Pesan Besar di Balik Film “Lord Of The Ring”

Agustus 19, 2009

Christine Hakim mengatakan, bahwa Hollywood dalam setahun bisa memproduksi seribuan judul film. Kebanyakan film komersial. Hanya sedikit film yang benar-benar berkualitas. Begitu kurang lebih yang dikatakan Christine Hakim dalam dialog dengan MetroTV baru-baru ini.

Film yang tidak berkualitas biasanya: Menonjolkan adegan action, ada kebut-kebutan di jalan, ada tembak-tembakan, ceritanya dibuat-buat, penuh fantasi, dibumbui adegan pornografi, mempromosikan sikap amoral, tidak membawa pesan moral yang kuat, kronologi mudah ditebak, romantisme cengeng, dan lain-lain. Sebagian besar produk film Hollywood masuk kategori tidak berkualitas. Meskipun biaya pembuatannya besar, diperankan bintang-bintang top, bahkan menjadi box office film.

Film seperti Cut Nyak Dien, Laskar Pelangi, atau Fatahillah, bisa dikategorikan film berkualitas. Film itu mengandung pesan moral yang kuat, penggambarannya sangat realistik, detail estetik diperhatikan, bebas dari materi-materi amoral, acting pemain berjalan natural (alami), dan lain-lain. Adapun film seperti “AAC”, dari sisi konsep cerita saja sudah rapuh; mencerminkan impian romantisme “ala Rano Karno”, hanya setting ceritanya seorang aktivis.

Dari katalog film Hollywood, ada beberapa judul film yang dianggap sangat berkualitas, misalnya: Robin Hood (Mel Gibson), The Patriot, Saving Private Ryan, The Fugitive, US Marshall, Bond of Brothers, Cast Away, dan lain-lain. Film-film seperti ini mengandung nilai-nilai moralitas yang sangat kuat.

Adapun film seperti The Matrix, sangat kuat nuansa propaganda Zionisme-nya. Isi film itu sepenuhnya menggambarkan perjuangan bangsa Yahudi untuk memiliki kedaulatan sendiri (Israel) di tengah kehidupan dunia. Hanya saja, disamarkan dengan konsep cerita Matrix yang cukup rumit. Disana disebutkan, teritorial yang mereka perjuangankan bernama Gerbang Zion. Gerbang Zion itu akan selamat dengan datangnya tokoh “yang diramalkan”. Ini benar-benar propaganda Yahudi, hanya umumnya masyarakat tidak memahami sejauh itu.

Perlu dicatat disini. Film-film yang dibintai Mel Gibson rata-rata serius, digarap dengan sungguh-sungguh, dan berbobot. Mel Gibson dikenal sebagai pesohor Hollywood yang sangat kaya. Dia penganut Katholik fanatic. Dan satu lagi yang penting: Dia sangat anti Yahudi. Meskipun Hollywood dikenal didominasi oleh Yahudi, tetapi posisi Mel Gibson seperti “logika the matrix” di tengah rimba sistem sinema Yahudi Hollywood.

Kemudian, ada sebuah film istimewa, yaitu: Lord Of The Ring. Film ini telah diputar berkali-kali di TV. Saya tahunya juga dari sana. Pada mulanya ada rasa “takut” saat pertama melihat simbol-simbol dalam film ini. Namun lama-lama paham tentang PESAN BESAR yang disampaikan oleh film kolosal itu.

Film Lord Of The Ring (disingkat LOTR) bukanlah film bertema sejarah, sebab di dunia ini tidak ada sejarah seperti itu. Ia juga bukan film sihir seperti Harry Potter, sebab di dalamnya minim adegan-adegan sihir. Ia bukan film fantasi murni, sebab detail ceritanya mengandung makna-makna tertentu. Ia bukan film horor, sebab tidak ada eksploitasi dunia hantu-hantuan.

Film LOTR itu adalah film METAFORA FUTURISTIK. Maksudnya, film itu sarat mengandung perlambang-perlambang tentang kehidupan yang akan terjadi di masa nanti. Bukan main-main, perlambang yang digambarkan dalam film LOTR adalah materi seputar TANDA-TANDA KIAMAT. Kalau Anda teliti melihatnya, disana akan didapatkan begitu banyak kondisi-kondisi yang menggambarkan kehidupan menjelang Hari Kiamat nanti. Hanya semua itu dibuat sangat samar, dengan istilah-istilah, kronologi cerita, dan tokoh-tokoh fiktif.

Para aktivis Islam di perkotaan, banyak yang tidak percaya dengan hadits-hadits seputar Asyratus Sa’ah (Tanda-tanda Hari Kiamat). Mereka anggap hadits-hadits itu tidak realistik, tidak rasional, dan tidak sesuai dengan fakta-fakta kehidupan modern. Tetapi anehnya, kalangan non Muslim justru sangat mempercayai hal itu. Film LOTR mencerminkan keyakinan mereka terhadap episode-episode menjelang Hari Kiamat nanti. Bahkan di pusat-pusat Zionisme Internasional, mereka merancang konsep The New World Order berdasarkan khabar-khabar Tanda-tanda Kiamat itu.

Kalau seorang aktivis HMI ditanya tentang kedudukan Al Mahdi, Dajjal, turunnya Isa Al Masih di masa nanti, dll. Besar kemungkinan, mereka sulit untuk percaya. Seakan dalam benak mereka, yang namanya keyakinan itu ya RASIONALITAS. Tetapi kalau ditanya tentang film LOTR, bisa jadi mereka akan menjawab, “Oh, filmnya bagus. Asyik banget. Seru deh pokoknya!”

Sungguh sayang kalau ada pemuda Muslim yang tidak percaya dengan Tanda-tanda Hari Kiamat. Padahal kaum Yahudi sangat mempercayai hal itu. Saat ini mereka menanam banyak pohon Gharqad di Israel, sebab mereka yakin pohon itu akan menolong mereka kelak. Bahkan penanaman pohon ini menjadi gerakan internasional yang aktif mereka kampanyekan saat ini.

Di antara kesamaan isi film LOTR dengan Tanda-tanda Kiamat antara lain sebagai berikut:

[1] Inti cerita film LOTR adalah pertarungan antara golongan putih dan golongan hitam. Begitu pula saat menjelang Hari Kiamat nanti, akan ada pertarungan besar antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi.

[2] Dalam film LOTR, puncak kepemimpinan kejahatan digambarkan sebagai kekuatan sihir bermata satu. Hal ini adalah gambaran yang sangat jelas tentang sosok Dajjal sebagai raja kejahatan di Akhir Jaman nanti.

[3] Dalam film itu digambarkan ada koalisi antara dua kekuatan besar untuk melawan imperium kejahatan (Mordor). Dalam kehidupan di Akhir Jaman nanti juga akan terjadi koalisi antara Ummat Islam dengan kaum Nashrani, untuk menghadapi imperium kejahatan Yahudi.

Baca entri selengkapnya »