Kaidah Praktis Politik Islami

Juni 30, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berbeda pendapat adalah sesuatu yang mungkin, namun mencela pendapat orang lain dan melemahkannya, tanpa alasan, bukanlah perbuatan yang benar. Seperti misal, saat kaum Muslimin sedang giat-giatnya memperjuangkan kepemimpinan negara yang diyakini lebih pro kemaslahatan; sebagian orang mencela semua ini dengan alasan: demokrasi adalah sistem bathil orang kafir, dan saat ini belum berdiri Khilafah Islamiyah. (Jika memang Khilafah belum berdiri, mengapa Anda ingin memaksakan standar kehidupan seperti ketika Khilafah sudah berdiri? Suatu pandangan yang paradoks).

Lebih berat lagi, sebagian lain berani melontarkan tuduhan kafir, syirik, murtad kepada saudaranya yang ikut partisipasi melalui sistem demokrasi. Alasannya, demokrasi berarti menyekutukan Allah dalam menetapkan hukum, dan itu dianggap perbuatan kufur, syirik. (Masalahnya, keadaan negeri ini bagaimana? Apakah di negeri ini telah tegak sistem Islami? Bukankah kalian sendiri menyebut negeri ini sebagai negara sistem thaghut? Jika demikian, bagaimana kalian berharap ada sistem politik Islami di sebuah negara yang kalian sebut thaghut ini? Paradoks lagi).

MISSI POLITIK ISLAM: Menjaga Agama dan Kehidupan Ummat.

MISSI POLITIK ISLAM: Menjaga Agama dan Kehidupan Ummat.

Sebagian orang sering menyerang saudaranya dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bisa jadi mereka telah menghapuskan bab Siyasah Syar’iyah dari kamus kehidupan Ummat Islam. Atau bisa jadi mereka tidak mengerti cara memposisikan usaha politik itu sendiri. Mereka menyangka bahwa usaha perjuangan politik identik dengan afiliasi (intima‘); misalnya kalau seseorang mendukung politik demokrasi, dianggapnya telah mengubah agamanya menjadi agama demokrasi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Di antara akibat buruk mengendarai TAKFIR secara semena-mena, adalah: munculnya ekstrimisme, menghancurkan persatuan Ummat, menyebarkan konflik dan permusuhan, munculnya perbuatan-perbuatan sadisme, munculnya intoleransi (sekalipun kepada sesama Muslim), serta munculnya ketidak-mampuan intelektual sampai batas-batas sangat memprihatinkan. Semoga kendaraan TAKFIR ini segera ditinggalkan, karena ia bukan bagian dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Di sini kami akan bahas secara ringkas dan praktis kaidah politik Islam. Sebelum itu, kami ingin mengingatkan sesuatu: “Sesatnya kaum Muslimin di awal-awal sejarah Islam dengan munculnya sekte Khawarij, Syiah, Mu’tazilah, Murji’ah, adalah karena SALAH PAHAM masalah politik.” Dalam sebuah diskusi di Yogya, Prof. Dr. Yunahar Ilyas mengingatkan, bahwa Ummat Islam jangan phobia dengan politik, karena asal mula kesesatan di zaman awal Islam dulu, adalah karena politik juga. Maksudnya, pahami masalah politik dengan baik, agar tidak SESAT dan MENYESATKAN.

Berikut beberapa kaidah politik Islami…

[1]. Definisi politik menurut para pakar adalah: “Segala daya upaya yang dilakukan, untuk mempengaruhi kekuasaan (pemimpin atau pemerintahan) demi mencapai tujuan tertentu.” Jika dikaitkan dengan politik Islam, kurang lebih maknanya: “Segala daya upaya yang dilakukan para politisi Muslim dalam mempengaruhi kekuasaan, demi mencapai kemaslahatan bagi Islam dan kaum Muslimin, serta menghindarkannya dari kerugian-kerugian.”

[2]. Tujuan dasar politik Islam adalah: menjaga agama dan melindungi kehidupan kaum Muslimin. Tujuan ini selaras dengan Maqashidus Syariah (tujuan-tujuan Syariat), yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, menjaga keturunan kaum Muslimin. Menjaga agama dari penyimpangan, penyelewengan, penyesatan, korupsi pemikiran, ektrimisme, dan sebagainya. Menjaga kehidupan kaum Muslimin dari penindasan, kezhaliman, penjajahan, perbudakan, dan sebagainya.

[3]. Antara JIHAD dan SIYASAH ISLAMIYAH seperti dua sisi keping mata uang. Keduanya sama-sama ditujukan untuk menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin. Bedanya JIHAD dengan memakai senjata, militer, perang, dan sebagainya. Sedangkan SIYASAH dengan memakai kecerdasan, opini, informasi, lobi-lobi, dan sebagainya.

[4]. Siyasah Islamiyah adalah alat perjuangan kaum Muslimin, bukan hakikat kehidupan Ummat itu sendiri. Sebagai alat, ia terikat dengan TUJUAN, bukan SARANA. Sarana perjuangan politik Ummat bisa macam-macam, bisa berubah-ubah sesuai kondisi; tapi esensi tujuannya satu, yaitu: menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin. Harus benar-benar dipahami, bahwa politik Islam terikat dengan tujuan, bukan sarana-sarana.

[5]. Politik Islam bisa dijalankan di segala tempat, di segala zaman, dalam kondisi bagaimanapun. Di mana saja diketahui ada eksistensi kehidupan kaum Muslimin, maka politik Islam dijalankan di sana; sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan keadaan riil yang ada. Jika mampu menjalankan politik Islam secara ideal, itulah yang diharapkan; jika tak mampu, karena banyaknya keterbatasan, dilakukan sekuat kemampuan dan seadanya kesempatan.

[6]. Politik Islam tidak mengenal batasan sistem politik. Ia bisa dijalankan di bawah aturan sistem politik apa saja. Di bawah sistem monarkhi, bisa dijalankan politik Islam. Begitu juga, di bawah sistem demokrasi, bisa dijalankan agenda politik Islam. Di bawah sistem oligarkhi, diktator, komunis, kesukuan, atau apapun; politik Islam bisa dijalankan. Di mana saja diketahui ada eksistensi kehidupan kaum Muslimin, hatta di Kutub Utara dan Selatan, maka politik Islam bisa diterapkan di sana, dengan tujuan melindungi agama dan kehidupan kaum Muslimin. Sekali lagi, politik Islam terikat oleh TUJUAN, bukan SARANA.

[7]. Bahkan ketika telah tegak sistem Islami, seperti Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah, atau Kerajaan Islam, atau Kesultanan Islam; tetap di sana dibutuhkan perjuangan politik Islam. Mengapa demikian? Karena di bawah sistem apapun, selalu ada kemungkinan terjadinya perusakan agama dan kezhaliman atas kaum Muslimin. Contoh, di era Daulah Abbassiyah pernah menyebar aliran sesat yang meyakini Al Qu’an sebagai makhluk. Begitu juga. di era-era keruntuhan Daulah Abbassiyah, negeri-negeri kaum Muslimin dibanjiri oleh kaum agressor yang sangat kejam, Tartar (Mongol). Para ulama seperti Ibnu Taimiyah, Al Wamardi, Al Ghazali, dan lainnya menyusun pendapat-pendapat seputar Siyasah Islamiyah justru lebih fokus diterapkan untuk negeri-negeri di bawah sistem Islami. Pendapat mereka belum menjangkau kondisi kaum Muslimin di era modern seperti saat ini. Tidak salah jika Al Qaradhawi pernah mengatakan, kita mengalami krisis literatur untuk perpolitikan modern.

[8]. Dunia politik Islami berbeda dengan bidang-bidang perjuangan lain, karena ia berkaitan dengan kekuasaan. Kekuasaan (pemimpin) adalah sentra dinamika kehidupan masyarakat. Sebagian ulama mengatakan, “Kalau kami memiliki doa yang mustajab, akan kami doakan para penguasa (agar jadi baik).” Mengapa demikian, karena baiknya penguasa, akan menjadi mata air kebaikan bagi rakyat yang luas. Dengan demikian, maka bidang politik Islami adalah wilayah perjuangan orang-orang yang memiliki: keimanan kuat, wawasan, kemampuan, kesempatan, dan pengalaman. Orang yang tidak berwawasan, tidak boleh masuk dunia politik. Modal awal politik Islami adalah keimanan di hati seorang politisi Muslim. Setelah itu modal wawasan, sebab tanpa wawasan bagaimana akan bicara dunia politik? Kemudian memiliki kemampuan menjalankan peran politik, sebab kalau hanya wawasan tanpa kemampuan, nanti seperti “politisi warung kopi”. Selanjutnya adalah memiliki kesempatan masuk pergulatan politik, agar missi politiknya terwadahi. Kalau hanya berkoar-koar dari jauh, tanpa memiliki desk perjuangan di lapangan, sulit mewujudkan maslahat kehidupan sosial. Sebagai kelengkapan, adalah pengalaman. Semakin berpengalaman, semakin mahir dalam memainkan peran politik. Demikianlah kurang lebih.

[9]. Dalam politik demokrasi, setiap Muslim punya hak suara yang sama dengan politisi Muslim, tapi peran politiknya berbeda. Kaum Muslimin mayoritas berperan memeberi dukungan bagi agenda-agenda perjuangan politik Ummat yang lurus, terpercaya, dan diyakini memiliki peluang kemenangan besar. Hal ini diperbolehkan. Tetapi memang Ummat tidak bisa masuk domain politisi Muslim (sebagaimana disebut dalam poin 8) yang memikul amanah berat dalam perjuangan ini. Dukungan mayoritas kaum Muslimin harus selalu diselaraskan dengan strategi dan langkah-langkah yang ditempuh para politisi Muslim yang terpercaya. Jangan kontraproduktif, jangan saling melemahkan.

[10]. Masuknya kaum Muslimin ke politik demokrasi bukanlah dalam rangka mengubah agama kita (Islam) menjadi agama demokrasi. Tuduhan demikian sangat jauh. Buktinya, para politisi Muslim dan pendukung politik Islam masih Shalat dengan Shalat Islam; masih berkiblat ke Ka’bah, tidak ke Yunani atau New York; masih membaca Al Qur’an dengan Mushaf yang sama; masih mengucapkan SALAM Islami, bukan slogan vox populi vox dei; masih memakan makanan halal, menghindari makanan haram; masih menjalankan batas-batas Syariat dalam lingkup pribadi, keluarga, komunitas; dan sebagainya. Semua ini merupakan bukti bahwa masuknya kita dalam partisipasi demokrasi, adalah merupakan langkah politik, bukan tujuan hidup. Jika ada yang terus berprasangka buruk, menganggap sesat, atau menganggap murtad; maka dosanya akan mereka pikul sendiri. Sebaiknya mereka takut terhadap dosa-dosa itu, sebelum memvonis saudaranya.

[11]. Dalam Islam ketika kita berhadapan dengan masalah-masalah yang samar, tidak ada kepastian yang jelas tentang duduk masalahnya, di sana berlaku prinsip IJTIHAD. Dalam lapangan ijtihad inilah kaum Muslimin sering berbeda-beda dalam pendapat. Termasuk dalam menempatkan posisi politik Islam dalam kehidupan. Maka di sini terdapat kaidah Fiqih yang telah masyhur, bunyinya: “Al ijtihad laa yunqadhu bil ijtihad” (satu ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh ijtihad yang lain). Jika mereka masih dan terus bersikap aniaya dalam pendapatnya, maka kami serahkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala.

[12]. Adakah maslahat dari perjuangan politik Islam di dunia demokrasi? Jawabnya ada, meskipun belum sempurna atau ideal. Contoh, terpilihnya menteri Muslim yang baik, memungkinkan dilakukannya pemblokiran terhadap konten-konten pornografi di dunia internet. Itu satu contoh nyata di antara contoh-contoh lain. Jika orang-orang yang selalu gemar mencela dan memvonis perjuangan politik Islam di lapangan ini, maka pertanyaan buat mereka: “Apa yang sudah kalian hasilkan untuk kemaslahatan kehidupan Ummat ini? Bisakah kalian menghasilkan kebijakan politik yang pro kepentingan Ummat? Bisakah kalian mendatangkan kemaslahatan kehidupan Ummat, jika tidak ada perjuangan politik Islam di bawah sistem demokrasi?”

Demikianlah, semoga kajian sederhana dan praktis ini bermanfaat. Amin Allahumma amin. Terimakasih atas perhatian dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 Ramadhan 1435 H.

(Abu Syakir Najih).

Iklan

Nilai Kekuatan Uang

Desember 31, 2009

Uang, dana, atau harta itu sangat penting. Ia sangat menentukan. Gerakan apapun yang tidak ditopang oleh dana, pasti akan kalah. Termasuk gerakan kaum Muslimin yang menginginkan kemajuan hidup.

Sebagian orang bersikap negatif terhadap masalah harta-benda ini. Mereka berdakwah, berceramah, menyebarkan buku, tulisan, menggelar majlis taklim, dan lain-lain dalam rangka mengajak kaum Muslimin menjauhi urusan harta (dana).

Alasan mereka sangat klise, sudah berulang-ulang. “Ya Akhi, hendaklah Anda menjauhi dunia. Dunia itu di mata Allah lebih rendah dari bangkai binatang. Wahai Akhi, sibukkan dirimu dengan ilmu dan ibadah, lupakan harta-benda. Harta hanya akan menyusahkanmu di Akhirat nanti. Berzuhudlah terhadap dunia, kurangi mimpi-mimpi tentang harta, sibukkan dirimu dengan dzikir, ilmu, ibadah. Wahai Akhi, jangan tertipu oleh harta-benda. Semua itu akan membinasakanmu, membuatmu rakus, jauh dari Allah, membuatmu terlibat konflik dengan sesama saudaramu!” Dan nasehat-nasehat sejenis.

Banyak sekali orang berpikir salah-kaprah seperti itu. Itu adalah pemikiran-pemikiran yang salah dalam menempatkan. Zuhud dunia adalah benar, tetapi tidak di semua keadaan berlaku prinsip zuhud dunia. Misalnya, dalam transaksi muamalah dengan non Muslim, tidak berlaku kaidah Zuhud dunia.

Duit setumpuk... Mauk?

Saudaraku, demi Allah harta-benda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum Muslimin. Mengapa? Sebab fitrah manusia itu LAHIR-BATIN. Batin manusia dicukupi dengan agama, lahirnya dicukupi dengan harta-benda (materi). Ini seperti dua sisi pada sekeping mata uang. Dimanapun berada, urusan kita tidak akan lepas dari urusan: agama dan harta (baca: urusan lahir-batin).

Coba pahami beberapa hal di bawah ini:

==> Ketika Ummat Islam fakir dari harta-benda, mereka tidak bisa mendirikan perusahaan-perusahaan. Akhirnya perusahaan didirikan oleh orang-orang kafir. Akibatnya, mereka bebas menentukan aturan apapun dalam perusahaan mereka, termasuk melarang karyawan memakai jilbab dan menjalankan Shalat.

==> Kalau seorang Muslim yang shalih memiliki harta, lalu mendirikan pabrik garmen. Insya Allah, dia akan memproduksi pakaian-pakaian yang baik, sopan, menutup aurat, atau setidaknya pakaian pantas. Tetapi kalau yang mendirikan pabrik garmen itu orang-orang yang memuja hawa nafsu, mereka membuat pakaian seksi-seksi, membuat pakaian amoral, dll sehingga akibatnya menyusahkan kita semua.

==> Ketika Ummat Islam fakir, maka mereka akan selalu mencari kerja, mencari penghasilan ke perusahaan-perusahaan tertentu, termasuk perusahaan milik non Muslim. Ya, bagaimana lagi, tidak ada perusahaan milik Muslim kok? Kalaupun ada, itu untuk keluarga mereka sendiri dan kawan-kawannya. Akhirnya, tenaga kaum Muslimin terpakai untuk membesarkan bisnis orang lain.

==> Ada ratusan ribu wanita Muslimah saat ini bekerja di luar negeri, sebagai TKW. Mereka bekerja seperti ini jelas membahayakan diri, keluarga, dan orang lain. Mereka bisa diperkosa, dianiaya, sampai dibunuh. Suaminya di rumah bisa selingkuh, anak-anaknya bisa terlantar. Bahkan keluarga majikannya bisa terjerumus seks haram, karena ada wanita lain di tengah-tengah keluarga mereka.

==> Ketika kaum Muslim fakir, media massa dikuasai orang-orang non Muslim atau sekuler. Media adalah sarana pendidikan juga. Saban hari masyarakat “dicuci otak” dengan informasi atau hiburan-hiburan rusak. Akibatnya, mereka pun lemah, semakin jauh dari agama.

==> Ketika Ummat fakir, mereka tidak bisa membuat perusahaan makanan, kue, snack, susu, biskuit, bumbu masak, dll. Semua diserahkan ke tangan non Muslim. Akibatnya, non Muslim bebas memberikan makanan-makanan berbahaya, mengandung pengawet, perasa, pewarna buatan, dsb. Untuk anak Muslim, kita tidak bisa menjaga asupan konsumsi yang sehat dan baik.

Ini adalah FAKTA yang ada di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Jangan berlagak pilon dengan mengatakan, bahwa harta-benda tidak dibutuhkan Ummat. Itu adalah pemikiran sesat yang harus dibuang dari akal Ummat ini.

Harta itu salah satu pilar ajaran Islam. Menjaga harta, menjadi 1 dari 5 prinsip dasar Syariat Islam. Harta sangat besar pengaruhnya bagi agama seorang Muslim. Contoh sederhana, ketika kurs rupiah anjlok, bisnis-bisnis Muslim banyak yang gulung tikar. Akibatnya, banyak orang menjadi pelaku kriminal, datang ke dukun, melakukan perbuatan syirik, menjual produk pornografi, melupakan shalat, terlilit rentenir, bahkan sampai ada yang murtad karena kesusahan ekonomi. Lihat saudara, akibat kurs rupiah turun, agama pun turun!

Lalu bagaimana dengan seruan Zuhud, meninggalkan dunia, mencintai Akhirat, tidak sibuk dengan harta-benda? Bukankah semua itu juga ajaran Islam?

Iya benar, semua itu ajaran Islam. Tapi jangan salah dalam menempatkan ajaran-ajaran itu. Kita harus menempatkan segala sesuatu pada PROPORSI-nya. Jangan dicampur aduk!

Harta itu memiliki setidaknya 4 fungsi, yaitu: (1) Kebutuhan fitrah; (2) Sarana kemudahan; (3) Fitnah; dan (4) Kekuatan.

Sebagai kebutuhan fitrah, setiap manusia membutuhkan harta, agar tetap survive dalam kehidupan. Tanpa harta, kita akan mati, atau kelaparan, atau sengsara, karena tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan hidup.

Sebagai sarana kemudahan (fasilitas), harta mempermudah urusan manusia. Manusia bisa kemana-mana dengan jalan kaki, tapi kalau memiliki harta bisa membeli motor. Manusia bisa menulis dengan tangan, tapi kalau memiliki harta bisa membeli komputer. Manusia bisa mengiris singkong secara manual, tapi kalau punya harta bisa membeli mesin pengiris singkong. Manusia bisa lebih mudah bekerja, belajar, memperbaiki rumah, bepergian, memasak, dan sebagainya dengan fasilitas yang dimiliki. Semua itu butuh harta untuk membeli fasilitas.

Sebagai fitnah, yaitu ketika nilai harta yang dimiliki seseorang jauh lebih besar dari kebutuhan layaknya, lalu orang itu sibuk dan terlena bermain-main dengan harta-bendanya. Nah, sikap seperti inilah yang sebenarnya dilarang dalam Islam.

Sebagai quwwah atau kekuatan, harta adalah penentu kemenangan dalam kompetisi antar keyakinan. Orang Yahudi memiliki slogan, “Dengan harta, kami bisa membeli apa saja.” Mereka bukan hanya membeli fasilitas, tetapi juga bisa membeli opini, hukum, jabatan, serangan militer, kebenaran ilmiah, bahwa fatwa keagamaan. Malah mereka bisa membeli “nyawa” manusia.

Cara mudah memahaminya sebagai berikut: “Untuk urusan kesenangan pribadi dan keluarga, silakan Anda bersikap zuhud sebaik-baiknya. Tetapi untuk urusan kemuliaan Ummat, dilarang kita bersikap zuhud, sebab sama saja hal itu dengan membiarkan Ummat tertimpa kefakiran, kelemahan, serta kerusakan iman.” Semua hal yang menyebabkan Ummat ini rusak, hukumnya haram.

Kaidah Zuhud itu beredar dalam masalah pribadi (privacy), bukan dalam konteks masyarakat kaum Muslimin. Secara pribadi, kalau seseorang ingin hidup semiskin-miskinnya, agar kelak di Akhirat hisabnya mudah, silakan saja, welcome man! Tetapi dalam konteks masyarakat Ummat Islam, wajib kita menguasai aset-aset kekayaan. Kalau kita tidak menguasai aset kekayaan itu, eksistensi agama kita tidak akan selamat dari rongrongan orang kafir.

Dalam Islam itu ada hukum ghanimah, baitul maal, zakat, nafkah, warits, shadaqah, diyat, dan sebagainya. Betapa banyak hukum-hukum seputar harta-benda. Sampai urusan susuan (radha’ah) diatur dalam Islam, padahal ini menyangkut hak-hak bnafkah bagi ayi. Ini menandakan, bahwa Islam sangat besar perhatiannya terhadap urusan harta-benda.

Kalau Anda saksikan, bagaimana wajah peradaban modern? Ya, kita sudah sama-sama tahu. Wajah dunia modern telah dikangkangi oleh selera Yahudi dan kepentingan mereka.

Lalu pertanyaannya, “Mengapa Yahudi begitu merajalela?”

Ya, karena mereka didukung oleh sumber dana yang amat sangat besar. Ada yang pernah menyebut harta milik Yahudi internasional saat ini sekitar 5000 triliun dollar. Entahlah, saya tidak tahu tepatnya. Andai benar jumlahnya senilai itu, ya wajar kalau mereka mampu membiayai jaringan New World Order di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Para Freemason dkk tidak akan kehabisan suplai dana untuk membiayai aksi-aksi mereka.

Sementara itu, dakwah kaum Muslimin baru beredar dalam urusan kencleng, sumbangan koin, pengumpulan zakat, infaq, shadaqah, bisnis kitab, bisnis minyak wangi, membuat mukena, kerudung, dan sebagainya. Alhamdulillah, sekarang ada item-item baru, misalnya sari korma, habbatussauda’, bekam, dan sebagainya.

Ya, tidak menyalahkan semua itu. Ini memang realitas. Tidak mengapa kecil dulu. Tapi prinsip dasar yang harus dipahami: “Wajib bagi kaum Muslimin memikirkan pertarungan kepemilikan aset ekonomi, untuk menjaga agama kita ini.

Tidak mengapa jualan kitab, minyak wangi, madu, dan sebagainya. Teruskan saja semua itu. Tapi mohon pahami masalah “pertarungan aset” itu. Siapapun yang paling menguasai aset, mereka akan berkesempatan membesarkan agamanya.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.