Melepas Ramadhan Berlalu…

September 7, 2010

Setahun sudah kita menanti. Menanti hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan demi bulan… hingga akhirnya kita berjumpa dengan bulan tercinta, Ramadhan.

Kini, kita berada di penghujung Ramadhan… berharap lagi, bisa berjumpa kekasih hati, Ramadhan Karim. Ya Allah ya Rahiim, kabulkan ya Allah, kabulkanlah… Kami selalu menantikan perjumpaan ini.

Bersama Mentari Terbit

Ramadhan datang dalam ritme putaran waktu, berganti siang-malam, saling bersusulan… Mentari dan bulan beredar, keduanya selalu dibicarakan saat menyambut Ramadhan, juga saat melepasnya pergi. Hidup melintas bersama putaran waktu, tanpa terasa usia kita semakin bertambah saja.

Melayari Liku-liku Kehidupan

Hidup ini diwarnai liku-liku, dinamika, seperti gelombang dengan naik-turunnya. Seperti berlayar di sungai, mengarungi lautan, tak ada yang tahu pasti, apakah pelayaran itu akan sampai? Atau tenggelam di tengah jalan? Ramadhan Karim mendidik jiwa manusia tegar menyikapi realitas hidup.

Jalan Tak Selalu Lurus

Kadang kita mendapati kenyataan berbeda. Jalan tak selalu mulus, lintasan tak selalu lurus, hiruk-pikuk manusia tak selalu menyertai. Apa mau dikata? Apabila itulah realitanya, kita mesti terus berjalan, menyusuri tujuan abadi, meraih ampunan dan rahmat Allah Ta’ala.

Batu Keras Menempa Tapak Kaki

Kerap kali manusia menjadi tangguh, bukan karena belaian mama, bukan karena suapan bibi, bukan karena kasur empuk yang menemani malam-malamnya. Manusia menjadi tangguh karena ditempa alam kehidupan, sehingga tapak kakinya merasakan kerasnya bebatuan, licinnya permukaan, sepinya perjalanan. Setelah mereguk nikmat Ramadhan, adakah KEBERANIAN itu tumbuh di hatimu, wahai Saudara nan dicinta?

Hidup Adalah Pilihan

Kenyataan hidup tak selalu enak. Seseorang kan berjumpa pilihan-pilihan. Bahkan setiap langkah hidupnya, selalu ada pilihan: Yes or no, right or left? Selalu kita diuji dengan pilihan-pilihan. Manusia gagal adalah yang selalu ragu untuk memilih, hanya karena takut kesulitan. Allah akan memberi para pemberani dengan karunia, sebab dia telah menerobos batas-batas ketakutan, demi meraih MAKNA berarti. Jadilah, pemberani!

Banyak yang Tidak Kita Tahu

Berjalanlah…penuh ketegaran laksana kstaria yang terluka, maju di medan tempur… Namun hatimu tetap TUNDUK kepada Kebesaran Ar Rahmaan. Di dunia ini engkau telah banyak tahu, tetapi lebih banyak lagi yang tak engkau tahu. Semakin bertambah ilmumu, semakin engkau tahu ketidak-tahuanmu.

Menuju Kampung Nan Indah

Jangan lelah tuk berusaha, jangan lelah tuk berkarya, jangan lelah tuk mengalami kelelahan. Isi hidupmu dengan prestasi! Isi hidupmu dengan goresan sejarah! Isi hidupmu dengan biografi yang kan menyenangkan hati para generasi nanti! Gantungkan syurga sebagai impianmu tertinggi! Kesana, kita kan terus berjalan…

Peradaban Berubah, Prinsip Hidup TETAP Kokoh

Dalam mana kita melayari hidup ini, segala realitas dan kondisi bisa berubah, tetapi prinsip TAUHID dan SYARIAT tidak boleh berubah. Chasing boleh berganti, hati tetap kokoh di atas PRINSIP ISLAMI.

Wa man yakfur bit thaghuti ya yu’min billahi faqad istamsaka bil ‘urwatil wutsqa lan fishama laha” (siapa yang mengingkari segala sesembahan selain Allah, dan dia beriman tauhid kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang kepada tali agama Allah yang sangat kuat, selamanya tak akan putus).

Mengalirlah Saudaraku bersama aliran air kehidupan… namun hatimu tetap kokoh di atas TAUHID dan SYARIAT NABI. Inilah jalanmu, jalan Islam, jalan abadi hamba-hamba Allah Ar Rahiim.

Akhirnya, perkenankan kusampaikan ucapan:

Idul Fithri 1431 Hijriyah

SELAMAT IDUL FITHRI 1431 H. Taqabbalallah minn wa minkum. Minal ‘Aidina Wal Fa’izin, Kullu Aamin Wa Antum Bi Khair. Amin. Mohon Maaf Lahir Bathin!

Bandung, 28 Ramadhan 1431 H.

AM. Waskito & Family.

Iklan