Beberapa Pemikiran BJ. Habibie

April 9, 2009

Tadi malam, menjelang hari “H” pencontrengan Pemilu 2009, saya menyaksikan dialog BJ. Habibiie di MetroTV dalam acara Save Our Nation. Disana mencuat beberapa ide pemikiran yang layak kita renungkan, sekaligus sebagai kilas balik melihat perjalanan bangsa ini.

Dalam konteks menyelamatkan arah perjalanan Indonesia ke depan, pemikiran-pemikiran Habibie masih layak diperhitungkan. Meskipun beliau sendiri sudah lama tidak terjun dalam kiprah politik praktis. Di titik ini, tidak mengapa kita menempatkan dia sebagai BAPAK BANGSA. Dibandingkan Abdurrahman Wahid, Habibie memiliki modal untuk disebut sebagai Bapak Bangsa. Habibie memiliki khazanah pemikiran-pemikiran konstruktif, dia tidak berkepentingan terhadap jabatan, dan tidak mendendam secara emosional kepada lawan-lawan politiknya. Dan satu lagi, Habibie memiliki jasa-jasa besar bagi bangsa ini yang tidak sanggup dicapai oleh pemimpin-pemimpin politik manapun di era Reformasi (pasca Pemilu 1999).

SOSOK HABIBIE

Sebelumnya, sedikit kita bahas sosok Habibie. Nama beliau Bacharuddin Jusuf Habibie. Dari namanya kelihatan beliau lahir dari keluarga yang melek nilai-nilai Islam. Di mata masyarakat, beliau dikenal dengan sebutan Pak Habibie. Namun di mata para kolega dekatnya, beliau dipanggil Rudy. Mungkin itu diambil dari kata “Ruddin” pada namanya. Pak Habibie juga dikenal sebagai Mr. Cracker, karena beliau sangat ahli dalam masalah retakan pesawat. Beliau memiliki rumus teoritik yang dapat menghitung potensi retakan di tubuh pesawat berdasarkan faktor -faktor yang mempengaruhinya.

Habibie lahir dari keluarga campuran, Bugis dan Jawa. Ayahnya dari Bugis, ibunya dari Jawa. Beliau pernah satu tahun kuliah di ITB, lalu meneruskan studi ke Jerman, sampai pulang sebagai seorang doktor di bidang teknologi. Selama 20 tahun Habibie menjadi Menristek di era Orde Baru, lalu menjadi Wapres di akhir regim Orde Baru. Dan puncaknya beliau menjadi Presiden RI pertama di jaman Reformasi, tanpa didampingi Wapres, memerintah selama 17 bulan. Habibie mengembangkan kiprah politik dengan wadah ICMI, dan membangun The Habibie Center setelah dia turun dari jabatan Presiden.

Dalam kiprahnya di bidang teknologi, Habibie mengenalkan teori “lompatan kodok”. Maksudnya, untuk menguasai teknologi, sekalian saja kuasai teknologi yang paling sulit. Nanti, kalau yang tersulit sudah bisa dikuasai, maka teknologi yang tingkat kesulitannya di bawahnya akan lebih mudah dikuasai. Teknologi pesawat terbang (aeronautika) adalah yang tersulit di bawah teknologi antariksa dan bersaing dengan teknologi energi nuklir. Karena itu di jamannya Pak Habibie serius membangun IPTN. Jika IPTN bisa ditangani dengan baik, maka teknologi seperti otomotif, elektronik, senjata, manufaktur, dll. akan jauh lebih mudah dikuasai.

Hanya karena di Indonesia ada semacam ketentuan yang berlaku sangat kuat, yaitu: BANGSA INDONESIA TIDAK BOLEH MAJU. Maka segala jalan yang akan membawa bangsa ini kepada kebangkitan, kemandirian, dan lepas dari eksploitasi asing dihalang-halangi. Cukuplah bangsa Indonesia menjadi bangsa bodoh, miskin, banyak hutang, bertengkar terus, amoral, maniak hiburan, dan sebagainya. Jadi, hadirnya orang-orang seperti Habibie akan dipandang sebagai ISYARAT KUAT bahwa Indonesia ingin lepas dari penjajahan. Dan hal itu sangat dilarang oleh para kolonialis.

Namun kadang, kondisi bangsa Indonesia juga yang menjadi penghalangnya. Ide-ide Habibie dapat ditangkap dengan baik oleh orang-orang yang mau memahami (dan bisa memahami). Sementara, masyarakat secara umum kesadarannya belumlah matang.

Disini kita akan singgung sebagian pemikiran Habibie yang terlontar dalam acara Save Our Nation itu. Tujuannya tentu bukan untuk melebih-lebihkan pemikirannya, tetapi mengambil sisi-sisi tertentu yang bermanfaat dalam kehidupan dan layak diapresiasi. Terhadap pemikirannya yang tidak positif, ya sudah semestinya ditinggalkan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan