Kemana Lelaki Arab? Dimana Pengikut Salafus Shalih?

Januari 26, 2009

Pengantar:

Pembaca budiman, berikut ini adalah salah satu sumbangan tulisan dari seorang Al Akh di Kalimantan. Tulisannya tajam, heroik, dan menampakkan kepedulian besar kepada Islam dan Muslimin. Alhamdulillah. Anda pun boleh mengirim tulisan. Kalau menarik, nanti dimuat, insya Allah. Tetapi maaf, tidak pakai honor ya…he he he. Maaf. Kalau saya beruang tebal, mungkin kontribusi Anda akan dihargai. Maafkan saudaramu ini!

Selamat membaca! Oh ya, akhir-akhir ini saya agak sakit, jadi up dating datanya kurang lancar. Jazakumullah khair, spesial untuk Abu Muhammad Al Burniu. (AMW).

Kemana Laki-laki Arab? Dimana Pengikut Salafus Shalih?

Umat Islam seperti buih di atas lautan, banyak tapi terombang-ambing dan tak bisa berbuat apa-apa. Umat Islam juga sepertti hidangan di atas meja makan, dimana musuh-musuh berlomba untuk melahapnya. Ini merupakan dua diantara banyak khabar dari Rasulullah tentang kondisi umat Islam di akhir jaman. Padahal berita-berita ini diucapkan oleh beliau sekitar 14 abad silam.

Kini kita membuktikan dengan mata kepala sendiri, kenyataan dari ‘berita’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam tersebut. Meski di tengah mayoritas umat Islam di tanah Arab, bangsa Palestina yang juga mayoritas Muslim di ngerinya itu, tengah menjadi bulan-bulanan serangan Israel yang membabi buta. Masyarakat Arab yang notabene Muslim hanya terbengong-bengong tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa? Apa mereka mendukung Israel? Apa mereka merestui kekejian kaum Zionis dengan membantai hampir 1000 manusia Palestina?

Bukan!!! Mereka berontak, mereka mengutuk Israel, bangsa Arab bergolak dan menentang pembantaian yang dilakukan para Zionis tersebut. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena para pemimpin mereka telah bertekuk lutut di kaki Israel dan Amerika. Hampir tak ada pemimpin dunia Islam yang berani menyuarakan kemarahan. Bahkan tak satu negara Arab yang berani mengirimkan tentaranya, untuk bersama pejuang HAMAS membalas perbuatan bangsa penjajah tersebut. Bahkan Mesir yang selama ini dikenal sebagai negeri Muslim yang telah mencetak banyak ulama besar melalui Al Azhar nya, seolah berpihak kepada Israel. Ambil contoh, bagaimana susahnya bantuan dari luar (termasuk dari Indonesia) ke jalur Gaza buat melewati negeri Fir’aun ini.

Kita sedih melihat pembantaian di jalur Gaza, namun kita masih punya secercah harapan bahwa para korban tersebut menghadap Rabb-nya sebagai Syahid. Tapi kita akan lebih sedih lagi setelah melihat realita bahwa di Tanah Arab nyaris tak memiliki lagi Laki-laki, selain lelaki Palestina. Kebanyakan lelaki Arab telah dikebiri oleh kaum Zionis, sehingga kehilangan kejantananya. Ini adalah fakta menyedihkan yang membuat pilu hati siapa saja yang beriman dan merasa sebagai saudara seiman dengan Muslim Palestina. Entahlah, jika ada yang menganggap Palestina dengan HAMAS-nya adalah orang-orang KHAWARIJ. Bagi orang-orang ini, tentu kematian bangsa Palestina tidak lebih berharga dari bangkai seekor ikan, sebab sejelek-jelek mayat di kolong langit adalah mayat kaum Khawarij.

Tapi insya Allah saya bukan termasuk yang beranggap demikian. Bagi saya dan jutaan muslim lainnya (?) mereka adalah saudara se-iman yang kini tengah teraniaya. Kami laksana satu jasad, sehingga meski kami tak bisa membantu secara fisik, kami turut merasa sakit saat mereka disakiti, terlebih pedih lagi hati kami ketika di tengah penderitaan mereka yang sedemikian menumpuk, masih ada saja yang tega menggolongkan mereka ke dalam kelompok yang “mayat mereka adalah sejelek-jelek mayat di kolong langit”?

Kekejaman Israel sudah keterlaluan. Selain menyikat pejuang HAMAS, mereka juga membantai wanita dan anak-anak. Sebuah perbuatan yang teramat keji dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihat seorang perempuan terbunuh dalam satu peperangannya, lalu beliau menyalahkan pembunuhan para wanita dan anak-anak. (HR. Muttafaq Alaihi).

Itulah kekejian kaum penentang Allah. Berbeda dengan kaum Muslim yang meski kepada musuh yang kafir sekalipun, kita dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya untuk melakukan pembantaian sadis terhadap anak-anak.

Dari Samurah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bunuhlah orang-orang musyrik yang tua dan biarkanlah anak-anak muda di antara mereka.” (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi).

Jangankan kepada orang Muslim. Kepada kaum kafir sekalipun Islam masih menerapkan etika yang baik meski itu dalam peperangan, dimana saat itu perkara membunuh atau terbunuh adalah hal wajar.

Kembali ke soal pembantaian yang terjadi di Gaza saat ini. Reaksi ‘hebat’ justeru ditunjukkan oleh Venezuela. Tanpa ragu, presiden negeri ‘Non-Muslim’ ini mengusir duta besar Israel sebagai bentuk kemarahan atas kekejian yang dilakukan oleh bangsa Zionis tersebut terhadap bangsa (Muslim) Palestina. Sementara negara-negara Arab? Para pemimpin mereka seperti banci. Bahkan mungkin lebih banci dari seorang banci. Seorang banci masih memiliki keberanian besar saat membela teman-temannya yang terjaring Kamtib. Tapi mereka… para raja dan pemimpin Arab hanya ‘bergumam’ tak jelas menyikapi pembunuhan massal atas saudara mereka di Gaza.

Bahkan negeri Saudi Arabia yang selama ini di klaim oleh sebagian kelompok sebagai “Negeri Pembela Manhaj Salaf”, belum kelihatan aksi nyatanya melindungi saudara seaqidah yang kini tengah meregang nyawa di ‘depan’ Baitul Maqdis. Tak salah jika sebagian orang balik bertanya kepada para pengaku ‘salafi’ ini, sebagaimana pertanyaan yang biasa pula mereka lontarkan saat mengkritisi sikap orang lain: “Man laka salaf?” (Siapa pendahulumu?).

Apa benar pendahulu mereka dari kalangan Salafush Shalih? Padahal setahu kita Salafus Shalih yang paling utama, yakni Rasulullah SAW tak perlu menunggu ribuan wanita dan anak-anak dibantai baru memerintahkan pasukan Muslim untuk balas membantai Yahudi. Hanya dengan melecehkan seorang Muslimah dan membunuh seorang sahabat yang melindungi Muslimah tersebut, orang-orang Yahudi sudah menerima serangan hebat dari kaum Muslimin. Para lelaki mereka dibantai sebagai pembalasan atas kekejian mereka melecehkan kehormatan seorang Muslimah dan kehormatan Dien yang agung ini. [Mungkin maksudnya, mereka diusir satu kabilah dari Madinah].

Perhatikan apa yang dilakukan orang-orang Yahudi saat ini? Sudah hampir seribu kaum muslimin, lebih sepertiganya adalah anak-anak dan wanita terbunuh. Para pemimpin Negara “Salafy” tersebut tak berani berbuat apa-apa. Boro-boro menyerang Israel, menggelar pasukan untuk menakut-nakuti bangsa Zionis saja tak berani. Sungguh ketakutan telah tercabut dari hati musuh-musuh Allah dan sebaliknya terhujam dalam dalam hati kaum Muslimin, dan kaum Muslim yang mengaku Salafiyun pula.

Allahu Musta’an. (***)

14 Januari 2009

Abu Muhammad Al Burniu.

Iklan