Buku Baru: “Invasi Media Melanda Kehidupan Umat”

Desember 30, 2013

JUDUL: Invasi Media Melanda Kehidupan Umat. PENULIS: AM. Waskito. PENERBIT: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. HALAMAN: XXIV + 228 halaman. TAHUN TERBIT: Desember 2013. CETAKAN: Pertama. KATA PENGANTAR: Ustadz Mashadi, mantan anggota DPR RI.

Dalam beberapa kali kesempatan Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali menyampaikan keinginannya membuat sebuah media massa Islam. Menurutnya, kebutuhan umat akan lahirnya media massa Islam berskala internasional sudah sangat mendesak. Tujuannya agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tidak bersumber dari satu kelompok kepentingan saja. Sudah sepatutnya umat Islam mendapatkan informasi yang seimbang seputar perkembangan dunia dari perspektif Islam itu sendiri.

Saat memberikan sambutan di acara Penutupan Konferensi Internasional Media Islam, yang berlangsung tanggal 3-5 Desember 2014, di Jakarta, Suryadharma Ali kembali menyampaikan keinginannya itu. Kali ini dia mengajak berbagai pihak yang berkompeten dalam masalah ini untuk bersama-sama menyusun rencana implementasi pembuatan media Islam. Media massa yang diharapkan Pak Menteri bukan hanya berskala nasional tapi juga internasional.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Sebenarnya impian Menteri Suryadharma Ali akan hadirnya media massa Islam juga menjadi impian tokoh-tokoh Islam lainnya. Dalam setiap diskusi bertema urgensi media massa Islam yang diikuti para pegiat dakwah Islam, ide untuk membangun media massa Islam sering disampaikan. Para tokoh sepakat umat Islam harus punya media sendiri untuk mengimbangi dominasi informasi media-media non-Islam yang terkadang bias mengabarkan informasi yang melibatkan kepentingan umat Islam. Ketiadaan media yang berpihak pada kepentingan umat Islam pasti merugikan umat Islam itu sendiri, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Dalam buku terbarunya Invasi Media Melanda Kehidupan Umat, penulis AM Waskito menyebut, saat ini masyarakat umum, termasuk umat Islam, terlanjur percaya bahwa informasi yang disampaikan media massa umum pasti benar. Sikap semacam muncul karena masyarakat menganggap berita yang disampaikan media ditulis berdasarkan fakta dan etika. Jadi, andaikan ada media massa yang menyebutkan nilai Islam kurang sempurna mereka akan membenarkan begitu saja. Nah, kondisi inilah yang sepatutnya diluruskan oleh media-media Islam.

“(Padahal, ed) Fakta-fakta membuktikan bahwa media sekuler sering meninggalkan etika jurnalisme yang semestinya menjadi patron moralitas. Bukan rahasia lagi bahwa media-media saat ini kebanyakan hanya menjual sensasi, kritik sarkastik, cerita vulgar, foto-foto sensual, gossip selebriti, kriminalitas, info kecelakaan dan cerita-cerita musibah.” (kalam penulis, hal viii)
Mengutip pandangan Arief Suditomo, pimpinan redaksi program berita di salah satu TV, Waskito mengatakan, peran media yang ada saat ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Opini masyarakat terbentuk berdasarkan informasi yang disajikan media yang dikonsumsinya. Jika bacaan atau tontonan masyarakat baik maka baik pula pandangannya tapi jika asupan informasinya bermasalah maka bermasalah juga cara pandangnya.

Dan ironisnya, sejauh ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi informasi dari media-media yang dinilai kurang Islami. Media yang ada di masyarakat lebih banyak yang mementingkan aspek keuntungan semata dibanding menjaga idealisme serta independensi. Media yang selama ini melayani kebutuhan informasi umat dikuasai pihak pemodal yang lebih mengedepankan aspek untung rugi daripada aspek baik-buruk.

“Pengaruh negatif dari penyesatan opini media-media yang berkuasa saat ini bukan sesuatu yang kecil tetapi sesuatu yang sangat serius. Invasi media ini telah berhasil meruntuhkan rezim-rezim diktator Arab, mengubah perilaku masyarakat Indonesia, hingga membongkar kedaulatan bangsa-bangsa. Ibarat sebuah gelombang, ia laksana tsunami yang menerjang rumah-rumah, pepohonan, gedung-gedung, menyapu perkampungan dan makhluk hidup. Atau laksana tornado yang sedang mengamuk, menerbangkan semua benda dan material ke langit lalu melemparkan ke segala arah.

Media sekuler mempunyai misi membangun masyarakat baru bercorak: kapitalis, dimana kehidupan sosial didominasi oleh orang-orang kaya; liberalis, dimana tidak ada norma dan aturan yang patut dihormati; serta hedonis, dimana manusia diajak bersenang-senang secara mutlak.” (hal 195)

Dalam kata pengantarnya, Mantan Anggota Komisi I DPR-RI, Mashadi menyebutkan media massa utama telah berhasil memanipulasi pikiran, persepsi dan keyakinan umat manusia. Media massa bukan saja mampu mengubah perilaku manusia, melainkan memainkan perasaan bahkan sebuah keyakinan. Dampaknya sebuah kejahatan bisa menjadi sebuah kebenaran. Sebuah kejahatan kemanusiaan bisa dimaklumi. Dan semua dipahami sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja (hal xvii). Sungguh ironi.

Berangkat dari keprihatinan itu AM Waskito menulis buku setebal 228 halaman ini. Penulis menjabarkan betapa umat Islam butuh media yang baik (khair) dan lurus (hanif). Bahkan bisa dibilang sudah menjadi keharusan yang mendesak.

Di bagian awal AM Waskito menjabarkan beberapa contoh bias liputan media massa umum terhadap peristiwa yang melibatkan umat Islam, mulai dari peristiwa kudeta militer Mesir terhadap Pemerintahan Mursi yang sah hingga berita aksi-aksi Front Pembela Islam (FPI) yang sering diberitakan negatif. Waskito menunjukan bias informasi ini melalui kutipan-kutipan berita yang tampil di media massa utama.

Setelah menjabarkan contoh kasus itu Waskito lalu mengulas betapa ajaran Islam sebenarnya sudah mengingatkan umat Islam tentang pentingnya mengelola informasi. Jauh sebelum terjadi “huru-hara” masyarakat Islam saat ini sebenarnya Al-Quran sudah mengingatkan betapa umat harus berhati-hati terhadap peredaran suatu kabar. Kabar yang baik sekalipun jika tidak dikelola dengan baik bisa mendatangkan malapetaka bagi setiap orang yang terkait. Hal ini dicontohkan penulis melalui peristiwa Haditsul Ifki, dimana saat itu Aisyah RA difitnah telah berbuat tidak pantas terhadap Nabi Muhammad SAW. (Bab III, hal 19-32)

Selain itu, buku ini mengulas juga bagaimana perang opini terjadi saat Perang Uhud. Saat itu kaum musyrikin ingin mengalahkan Rasulullah SAW dan para sahabat melalui penyebaran isu-isu yang menakutkan. Diharapkan dengan cara itu mental kaum muslimin menjadi hancur dan takut menghadapi perang. Apa yang terjadi pada Perang Uhud tak ubahnya seperti yang terjadi pada perang-perang zaman sekarang. Tak ada perang senjata tanpa perang opini.

Buku yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar ini memang menjabarkan berbagai kelemahan-kelemahan umat Islam dalam hal pengelolaan informasi melalui media massa. Setidaknya hingga saat ini belum ada, atau setidaknya hanya sedikit, media-media profesional yang dikelola umat praktisi Islam yang berperan menyampaikan informasi yang benar untuk umat Islam.

Namun demikian buku ini tidak dimaksudkan membuat umat Islam pesimistis atau skeptis akan lahirnya media massa Islam yang diimpikan. Buku ini dibuat justru untuk menumbuhkan keyakinan bahwa suatu saat nanti akan ada media massa umat Islam yang bisa mengimbangi serbuan informasi media-media sekuler. Meski tidak membahas teknis pembentukan dan pendirian media massa islam itu setidaknya buku ini menjabarkan poin-poin penting yang sepatutnya diperjuangkan media massa umat Islam.
Seperti yang dikatakan Mashadi dalam pengantar buku yang terbit di bulan Desember 2013 ini, “Bayangkan 1,5 miliar muslim di seluruh dunia tak mampu, tak bisa bergerak menghadapi (serbuan informasi) Amerika Serikat dan Zionis-Israel, karena pusat syaraf dan hati mereka sudah dikendalikan oleh korporasi media massa milik Zionis-Israel.

Tetapi, (untung, ed) ada sebuah buku penting yang ditulis AM Waskito, yang diharapkan dapat mengubah semua persepsi, pikiran, perasaan, hati dan keyakinan bahwa kita dapat kembali melawan hegemoni media Zionis. Semoga buku ini menjadi sebuah solusi bagi masa depan muslim. Semoga.” Wallahu a’lam bishowab.

(By Subhan Akbar).

Sumber: http://www.voa-islam.com/read/silaturahim/2013/12/23/28285/menakar-potensi-kebangkitan-media-islam/#sthash.efW57rR2.PZCmn0Np.dpuf

Iklan

Membantah Isu “Jihad Seks” di Suriah

September 26, 2013

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Ustad mohon maaf, benarkah ada “jihad sexual” di Suriah yang mana pelakunya gadis-gadis Muslimah Tunisia dikirim ke Suriah untuk melayani kebutuhan sexual para pejuang anti Basyar Assad? Mohon pencerahannya! Habunallah Wani’mal Wakiil ni’mal maulaa wa ni’mannnashiir. Syukran. (DA Wahid).

JAWABAN RINGKAS:

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Ya saya sudah baca soal fitnah “jihad seks” itu. Maka bantahan yang bisa diberikan kurang lebih sebagai berikut:

[1]. Tuduhan “jihad seks” itu tak ada buktinya sama sekali. Jadi ini fitnah. Tidak ada olah TKP, tidak ada visum dokter, tak ada tes laboratorium, tak ada tes DNA, dll.

[2]. Tuduhan “jihad seks” itu merupakan bagian dari “perang opini” yang dilancarkan musuh-musuh Islam untuk merusak reputasi pejuang di Suriah.

[3]. Tuduhan “jihad seks” itu tidak memenuhi standar berita jurnalistik, karena pihak media yang memuat berita tidak melakukan klarifikasi ke pihak yang dituduh. Tidak ada Cover Both Side-nya.

[4]. Secara hukum Islam, tuduhan zina bagi seorang Muslim/Muslimah harus menghadirkan 4 orang saksi; dalam tulisan itu tak ada saksinya sama sekali. Si penyebar berita layak disebut pendusta, kesaksiannya tidak boleh diterima selamanya; dan dihukum cambuk 80 kali. (Surat An Nuur ayat 5).

[5]. Tidak ada satu pun ajaran “jihad seks” dalam Islam. Kecuali di Syiah, ada nikah mut’ah.

[6]. Tidak ada praktek “jihad seks” dalam sejarah Umat Islam. Kalau para Salibis dalam Perang Salib, memang melakukan cara begitu, meskipun namanya bukan “jihad seks”. Lihat sejarah Perang Salib.

[7]. Kalau benar ada “jihad seks” buat apa pejuang itu jauh-jauh mencari wanita Tunisia; bukankah wanita Suriah, Libanon, Yordan, Palestina lebih dekat? Kelihatan bohongnya.

[8]. Sangat mungkin terjadi, para pejuang membawa serta istrinya untuk ikut berjihad, lalu mereka berkasih mesra ketika sedang tidak berperang. Itu sangat mungkin, dan itu boleh. Film-film Hollywood saja sering ada adegan romantisme begitu, tetapi biasanya bukan suami-istri.

[9]. Katanya ada pihak Sunni Salafi garis keras yang membolehkan “jihad seks”. Ini cuma tuduhan. Tak ada buktinya sama sekali. Tak ada itu fatwa seputar “jihad seks” sejak zaman Salaf sampai Khalaf.

[10]. Biasanya yang menyebarkan informasi sesat begitu Syiah Rafidhah yang semakin terdesak di Suriah. Mereka mau bantu Basyar Assad -laknatullah ‘alaih- dengan cara apa saja. Ya biasalah kerjaan Syiah Rafidhah.

Dengan demikian, isu seputar “jihad seks” ini hanya semacam psy war saja; untuk saling melemahkan mental dan moral lawan. Itu harus dipahami. Lagi pula umumnya sumber berita “jihad seks” itu dari sumber-sumber sekuler atau non Islam. Jangan dipercaya 100 %!

Semoga bermanfaat!

(Admin Blog).


Ide Memiskinkan Media Sekuler…

Maret 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.

Sebuah contoh mudah, adalah demo para aktivis Islam dengan tajuk: “Indonesia Damai Tanpa Liberal”. Untuk aksi besar ini ternyata liputan media TV dan koran-koran sangat minim. Sehingga Habib Rieziq menyimpulkan, “Karena kita bukan bencong, banci, dan homo, maka tidak ada televisi yang meliput aksi kita.” Itu kan artinya, media-media sekuler tersebut telah nyata-nyata dikuasai manusia-manusia amoral seperti banci, bencong, homo, free sex, dan seterusnya.

Dalam kasus sebelumnya di Palangkaraya, ada ratusan atau ribuan kaum Dayak berusaha mengepung dan mengancam keselamatan beberapa pimpinan FPI. Bahkan mereka terus memburu, sekalipun para pimpinan itu sudah berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Hal ini lalu menjadi angle bagi media-media untuk JUSTRU menjelek-jelekkan FPI dan menghembuskan isu pembubaran ormas Islam tersebut. FPI jadi korban mereka dituntut dibubarkan, apalagi kalau FPI yang melakukan aksi pengepungan? Jangan-jangan media-medis sekuler itu akan menuntut Islam dibubarkan? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Kasus-kasus kezhaliman media ini bukan sekarang saja. Sudah sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu memang benar-benar anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).

Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.

Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?

Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim (semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.

Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.

Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pak Munarman, SH. bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini. Dengan tentunya, beliau mesti bisa menurunkan sedikit tensi-nya ketika berhadapan dengan manusia-manusia sekuler itu.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.

AMW.