Sebuah Lingkaran Setan

September 22, 2014
Semoga ALLAH Memberikan Taufiq agar Lingkaran Setan Terputus

Semoga ALLAH Memberikan Taufiq agar Lingkaran Setan Terputus

*)  Lingkaran setan ialah suatu lingkaran sebab-akibat yang terus berputar dalam kezhaliman, tidak ada habisnya. Satu proses akan menjadi sebab bagi proses berikutnya, sampai proses terakhir akan menjadi sebab bagi proses paling awal.

*)  Orang sering menyebutnya “lingkaran setan” atau “satanic circle”. Ini lingkaran proses dalam kejahatan, kezhaliman, penindasan.

*)  Di dunia ini ada tiga jenis negara: negara penjajah, negara terjajah atau mantan terjajah, negara merdeka (tak pernah dijajah).

*)  Setiap negara penjajah pasti ingin terus melestarikan regim penjajahan, karena itu menguntungkan buat mereka. Seperti preman, mafia, atau tukang parkir liar yang tak mau “kehilangan sumber mata pencaharian”.

*)  Negara penjajah pasti selalu mencari metode, rumus, strategi untuk melanjutkan penjajah, karena mereka tahu pasti bahwa “menjajah itu enak”. Katanya.

*)  Lalu apa yang disebut lingkaran setan di sini?

*)  Ia adalah lingkaran: PENJAJAHAN — KEMISKINAN — PENGKHIANATAN. Ketiga faktor ini merupakan lingkaran setan.

*)  Penjajahan menimbulkan kemiskinan bagi rakyat negara yang dijajah; kemiskinan menyebabkan banyak warga negara terjajah memilih jadi pengkhianat, melayani nafsu para penjajah. Alasan mereka: “Guwa sudah bosan jadi orang miskin. Daripada miskin, lebih baik mati saja.” Katanya begitu. Lalu, dari pengkhianatan-pengkhianatan ini berakibat lestarinya penjajahan, tidak putus-putusnya, dan forever forever ever ever ever…to be continued terus penjajahannya.

*)  Inilah dia lingkaran setan atau lingkaran kezhaliman itu. Penjajahan menimbulkan kemiskinan; kemiskinan menimbulkan pengkhianatan anak bangsa; pengkhianatan melestarikan penjajahan selamanya.

*)  Bagaimana caranya agar semua ini berubah?

*)  Mari kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana mematahkan lingkaran setan ini. Kalau kekuatan kita sendiri, sangatlah terbatas. Hanya Allah yang mampu membebaskan bangsa dari kezhaliman.

*)  Minimal, janganlah menjadi unsur yang memperpanjang usia lingkaran setan itu.

*)  Iya gak sih? Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menempuh yang diridhai-Nya. Amin.

(Khami).

Iklan

Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Mei 13, 2010

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.