Mahfud Md: “Fiqih Hanya Buatan Manusia!”

Februari 23, 2010

Kadang saya merasa pening memikirkan bangsa Indonesia ini. Negara besar, penduduk ratusan juta, kepulauan terbesar di dunia, Muslim terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam besar, sejarah perjuangannya juga panjang. Tetapi mengapa saat ini kita dipimpin orang-orang bodoh? Nah, inilah sesuatu yang sangat mengherankan.

Tidak pernah belajar agama ya?

Ada kalanya, seseorang sudah menjadi guru besar, bergelar profesor tentunya, puluhan tahun malang-melintang di dunia kampus, pernah menjadi menteri, pernah menjadi pejabat negara, bahkan ada yang menjadi ketua mahkamah tertinggi di Indonesia. Nah, mengapa orang seperti itu menjadi bodoh, bicaranya ngawur, seperti orang yang sama sekali tidak pernah sekolah? Inilah yang mengherankan.

Dalam sebuah berita dikatakan:

Hati-hati Anda yang menjalani pernikahan siri. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfudz MD menyatakan setuju jika pernikahan siri dipidanakan. “Saya setuju saja, karena pernikahan itu hanya permasalahan fiqih. Sedangkan fiqih hanya buatan manusia saja,” ujar Mahfud, Ahad (14/2). [Sumber: http://www.republika.co.id, 14 Februari 2010].

Dalam pandangan saya, ucapan Mahfud Md ini memiliki 3 makna: Kotor, bodoh, dan menghujat Islam. Tidak terbayangkan, seorang Ketua Mahkamah Konstitusi bisa mengucapkan kata-kata jorok seperti itu. Dia benar-benar seperti orang yang tidak pernah belajar agama. Jangan-jangan sejak kecil memang dia tidak pernah belajar agama? Darasnya mungkin hukum kolonial terus, sejak kecil sampai tua.

Tidak usah berpanjang kata, mari kita kritisi ucapan Mahfud Md, sang Ketua Mahkamah Konstitusi ini. Tapi perlu saya jelaskan juga, saya dan isteri menikah secara formal melalui mekanisme KUA, tahun 1993 lalu di Depok. Jadi, ini murni masalah pemikiran atau prinsip, bukan persoalan yang kita alami sebagai fakta sosial di lapangan.

[1] Mahfud: “Sedangkan fiqih hanya buatan manusia saja.” Kita sangat mengenal kalimat-kalimat seperti ini. Ini adalah statement khas orang-orang kafir Liberal. Mereka sejak lama menolak Fiqih Islami, lalu merujuk kepada fiqih hawa nafsu. Sampai di kalangan mereka membuat buku, Fiqih Lintas Agama. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ujungnya nanti ya Pluralisme itu sendiri. Kesana lagi nanti ujungnya.

[2] Demi Allah, ilmu Fiqih bukanlah buatan manusia. Secara istilah, benar bahwa kata Fiqih (Fiqhun) memang merupakan kata-kata yang disebutkan oleh para ulama Ahli Ushul di jaman Salaf. Tetapi materi Fiqih itu sendiri, hikmahnya dalam kehidupan Islam, semata-mata adalah dari sisi Allah. Argumentasinya: Ilmu Fiqih lahir dari Kitabullah dan Sunnah, sedangkan Kitabullah dan Sunnah adalah dua macam Wahyu yang turun dari sisi Allah Ta’ala. Maka tidak bisa dikatakan, Fiqih adalah buatan manusia.

[3] Andaikan Fiqih dianggap buatan manusia, bagaimana manusia bisa membuat ilmu Fiqih itu? Harus dicatat dengan tinta tebal, sebelum Rasulullah Saw menjadi Rasul, manusia tidak mengenal Fiqih Islam sama sekali. Muhammad (sebelum menjadi Nabi) juga tidak mengenal Fiqih Islam. Malah beliau tidak bisa membaca alias ‘ummi. Jadi tradisi Fiqih Islam itu mulai berkembang bersama turunnya Risalah Islam. Ini bukan ciptaan manusia, tetapi turun sebagai rahmat Allah.

[4] Misalnya, dalam Al Qur’an terdapat ayat, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum” (diwajibkan atas kalian menjalankan puasa, seperti diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian). Ayat ini menjadi dalil diwajibkannya puasa Ramadhan. Dalam Al Qur’an banyak ayat-ayat seperti ini. Perhatikan dengan jelas, ayat ini berkaitan dengan masalah Fiqih, tetapi ia murni datangnya dari Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an itu dari mana? Apakah Al Qur’an ciptaan manusia? Tanyakan deh sama Mahfud Md, saya khawatir dia tidak tahu dari mana Al Qur’an berasal.

[5] Selama ini ada banyak fitnah kotor dari para pemeluk agama Liberal. Mereka menganggap bahwa ajaran Fiqih terlalu banyak dicampuri oleh peranan para ulama. Sampai mereka menyimpulkan, Fiqih itu buatan para ulama tersebut, seperti halnya Talmud ditulis oleh tangan-tangan para Rabi Yahudi. Ini adalah persepsi yang kacau-balau. Saya mengira, Mahfud terpengaruh pemikiran bodoh ini. Tentu saja, sumber pemikiran konyol itu dari kalangan orientalis. Mohon dicatat dengan tinta tebal: Tugas para ulama atau mujtahid ahli fiqih, mereka itu bukan membuat hukum-hukum Islam. Sama sekali tidak. Mereka itu hanya membantu memahami, memberi koridor, memudahkan menarik kesimpulan, serta memberi pilihan-pilihan pendapat hukum. Mereka sama sekali tidak menciptakan hukum. Hukum itu tetap sumbernya dari Allah dan Rasul-Nya, sedangkan para ulama berperan memudahkan memahami khazanah Al Qur’an dan Sunnah secara lurus, benar, dan sesuai pemahaman Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Andaikan ada ulama yang mengatakan, “Ini adalah pendapat-pendapat fiqih buatanku sendiri, murni hasil karanganku, dari proses berpikir yang aku lakukan.” Jika ada yang demikian, secara MUTLAK kita harus menolak ucapan itu. Islam bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, bukan dari selain keduanya.

[6] Kalaupun ada ijtihad para ulama dalam masalah Fiqih, itu bukan murni hasil pikiran mereka sendiri. Ulama ini tentu menyimpulkan hukum berdasarkan Kitabullah, As Sunnah, dan kaidah-kaidah Fiqih yang sudah masyhur. Artinya, pendapat itu tidak murni dari akalnya sendiri, melainkan memiliki sandaran dari Khazanah keilmuwan Islam. Semoga Mahfud Md bisa mengerti, bahwa segala ilmu yang dikaitkan dengan Islam, tidak ada satu pun yang murni hasil pikiran manusia sendiri. Kalau dari pikiran manusia sendiri secara murni, 100 %, itu tidak bisa dikaitkan dengan Islam. Dinamakan paham Islam, selalu dihubungkan kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Catat itu, wahai Mahfud!!!

[7] Dalam persoalan Nikah Sirri atau nikah secara Syariat, tetapi tidak dicatatkan di KUA. Ini bukan buatan manusia, ini murni berasal dari tuntunan Wahyu Allah. Mengapa demikian? Sebab yang memberi teladan untuk melakukan pernikahan itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Dalam hadits diceritakan, ada 3 orang yang bertanya kepada Aisyah Ra tentang sifat ibadah Nabi Saw. Lalu diberi jawaban bahwa ibadah Nabi sangat mengagumkan. Kemudian mereka bertiga merasa kecil hati dengan ibadah mereka selama ini. Sejak itu mereka komitmen akan shalat malam terus sepanjang malam, akan puasa terus sepanjang siang, dan ada yang tidak akan menikah. Nabi mendengar ucapan mereka, lalu Nabi Saw menjelaskan, bahwa dirinya shalat tetapi juga istirahat, puasa tetapi juga berbuka, dan beliau menikahi wanita. Di bagian akhir hadits itu Nabi Saw bersabda, “Wa man raghiba ‘an sunnati falaisa minni” (siapa yang membenci Sunnah-ku, dia bukan bagian dari Ummat-ku). Jadi, pernikahan ini bukan pendapat manusia, tetapi amalan yang dilakukan Nabi. Bahkan beliau menegaskan, orang yang membenci Sunnah-nya, bukan bagian dari ummatnya. Nabi Saw dalam mengamalkan amalan, itu bukan dari hawa nafsunya sendiri, tetapi mendapat bimbingan dari Wahyu Allah.

[8] Terakhir, kalau Fiqih Islam dianggap buatan manusia, lalu bagaimana dengan hukum-hukum sekuler yang selama ini digeluti oleh Mahfud Md? Apakah itu ciptaan Allah? Apakah itu bersumber dari Wahyu? Apakah itu merupakan ilmu yang turun dari langit? Ya, kalau Mahfud Md saja berani meremehkan dan melecehkan Fiqih Islam, lalu bagaimana sikap kita terhadap produk-produk hukum yang setiap hari dimakan oleh Mahfud Md itu? Apa yang akan kita katakan terhadap hukum-hukum yang diturunkan dari akal pikiran dan hawa nafsu penjajah Belanda itu? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Inilah makanya, betapa sedih dengan kenyataan hidup di jaman seperti ini. Orang-orang yang baik, komitmen, dan memiliki ilmu tidak diberi tempat yang layak dalam kepemimpinan. Sementara orang-orang bodoh, nalarnya rusak, argumentasinya kacau, malah mendapat tempat terhormat di mahkamah negara.

Ummat Islam harus berhati-hati dengan Mahfud Md ini. Sebab kita masih memiliki urusan terkait dengan tuntutan gerombolan Liberaliyun dalam masalah UU penistaan agama. Saya sempat membaca di running text MetroTV, kata Mahfud, sebenarnya banyak pihak yang ingin terlibat dalam judicial review UU penistaan agama.

Satu sisi, kita harus mengawal UU tersebut. Jangan sampai dicabut, sehingga melegalkan segala macam hujatan kepada Islam (dan agama-agama lain). Tetapi di sisi lain, kalau sampai UU penistaan agama itu dicabut, lalu bermunculan orang-orang yang terus menghujat Islam, sebaiknya mereka diadili dengan pengadilan jalanan saja! Tidak apa-apa kita dipenjara, dijatuhi hukuman, atau apapun, dalam rangka menghancurkan para penista agama itu. Kata orang Betawi, “Lu jual, gue beli!

Ya, bagaimana lagi kita hendak membela Islam, kalau negara selalu memojokkan agama ini? Ya sudah, sekalian saja vis a vis. Dipenjara karena membela Islam bukanlah kehinaan, tetapi kemuliaan. Catat itu!!!

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan