Nikah Sirri Dipidanakan! Oh ya?

Februari 18, 2010

Negara ini semakin aneh-aneh saja. Kemarin ada usulan untuk mengangkat seorang dedengkot kesesatan sebagai pahlawan nasional, lalu ada gerakan untuk mencabut UU tentang larangan penistaan agama, dan kini ada lagi upaya menjadikan para pelaku Nikah Sirri sebagai penjahat, yang berhak dihukum maksimal 3 tahun, denda 12 juta rupiah.

Hebatnya upaya meloloskan UU yang nanti bisa memenjarakan para pelaku Nikah Sirri itu ditukangi oleh dua menteri dari politisi Muslim, Suryadarma Ali (Menag dari PPP) dan Patrialis Akbar (Menkumdang dari PAN). Apa para politisi ini tidak ada kesibukan lain yang lebih bermanfaat? Sangat menyedihkan.

Mari kita runut masalah ini sebaik-baiknya, sehingga nanti akan tampak mana kebathilan yang busuk dan mana kebenaran yang harus dibela, sampai titik darah penghabisan. Bismillahirrahmaanirrahiim.

[1] Perdebatan soal Nikah Sirri ini muncul, sebenarnya karena KERANCUAN DEFINISI Nikah Sirri itu sendiri. Pemerintah mendefinisikan Nikah Sirri sebagai: “Nikah yang tidak tercatat di KUA.” Nah, ini pangkal kekacauan masalah ini. Seharusnya definisi Nikah Sirri itu adalah: “Pernikahan yang dirahasiakan, yang tidak disiarkan ke tengah-tengah masyarakat.” Itu sesuai dengan istilahnya sendiri NIKAH SIRRI atau Nikah Rahasia. (Saya heran, apa yang menyusun UU Perkawinan itu orang bodoh ya? Masak mereka tidak tahu arti Nikah Sirri?).

[2] Hukum asal pernikahan dalam Islam adalah: Nikah Agama! Disana ada mempelai, wali wanita, saksi, lalu diumumkan ke tengah-tengah masyarakat. Nah, inilah konsep asli pernikahan Islam. Tidak peduli, apakah kemudian pernikahan itu dicatatkan di KUA atau tidak. Soal hak dan kewajiban dalam pernikahan, dilaksanakan sebaik-baiknya, sesuai Syariat Islam. Jadi, jaminan pelaksanaan hak-kewajiban itu bukan BUKU NIKAH, tetapi keimanan orang-orang Muslim.

[3] Pada awalnya, pernikahan itu tanpa pencatatan, tanpa buku Nikah, tanpa KUA, dsb. Di masa Nabi Saw dan para Shahabat, serta kaum Muslimin selama ribuan tahun, tidak dikenal istilah buku nikah. Jadi lembaga pernikahan itu sudah include dengan peradaban Islam itu sendiri. Buku nikah atau sertfikat nikah sebenarnya adalah BID’AH yang diada-adakan. Dulu, pernikahan Islami itu tidak membutuhkan semua itu. Tetapi di jaman modern, demi tertip administrasi, dibutuhkan surat nikah. Tetapi kebutuhan “tertib administrasi” itu kini melebar kemana-mana, sampai ingin merengut hak-hak pelaksanaan Syariat Islami itu sendiri. Nah, inilah yang disebut “pagar makan tanaman”. Konsep buku nikah itu tadinya dibutuhkan hanya sebagai pelengkap, ternyata kini hendak memonopoli tafsiran hukum-hukum pernikahan. Sungguh sangat sangat sangat menjijikkan!!!

[4] Okelah, nikah rahasia, nikah sembunyi-sembunyi, nikah sepihak, kawin mut’ah, kawin kontrak, dan sejenisnya. Boleh itu semua dilarang. Silakan saja dilarang. Tetapi konsep NIKAH SYARIAT, meskipun tidak dicatatkan dalam KUA, jangan sampai dilarang. Itu nikah Islami, dan hukum asal pernikahan memang tidak ada pencatatan atau sertifikat. Nikah Syariat sudah pasti bukan nikah Sirri, sebab nikah seperti itu diumumkan ke tengah-tengah masyarakat. Jadi masyarakat sekitar tahu, bahwa sepasang laki-laki wanita sudah resmi menikah dan tidak berhubungan zina.

[5] Patrialis Akbar di koran Sindo mengatakan, bahwa laki-laki kalau menikah jangan hanya mau enaknya saja (hubungan seksual saja), tapi juga harus bertanggung-jawab terhadap isteri dan anak.

Kita jawab logika bodoh ini: (a) Apa setiap orang yang menikah secara Syar’i, sesuai ketentuan Syariat, mereka tidak bertanggung-jawab begitu? Apa buktinya? (b) Apakah surat nikah KUA menjamin bahwa semua laki-laki akan bertanggung-jawab penuh kepada anak-isterinya? Apa buktinya? Selama ini banyak perceraian, dan ternyata para suaminya enggan bertanggung-jawab. Padahal mereka menikah baik-baik di KUA, dengan pesta mewah lagi. (c) Pernahkah orang seperti Patrialis Akbar itu memahami, bahwa yang mendorong Nikah Sirri (nikah agama), tidak selalu pihak laki-laki. Tapi banyak juga pihak wanitanya, malah didukung orangtua mereka. (d) Terus bagaimana dengan pemuda-pemuda Islam yang kesulitan mengurus surat-menyurat ke KUA, tapi ingin menikah? Apakah pernikahan mereka harus ditunda, sampai urusan administrasi beres? Bagaimana kalau seumur hidup tak sanggup mengurus surat-surat?

Terus terang, kalau melihat orang-orang seperti Patrialis Akbar Cs ini, rasanya seperti mual. Arogan, karena mentang-mentang dirinya pejabat. Sangat menyedihkan!

[6] Upaya melarang Nikah Sirri atau Nikah Agama, pada dasarnya adalah tujuan untuk MERUSAK KELUARGA-KELUARGA MUSLIM. Apa alasannya? UU seperti ini pasti akan lebih menyulitkan generasi muda Islam untuk menikah, apalagi poligami. Akibatnya, mereka akan memilih hubungan zina, free sex, pelacuran, pornografi, dan sebagainya. Itu konsekuensi pasti. Negara semakin lama bukan semakin memudahkan urusan-urusan pernikahan, malah mempersulit kaum Muslimin.

[7] Dampak langsung dari larangan Nikah Sirri (nikah Agama) adalah terhapuskannya hukum poligami. Mengapa demikian? Sebab, kalau seseorang akan melakukan poligami, dia harus mengurus surat-surat ke KUA. Padahal KUA selama ini terkenal sangat mempersulit urusan poligami. Poligami harus mendapat ijin dari isteri dulu, padahal rata-rata wanita Indonesia tidak rela suaminya poligami. Kalau poligami dilakukan secara agama saja, tidak dicatatkan ke KUA, pelakunya bisa dipidanakan. Dihukum 3 tahun atau denda 12 juta rupiah.

[8] Ummat Islam harus menentang keras pelarangan Nikah Sirri (Nikah Agama). Sebab itu sama saja dengan melarang pelaksanaan Syariat Islam dalam masalah pernikahan. Kalau nikah rahasia yang sangat merugikan, ya okelah silakan dilarang, malah perlu dilarang. Tapi kalau pernikahan Islami, meskipun tidak dicatatkan ke KUA hendak dilarang, ya Allah ya Karim…

[Semoga Allah mengutuki siapapun yang membuat UU pelarangan itu, mengutuki perancang-perancangnya, mengutuki sponsornya, mengutuki pendukungnya, mengutuki media-media yang mendukung pelarangan Nikah Syariat, serta semoga Allah menghancurkan kehidupan mereka, menghancurkan bisnis mereka, menghancurkan karier mereka, menghancurkan kesenangan-kesenangan mereka. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in].

Ya kita sama-sama tahu, pasti di balik missi melegalkan larangan Nikah Sirri (Nikah Agama) ini pasti tangan-tangan kaum Liberal -laknatullah ‘alaihim wa ‘ala hayatihim, wa halaka ‘alaihim zhahiran wa bathina-. Siapa lagi yang biasa memusuhi kaum Muslimin, kalau bukan setan-setan Liberal itu.

Lihatlah betapa munafiknya setan-setan Liberal itu! Mereka selama ini teriak-teriak, “Profan, profan, profan… Negara jangan ikut campur urusan privat rakyatnya!” Giliran campur-tangan negara bisa untuk merusak moral masyarakat, mereka tertawa-tawa penuh kesombongan. Semoga Allah Ta’ala menghancurkan kehidupan mereka, bisnis mereka, keluarga mereka, para sponsor mereka. Allahumma amin.

Sudah waktunya kaum Muslimin membentuk dewan anti paham Liberalisme ini. Bahkan para ahli agama perlu merumuskan sanksi apa yang bisa diberikan kepada setan-setan penghujat agama itu. Kalau hukum Islaminya, mereka memang dihukum mati. Nah, dalam konteks Indonesia, kira-kira sanksi apa yang bisa diberikan kepada mereka, agar mereka jera dan tidak lagi menghujat Islam? Itu semua perlu dipikirkan sesegera mungkin.

Intinya, defininisi Nikah Sirri itu tidak jelas. Kalau nikah rahasia, nikah mut’ah, kawin kontrak, kawin “outsourcing”, okelah dilarang saja, karena tidak sesuai dengan Syariat Islam. Tapi kalau nikah Islami, meskipun tidak dicatatkan di KUA dilarang, ya sudah berarti ini sebuah TANTANGAN TERBUKA terhadap Islam dan kaum Muslimin. Bayangkan, kita mau menikah secara Syariat Islam, hendak dilarang? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Harus diingat, hukum asal buku nikah itu tidak dikenal dalam Islam. KUA juga tidak dikenal dalam Islam. Sesuatu yang bersifat baru (bid’ah) tidak boleh menyingkirkan hukum yang sudah mapan, tentang kaidah-kaidah pernikahan Islami. Semoga kaum Muslimin semakin cerdas, berani, dan berwibawa. Allahumma amin.

AMW.