Tsunami 1: Kenangan Seputar Tsunami di Aceh Darussalam

Desember 30, 2008

Bencana Alam Terbesar

Tanggal, 26 Desember 2004, sekitar pukul 8.00 WIB terjadi gempa bumi besar dengan kekuatan 8,9 skala Richter di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pusat gempa diperkirakan terletak di posisi 2,9 Lintang Utara (LU) dan 96,6 Bujur Timur (BT), kurang-lebih 149 km arah selatan Kota Meulaboh, NAD.

Gempa bumi ini tidak akan berdampak sangat serius, seandainya tidak diikuti bencana lain. Justru guncangan gempa itu memicu gelombang Tsunami yang kemudian menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai Banda Aceh, Pulau Nias, bahkan menyapu Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Malaysia, hingga beberapa negara di pantai Timur Afrika..

Gempa bumi dan gelombang Tsunami ini telah memakan ratusan ribu korban jiwa. Sampai buku ini disusun tercatat korban meninggal di provinsi NAD dan Sumatera Utara sekitar 95.000 jiwa (belum termasuk korban hilang). Di negara-negara lain, menurut data Reuters pada pertengahan Januari 2005, tercatat korban tewas masing-masing: Sri Lanka (31.000 jiwa), India (16.400 jiwa), Thailand (5.300 jiwa), Malaysia (74 jiwa), Maladewa (74 jiwa), Myanmar (59 jiwa). Begitu kuatnya gelombang Tsunami hingga ia terasa di pantai-pantai Afrika dalam jarak sekitar 6000 km. Bahkan di seluruh Afrika Timur (Kenya, Somalia, Tanzania, Madagaskar, Seychelles), korban tewas tercatat 137 jiwa.

Kerugian-kerugian lain di luar korban jiwa, antara lain: Rumah-rumah hancur, instalasi listrik, air bersih, dan komunikasi putus, pangkalan-pangkalan BBM rusak berat, jalan-jalan raya rusak, saluran air, gedung-gedung, pasar, pertokoan, kantor pemerintah, kantor kepolisian, barak militer, fasilitas sosial, semua hancur. Termasuk di dalamnya trauma psikologis yang menghantui korban-korban selamat, bau busuk dari mayat-mayat korban banjir, ancaman wabah penyakit, problem pengungsian, anak yatim-piatu, dan lain-lain.

Inilah bencana alam terbesar dalam sejarah Indonesia, dan sekaligus terbesar di dunia sepanjang abab ke-20. Menurut menteri luar negeri Amerika Serikat, Collin Powell, kerusakan yang timbul akibat Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam melebihi kerusakan akibat badai Tornado, bahkan akibat perang sekalipun.

Tentu saja, peristiwa ini merupakan mushibah besar yang sangat mengerikan. Ia bukan saja dahsyat, menimbulkan kerusakan hebat, namun situasi mencekam yang ditimbulkannya telah memicu trauma besar bagi orang-orang yang mengalaminya. Tidak sedikit korban yang selamat, baik orang dewasa atau anak-anak, merasa trauma ketika melihat air. Bahkan sebagian warga Aceh bertekad meninggalkan daerah itu, tidak ingin lagi kembali kesana.

Tidak berlebihan jika pasca bencana ini dibutuhkan pembinaan khusus bagi masyarakat Aceh korban bencana untuk memulihkan rasa percaya diri mereka dan menepiskan trauma akibat bencana. Memang, sangat sulit menghilangkan kenangan akan ombak besar yang datang tiba-tiba, lalu melenyapkan kota-kota dan kehidupan itu. Bagi para “pengamat” di luar memang mudah mengatakan: “Sabarlah saudara! Sebentar lagi badai akan berlalu.” Namun bagi orang-orang yang melihat peristiwa itu terjadi persis di depan matanya, mereka merasakan apa-apa yang tidak dirasakan oleh orang-orang di luar. Jika Kali Ciliwung di Jakarta meluap, ia sudah cukup memicu isak-tangis luar biasa, lalu bagaimana jika Samudera Hindia yang meluap?

Tapi bagaimanapun, kehidupan harus terus dilanjutkan, amanah-amanah ditunaikan, obsesi dan harapan tetap dipancangkan, seperti umumnya kehidupan manusia di muka bumi. Jika masyarakat Aceh terus berlarut-larut dalam duka, atau sebagian mereka bertekad meninggalkan wilayah itu, sudah tentu hal tersebut akan memperparah keadaan. Mushibah besar telah terjadi, kemudian disusul mushibah berikutnya yang tidak kalah serius, yaitu hilangnya semangat hidup. Jika hal itu terus berlanjut, Aceh bisa menjadi kota “puing-puing”, dimana setiap orang yang memandangnya timbul rasa trauma di hati. Na’udzubillah min dzalik.

Tidak ada pilihan lain, kita harus kembali ke bumi Serambi Mekah Aceh Darussalam. Hanya itu pilihan yang bisa diambil. Meninggalkan Aceh akan meninggalkan kedukaan tidak berkesudahan, sedang menetap di tempat lain, belum tentu akan membuahkan rasa nyaman di hati. Kata pepatah: “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang.” Baik ada atau tiada bencana, kita harus kembali ke Bumi Aceh Darussalam.

Baca entri selengkapnya »