Cara Penegakan Hukum KPK Membabi Buta

Mei 30, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mula-mula harus disadari bahwa KPK adalah sebuah lembaga hukum resmi. Mereka ini termasuk penegak hukum bersama jajaran kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan instrumen-instrumen hukum ad hoc lainnya. Fungsi KPK adalah penegakan hukum, khususnya dalam ranah pemberantasan korupsi. Sebagai penegak hukum, KPK juga terikat oleh hukum; kalau tidak begitu, lalu apa artinya ia disebut penegak hukum? Intinya, penegak hukum harus melaksanakan tugasnya sesuai prosedur hukum, tidak mentang-mentang, tidak membabi-buta.    

Masih teringat momen penting, sesaat sebelum Antasari Azhar, mantan Ketua KPK, dijatuhi vonis hukum. Saat itu Antasari ditanya, apakah dia yakin akan memenangkan perkara ini? Dia menjawab yakin. Begitu pun isteri Antasari meyakinkan, bahwa suaminya adalah tipe suami yang baik, tidak seperti yang digambarkan media dia punya affair dengan Rani Yuliani. Kajian hukum atas perkara ini tidak bisa membuktikan keterkaitan Antasari dengan Rani. Bahkan menurut visum dokter, korban Nasaruddin dibunuh dari jarak jauh, bukan tembakan jarak dekat. Keluarga Nasaruddin yang semula menyerang Antasari akhirnya memahami, bukan dia pelakunya.

Antasari adalah korban rekayasa hukum yang sebenarnya. Berbeda dengan Chandra Hamzah dan Bibit Samad yang membangun opini “kriminalisasi KPK” untuk menghindari proses hukum. Antasari lebih gentle dari seluruh pimpinan KPK yang datang kemudian; dia penegak hukum, tapi tidak anti proses hukum. 

Dalam momen berbeda, seorang model Vitalia Shesya, dalam acara ILC, mengaku barang-barang pemberian Ahmad Fathanah, telah dikembalikan ke KPK. Dia juga mengaku, pernah diberi uang jajan dan biaya pengobatan oleh Fathanah. Bila KPK menuntut semua pemberian itu dikembalikan, Vitalia janji akan mencicil. Bahkan dia bersedia “menjual badannya” untuk menutupi hutang ke KPK.  Itu pun disampaikan sambil menangis.  Saya merasa sangat ngeri mendengar istilah “menjual badan” itu. Mestinya Karni Ilyas bisa mengarahkan dialog sehingga santun dan tidak vulgar. 

Saya melihat betapa romantisnya Vitalia setiap menyebut nama Fathanah. Dia selalu menyebut “Mas Ahmad”. Dia menampakkan rasa hormat dan sayang. Bagi orang yang sudah dewasa dan peka, akan mengerti di balik panggilan lembut “Mas Ahmad” itu ada makna keintiman yang hanya mereka ketahui berdua, dan diketahui Allah Ta’ala dan para Malaikat ‘Alaihimussalam

Ilustrasi seputar Antasari hanya sekedar mengingatkan, bahwa KPK pernah punya pimpinan yang gentle, berani menghadapi proses hukum. Bukan seperti Busyro Muqaddas dan kawan-kawan yang selalu berlindung di balik kata “kriminalisasi KPK”. Katanya mengerti hukum, tapi tak berani menghadapi proses hukum? Dalam proses penyidikan Komite Etik KPK, Abraham Samad juga menolak menyerahkan Blackberry-nya untuk diselidiki. Aneh, pimpinan lembaga hukum kok menolak proses penyidikan? Bisa jadi di Blackberry itu terdapat bukti kuat yang bisa menjebloskan dia ke penjara. 

Ilustrasi seputar Vitalia sekedar untuk menjelaskan, betapa KPK sudah membabi-buta dalam menerapkan pasal-pasal “pencucian uang”. Begitu membabi-buta, sampai Vitalia menantang untuk “menjual badannya” demi membayar hutang ke KPK. 

Sebenarnya, awal kasus ini adalah tentang kasus penyuapan yang dilakukan orang-orang PT. Indoguna ke Ahmad Fathanah. PT. Indoguna sedianya akan memberikan suap senilai Rp. 40 miliar. Tahap awal mereka memberikan uang muka senilai Rp. 1 miliar ke tangan Fathanah, di Hotel Le Meredien. Proses penyerahan uang itu tertangkap oleh KPK, lalu Fathanah ditetapkan sebagai tersangka. Tentu saja uang yang baru diterima Fathanah disita oleh KPK. 

Nilai material uang suap yang sudah terbukti diberikan kepada Fathanah adalah Rp. 1 miliar. Sisa uang suap yang dijanjikan, Rp. 39 miliar, masih di kantong PT. Indoguna, karena belum diberikan ke Fathanah. Sementara uang 1 miliar di tangan Fathanah sebagian sudah dipakai, termasuk memberi ke Maharani Rp. 10 juta. Uang lainnya sudah disita KPK (nilainya mungkin skitar Rp. 970 juta). Jadi uang suap yang dipakai Fathanah paling sekitaran Rp. 30 juta. Sedangkan  uang ratusan juta, atau puluhan miliar, itu tidak ada di tangan dia. 

Disini ada fakta yang harus dilihat secara cermat: 

[a]. Uang suap yang benar-benar diterima Fathanah dalam kasus ini paling sekitar Rp. 30 jutaan. Selebihnya sudah disita KPK; sedangkan janji tambahan uang dari PT. Indoguna, masih di tangan mereka, belum pindah tangan ke Fathanah. 

[b]. Secara material, kasus ini tidak ada kaitannya dengan kerugian negara, karena pihak yang menyuap adalah swasta (PT. Indoguna), yang disuap juga orang swasta (Fathanah) bukan mewakili negara. Fathanah bukan siapa-siapa. Dia bukan menteri, bukan PNS, bukan pejabat, dan sebagainya. 

Jadi kasus ini sebenarnya susah untuk diangkat sebagai kasus penyuapan, karena kedua belah pihak (penyuap dan yang disuap) tidak mewakili negara. Maka itu kemudian KPK tergopoh-gopoh, sehingga cepat-cepat mengalihkan masalah ke kasus TPPU (tindak pidana pencucian uang). Awalnya ranah suap, lalu beralih ke TPPU. 

Mari kita melihat masalah ini dari kacamata TPPU. Anggaplah Fathanah telah melakukan kejahatan pencucian uang. Benarkah langkah-langkah yang ditempuh KPK selama ini? 

Perlu dijelaskan, gambaran proses “pencucian uang” kira-kira sebagai berikut: Seseorang mendapat uang kriminal (misalnya hasil korupsi), lalu uang itu dimasukkan ke usaha bisnis legal sebagai investasi, sehingga setelah melalui proses internalisasi, ia menjadi uang legal. 

Untuk terjadinya tindak pencucian uang, harus terpenuhi beberapa syarat: ada pelaku, ada uang hasil kejahatan, ada tindakan kejahatan, ada pihak penerima uang hasil kejahatan, ada proses pemberian uang dari pelaku ke penerima. Semua ini harus jelas bukti-buktinya. Tidak bisa dibuktikan hanya melalui opini Johan Budi, atau pemberitaan media yang massif. 

Katakanlah, misalnya si pelaku adalah Ahmad Fathanah. Si penerima uang, misalnya Vitalia Shesya. Lalu kejahatan yang telah dilakukan Fathanah apa? Kalau dia berbuat jahat, uang hasil kejahatannya mana dan berapa nilainya? Adakah bukti pemberian uang dari pelaku ke penerima? 

Kalau kejahatan Fathanah adalah menerima suap dari PT. Indoguna, itu bukan termasuk pidana suap (korupsi), karena kedua belah pihak sama-sama orang swasta. Kecuali kalau yang menerima uang suap itu Menteri Pertanian Suswono, itu baru penyuapan.  Jadi Fathanah tidak bisa disebut telah “mencuci uang” kalau tidak terbukti adanya tindak kejahatan dia. Pencucian uang dari hasil korupsi, harus terbukti dulu ada tindak korupsinya. Kalau tak ada tindak korupsinya, tidak bisa dituduh melakukan pencucian uang. 

Katakanlah, Fathanah telah mengirim uang ke sejumlah wanita. PPATK mencatat katanya ada 40-an wanita. Apa masalahnya? Apa tidak boleh memberi uang ke orang lain? Apa tidak boleh memberi uang ke kaum wanita? Sah-sah saja kan member uang. Misalnya, Fathanah memberi uang ke ibunya, adik wanitanya, bibinya, keponakan wanitanya, dan seterusnya. Apa yang begitu bisa dipastikan sebagai pencucian uang? 

Harus terbukti dulu: apa kejahatan Fathanah dan berapa nilai nominal kejahatannya? Ini harus terbukti dulu. Kita tidak boleh sembarangan menuduh ini itu, sebelum terbukti sah secara hukum. 

Sejak awal kita sudah sampaikan, uang kejahatan yang benar-benar terbukti menurut KPK di tangan Fathanah adalah Rp. 1 miliar, dikurangi beberapa puluh yang dipakai oleh Fathanah (misalnya untuk perbuatan mesum). Dengan asumsi, itu benar-benar tindak penyuapan. Sedangkan Fathanah dan PT. Indoguna sama-sama orang swasta, sehingga tak merugikan negara sama sekali. 

Selain itu, hal ini sangat penting sekali, tidak semua uang yang berasal dari Fathanah adalah hasil kejahatan, dan tidak setiap uang yang diberikan oleh Fathanah adalah pencucian uang. Bisa jadi Fathanah punya bisnis-bisnis legal dan usaha, lalu dia sering memberi belanja kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk uang yang dia berikan untuk memenuhi syahwatnya. 

KPK tidak boleh sembarangan menuduh, menyita aset-aset, atau menetapkan orang sebagai penjahat, sebelum benar-benar terbukti secara hukum tindak kejahatannya. Mereka tidak boleh melakukan “killing by press” terhadap sosok Fathanah dan orang-orang di sekitarnya. Andai saja dia berbuat mesum, amoral, banyak wanita simpanan, dan seterusnya; KPK tidak boleh masuk ke ranah itu. Mereka cukup berdiri tegak di ranah hukum saja. KPK tidak boleh berubah menjadi MEDIA INFOTAINMENT semisal Insert, Silet, Halo Selebritis, Kroscek, dan lainnya. 

Sangat ironi sekali ketika KPK berusaha menyita seluruh aset-aset Fathanah, termasuk yang diberikan kepada orang-orang tertentu. Disini menyalahi beberapa fakta hukum yang kuat:  

[1]. Bukti uang yang ditemukan KPK pada Fathanah sekitar Rp. 1 miliar, kurang beberapa puluh juta. Uang itu pun sudah disita KPK. Secara faktual yang dianggap bukti material hanya beberapa puluh juta itu. Ia tak ada kaitannya dengan aset-aset Fathanah yang lain dan uang-uang yang dia berikan kepada banyak orang. 

[2]. Uang beberapa puluh juta yang sudah dipakai oleh Fathanah, itu tak bisa disebut sebagai uang suap, sebab kedua belah pihak (Fathanah dan PT. Indoguna) sama-sama swasta. Sedangkan tindak korupsi suap terkait dengan institusi negara. Apa salahnya sebuah perusahaan swasta seperti PT. Indoguna memberi uang kepada kolega-kolega bisnisnya? Apa itu salah? Apa itu melanggar hukum? 

[3]. Transaksi keuangan yang dilakukan Fathanah, kapan pun itu dan dengan siapapun dia bertransaksi, mula-mula harus diklaim sebagai transaksi yang sah. Transaksi itu boleh disebut “pencucian uang” kalau KPK bisa membuktikan kejahatan Fathanah dan nilai kerugian negara yang ditanggung akibat kejahatan itu. Kalau mereka tidak mampu membuktikan, semua transaksi itu sah. Logikanya seperti sebuah masjid menerima sumbangan uang dari masyarakat. Maka semua sumbangan ini dinilai sebagai infak dan sedekah, selama kita tidak bisa membuktikan bahwa seseorang melakukan korupsi, lalu memasukkan sebagian hasilnya ke kencleng masjid. 

[4]. Misalnya orang seperti Fathanah bekerja sebagai makelar proyek. Tidak semua makelar proyek mendapatkan harta haram dari pekerjaannya. Misalnya, dia membantu menjualkan tanah seluas 5 ha, lalu mendapat fee senilai 50 juta. Uang 50 juta ini seperti uang jasa. Itu adalah legal. Misalnya, seseorang berjasa membantu sebuah perusahaan mendapatkan sebuah proyek dari negara. Karena berjasa, dia dapat uang fee sejumlah tertentu. Itu adalah sah dan legal. Bisa jadi, Fathanah membiayai kehidupannya, membeli aset-aset, member barang-barang ke orang-orang tertentu, dari hasil pekerjaan sebagai makelar proyek itu. 

[5]. Boleh saja Fathanah dijerat pasal suap atau pencucian uang. Boleh-boleh saja. Tetapi KPK harus bisa membuktikan kejahatannya secara faktual, dengan bukti-bukti materiil, dan ada fakta kerugian negara akibat kejahatan itu. Kalau KPK tak bisa membuktikan, mereka tak boleh memvonis tersangka, menyita aset-aset, mempreteli pemberian orang, dan sebagainya. 

[6]. Dan satu lagi, KPK dalam penegakan tidak boleh melakukan “pembunuhan karakter” kepada seseorang, tidak boleh main obral statement di media, atau bersenjatakan opini-opini. Sebagai penegak hukum, mereka harus berdiri  di atas prinsip hukum, bukan main opini. Adapun soal istilah “kriminalisasi KPK” yang sering didengung-dengungkan oleh Busyro Muqoddas dan kawan-kawan, mari kita uji hal itu sesuai kajian akademik, bukan isu media. Jika KPK melakukan aneka kezhaliman hukum, mereka bisa dituntut balik atas segala kerugian yang menimpa orang-orang yang dituduhnya. Berhati-hatilah KPK, Anda sedang berdiri di atas pijakan yang rapuh. 

Cara-cara penegakan hukum yang membabi-buta sangat berbahaya. Misalnya, ada kawan Anda berbuat korupsi senilai Rp. 100 juta. Akibat itu, semua harta dia yang bernilai Rp. 10 miliar disita semua, untuk barang bukti korupsi. Cara begini sangat berbahaya. Nanti para penegak hukum bisa merampas harta manusia seenaknya. Termasuk ketika Anda pernah ditraktir ke Warteg oleh kawan tersebut, Anda dipanggil oleh KPK sebagai saksi. Lalu –maaf beribu maaf- kotoran Anda yang sudah masuk WC setelah makan di Warteg, harus dibawa ke persidangan sebagai barang bukti. Kemudian Pak Hakim harus berkali-kali menunda persidangan, karena pingsan terus, tidak kuat mencium “sisa metabolisme” dari sejumlah makanan Warteg. Cara-cara demikian sangat mengerikan. 

Tulisan ini saya buat, bukan untuk membela Fathanah. Sama sekali bukan. Tapi untuk meluruskan proses hukum itu sendiri. Fathanah boleh dijebloskan ke penjara dengan hukuman seberat apapun, asalkan dia benar-benar terbukti bersalah. Tapi dia juga berhak mendapat keringanan atau kebebasan, kalau institusi hukum tak bisa membuktikan kesalahannya. Kalau institusi hukum tak bisa membuktikan, ya salah sendiri, mengapa mereka lemah dan rapuh? 

Sejujurnya, kami sangat tidak suka dengan kasus-kasus korupsi, kasus amoralitas, mempermainkan wanita, dan seterusnya. Inginnya sih, para penjahat korupsi dan penoda wanita, diperlakukan sama, yaitu dihukum mati. Tapi bagaimana lagi, kita harus konsisten dengan aturan main yang sudah disepakati. Kalau aturannya sudah demikian, ya bagaimana lagi? 

Itulah mengapa Nabi Saw menjelaskan prinsip universal penerapan keadilan Islam. Beliau bersabda: “Lau saraqat Fathimatu ibti Muhammad la qatha’tu yadaha” (seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya). Konsistensi dalam penegakan keadilan telah Nabi Saw mulai dari keluarganya sendiri. Begitu juga, para insan penegak hukum, harus menegakkan hukum dari diri mereka sendiri. 

Wallahu a’lam bisshawaab. 

(Abinya Syakir). 

Iklan

Bibit-Chandra dan Cerita Si Embul

Agustus 7, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Kalau mau menyapu sampah di lantai, gunakan sapu yang bersih, Mbul! Jangan gunakan sapu kotor, nanti lantai bisa jadi lebih kotor lagi,” kata Bu Inah kepada Embul, anaknya. Embul yang memang baik hati hanya menganggukkan kepala. Entahlah, apa dia mengangguk taat ke ibunya, atau karena sedang lapar. Maklum Embul sedang puasa Ramadhan. Meskipun puasa, Embul tetap mau bantu ibunya. Alhamdulillah.

Membersihkan sampah harus memakai sapu yang bersih. Kalau tidak, lantai akan semakin kotor. Dan lebih kotor lagi kalau yang menyapu itu memakai sandal berlumpur, dan tubuhnya banyak debu-debu. Bukan bersih yang akan didapat, malah kotoran tersebar dimana-mana.

***

Kalau mencermati sepak-terjang Bibit-Chandra selama ini, ada banyak keheranan di hati. Dua pejabat Ketua KPK ini kalau dicermati ternyata melakukan hal-hal yang curang juga. Ini tidak terkait berita-berita yang sekarang lagi santer beredar; tidak ada kaitan kesana. Tetapi lebih melihat komitmen kedua orang tersebut dalam menghadapi kasus-kasus yang menimpa dirinya sebagai pejabat Ketua KPK.

Indikasi-indikasi kecurangan Bibit-Chandra, antara lain:

PERTAMA. Masih ingat gerakan sejuta facebookers yang meminta Bibit-Chandra dibebaskan dari proses pengadilan, dalam kasus “Kriminalisasi Ketua KPK” beberapa waktu lalu? Nah, disana kan berkembang suatu opini, dan opini ini sangat didukung oleh media-media massa dan para pakar “latah”. Opini tersebut adalah: “Kalau Bibit-Chandra diadili, lalu dihukum, itu artinya pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati.” Anda masih ingat kan dengan opini ini? Pertanyaannya: Apakah sedemikian hebat posisi Bibit-Chandra, sehingga tanpa peranan mereka berdua, pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati? Lha, memang yang bisa memberantas korupsi hanya mereka berdua? Apa di Indonesia ini tidak ada lagi orang yang kapabel memberantas selain mereka berdua?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, mereka berdua mendukung opini itu, dan tidak melakukan pengingkaran. Padahal namanya orang berakal, kalau Bibit-Chandra diberhentikan, masih ada orang lain yang akan datang menggantikan posisi mereka berdua. Andai KPK sendiri yang dibubarkan, masih ada instrumen lain untuk memberantas korupsi. Andaikan semua instrumen negara dibubarkan, masih ada MORALITAS anti korupsi di hati manusia warga negara Indonesia. Hal-hal demikian mudah dipahami, bagi yang mau berpikir.

KEDUA. Ketika berhadapan dengan Anggodo, Bibit-Chandra tidak mau maju ke pengadilan. Alasannya, kasus yang menimpa mereka merupakan KRIMINALISASI. Jadi, seharusnya mereka tidak bersalah, tetapi oleh kalangan Polri di-setting agar mereka bersalah. Bibit-Chandra ditantang untuk membuktikan tuduhan kriminalisasi itu dalam pengadilan, tetapi dia selalu menolak. Dalam wawancara di TV-TV, mereka tidak mau diadili, karena mereka merasa telah “dikriminalisasi”. Buktinya apa? Bibit-Chandra menyodorkan hasil penyadapan percakapan Anggodo dengan pihak Polri, dan lain-lain.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Sebagai bagian dari aparat hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi, seharusnya Bibit-Chandra menghormati mekanisme hukum yang berlaku. Lihat itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir! Biarpun banyak orang meragukan obyektifitas kasus-kasus yang menimpa beliau; tetapi Ustadz Ba’asyir tetap konsisten memenuhi mekanisme hukum yang berlaku. Padahal Bibit-Chandra pasti tahu, bahwa Ustadz Ba’asyir sangat membenci hukum non Islami yang berlaku di negeri ini. Sekalipun benci, kalau memang mekanisme yang berlaku begitu, ya dengan berat hati, beliau tetap memenuhi mekanisme tersebut. Berbeda dengan Bibit-Chandra, kedua orang ini masuk jajaran aparat hukum, tetapi takut menghadapi proses pengadilan. Dengan mentalitas seperti itu, seharusnya mereka “dideportasi” dari ranah penegakan hukum.

KETIGA. Kasus Bibit-Chandra tidak pernah bisa dibawa ke pengadilan. Kronologinya begini: a. Bibit-Chandra merasa telah dikriminalisasi oleh Polri, dengan bukti rekaman percakapan Anggodo dll. yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi; b.  Media-media massa mem-blow up posisi Bibit-Chandra yang “terzhalimi”, terutama MetroTV; c. Para facebooker bangkit melakukan “jihad” demi membela posisi Bibit-Chandra yang terzhalimi; d. SBY merasa terdesak oleh opini media massa dan facebookers, lalu SBY mendesak supaya proses pengadilan Bibit-Chandra segera dihentikan; e. Pihak Kejaksaan mengklaim kasus Bibit-Chandra sudah P21 alias siap masuk ke pengadilan. Tetapi karena desakan SBY yang menggunakan alasan “memenuhi rasa keadilan publik”, maka dikeluarkanlah SKP2 (Surat Keputusan Penghentian Perkara); f. Para ahli hukum mempertanyakan status SKP2 itu, sebab ia dianggap sebagai bentuk campur-tangan Presiden terhadap proses hukum. Maka keputusan SKP2 diubah lagi, menjadi Deeponering; g. Hasil akhir, Bibit-Chandra tidak pernah diadili, karena dia mendapat anugerah “deeponering”.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Kebijakan deeponering atau SKP2 adalah kebijakan yang curang. Seharusnya berlaku prinsip “semua warga negara sama di mata hukum”. Jadi, tidak ada diskriminasi bagi semua pihak. Semua sama saja, kalau ada indikasi kesalahan, ya masuk pengadilan. Kalau terbukti salah, diberi sanksi; kalau tidak bersalah, harus dibebaskan. Seharusnya Bibit-Chandra konsisten dengan mekanisme itu, bukan mencari perlindungan berupa SKP2 atau deeponering. Kalau mereka masuk pengadilan dan ternyata bebas, nama mereka akan bersih. Tetapi kalau mereka bebas dengan fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka akan selalu dihantui citra “diskriminasi dan kepengecutan” hukum. Sebagai penegak hukum, Bibit-Chandra tidak boleh merasa senang dengan campur-tangan kekuasaan (SBY) yang akhirnya memberinya kenikmatan berupa SKP2 atau deeponering. Seharusnya dia bicara lantang ke SBY: “Terimakasih Pak, sudah peduli dengan kami. Tapi sebagai penegak hukum kami pantang melibatkan Bapak dalam kasus seperti ini. Biarlah Bapak tetap berada di domain eksekutif, jangan ikut-campur urusan yudikatif. Kami lebih memilih diadili demi menghormati mekanisme hukum.” Begitu dong, kalau memang gentle.

KEEMPAT. Ini adalah kesalahan paling fatal dari Bibit-Chandra. Baru sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sedikit sekali. Karena akal kita cenderung mudah dikacaukan oleh opini-opini media. Kalau Anda ditanya, “Apa sih yang sebenarnya membebaskan Bibit-Chandra dari tuntutan hukum?” Kalau dicermati, yang membebaskan mereka itu adalah rekaman-rekaman percakapan Anggodo dll. yang diputar di MK itu. Tanpa rekaman ini, Bibit-Chandra tidak akan lolos dari proses hukum. Lalu darimana rekaman-rekaman itu didapatkan? Sumbernya dari mesin penyadap percakapan telepon yang dimiliki KPK.  Tanpa alat penyadap itu, tak akan diperoleh hasil rekaman tersebut, sehingga Bibit-Chandra seharusnya bisa diadili. Nah, pertanyaannya adalah sebagai berikut: Mana hasil rekaman-rekaman percakapan koruptor lain, misal dalam kasus Bank Century, Miranda Goeltom, Gayus Tambunan, Rekening Gendut Perwira Polri, Melinda Dee, Nazaruddin, Andi Malarangeng, Andi Nirpati, dan lain-lain? Mana, mana hasil rekamannya? KPK pasti memiliki hasil-hasil rekaman itu. Kok yang dikeluarkan oleh Bibit-Chandra hanya hasil rekaman yang menguntungkan dirinya saja? Sedang rekaman lain disimpan sangat rapi?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Secara jelas, kedua orang itu hanya mengeluarkan hasil rekaman ke publik, untuk rekaman yang menguntungkan keduanya, sedang untuk rekaman-rekaman lain, yang bisa jadi bisa membongkar kasus-kasus korupsi selama ini, tidak dia perlihatkan. Ini jelas kecurangan yang sangat nyata. Akhirnya, lembaga KPK hanya menjadi “pelayan” Bibit-Chandra, bukan menjadi pelayan masyarakat luas. Kasihan sekali.

KELIMA. Kesalahan terakhir, sebagai buah dari kesalahan-kesalahan sebelumnya; ketika Bibit-Chandra sudah mendapat fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka seperti mendapat fasilitas perlindungan dari Pemerintah (SBY). Sebagai bentuk “balas jasa”, maka ujung tombak KPK menjadi tumpul untuk menyibak kasus-kasus korupsi yang melibatkan lingkar kekuasaan. Bibit-Chandra disini memperlihatkan dirinya sebagai “orang berakhlak” yang “pandai berterimakasih” atas jasa kebaikan orang lain. Tetapi dalam ranah hukum, konsep “akhlak” seperti itu seharusnya tidak dipakai. Banyaklah kasus-kasus korupsi yang akhirnya mandeg, karena pejabat-pejabat KPK sudah “ditawan” oleh kekuasaan. Nah, yang begini ini baru bisa dibenarkan jika ada ucapan: “Jasa baik yang diterima pejabat Ketua KPK, membuat lembaga itu tak mampu membersihkan korupsi sebagaimana diharapkan masyarakat.”

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri. Tidak usah diberitahu lagi. Yang jelas, kasus Century, Andi Nurpati dan KPU, Gayus, Rekening Polri, Melinda Dee, Malarangeng, Nazaruddin, dll. saat ini mandeg. Kalau Bibit-Chandra tidak menerima jasa “perlindungan hukum” mungkin akan lain ceritanya.

***

“Embul, Embul, dimana kamu, Nak?” kata Bu Inah sedikit agak berteriak. Waktu sudah menjelang Maghrib, Embul belum kelihatan. Bu Inah jelas gelisah. Anak itu harus siap-siap berbuka puasa.

Seisi rumah ikut mencari Embul, sambil berteriak-teriak: “Embul, Embul…” Tapi yang dicari belum juga nongol. Kemana ini Si Embul? Semua merasa gelisah.

Saat adzan Maghrib terdengar, orang-orang masih mencari Embul. Kakak Embul beruntung. Saat mencari di gudang, dia melihat adiknya sedang tidur di atas tumpukan koran-koran.

“Hei Embul, bangun, bangun! Sudah Maghrib, Embul! Kenapa kamu tiduran disini? Dari tadi kami mencari kamu, Mbul!” kata kakak Embul dengan suara keras.

Si Embul segera bangun. Lalu berdiri. Dia terlihat hanya diam, sambil mengucek-ucek mata. Masih kelihatan wajah ngantuk di mukanya. Di samping Embul ada beberapa buah sapu. Sapu ijuk 3 buah, sapu lidi 2 buah.

“Mbul, untuk apa sapu-sapu itu?”

“Untuk menyapu?”

“Kamu sendiri sudah menyapu, belum?”

“Belum!”

“Kenapa?”

“Masih nyari sapu yang bersih. Kata Ibu harus pakai sapu bersih.”

“Lalu…”

“Ternyata, sulit mencari sapu bersih. Semua pada kotor.”

Kakak Embul hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan adiknya. “Ya, sudah Mbul. Kita buka puasa saja sekarang. Lupakan soal sapu-sapu itu.”

“Moga-moga KPK mau memakai sapu yang bersih, Mbul.”

“Apa Kak? Tadi Kakak bilang apa?” tanya Embul agak keheranan.

“Ah, sudahlah Mbul. Mari kita segera buka puasa. Kata Nabi, lebih cepat buka puasa, lebih baik.”

“Ya, Kak.”

Semoga tulisan dan cerita ringan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat kita. Khususnya di bulan Ramadhan Mubarak ini. Allahumma amin. []

AM. Waskito.