Rahasia: Mengapa Jokowi Dipaksakan Nyapres pada 2014 ???

Maret 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya, mencalonkan Jokowi sebagai Capres untuk 2014 ini sangatlah RISKAN dan mengandung bahaya politik besar. Bahaya bukan hanya buat sosok Jokowi, tapi juga untuk kepentingan warga Jakarta, kepentingan rakyat Indonesia, dan dunia politik itu sendiri.

Secara itung-itungan politik, mencapreskan Jokowi bagi PDIP adalah bunuh diri. Mengapa demikian? Karena PDIP akan pecah kongsi dengan Prabowo-Gerindra. Itu sudah otomatis. Kemudian, PDIP akan dimusuhi oleh warga DKI Jakarta yang merasa dikhianati oleh Jokowi. Warga Jakarta yang semula dukung Jokowi (anti Foke) otomatis akan menjadi lawan PDIP. Padahal dalam tradisi politik di Indonesia, kemenangan di Jakarta sangat menentukan, karena ini adalah daerah khusus ibukota.

Karakter Harimau

Karakter Harimau

Sangat mungkin, dengan mencapreskan Jokowi, justru suara PDIP akan mengalami kemerosotan hebat. Mengapa? Karena partai ini dianggap ingin menang sendiri. Saat Jokowi lagi laku-lakunya di media, karena dukungan sponsor Mafia China yang intensif untuk membentuk pencitraan; PDIP mengakuisisi Jokowi. Sebaliknya, di mata semua partai yang punya kandidat capres masing-masing, mereka merasa marah dengan naiknya Jokowi melalui dukungan palsu media. Mereka pasti tidak rela kursi RI-1 jatuh ke tangan capres selain dari kubu mereka sendiri. Nah, di sini PDIP bisa dikeroyok oleh semua kekuatan politik.

Di sisi lain, pencapresan Jokowi tidak didukung oleh prestasi, kinerja, dan capaian positif. Di Solo masih meninggalkan seabreg masalah dan kasus hukum. Di Jakarta, apalagi. Jokowi nyaris baru blusukan kesana kemari, sambil tidak jelas apa hasilnya. Dalam pertarungan pilpres nanti, pasti rakyat akan melihat hasil kerja, bukan citraan. Bayangkan, kalau nanti Jokowi kampanye Pilpres, dia akan membuat janji-janji apalagi, wong janji-janjinya saat Pilkada DKI tidak ada yang direalisasikan dengan beres? Nanti dia akan jadi kandidat presiden yang paling banyak dicaci. “Halah ngibul, gombal, banyak omong. Janji segunung, hasil nol besar.”

Singkat kata, mencalonkan Jokowi sebagai Capres PDIP adalah blunder besar yang telah merusak reputasi partai itu selama 10 tahun terakhir. PDIP yang telah dikesankan oleh rakyat, bukan atas dasar surve dan pooling abal-abal ya, sebagai partai oposisi yang konsisten, sekarang harus ketar-ketir menyelamatkan mukanya. Dan pasti, pencapresan Jokowi itu akan membelah kekuatan PDIP menjadi dua, barisan pro dan kontra. Itu pasti. Meskipun PDIP berusaha mati-matian menyembunyikannya.

Mengapa Megawati tega menikam partainya sendiri demi memuluskan jalan bagi Jokowi untuk nyapres pada 2014?

Kemungkinan itu terjadi karena SANGAT KUATNYA tekanan dari Mafia China ke kubu Megawati. Ada kabar menyebutkan, sebelum pengumuman pencapresan dilakukan, sekitar 75 pengusaha besar China, datang ke Lenteng Agung untuk menekan Mbak Mega. Katanya, mereka sedia siapkan dana 2 triliun untuk pemenangan Jokowi.

Tapi tekanan ini bisa jadi lebih besar dari itu. Ia menyangkut hajat bisnis keluarga Megawati sendiri dan keselamatan posisi politiknya. Kami menduga, jaringan mafia pengusaha China itu menekan Mbak Mega minimal dalam dua poin: (a). Mereka akan melibas binis CPO/produksi minyak sawit yang selama ini deras menafkahi keluarga Megawati, sejak era Mega menjadi Presiden RI 2001-2004 lalu; (b). Mereka mengancam akan buka-bukaan soal data korupsi/pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Mega dan keluarga. Dengan tekanan begitu, tentu sangat sulit bagi Mega dan kawan-kawan untuk mendiamkan ajuan mafia China.

Oh ya, apa rahasia di balik pencapresan Jokowi ini? Masih ada rahasia lain yang lebih “menggiurkan”?

Sebenarnya, para mafia China juga tahu bahwa pencalonan Jokowi sangat berisiko. Risiko terbesar adalah mengundang amarah politik/sosial Umat Islam yang telah dikalahkan dalam Pilkada Jakarta sehingga terpilih Ahok sebagai wakil gubernur. Pencapresan Jokowi jelas akan menaikkan Ahok sebagai Gubernur DKI. Dan kita tahu sendiri, dalam kepemimpinannya Ahok lebih seperti orang stress daripada seorang Wakil Gubernur. Omongan dia lebih mirip ucapan preman Cilitan atau Kampung Rambutan, daripada seorang pejabat birokrasi.

Bagi kalangan mafia China, lebih suka damai-damai saja, ekonomi lancar, kehidupan normal, daripada situasi konflik sosial membara dimana-mana. Loyalitas mereka ke uang. Mereka cuma butuh “tempat aman dan waktu tenang” untuk cari uang. Kalau ada semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”; di mata mafia China semboyan itu diubah jadi: “Dari duit, oleh duit, dan untuk duit.” Ini benar-benar nyata. Duit telah menjadi ILAH yang diibadahi dan diberikan loyalitas sempurna.

Mereka dengan sangat terpaksa memilih Jokowi karena mereka SANGAT KETAKUTAN kepada sosok Prabowo Subianto yang dalam Pilpres 2014 ini diperkirakan akan merajai arena. Konon, tak ada satu pun sosok lain, setelah SBY, yang bisa menandingi Prabowo. Para mafia China sangat takut dengan ide kemandirian, kedaulatan, kerakyatan yang diusung oleh Prabowo. Bagi mereka, membiayai kemenangan Jokowi meskipun harus mengeluarkan uang 10 triliun rupiah, tidak masalah. Asalkan jangan Prabowo yang menang.

Mereka tak peduli Jokowi tak punya prestasi, tak becus ngatur Jakarta, khianat pada kepercayaan rakyat, melanggar janji-janji, dan seterusnya. Mereka tak peduli semua itu. “Persetan dengan prestasi Jokowi!” Begitu kira-kira omongan mereka. Mereka semata-mata hanya TIDAK INGIN MELIHAT NEGARA INDONESIA DIPIMPIN OLEH PRABOWO. Sekalipun sebenarnya yang membawa Jokowi ke Jakarta adalah Prabowo sendiri. Maka itu uang miliaran-triliunan siap dihambur-hamburkan, untuk mengangkat pamor Jokowi dan hancurkan pamor Prabowo.

Mengapa mereka begitu phobia dengan Prabowo? Mengapa mereka tidak bisa menerima Prabowo, padahal tokoh itu sudah melakukan “operasi plastik politik” sangat ekstrem seperti para selebritis Korea?

Prabowo sudah melakukan segala-galanya untuk mengubah citra dirinya. Dari pro rakyat, jadi pro kapitalis. Dari anti China, jadi shohiban sama China. Dari dekat ke Islam, jadi membuat marah Umat Islam. Dari konsep kemandirian, jadi konsep “pasar bebas”. Dari kesan militeristik jadi pejuang demokrasi sejati. Dan seterusnya. Kalau ada yang belum berganti dari sosok Prabowo paling dua hal: agama dan jenis kelamin.

Lulunya Kambing

Lucunya Kambing

Nah, mengapa kaum mafia China masih belum percaya juga dengan semua “operasi plastik” Prabowo Subianto itu?

Ya alasannya kembali ke filosofi dasar hidup mereka. Kaum mafia China kan terkenal dengan slogan: “Dari duit, oleh duit, untuk duit.” Dalam konteks ini, mereka jadi sangat paranoid terhadap perubahan sistem pemerintahan yang akan berdampak pada perubahan income dan kekayaan mereka.

Di mata mafia China berlaku prinsip semacam ini: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing. Lebih baik kamu perlakukan semua hewan sebagai harimau.” Ini adalah tingkat kewaspadaan tertinggi dalam penjagaan aset-aset kekayaan. Mereka tak mau ambil risiko dengan menerima kemungkinan perubahan ideologi atau pemikiran seseorang.

Hal yang sama juga berlaku bagi PKS. Meskipun Anis Matta sudah mendatangkan grup penyanyi gereja dari NTT untuk manggung di tengah perhelatan massa mereka di Senayan. Tetap saja, semua itu tak akan mengubah pendirian mafia China terhadap PKS. Sama sekali tak akan mengubah apapun. Dasarnya ya filosofi tadi: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing…

Filosofi dasar kaum mafia China ini susah berubah, dengan cara apapun, karena ia merupakan kunci eksistensi mereka di perantauan. Hal itu sudah berlaku dalam lintasan sejarah selama ribuan tahun. Ini sudah clear dan sulit berubah. Ia sudah inheren dengan kebudayaan oriental. Kalau berubah, justru eksistensi jadi taruhan. Meminjam kata Nabi SAW: “Pena-pena sudah diangkat, lembaran-lembaran sudah ditutup.”

Tak mungkin “operasi kamuflase politik” akan mengelabui mereka. Jangan meremehkan sejarah mereka, ribuan tahun. Maka itu harusnya kalau berpolitik yang LURUS-LURUS saja. Satu muka, satu pendirian, satu integritas. Jangan suka mencla-mencle!

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

TANDA MERAH: Jokowi Jadi Capres PDIP !!!

Maret 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jum’at, 14 Maret 2014 kemarin, Jokowi ditetapkan sebagai Capres PDIP melalui terbitnya Surat Perintah Bu Megawati. Semua media membahas isu ini, apalagi Detiknews.com dan Arifin Asydad Cs. Kegelisahan mereka berbulan-bulan akhirnya pecah juga. Mungkin setelah pencapresan resmi ini, Arifin dkk tak henti-henti melantunkan dzikir: “Jokowi pujaanku. Jokowi cintaku. Jokowi mesraku.”

Jika Jokowi terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014, maka akibatnya bagi bangsa Indonesia bisa sangat-sangat dahsyat. Dari sisi apapun, Jokowi lebih buruk dari SBY. Di bawah SBY saja rakyat sudah megap-megap, apalagi di bawah Jokowi. Orang ini bener-bener palsu, pengkhianat sejati, boneka barbie, dan jauh dari pertolongan Allah SWT.

STOP This Man !!!

STOP This Man !!!

Tahun 2013, ketika baru 3 bulan jadi Gubernur DKI, Jokowi dihantam oleh banjir dahsyat yang menggenangi area Jakarta yang luas. Kala itu dia berdalih: “Rupanya gerak saya kalah cepat dengan datangnya banjir.” Oke, kita maklumi, kita maafkan. Wong namanya juga baru memimpin Jakarta.

Ternyata, awal tahun 2014, lagi-lagi Jakarta dihantam banjir besar. Menggenangi banyak wilayah. Termasuk daerah Kampung Pulo yang sejak tahun sebelumnya sudah “langganan”. Jokowi keteteran. Media-media pendukung Jokowi mencari 1001 alasan pembelaan. Sangat memalukan. Nah, saat itulah kita baru saksikan kualitas diri Jokowi sebenarnya. Orang ini bener-bener palsu. Boneka barbie. Banyak lagak, nol kemampuan. Dia peringisan di depan Detiknews.com, sambil Arifin Asydad dkk. menjilati lumpur di sepatunya. Apa yang dibangga-banggakan sebagai “walikota terbaik dunia” nol besar.

Tapi masalahnya… kita bicara tentang nasib 250 juta rakyat Indonesia ini. Apa rela kita akan dipimpin boneka yang lebih buruk dari SBY dan kawan-kawan? Pengalaman 10 tahun menderita di bawah SBY, apa itu tidak cukup? Mau berapa lama lagi menderita? Mau 100 tahun lagi?

Pencapresan Jokowi ini TENTU SAJA dibantu oleh pendanaan James Riyadi, China Connection, dan para debibur pengembang BLBI. Mereka itu pada tahun 1997-1998 lalu melarikan dana negara senilai 500-600 triliun ke luar negeri. Sampai ada uang dimuat dalam kontainer, dibawa ke Singapura. Singapura jadi tempat berbiak musuh-musuh bangsa dan kemanusiaan itu.

Ini yang sangat bahaya. Para pengemplang BLBI bukan hanya ingin come back. Ingin cuci tangan dari dosa-dosanya. Tapi juga ingin kembali menganiaya kehidupan bangsa kita ini. Mereka sedang bersaing dengan Amerika, untuk memutilasi tubuh bangsa ini.

Adapun ceceunguk media sejenis Arifin Asydad Cs di Detiknews.com dan lainnya, mereka ini kan anggota “Mafia Jokowi Raya”. Mereka dibiayai kaum mafia untuk membesarkan image Jokowi, agar dia bisa menguasai Indonesia Raya. Kalau sudah berkuasa, episode kehidupan yang lebih sengsara dari kepemimpinan SBY sudah di depan mata.

Banyak anak-anak muda, ABG, punya hak pilih. Mereka berjibaku membela Jokowi dengan segala macam alasan. Itu karena mereka bodo-bodo alias “otak kosong”. Kalau mereka tahu yang sebenarnya, mereka akan malu menyatakan dukungan. Bukan karena mau menghina. Tapi kehidupan rakyat 250 juta ini tak boleh dikorbankan untuk si pengkhianat seperti Jokowi dan para sekutunya itu.

Kalau kini di Suriah sedang ada JIHAD FI SABILILLAH, maka kini kaum Muslimin seindonesia wajib turun melakukan JIHAD MEDIA untuk menghadang gerakan “Mafia Jokowi Raya” ini. Wajib atas kita melakukan perlawanan ini, sebab hal ini sama dengan MENYELAMATKAN NASIB 250 juta rakyat Indonesia.

Biarkan saja cecunguk seperti Arifin Asydad Cs terus mengelus-elus kepala Jokowi. Biarkan Jokowi omongan JASMEV yang tak berguna itu. Biarkan juga komentar bodoh anak-anak ABG yang lidahnya setajam silet. Biarkan semua itu…karena mereka SALAH.

Kita yang mengerti dan yakin akan kebenaran jalan ini, terus galang kekuatan dan opini untuk melawan PDIP, Pencapresan Jokowi, dan politik China connection. Terus berjuang Bung!

Ini adalah tantangan besar bagi para pejuang Islam. Kita membela kebenaran, sedang “Mafia Jokowi Raya” membela kebathilan melalui kekuatan media. Mari kita buktikan, bahwa kekuatan kebenaran bisa menggelamkan mereka! “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik Bung Tomo pahlawan panutan kita.

Semoga Allah membinasakan, mencerai-beraikan, menghancurkan tangan-tangan yang terus bermain untuk menyusahkan kehidupan 250 juta rakyat Indonesia ini. Amin Allahumma amin.

Berjuanglah Ikhwan! Berjuanglah Akhwat! Berjuanglah wahai para pejuang Islam! Tantangan besar di depan mata!

Megawati takluk, PDIP gak sanggup. Orang-orang Mukmin siap hadapi Jokowi dan “Mafia Jokowi Raya” di belakangnya.

Berjuanglah para Ustadz. Berjuanglah para Kyai, para Ajengan! Berjuanglah para santri, para aktivis, para pembela Islam. Berjuanglah laki-laki penyendiri yang tidak melupakan Umat di hatinya.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik Bung Tomo menggelorakan Jihad Fi Sabilillah.

(Weare).