnah, memojokkan, menjelek-jelekkan, serta menodai citra para aktivis Islam di Indonesia, baik oleh media-media massa, tokoh politik, tokoh pengamat, dll. Semua itu akan melahirkan aneka kekerasan, baik yang dilakukan oleh korban yang dirugikan, atau oleh mereka yang tak pernah kita sangka. Kasus tawuran, kerusuhan, kriminalitas, anarkhisme suporter bola, dll. semua itu merupakan “pintu-pintu kekerasan” yang tak pernah selesai; selama kezhaliman terus dipelihara.

Dengan demikian, baik Musthafa Bisri, Andy F. Noya, atau siapa saja; mereka tidak boleh asal membual tentang kedamaian, keamanan, atau kerukunan. Kalau memang cinta kedamaian, penuhi syarat-syaratnya, yaitu: wujudkan keadilan dan jauhkan segala kezhaliman. Termasuk kezhaliman media-media TV yang begitu mudah menuduh pemuda-pemuda Islam doyan kekerasan. Media-media sejenis ini tak mau melihat akar masalahnya; tetapi selalu straight ke arah wujud kekerasan itu sendiri.

Anda cinta damai; maka wujudkan keadilan! Dimanapun cara-cara zhalim terus diproduksi dan dilestarikan, dengan segala macam caranya; disana alamat akan terjadi aneka rupa kekerasan. Andaikan kita tidak tertimpa kekerasan dari satu arah tertentu, yakinlah ia akan datang dari arah-arah tak disangka.

Ingat itu…

AMW.