Kadar Akal Orang Indonesia

Juni 23, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti telah saya sampaikan, bahwa saat ini saya sedang memantapkan tekad untuk meninggalkan acara-acara berita media sekuler, baik TV, koran, atau majalah. Ini telah saya lakukan dan alhamdulillah dampaknya sangat baik.

Namun kemarin saat berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Timur, saat makan di kantin, secara tak sengaja saya melihat dan mendengar siaran berita TV. Beritanya tentang Ruyati yang meninggal dihukum mati di Arab Saudi. Saat melihat koran dinding, berita tentang itu ada juga. Marak pula. Alamaakkk…

Tapi ada satu hikmah menarik dari kejadian yang tak disengaja ini. Sekaligus kejadian ini untuk kesekian kalinya menguatkan TESIS selama ini, bahwa acara-acara berita di TV atau koran itu, lebih banyak merusak otak daripada menyehatkan kehidupan manusia. Saat saya berbincang dengan seorang dosen senior, dari Jurusan Sastra Arab Universitas Malang (dulu IKIP Malang), yang kebetulan juga ada di pesantren itu; beliau membenarkan TESIS tersebut. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

Berita Media Sekuler Membusukkan Akal Manusia.

Singkat kata, “Berita TV atau koran itu, hanya nggarai ngelu” (maksudnya, hanya membuat kepala pening). Untuk lebih jelas melihat posisi kaum wartawan media-media sekuler, silakan baca tulisan ini: 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media. Tulisan semacam ini perlu, agar menjadi kritik bagi media-media perusak akal itu.

Kembali ke kasus Ruyati…

Disini secara cermat kita bisa melihat betapa bobroknya media-media sekuler itu; betapa kacaunya akal mereka; betapa rendahnya nalar dan analisis mereka. Itu pasti.

Apa buktinya?

Saat membahas isu Ruyati yang dihukum pancung itu, mereka mendesak supaya Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi. Saya hanya tertawa saja merenungkan IDE GILA luar biasa itu. Kok ada manusia yang sangat katrok, sekatrok-katroknya, yang punya ide konyol seperti itu.

Maaf, beribu maaf, harus dikatakan kata-kata kasar disini. Sebab, tak tahu lagi bagaimana menyebut kedegilan pikiran wartawan-wartawan bengal dan keji itu. Mohon ampunkan aku…

Baca entri selengkapnya »

Iklan