Biarkan Jokowi “Hedon” 3 Bulan…

Oktober 16, 2012

Hhmm…

Maksud hedon” disini bukan artinya senang-senang, menghamba hawa nafsu, seperti yang ditulis di bagian lain. Maksudnya ialah, bersantai, tenang-tenang, enak-enakan, bermesra-mesra dengan media, memungut puji-puji segunung, dan seterusnya. Biarkan Pak Jokowi enak-enak, menikmati posisi Gubernur DKI selama 3 bulanan pertama. Dia perlu dapat “hiburan manis” setelah susah-payah berjuang menuju GDKI-1 (posisi Gubernur DKI…he he he).

Eeee…

Apa ya, Jakarta itu kota yang super komplek, sangat rumit, tidak sesederhana yang dibayangkan. Jakarta adalah provinsi paling rumit di seluruh Indonesia. Ia provinsi, sekaligus kota; kota tetapi provinsi. Dari sisi ini saja, kita sudah merasa puyeng. Kok ada sebuah kota sebesar provinsi…

Siapa Nih? Bang Haji apa Maradona? Napa Die Ada Dimari…

Jakarta itu rumit sekali. Ia bukan Solo yang merupakan sebuah kota penting di Jawa Tengah. Jakarta berbeda dari Solo, dalam sebagian besar konstruksi kota dan tipikal rakyatnya. Beda, beda, beda sekali.

Sudah banyak pemimpin gagal di Jakarta ini; dalam artian, gagal mewujudkan impian dan harapan warga Jakarta dan sekitarnya. Kini ujug-ujug Jokowi muncul, bersama sosok pemimpin gagal Ahok. Jokowi secara gagah mengatakan, bahwa Jakarta butuh: pemimpin yang berkarakter, manajemen yang kuat, dan tindakan nyata. Tapi ya semua itu baru sebatas teori atau retorika.

Haaa…

Masalah terbesar Jokowi di Jakarta bukan soal minimnya dukungan dari DPRD, karena dia cuma didukung PDIP dan Gerindra; tetapi ya realitas jaringan kekuasaan politik-ekonomi-sosial yang selama ini mendominasi kehidupan rakyat Jakarta. Itu masalah utamanya. Jokowi pemain baru, tidak mudah baginya untuk menerobos jaring-jaring kekuasaan politik-sosial-ekonomi yang sudah sangat kuat di Jakarta. Jangankan dia, Pak SBY saja tak mampu kok. Mafia PBB (Politik-Birokrasi-Bisnis) di Jakarta sangat kuat… Mereka tak akan begitu saja memberi cek kosong kepada Jokowi.

Kalau diibaratkan sebuah kerajaan, Jokowi ini seperti seorang menteri yang baru dilantik. Di Jakarta, dia akan berhadapan dengan raja (presiden), permaisuri (isteri presiden), para pangeran (keluarga dan anak buah presiden), para panglima (jendral-jendral), para menteri lain (menteri-menteri kabinet, pimpinan BUMN), para bangsawan (kaum elit, para pengusaha, bisnisman), para pejabat asing (orang-orang ekspatriat yang membawa missi asing), dan lain-lain.

Tapi kalau baca program-program Jokowi, seperti yang dimuat dalam situs KPUD Jakarta, tentang program-program semua kandidat Gubernur DKI 2012. Program dia justru sangat kapitalistik-liberal. Ini sangat mengherankan. Program dia paling kapitalistik-liberal dibandingkan calon-calon lain. Satu sisi, hal itu seperti tidak selaras dengan ide-ide ekonomi kerakyatan Gerindra; di sisi lain, Jokowi selama memimpin Solo mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat. Kok bisa begini ya? Mana yang benar? Apa program-program itu cuma formalitas belaka? Atau kesan “merakyat” di Solo hanya kamuflase, sebelum akhirnya mengeluarkan jurus kapitalisme-liberal untuk Jakarta? Tak tahulah awak…

Tapi sejujurnya, langkah Jokowi akan menghadang banyak rintangan. Misalnya, dia ingin memindahkan Busway ke pinggiran kota Jakarta.  Itu artinya, dia harus membuat pengganti Busway untuk angkutan di tengah kota.  Apa penggantinya? Monorail atau MRT? Atau apa?

Misalnya dia memilih Monorail, maka dia harus koordinasi dengan Departemen Perhubungan, dengan Badan Pertanahan (untuk soal lahan lintasan Monorail), dengan Departemen Keuangan untuk investasi, dengan PLN untuk menyediakan listrik, dengan kepolisian untuk rekayasa lalu-lintas, dengan DLLAJR, dengan PT. KAI, dengan developer, dengan penyedia prinsipal teknologi, dengan partai politik, dengan media massa, dengan ini dan itu, sangat banyak urusannya. Jadi, tidak sekejap Jokowi bilang “bikin Monorail”, lalu seketika bulan depan terwujud. Tidak begitu.

Jadi menurut saya, Jokowi itu hanyalah seorang politisi (pemimpin) yang sengaja dikorbankan, atau diabuang; ketika dia didapuk untuk memimpin Jakarta. Setelah 3 bulan memimpin, dia akan dicaci-maki, dia akan diolok-olok, atau bahkan dibuatkan kartun yang sifatnya mengejek. Intinya, Jokowi ini seorang pemimpin yang akan “dikubur” di Jakarta.

Sebenarnya, letak kesalahannya ialah pada janji-janji Jokowi yang terlalu tinggi. Dia menjanjikan perubahan dramatik, sesuatu yang dinanti semua orang, tapi sangat susah direalisasikan. Sekarang Jokowi jalan-jalan dari kampung ke kampung; masalahnya, orang Jakarta beda dengan orang Solo. Warga Solo sopan-santunnya tinggi, kalau Jakarta tau sendiri. Jalan-jalan blusukan kampung itu bukan solusi untuk Jakarta; tetapi kalau untuk melihat masalah riil masyarakat, itu boleh sepenuhnya.

Sangat unik melihat pada sosok Amien Rais, ketika dia menyerang Jokowi dengan sangat pedas dan kasar. Kelihatan seolah dia “sakit hati” ke Jokowi, mungkin karena teori-teori politiknya sering gagal. Amien menyerang Jokowi sedemikian rupa agar Jokowi gagal, tetapi terbukti dia sukses jadi gubernur. Lalu apa pengaruh dari kemarahan dan emosi Amien Rais yang kemarin-kemarin? Apakah dia sampai sekarang masih emosi atau tambah emosi? Entahlah, kadang dibutuhkan kemarahan tertentu agar wakil yang didukung PAN sukses dalam pertarungan politik; meskipun akibatnya kalah lagi, kalah lagi.

Tetapi kita melihat, tanpa harus dimarahi juga, Jokowi pasti gagal. Gagalnya bukan karena dia tak bisa memimpin; tapi dia terlalu keburu sesumbar ingin menyelesaikan masalah Jakarta dalam waktu cepat. Itu kesombongan. Itu tidak bagus. Pak Jokowi terlalu PD, dan media-media sekuler bergemuruh tepuk-tangan dan sorak-soray mengkampanyekan sosok Jokowi.

Wwwuuihh…

Maaf ya Pak Jokowi, Pak Gubernur. Bukan kami tidak mendukung, atau bersikap negative thinking. Bukan itu. Tetapi Anda terlalu under estimate terhadap problematika di Jakarta. Seolah problema itu sangat mudah diatasi. Tidak semudah itu Pak. Melalui analisa sains pun, tidak semudah itu. Contohnya, ya Mobil SMK yang Bapak kampanyekan itu. Terbukti sampai saat ini tidak jelas bagaimana hasilnya. Gimana nasib Mobil SMK itu? Ya ini hanya sekedar renungan saja, agar kita jangan terlalu sombong dalam membuat pernyataan atau janji-janji.

Okeh Pak Jokowi, silakan bekerja, silakan berkarya… Kota Jakarta telah menantikan segala daya dan upayamu. Adapun soal Amien Rais marah-marah dan emosi; ya biasalah, kadang manusia makin senja usia semakin sensitif. Jangan terpengaruh itu.

Masa 3 bulan cukuplah untuk bermesra-mesraan dengan media dan segunung puja-puji masyarakat. Setelah itu…ya itulah Jakarta. Ia adalah kota yang dinamakan Jaya Karya, kota yang berjaya. Nama ini terambil dari inspirasi Surat Al Fath: Inna fatahna laka fathan mubina (sesungguhnya Kami telah memenangkan kamu dengan kemenangan yang nyata).

Jadi Jakarta itu, kalau mau berjaya, harus dipimpin oleh manusia yang kuat, luas wawasan, bermental baja, pemberani, lembut hati, dan Mukmin sejati. Kalau selain itu, apalagi kalau tipikalnya seperti anggota boyband, waduh sangat tidak bagus…

Udeh…gitu aje ye Bank Kowi. Selamat “hedon”, eh maksudnya selamat santai-santai, enak-enak, untuk 3 bulan pertama ini.

Mine.

Iklan