Ide Memiskinkan Media Sekuler…

Maret 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.

Sebuah contoh mudah, adalah demo para aktivis Islam dengan tajuk: “Indonesia Damai Tanpa Liberal”. Untuk aksi besar ini ternyata liputan media TV dan koran-koran sangat minim. Sehingga Habib Rieziq menyimpulkan, “Karena kita bukan bencong, banci, dan homo, maka tidak ada televisi yang meliput aksi kita.” Itu kan artinya, media-media sekuler tersebut telah nyata-nyata dikuasai manusia-manusia amoral seperti banci, bencong, homo, free sex, dan seterusnya.

Dalam kasus sebelumnya di Palangkaraya, ada ratusan atau ribuan kaum Dayak berusaha mengepung dan mengancam keselamatan beberapa pimpinan FPI. Bahkan mereka terus memburu, sekalipun para pimpinan itu sudah berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Hal ini lalu menjadi angle bagi media-media untuk JUSTRU menjelek-jelekkan FPI dan menghembuskan isu pembubaran ormas Islam tersebut. FPI jadi korban mereka dituntut dibubarkan, apalagi kalau FPI yang melakukan aksi pengepungan? Jangan-jangan media-medis sekuler itu akan menuntut Islam dibubarkan? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Kasus-kasus kezhaliman media ini bukan sekarang saja. Sudah sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu memang benar-benar anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).

Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.

Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?

Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim (semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.

Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.

Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pak Munarman, SH. bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini. Dengan tentunya, beliau mesti bisa menurunkan sedikit tensi-nya ketika berhadapan dengan manusia-manusia sekuler itu.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.

AMW.

Iklan

Kadar Akal Orang Indonesia

Juni 23, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti telah saya sampaikan, bahwa saat ini saya sedang memantapkan tekad untuk meninggalkan acara-acara berita media sekuler, baik TV, koran, atau majalah. Ini telah saya lakukan dan alhamdulillah dampaknya sangat baik.

Namun kemarin saat berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Timur, saat makan di kantin, secara tak sengaja saya melihat dan mendengar siaran berita TV. Beritanya tentang Ruyati yang meninggal dihukum mati di Arab Saudi. Saat melihat koran dinding, berita tentang itu ada juga. Marak pula. Alamaakkk…

Tapi ada satu hikmah menarik dari kejadian yang tak disengaja ini. Sekaligus kejadian ini untuk kesekian kalinya menguatkan TESIS selama ini, bahwa acara-acara berita di TV atau koran itu, lebih banyak merusak otak daripada menyehatkan kehidupan manusia. Saat saya berbincang dengan seorang dosen senior, dari Jurusan Sastra Arab Universitas Malang (dulu IKIP Malang), yang kebetulan juga ada di pesantren itu; beliau membenarkan TESIS tersebut. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

Berita Media Sekuler Membusukkan Akal Manusia.

Singkat kata, “Berita TV atau koran itu, hanya nggarai ngelu” (maksudnya, hanya membuat kepala pening). Untuk lebih jelas melihat posisi kaum wartawan media-media sekuler, silakan baca tulisan ini: 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media. Tulisan semacam ini perlu, agar menjadi kritik bagi media-media perusak akal itu.

Kembali ke kasus Ruyati…

Disini secara cermat kita bisa melihat betapa bobroknya media-media sekuler itu; betapa kacaunya akal mereka; betapa rendahnya nalar dan analisis mereka. Itu pasti.

Apa buktinya?

Saat membahas isu Ruyati yang dihukum pancung itu, mereka mendesak supaya Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi. Saya hanya tertawa saja merenungkan IDE GILA luar biasa itu. Kok ada manusia yang sangat katrok, sekatrok-katroknya, yang punya ide konyol seperti itu.

Maaf, beribu maaf, harus dikatakan kata-kata kasar disini. Sebab, tak tahu lagi bagaimana menyebut kedegilan pikiran wartawan-wartawan bengal dan keji itu. Mohon ampunkan aku…

Baca entri selengkapnya »