Sifat Allah dan Ujian Keimanan

Februari 1, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Umumnya manusia tidak suka jika dirinya diuji; dalam bentuk apapun. Contoh paling mudah ialah ujian yang dihadapi para pelajar. Mayoritas pelajar kurang suka menghadapi ujian, bahkan banyak yang merasa tegang (nervous). Begitu pula, ujian-ujian dalam kehidupan umum, cenderung kurang disukai; apakah ia berupa kemiskinan, kegagalan, patah hati, sakit yang menimpa, gagal panen, PHK, kecelakaan, dll.

Tetapi, sudah menjadi sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala akan menguji manusia dengan ujian-ujian. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Kullu nafsin dza-iqatul maut, wa nablukum bis syar-ri wal-khairi fitnah, wa ilaina turja’un” (setiap yang hidup akan merasakan mati, dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan). [Al Anbiyaa’: 35].

Kehidupan Tak Lepas dari Gelombang Ujian

Ujian ini bukan untuk mempersulit manusia, mempersempit dada dan kehidupannya, atau membuatnya frustasi; tetapi justru untuk memperkuat dirinya, memperbaiki sifat-sifatnya, meninggikan rasa syukurnya atas nikmat Allah, serta mengangkat derajatnya dalam kehidupan. Tidak berlebihan jika dalam riwayat disebutkan, manusia yang paling berat diuji adalah para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam, kemudian para ulama, para shalihin, dan seterusnya. Hal ini menandakan, bahwa semakin berat beban ujian semakin tinggi pula derajat manusia dalam pandangan Allah Ta’ala.

TELADAN NABI IBRAHIM

Lihatlah sosok Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Beliau diuji dengan perintah (melalui mimpi) untuk menyembelih putranya sendiri. Padahal beliau sangat mencintai putranya, bahkan beliau pernah merasakan tekanan jiwa yang sangat pelik ketika harus meninggal putranya dalam keadaan masih bayi bersama ibunya, di lembah lembah Bakkah (Makkah) yang disifati dengan perkataan “bi waadin ghairi dzi zar’in” (di sebuah lembah yang tidak ada tanam-tanaman padanya). [Lihat Surat Ibrahim: 37]. Namun ketika beliau berhasil melewati ujian paling pelik dalam sejarah manusia ini, beliau pun mendapat pujian sangat tinggi dari Allah Ta’ala.

Dalam Al Qur’an disebutkan: “Wa tarakna ‘alaihi fil akhirin, salamun ‘ala Ibrahim, ka dzalika naj-zil muhsinin, innahu min ‘ibadinal mu’miniin” [Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan manusia-manusia di kemudian hari, keselamatan bagi Ibrahim, demikianlah Kami memberi balasan orang-orang yang berbuat ihsan, dan sesungguhnya Ibrahim termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman]. Surat As Shaffat: 108-111. Nabi Ibrahim mendapat julukan Khalilullah (kekasih Allah) salah satunya ialah karena ketabahan-ketabahannya menghadapi ujian Allah.

Ujian meskipun tidak disukai manusia, tetapi ia memiliki maksud-maksud baik. Bahkan lewat ujian itu akan terbukti, apakah keimanan seseorang benar-benar mantap atau masih goyang? Keimanan Yusuf ‘Alaihissalam tidak goyang karena menghadapi aneka konspirasi, penjara, dan tipu-daya. Begitu juga, komitmen Sayyid Quthb rahimahullah terhadap hukum Allah tidak melemah karena penjara dan siksaan.

Atas hal-hal seperti inilah, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: “Ahasiban naas ai-yutrakuu ai-yaqulu a-manna wa hum laa yuftanuun? Wa laqad fatan-nal ladzina min qablihim falaya’lamannallahu alladzina shadaqu wa laya’lamannal kadzibin” (apakah manusia itu akan Kami biarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman’, padahal mereka belum diuji? Dan benar-benar Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapa di antara mereka yang benar –dalam keimanannya- dan agar Dia mengetahui siapa dari mereka yang berdusta). [Al Ankabuut: 2-3].

Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh phobia menghadapi ujian-ujian Allah; namun juga tidak boleh menyombongkan diri, dengan merasa kuat dan sabar, lalu menantang agar Allah mendatangkan ujian kepada kita. Diceritakan, pernah Imam Al Ghazali rahimahullah merasa telah sabar dan mampu menghadapi ujian, lalu beliau meminta diuji oleh Allah. Lalu dia mendapat ujian dengan tidak mampu buang air kecil. Dengan ujian itu, beliau menyerah dan merasa sangat hina (di hadapan Allah Ta’ala). Konon, begitu besarnya rasa penyesalan beliau sehingga meminta anak-anak kecil untuk memukuli wajahnya. Wallahu a’lam bisshawaab.

Baca entri selengkapnya »

Iklan