Syariat Islam dan Penjajahan Ekonomi

Februari 2, 2010

Mula-mula, kaum Muslimin harus memahami, bahwa kondisi bangsa kita saat ini berada dalam Kolonialisme Baru. Memang, kita tidak mengalami penindasan fisik seperti di jaman VOC, Belanda, Jepang dulu. Tetapi kita mengalami PENJAJAHAN EKONOMI yang sangat massif dan intensif.

Kalau jujur kita bertanya, “Apa sih tujuan terbesar para penjajah dulu datang ke Indonesia?” Jawabnya, tentu adalah untuk mengeruk kekayaan ekonomi. Slogan mereka sangat terkenal, Gold-Gospel-Glory. Gold adalah mencari kekayaan; Gospel berarti menyebarkan agama gereja; dan Glory berarti membangun imperialisme Barat di Nusantara. Missi penjajahan tidak bisa dipisahkan dari motif ekonomi.

Penjajah Belanda dulu menyadari tentang jasa-jasa bangsa kita dalam memperkaya kehidupan mereka. Maka itu Douwes Decker pernah mengusulkan agar Pemerintah Belanda menerapkan “politik etik”, yaitu menjadi “penjajah yang sopan”. Meskipun menjajah, mereka ingin dilihat tetap peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia. Sebagai konsekuensi “politik etik” ini, banyak sekali putra-putra terbaik dari Indonesia diberi beasiswa untuk sekolah ke Belanda. Setelah lulus dari Belanda, otak-otak mereka banyak yang diracuni konsep peradaban Belanda. Dan kemudian terbukti, “politik etik” tersebut hanyalah bagian dari strategi Belanda untuk memperpanjang cengkeraman penjajahannya di Indonesia.

Kondisi ini sama persis seperti nasib yang menimpa Nurcholis Madjid. Ketika menjadi Ketua HMI, Nurcholis dipuji-puji setinggi langit, sebagai cikal-bakal cendekiawan besar di Indonesia. Maka dia pun diberi beasiswa sekolah ke Amerika. Setelah pulang dari Amerika, pemikiran Nurcholis seperti korsleting alias error. Para penjajah selalu mencari kesempatan untuk menancapkan kukunya lebih dalam. Mereka akan memakai putra-putra pribumi menjadi agen kepentingan kolonialisme.

Penjajahan di era dewasa ini sangat jelas. Sasaran utamanya, mengeruk kekayaan nasional untuk diboyong ke negeri asing. Ada yang mengatakan, dalam setahun kekayaan nasional yang diborong ke luar negeri, bisa mencapai Rp. 200 triliun. Sebuah angka yang sangat fantastik.

Modus penjajahan ekonomi yang dilakukan selama ini, antara lain:

[1] Melakukan eksploitasi kekayaan tambang, hutan, laut, gunung, sungai, dengan cara yang merusak alam, dengan manajemen tidak transparan, serta proporsi bagi hasil yang kecil bagi Indonesia. Operasi perusahaan seperti Freeport, Exxon Mobile, Chevron, Newmont, dan lain-lain tidak diragukan lagi.

[2] Mendirikan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, yang merebut pangsa pasar perusahaan-perusahaan domestik dan UKM. Contoh, waralaba McDonald jelas telah merebut pangsa pasar para penjual ayam goreng lokal.

[3] Menguasai saham perusahaan-perusahaan milik negara atau perusahaan swasta nasional. Kasus seperti terjadi pada Indosat dan Telkom adalah contoh nyata yang bisa disebut disini. Begitu pula penguasaan saham TV-TV nasional.

[4] Membeli obligasi dalam bentuk SBI (Surat Bank Indonesia) atau SUN (Surat Utang Negara) dalam jumlah besar. Kalau tidak salah, penguasaan asing dalam pasar obligasi ini mencapai 60 %. Setiap tahun negara harus membayar bunga hutang itu dalam jumlah besar.

[5] Merebaknya produk-produk asing atau produk dari perusahaan-perusahaan lisensi asing di pasar domestik. Misalnya, produk dari China, Jepang, Korea, Amerika, Jerman, dan lain-lain. Bisa dikatakan, produk domestik kita hanya bertahan untuk kategori produk-produk tradisional dan UKM saja.

[6] Ketergantungan kepada lembaga kreditor dunia, terutama IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan lain-lain. Memang hubungan dengan IMF sudah diputus, tetapi Wakil Presiden Si Boediono, ketika ikut dalam Pilpres, dia masih berstatus pejabat eksekutif IMF dari perwakilan Indonesia.

[7] Menguasai saham-saham media massa, baik cetak maupun elektronik, kemudian memakai media-media itu untuk semakin menancapkan kuku penjajahan di Tanah Air. Caranya, dengan menyebarkan hedonisme, westernisasi, sikap konsumtif masyarakat, klenik, sihir, pornografi, dll.

Realitas penjajahan seperti ini jelas sangat bertentangan dengan PANCASILA. Bertentangan dengan seluruh Sila Pancasila.

Penjajahan ekonomi seperti ini jelas akan merusak moralitas bangsa Indonesia. Rakyat akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup, termasuk melakukan perbuatan amoral, kriminal, korupsi, dll. Hal itu jelas melanggar, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Ia juga melanggar, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Bagaimana akan adil, kalau rakyat Indonesia hidup nestapa dan kelaparan, sedangkan orang-orang asing makmur materi.

Juga melanggar, “Persatuan Indonesia.” Bukti nyata adalah kenyataan di Papua saat ini. Sebagian masyarakat Papua menuntut memisahkan diri dari Indonesia, karena Pemerintah RI dianggap bersikap tidak adil. Sementara Freeport tetap tenang melakukan penggalian emas, tembaga, uranium, dll. di bumi Papua. Masyarakat Riau dan Aceh juga demikian, meskipun tidak seekstrim orang Papua. Jadi intinya, orang asing untung, bangsa kita buntung.

Juga melanggar Sila Ke-4, sebab penjajahan seperti itu jelas-jelas dilakukan secara sepihak, demi keuntungan orang asing, sementara rakyat Indonesia tidak pernah diajak berbicara baik-baik. Dan jelas, penjajahan itu sangat bertentangan dengan Sila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Bagaimana disebut keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, kalau kekayaan negeri ini lebih banyak menguntungkan asing daripada warga negara pribumi?

Jelas sekali, sangat terang, tidak ada kesamaran, bahwa penjajahan ekonomi selama ini di Indonesia bertentangan sangat kuat dengan PANCASILA. Artinya, masalah ini sudah mengguncang dasar-dasar kehidupan kebangsaaan di negeri ini. Jika sudah separah ini, alamat kehancuran NKRI tinggal menanti waktu saja.

Kalau seorang pemuda Islam ditanya, “Bagaimana solusi tuntas untuk keluar dari semua persoalan pelik ini?”

Maka jawaban yang sangat jelas adalah menerapkan Syariat Islam. Inilah jawaban yang kuat, tuntas, dan efektif. Sudah bukan rahasia lagi, para penjajah asing sangat takut dengan penerapan Syari’at Islam. Jika Syariat diberlakukan, mereka khawatir akan kehilangan daerah jajahan potensial. Karena itu sangat dimaklumi, kalau para penjajah membiayai JIL, Libforall, Wahid Institute, ICIP, dkk. untuk menentang secara total gerakan penegakan Syariat Islam. Islam memiliki banyak instrumen yang efektif bisa dipakai untuk mematahkan tangan-tangan kaum imperialis-kolonialis itu. Tidak heran, jika mereka sangat memusuhi Syariat Islam.

Kita perlu ingat sejarah. Belanda sangat sulit untuk menembus benteng pertahanan masyarakat Aceh. Berkali-kali usaha, selalu gagal. Maka mereka menyusupkan seorang orientalis, Snouck Hurgronje yang menyamar sebagai Haji Abdul Ghafur untuk masuk ke tengah masyarakat Aceh. Sejak saat itu Snouck mulai meracuni pikiran rakyat Aceh dan memberikan rahasia-rahasia kehidupan sosial di Aceh. Dengan gerakan Snouck inilah, rakyat Aceh kemudian dikalahkan. Di hari ini, tangan-tangan asing melahirkan Snouck-Snouck baru dalam jumlah yang banyak, yaitu JIL dan kawan-kawan. Mereka menyerang Islam dari dalam, dalam rangka melayani kepentingan para penjajah.

Hanya saja, untuk melaksanakan Syariat Islam di Indonesia ini tidaklah mudah. Masyarakat kita sudah terlanjur phobia, berburuk-sangka, dan termakan oleh fitnah-fitnah yang menyesatkan. Hal itu juga tidak terlepas dari perusakan opini oleh media-media massa selama puluhan tahun terakhir. Melaksanakan Syariat Islam dalam kondisi seperti ini, tak ubahnya seperti melukis gambar harimau di atas kertas. Harimau dikenal sebagai hewan yang tangguh dan berwibawa, tetapi kalau hanya di atas kertas, tidak banyak pengaruhnya.

Dan tidak baik juga jika kita menempuh cara-cara kekerasan untuk memaksa masyarakat menerima Syariat Islam. Dulu Nabi Saw berdakwah baik-baik, tanpa kekerasan, sampai Allah memberikan kemenangan di Madinah. Kita harus tetap menempuh cara-cara damai untuk mengajak masyarakat menerima Syariat Islam dan komitmen dengannya. Jika peluang demokrasi terbuka, tidak masalah juga memanfaatkan sarana seperti itu.

Meskipun begitu, kita harus terus menentang penjajahan ekonomi di negeri ini. Dengan sarana-sarana politik yang ada, kita harus terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Indonesia. Kita bisa berkerjasama dengan para pejuang Nasionalis dalam rangka menyelematkan kehidupan rakyat di negeri ini. Nabi Saw dulu juga pernah bekerjasama dengan kalangan Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah, untuk sama-sama menjaga Kota Madinah. Itulah yang kemudian kita kenal sebagai perjanjian Piagam Madinah.

Mari kita sama-sama berjuang, menyelamatkan kehidupan ratusan juta penduduk Indonesia, menentang praktik PENJAJAHAN EKONOMI di negeri ini. Semboyannya jelas: Merdeka atau mati!!! Sekali merdeka, tetap merdeka!!! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

AMW.

Iklan

Membaca Pikiran Sri Mulyani

Juni 11, 2009

Siapa tidak kenal Sri Mulyani Indrawati? Rasanya hanya orang kuper yang tidak tahu siapa dirinya. Selain sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menjabat Menteri Perekonomian. Jabatannya sangat prestisius, semua politisi dan partai politik sangat “haus” ingin mencapai posisi yang diduduki Sri Mulyani ini.

Sekitar seminggu lalu ada dialog khusus antara Wimar Witoelar dengan Sri Mulyani, di MetroTV. Acaranya, Wimar Live, tayang di MetroTV, sekitar jam 20.30 WIB. Tema yang dikaji waktu itu tentang “pengelolaan hutang negara”. Sebagai Menteri Keuangan, jelas Sri Mulyani sangat berkompeten menjelaskan pemikiran-pemikirannya seputar isu hutang negara itu. Sekaligus dia bisa jelaskan garis ekonomi Kabinet SBY selama ini.

Saya tidak mengikuti acara secara tuntas, hanya sekitar seperempat acara bagian akhir. Disini kita akan kemukakan beberapa poin pemikiran penting  Dr. Sri Mulyani Indrawati, ekonom jebolan FE UI, yang pernah bekerja di IMF sebagai salah satu supervisor lembaga tersebut.

SEBAGIAN PEMIKIRAN SRI MULYANI

Sri mengaku sebagai orang Jawa yang lahir di Indonesia, sekolah di UI, lalu melanjutkan sekolah ke Amerika. Lalu pulang kembali ke Indonesia. Dia merasa tetap sebagai orang Indonesia, tidak pernah berubah menjadi orang bule, meskipun selama studi bergaul dengan banyak orang bule. Sri merasa kemudian mendapati dirinya sebagai bagian dari tatanan dunia yang concern utamanya adalah manusia itu sendiri.

Sri menyebut rakyat Indonesia termasuk “short memory lost” (memorinya pendek, cepat melupakan kejadian-kejadian sejarah). Di jaman Orde Baru Sri mendapati sistem ekonomi tertutup, lalu muncul era Reformasi yang mendobrak sistem itu, sehingga menjadi terbuka (minim proteksi) seperti saat ini. Lalu Sri mempertanyakan, ketika ekonomi sudah terbuka, mengapa saat ini muncul ide-ide untuk kembali kepada ekonomi tertutup (seperti Orde Baru)?

Sri mendapati masalah utama di era Orde Baru ialah faktor korupsi. Mengapa setelah Reformasi tidak memaksimalkan upaya-upaya pemberantasan korupsi itu sendiri? Jadi tidak perlu kembali ke sistem ekonomi tertutup.

Sri menyebut masalah hutang negara itu biasa. Dalam sistem ekonomi yang dia pelajari selama ini, di dunia ini sudah ada mekanisme untuk mengatur soal hutang itu. Entah, kalau ada planet lain yang menerapkan cara lain. Kata Sri, hutang itu biasa, lumrah saja, asalkan diatur sesuai mekanismenya. Contoh, kata dia, hutang luar negeri di bawah 30 % nilai GDP itu masih wajar atau aman. Jadi, semua sudah ada mekanismenya, tidak usah dirisaukan. Ada parameter, ketentuan jatuh tempo, cara pembayaran, syarat-syarat, dan sebagainya.

Sri mengkritik pemikiran yang berkembang selama ini. Kata dia, ada sebagian orang yang selalu berdalih, “Hutang negara kita sekian-sekian, setiap anak yang baru lahir sudah terbebani hutang sekian juta.” Kata Sri, logika seperti ini sepintas tampak benar. Padahal menurut dia di Jepang dan China, meskipun negaranya berhutang besar, namun mereka bisa menjadi raksasa ekonomi luar biasa. Meskipun sekarang ada ide ekonomi Syariah, tetap saja di Arab mereka berhutang juga.

Demikian sekilas pemikiran Sri Mulyani yang bisa saya tangkap dari acara Wimar Live itu. Mungkin ada pengutipan-pengutipan yang tidak tepat. Mohon dimaafkan kalau tidak tepat benar. Tapi insya Allah, poin-poin di atas bisa di-check kembali ke pihak Sri Mulyani atau MetroTV.

MENGKRITISI EKONOM LIBERAL

Kalau kita cermat mengikuti pemikiran-pemikiran Sri Mulyani Indrawati, akan tampak jelas bahwa orang ini benar-benar penganut madzhab ekonomi liberal. Bukan hanya liberal secara pemikiran ekonomi, bahkan liberal secara kebudayaan. Apa yang dia sebut sebagai “bagian dari warga dunia yang concern dengan manusia”  adalah jargon-jargon globalisasi. Harus diingat, salah satu prinsip ekonomi liberal adalah= anti proteksi!  Mereka paling benci kalau suatu negara memproteksi ekonominya dari serbuan produk-produk asing. WTO sendiri jelas berdiri di atas prinsip “world without border line”. Globalisasi dan liberalisme, seperti dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kalau Sri menyebut dirinya sebagai orang Jawa, saya ragu. Dalam falsafah Jawa ada sebuah kredo, “Mangan ora mangan, syukur kumpul” (baik makan atau tidak makan, asal tetap berkumpul dengan keluarga). Prinsip ini sangat berbeda dengan konsep “warga dunia” yang diklaim Sri Mulyani itu.

Baca entri selengkapnya »