Gunung Merapi dan Kemusyrikan Ummat

November 5, 2010

Gunung Merapi… sebuah fakta yang membuat mata terbelalak. Sebuah realitas yang membuat manusia ketakutan. Sebuah entitas alam, yang membuat manusia merasa kalah.

Orang bilang, “Merapi tidak ingkar janji?” Apa maksudnya? Apa maknanya? Kapan Merapi berjanji? Bagaimana janjinya? Dan kepada siapa ia berjanji? …manusia terus berpikir dalam kebingungan akalnya.

Mbah Maridjan meyakini, “wedhus gembel” tidak akan menimpa. Merapi hanya semacam “bathuk-bathuk” saja. Tetapi “wedhus gembel” tidak akan menyerang. Seakan, sudah ada “kompromi” antara Mbah Maridhan dengan eksistensi Gunung Merapi.

Tetapi faktanya…

Merapi meletus, kawahnya mengamuk, bukan lagi “wedhus gembel” yang muncul, mungkin sudah sekelas “gajah bengkak”, “kerbau edan”, “badak stress”, dan lainnya.

Lihatlah bentuk letusan Gunung Merapi… “Indahnya” seperti letusan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Bahkan lebih hebat dari itu. Dentumannya keras, hawa panasnya mematikan, lava pijar, bebatuan, kerikil, debu vulkanik, gempa bumi, dan seterusnya. “Indah benar”, “sedap sekali”, “mantap bok”… “Mantap” rasanya melihat Magelang dan Yogya dipayungi debu vulkanik sejarak 10 meter jarak pandang. “Muuuuanantaaappp!” kata anak-anak dalam acara Si Bolang, sambil mengacungkan tangan.

Ritual Mencari Keridhaan Penunggu Merapi (baca: mencari kebinasaan).

Fakta berbicara… Mbah Maridjan menjadi “martir” dihantam “wedhus gembel”. Bisa jadi “si wedhus”-nya marah, karena dibilang “gembel” oleh Mbah Maridjan. “Nih, rasain nih! Ini yang kamu bilang roso! Ini roso! Rasain nih Roso!” mungkin begitu amarah awan panas sebelum “mengeksekusi” Mbah Maridjan dan kawan-kawan.

Kalau teringat wafatnya Mbah Maridjan -semoga Allah menerima derma baktinya di jalan Islam, amin-…jadi teringat Gunung Vesuvius dari negeri Pompeii di masa lalu (di Italia). Disana gunung meletus sampai mengubur manusia dalam keadaan mereka masing-masing. Ada yang mati saat tidur, saat duduk, saat di kamar mandi, ruang tamu, dll. Erupsi dahsyat Vesuvius mengawetkan keadaan terakhir Kota Pompeii, sehingga keadaan mereka bisa dibaca oleh manusia-manusia berakal di hari kemudian.

Ya alhamdulillah, Mbah Maridjan wafat setelah menunaikan Shalat Maghrib. Di menit-menit akhir hayatnya, beliau mau dievakuasi, tidak ngeyel seperti sebelumnya. Tetapi, “Mau shalat Maghrib dulu.” Alhamdulillah, beliau masih ingat kewajiban kepada Ar Rahmaan, ketika kondisi sangat genting sekalipun. Bahkan beliau wafat saat sujud, sebelum berubah posisi.

Yang jelas, Mbah Maridjan sudah memahami, bahwa Gunung Merapi tidak sesederhana yang dia jelaskan kepada masyarakat selama ini.

“Gunung Merapi Semakin Membingungkan…” Begitu yang saya baca di harian Pikiran Rakyat hari ini, secara sekilas. Banyak orang kebingungan. Sampai pakar-pakar vulkanologi pun garuk-garuk kepala. “Ono opo iki?” Ada apa ini? Kok jadi begini ya? Jangan-jangan Gunung Merapi sedang membidik pakar-pakar vulkanologi itu. “Tunggu ya, ntar giliran kamu!”

Magelang disapu hujan abu. Ribuan hektar tanaman salak kering terbakar, atau rusak karena debu vulkanik. Mungkin, ke depan untuk beberapa lama, kita harus “puasa” makan salak pondoh. Ya, ini kesempatan bagi salak-salak “divisi utama” untuk naik ke level “ISL“. Mumpung jagoannya lagi klepek-klepek. Yogya pun dilanda debu vulkanik, gempa, ketakutan-ketakutan. Bagaimana nasib anak-anak kaum Muslimin disana? Semoga Allah Ta’ala memberikan ‘afiyat lahir bathin kepada Ummat Islam di Yogya, di Magelang, daerah sekitar Merapi, dan kota-kota lain yang menderita. Allahumma amin.

Tahun 2006 lalu, Merapi juga meletus. Meskipun erupsinya tidak besar. Waktu itu semua perhatian tercurah ke Merapi (wilayah Utara). Ternyata, tak disangka-sangka, terjadi GEMPA YOGYA yang sangat dahsyat di wilayah Selatan Yogya (Bantul dan sekitarnya). 5000 sampai 6000 orang wafat seketika, keruntuhan bangunan rumah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Semua siaga di Utara, gempa besar terjadi di Selatan. Ikhtiarnya dimana, mushibahnya dimana? Sejak gempa Yogya, Gunung Merapi seolah dilupakan. “Aman. Aman. Gunung Merapi aman. Merapi tak ingkar janji?”

Opo… tak ingkar janji gundulmu yo… Buktinya kini Merapi mengamuk, dan kita hanya bisa berdoa dan berdoa memohon ‘afiyat kepada Allah As Sallam. Dimana itu yang bilang “Merapi tak ingkar janji”? Sebagai makhluk Allah, Merapi jelas sudah berjanji kepada Allah untuk patuh kepada-Nya. Merapi tak akan bergerak sedikit pun, melainkan dalam koridor Rencana Allah.

Menurut mitologi (ilmu kemusyrikan) kaum Kejawen Yogya, yang berpusat di Kraton Yogya. Merapi dianggap sebagai titik Utara, lalu Pantai Selatan sebagai titik Selatan. Semua titik ini membangun “pertahanan kosmis” yang melindungi Yogya dari segala ancaman. Oleh karena itu, kaum musyrik di Yogya (meskipun KTP-nya tertulis Islam), selalu melakukan ritual untuk mencari ridha sang penunggu titik Utara dan titik Selatan. Ritual kemusyrikan itu rutin dilakukan setiap tahun.

Lalu, apa yang terjadi setelah semua ritual kemusyrikan dilakukan? Apakah Merapi diam? Apakah Merapi ramah? Ternyata, hukum alam tidak mengikuti sunnah kemusyrikan, tetapi mengikuti Sabda Rabbul ‘alamiin. Merapi mengamuk. Semakin musyrik orang-orang itu, Merapi menghantam lebih keras. Bisa jadi, suatu masa, jika kemusyrikan terus menyala-nyala, Yogyakarta akan dilamun tsunami dari Pantai Selatan. Semua ini hanya soal waktu saja. Lihatlah, kalau kaum musyrikin itu tidak mau bertaubat, tidak segera kembali ke agama yang benar, niscaya hukum alam (sunnatullah) akan menggulung rumah-rumah mereka, bisnis mereka, resort-resort mereka. Mari kita sama-sama menanti!

Cukuplah…Gempa Yogya dan Amukan Merapi menjadi nasehat berharga, bagi mereka, bagi bangsa Indonesia, dan bagi kita semua.

Bacalah: “Maka siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman (bertauhid) kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada tali agama Allah yang sangat kuat, yang tak akan putus selama-lamanya.” (Al Baqarah: 256).

Gunung Merapi adalah nasehat…Terserah Anda mau mengambil nasehat itu, atau mengabaikannya…

AMW.


Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia

Oktober 28, 2010

Kalau Microsoft Inc. selalu mengeluarkan produk software Windows seri terbaru, sesuai dengan periode tahun keluarnya software tersebut. Kalau di Indonesia ada kenyataan yang sangat unik. Bangsa Indonesia setiap tahun seperti selalu mengeluarkan “seri bencana” terbaru. Untuk tahun 2010 ini saja sudah muncul serial bencana-bencana terbaru. Tipenya WASIOR 150P, kemudian MENTAWAI 600Ts, dan MERAPI 50MM.

[WASIOR 150 P, maksudnya banjir Wasior, dengan korban 150 orang terjadi di Papua. MENTAWAI 600Ts, maksudnya gempa bumi dan tsunami di Mentawai dengan korban sekitar 600 orang. Ts maksudnya, tsunami. Adapun MERAPI 50MM; 50 artinya korban meninggal mungkin mencapai 50 orang; MM artinya Mbah Maridjan].

Dikejar Awan Panas Debu Erupsi Gunung Merapi.

Ke depan diusulkan, pihak Departemen Sosial membuat serial-serial “merk bencana” itu. Selain untuk memudahkan identifikasi, juga siapa tahu “merk-merk” itu bisa diekspor ke negara-negara lain, seperti Bill Gates mengekspor produk Windows ke seluruh dunia. Kalau bangsa lain bangga dengan serial teknologi, kita bangga dengan serial bencana. Masya Allah, sangat ironis memang.

Dari kejadian bencana-bencana sepanjang tahun 2010 ini, ada catatan unik (aneh) yang layak kita renungkan. Antara lain sebagai berikut:

[1] Saat terjadi bencana banjir di Wasior Papua, banyak orang menyebut banjir itu seperti kejadian tsunami kecil. Dalam rekaman video amatir sangat terlihat air meluap menghanyutkan perkampungan di sudut teluk tersebut. Apakah ini tsunami? Bukan, meskipun posisi Wasior ada di tepi pantai. Itu bukan tsunami yang membawa air laut, karena tidak ada gempa atau apapun disana sebelum kejadian terjadi. Tsunami terjadi selalu didahului gempa tektonik di dasar lautan. Air banjir itu ternyata dari air sungai yang sangat desar, akibat hujan terus-menerus di lokasi itu. Sekilas lihat seperti tsunami, padahal dari banjir sungai biasa.

[2] Pada malam 25 Oktober 2010, Jakarta dilanda banjir di mana-mana. Jalan-jalan raya di Jakarta dikepung banjir setinggi lutut. Ribuan manusia mengeluh, stress, terjebak kemacetan, bahkan ada yang celaka, karena terperosok lubang, lalu terbawa banjir. Anehnya, keesokan harinya, air banjir itu sudah lenyap. Air yang semula menggenang dimana-mana, hanya dalam tempo cepat sudah lenyap. Padahala namanya banjir, biasanya akan selalu meninggalkan genangan sampai beberapa lama. Lagi pula, di daerah-daerah pantai utara Jakarta, tempat seharusnya air banjir itu bermuara, malah tidak terjadi banjir.

[3] Saat ini bangsa Indonesia mengeluh karena curah hujan sangat tinggi. Hampir setiap hari hujan, pagi, siang, sore, sampai malam. Tetapi uniknya, di Surabaya beberapa waktu lalu terjadi hawa panas menyengat. Suhu mencapai sekitar 40 derajat celcius. Bahkan di Riau terjadi kebakaran ribuan hektar hutan, sehingga asapnya terpaksa “diekspor” ke Singapura. Masyarakat Singapura sudah mengeluh dengan tebalnya asap itu. Satu sisi terjadi hujan sangat tinggi, sehingga ahli-ahli cuaca menyebutnya, gejala La Nina. Tetapi di sisi lain, terjadi bencana kekeringan yang amat sangat, sehingga ada kebakaran hutan di Riau.

[4] Saat terjadi gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, pihak BMKG sudah membuat release, bahwa setelah terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala richter itu, ancaman tsunami sudah lewat. Ternyata, di Mentawai sendiri benar-benar terjadi tsunami. sekitar 100 orang ditemukan tewas, 500 lainnya masih hilang. Informasi dari BMKG itu bisa menipu banyak manusia, baik rakyat, pemerintah, atau badan-badan bantuan kemanusiaan.

[5] Sebelum Gunung Merapi meletus, masyarakat sekitar gunung susah sekali untuk diungsikan. Mereka selalu beralasan, harus bekerja agar anak-isteri terus makan. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Tetapi karena memang, Gunung Merapi itu selama ini dikenal “ramah”. Gunung Merapi memang aktif sekali, tetapi abu vulkaniknya membawa banyak manfaat bagi kehidupan pertanian warga sekitar lereng Merapi. Karena itu masyarakat tenang-tenang saja. “Paling juga nanti berhenti,” begitu logika mereka. Namun saat Merapi benar-benar meletus, banyak warga tercengang. Dari puncak Merapi sampai jarak sekitar 5 km, wilayah yang tersapu “wedhus gembel” itu sangat mengerikan. Semuanya memutih, tanpa kehidupan. Jangankan manusia dan hewan, tanam-tanaman saja mati seketika. Betapa tidak, semua itu tersapu hawa-material panas dengan suhu minimal 600 derajat celcius. (Sebagai perbandingan, titik leleh baja 1000 derajat celcius. Titik leleh aluminium sekitar 500 derajat celcius). Saya yakin, setelah kejadian ini, tidak akan ada lagi warga lereng Merapi yang “sok berani” menghadapi gunung itu.

[6] Tahun 2009 lalu SBY dan Demokrat mengklaim sukses membangun pertanian, dengan klaim Indonesia telah mencapai swasembawa beras. Menteri Pertanian, Anton Apriantono dan PKS juga mengklaim hal yang sama. Lalu ada yang mengingatkan, bahwa swasembada itu terjadi semata-mata karena cuaca/iklim yang mendukung. Benar saja, ketika cuaca tidak bersahabat seperti saat ini, dengan hujan terus-menerus tanpa henti, akhirnya Menteri Pertanian Soewarno “menyerah kalah”. Dia lalu melakukan kampanye “One Day No Rice” (satu hari tanpa makan nasi). Mengapa beliau tidak mengklaim swasemba beras seperti pendahulunya?

Negeri Indonesia dengan segala macam bencana ini, sebenarnya sudah aneh. Sebab negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Timor Leste, Australia, dll. buktinya baik-baik saja. Ya memang mereka menghadapi bencana, tetapi tidak RUTINITAS seperti negeri kita ini.

Itu saja sudah aneh. Apalagi, perilaku bencana itu sendiri juga aneh. Mula-mula di ujung Timur, lalu pindah ke ujung Barat, lalu pindah ke Tengah, dan seterusnya. Seolah, semua tempat “dapat jatah giliran” masing-masing.

Seperti yang sudah kita katakan berulang-ulang kali disini. Posisi seorang pemimpin, sangat besar artinya bagi rakyatnya. Kalau jiwa pemimpin itu culas, curang, tega hati, dan khianat; alamat nasib rakyatnya akan sengsara. Kalau jiwa pemimpin itu lembut, empati, peduli dengan nasib orang lemah, tulus, dan memegang amanah secara teguh; insya Allah nasib rakyatnya juga akan sentosa, aman, dan sejahtera.

Dan SISTEM DEMOKRASI LIBERAL tidak akan pernah melahirkan pemimpin seperti itu. Demokrasi liberal hanya akan melahirkan tipe-tipe pemimpin materialis, industrialis, minim empati manusiawi. Catat itu!

Semoga bangsa ini mau belajar; dan tak henti-hentinya kita menghimbau bangsa Indonesia supaya mau belajar; dengan tidak menghiraukan lagi apakah himbauan seperti ini ada artinya atau tidak.

Allahumma rabbana, faghfirlana dzububana warhamna wa’fu anna, Anta Maulana ni’mal Maula wa ni’man Nashir. Amin ya Mujibas sa’ilin.

AM. Waskito.