Pemikiran Politik Salafi (Bagian 2)

Februari 4, 2009

Masalah 10


Saya ingin bertanya kepada penulis ini….. Dari mana engkau mendapat kabar ini, bahwa lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya????
Engkau mendengarnya dari Murobbi mu?? Atau engkau hanya mendengar selintas saja??? Kemudian dengan dasar itu engkau menulis dan menyebarkannya??? Di manakah letak keadilan dan ilmiah-mu dalam beragama ini? Sementara begitu mudahnya engkau menuduh tanpa bukti.
Saya beri tahu sekarang jika engkau tidak mengetahui duduk permasalahannya.

Pernyataan ini adalah Fatwa Syaikh al-Albani rohimahulloh. Tetapi anehnya fatwa tersebut menjadi rusak oleh org2 semisalmu. Karena tidak adil dan amanah dalam menyampaikan isi Fatwa itu. Apakah engkau sudah membaca sendiri fatwa Syaikh Albani dalam masalah ini?? Ataukah engkau hanya mendapat penggalannya saja, yang sengaja disebarkan oleh org2 pendengki dakwah salaf ini??? Sepertinya memang demikian… engkau hanya mendapat sepenggal kalimat “lebih baik muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya.” Atau mungkin engkau sudah membaca keseluruhan fatwa tersebut, namun kebencian di hatimu menyebabkan engkau tidak bisa memahami fatwa tersebut. Atau memang demikianlah caramu dalam beragama ini… memotong dalil sesuai hawa nafsumu???

Jika cara terakhir ini yang engkau pegang, maka ketahuilah!! Jika engkau rajin sholat, maka engkau akan celaka!!! Saya akan terangkan dalilnya kepadamu tentang ini. Perhatikan firman-Nya berikut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (QS.al-Maa’uun : 4). Wahai penulis… rusaklah agama ini jika engkau berdalil dengan cara memotong2nya, tidak memahaminya secara utuh. Maka camkanlah!!!
Alloh berfirman dalam lanjutan ayat tersebut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. [QS al-Maa’uun :4-7].

Jika demikian caramu beragama, maka seperti ungkapan penyair berikut: “Jika engkau mengetahuinya, maka musibah. Jika engkau tidak mengetahuinya, maka musibahnya lebih besar.” Mudah2an engkau sadar akan kekeliruanmu dalam masalah penyampaian dalil.

Catatan AMW 10:

Sejujurnya, saya belum pernah membaca fatwa itu secara lengkap. Saya hanya mendengar kesimpulan umumnya, bahwa sebagian ulama menyarankan agar Muslim Palestina hijrah dari negerinya, demi untuk menyusun kekuatan. Jika nanti telah terbina kekuatan, mereka akan melancarkan Jihad Fi Sabilillah melawan Israel. Begitulah kira-kira pandangan yang saya terima. Di kalangan Salafi sendiri, mereka meyakini tentang pentingnya hijrah dari Palestina itu. Di forum MyQuran saya dapati sebuah bukti tentang pendapat seorang Salafi yang membenarkan fatwa hijrah dari Palestina tersebut. Dan Anda jangan mencela saya karena menyinggung soal fatwa itu, sebab ia telah dianggap masalah serius oleh kaum Muslimin di Palestina. Lagi pula, kalau Anda jujur, sampaikan kepada kami isi fatwa tersebut secara lengkap, berikut sumbernya. Siapa tahu kita akan lebih bijak jika telah membacanya secara lengkap. Sayangnya, Anda begitu keras dalam mencela saya, tetapi tidak menyebutkan sumber fatwa itu.

Abu Ammar menuduh saya suka memotong dalil-dalil, ada kebencian di hati saya dan sebagainya. Ya terserah deh, Anda akan mengatakan apa saja; semua itu urusan Anda kepada Allah Ta’ala. Saya ini hanya hamba yang lemah, hanya mampu beramal sekuat kesanggupan, seraya memohon rahmat dan taufik-Nya. Amin. [Selesai].

Masalah 11

Ketahuilah… bahwa fatwa Syaikh al-Albani dalam masalah hijrah palestina, tidak seperti apa yang engkau tulis. Perhatikan, duduk permasalahan fatwa beliau yang sebenarnya dalam beberapa Masalah berikut:

[1]. Hijrah dan Jihad terus berlanjut hingga hari kiamat. [2]. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu. [3]. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, Makkah. [4]. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu utk menampakkan hukum2 syar’i yang dibebankan Alloh kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya shg menjadikannya murtad dari agama. Inilah inti fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Catatan AMW 11:

Contoh hijrah untuk menyelamatkan agama adalah apa yang ditempuh Haji Nuh, ayah Syaikh Al Albani sendiri dan keluarganya. Beliau sekeluarga hijrah dari Albania di Balkan ke Syiria, karena Albani menjadi negara Komunis yang kafir. Demi menyelamatkan agama, mereka pergi dari Albania ke Syria. Cara demikian diperbolehkan, meskipun bagi yang memilih tetap bertahan demi mempertahankan Islam di negerinya, hal itu juga tidak dilarang. Segala sesuatu tergantung kepada niat dan kemampuan masing-masing. Saat kita memuji Syaikh Al Albani dan keluarga yang hijrah ke Syria, pada saat yang sama kita tidak boleh mencela kaum Muslimin Albania yang tetap bertahan di negerinya. Siapa tahu mereka disana berjuang mempertahankan Islam agar tidak hancur ditindas Komunis. Alhamdulillah, setelah Komunis runtuh di Eropa Timur (termasuk Albania), kaum Muslimin bisa menampakkan diri dan menjalankan amal-amal agamanya.

Sebenarnya, jika tegak suatu Daulah Islamiyyah, atau Khilafah Islamiyyah yang kokoh, maka negeri itu harus membuka diri bagi hijrahnya kaum Muslimin dari negeri-negeri tertindas, demi menyelamatkan agama dan kehidupan mereka. Namun di jaman sekarang, adakah negeri Islami yang ramah? Bukankah setiap negara merasa egois dengan nasionalisme masing-masing? Bahkan negara seperti Kerajaan Saudi, mereka sangat ketat dengan ke-Saudi-annya. Sangat sulit mendapat hak kewarganegaraan Saudi, meskipun bagi orang Arab. Begitu juga sulit menikahi wanita Saudi.

Tidak sedikit warga Muslim Palestina yang hijrah ke Yordania, Syria, Mesir, Irak dan lain-lain negara Arab. Bahkan ada yang “hijrah” ke Amerika dan Eropa. Kalau dulu, bangsa Yahudi dikenal dengan DIASPORA, menyebar kemana-mana. Ternyata kenyataan yang sama kini dialami oleh Muslim Palestina. Mereka “diaspora” ke berbagai tempat di dunia. Meskipun telah bertahun-tahun tinggal di negara Arab tertentu, mereka tetap dianggap orang asing, atau pengungsi. Itulah salah satu beda nyata antara nasionalisme Arab dengan Khilafah Islamiyyah. Di tangan Khilafah Islamiyyah, setiap Muslim di dunia, adalah warga negaranya. [Selesai].

Baca entri selengkapnya »

Iklan