Konspirasi: FPI Jadi Korban, FPI Dihujat !!!

Februari 14, 2012

Kalau jujur mau mengakui, di Indonesia ini banyak orang-orang aneh. Lihatlah kelakuan media-media yang kini gencar menyerang FPI. Mereka itu kelihatan pintar, intelektual, cerdas; tetapi moralitasnya ambruk. Sayang, sangat disayangkan sekali. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Sudah jelas-jelas beberapa hari kemarin, saat kunjungan ke Kalimantan Tengah, beberapa tokoh FPI nyaris menjadi sasaran amuk massa dan pengepungan komunitas-komunitas Dayak anarkhis. Buktinya, DPP FPI melaporkan Gubernur dan Kapolda Kalteng ke mabes Polri untuk beberapa tuduhan sekaligus. Salah satunya, upaya pembunuhan pimpinan FPI.

FPI Jadi Korban, Kok Malah Dihujat. Aneh Sekali Kan? Ada Apa Ini?

Tapi aneh bin ajaib. FPI yang jadi korban, FPI juga yang dihujat. Dalam demo di Bundaran HI, Ulil Abshar dan kawan-kawan menyerukan agar FPI dibubarkan. Media-media massa, termasuk MetroTV dan TVOne, tidak segan-segan memberi CORONG GRATIS kepada siapa saja yang anti FPI, dengan tentunya -seperti biasa- mereka tinggalkan etika Cover Both Side. Kompas malah sangat kacau (kalau tidak disebut rusak nalar), media itu mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang katanya menolak ormas anarkhis. Padahal dalam perkataan Din, tidak ada pernyataan ormas anarkhis.

Paling parahnya, SBY juga ikut-ikutan menyudutkan FPI. Dia meminta agar FPI instropeksi diri. Orang ini aneh sekali. Masalah hukum soal “ancaman pembunuhan” tokoh-tokoh FPI belum dia bahas, malah sudah meminta FPI instropeksi diri. Hal begini ini kan sangat kelihatan kalau kasus FPI itu sebagai pengalihan isu, ketika Partai Demokrat sedang dilanda “Tsunami Besar” akibat kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit mereka. Kita mesti ingat, di masa-masa sebelum, setiap ada masalah besar menimpa Pemerintah SBY, selalu saja ada “jalan keluar” berupa kasus-kasus terorisme, kerusuhan agama, dan lainnya.

Nah, disinilah kita saksikan betapa anehnya kelakuan orang-orang Indonesia. Sudah tahu, mereka itu sakit dan banyak menanggung penyakit. Bukannya berobat atau menahan diri, agar sakitnya tidak semakin parah. Malah mereka semakin menghujami dadanya dengan belati tajam, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aneh…aneh…tidak waras!

Kalau dicermati, tampak adanya KAITAN antara insiden di Palangkaraya, respon media-media massa yang begitu cepat, gerakan demo anti FPI dipimpin oleh seorang tokoh Partai Demokrat, serta pernyataan SBY. Semua elemen-elemen ini tampaknya saling berkaitan satu sama lain, menggarap isu FPI, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari bencana korupsi yang kini sedang menimpa jajaran elit Partai Demokrat.

Kalau dianalisis lebih dalam, kita bisa melihat adanya model skenario yang KEMUNGKINAN dijalankan, untuk menjebak FPI dalam pusaran kasus sosial; lalu kasus itu dipakai untuk tujuan-tujuan politik.

Pertama, FPI diundang datang ke Kalteng untuk membela masyarakat yang katanya dizhalimi oleh Gubernur Kalteng. Mengapa FPI ingin dilibatkan? Karena FPI secara gagah berani membela warga Mesuji, Lampung. Kasus Mesuji itu bisa menjadi titik peluang untuk mengundang FPI ke Kalteng.

Kedua, ketika di Kalteng, pihak Gubernur sudah menyiapkan penyambutan bagi tokoh-tokoh FPI yang akan datang. Menurut informasi, gerakan massa dimulai dari kantor Gubernur Kalteng. Aneh sekali, kantor negara dipakai untuk merencanakan gerakan-gerakan anarkhis.

Ketiga, terjadi insiden di lapangan udara Palangkaraya, berupa penolakan dan pengepungan pesawat oleh massa anarkhis, dengan membawa senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata makian. Alhamdulillah, tidak ada satu pun tokoh FPI yang cidera secara fisik. Insiden terjadi lagi saat tokoh-tokoh FPI singgah di Banjarmasin.

Keempat, sebelum insiden terjadi pihak FPI sudah mencium ada gelagat tidak beres di Kalteng. Dan lebih mengherankan lagi ketika Kapolda Kalteng angkat tangan, tidak mau tanggung-jawab kalau tokoh-tokoh FPI tetap datang ke Kalteng. Hal ini membuktikan, bahwa ada SKENARIO BESAR yang tak sanggup dihadapi oleh Kapolda Kalteng.

Kelima, setelah terjadi insiden Kalteng, para aktivis LIBERAL dan KOMPRADOR di Jakarta sudah menyiapkan demo untuk menggugat FPI. Media-media massa sudah siap “nampani” amanah untuk menggebuk FPI dari sisi opini media. Kompas, Detik.com, MetroTV, TVOne, Kantor Berita Antara, dll. sudah siap untuk memanaskan situasi. Mereka lupa sama sekali dengan kenyataan, bahwa tokoh-tokoh FPI hampir habis dikeroyok komunitas Dayak anarkhis.

Keenam, sebagai bagian dari skenario ini ialah pernyataan SBY yang meminta agar FPI instropeksi diri. Ditambah lagi pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa ormas anarkhis bisa dibekukan.

Hal-hal seperti di atas bisa dibaca secara terpisah-pisah, bisa juga dibaca sebagai sebuah kesatuan skenario, demi menjatuhkan FPI dan mencapai target politik tertentu. Lagi pula hal-hal demikian sudah sering terjadi. Saat kapan saja ketika Pemerintah SBY atau Partai Demokrat sedang terdesak, selalu ada “jalan keluar” untuk mengalihkan perhatian publik. Yang paling sering dipakai adalah isu TERORISME, ormas anarkhis, dan kerusuhan berbasis agama.

Tapi yang paling kasihan dari semua ini ya…masyarakat Indonesia selama ini (dan tentu saja aktivis-aktivis Islam yang sering “digunakan” oleh negara sebagai “jalan keluar”). Masyarakat terus disuduhi kebohongan, penyesatan, skandal, konspirasi, pengkhianatan, kezhaliman, dan seterusnya.

Yah, bagaimana hidup akan aman, tentram, dan damai; kalau cara-cara licik seperti itu selalu dipakai? Mau hidup damai dimana, Pak, Bu, Mas, dan Mbak? Anda hendak sembunyi di dasar inti bumi sekalipun, kalau OTAK LICIK itu masih ada, nonsense akan ada kedamaian. Yang ada hanyalah kemunafikan telanjang; mengaku anti kekerasan, padahal paling terdepan dalam membela kezhaliman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya Allah ya Rahman, selamatkanlah kaum Mukminin, Mukminat, Muslimin, dan Muslimat; dimana pun mereka berada, khususnya di negeri Nusantara ini. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Abah Syakir.

Iklan

Video Mesum “Koleksi Pribadi”

Juni 15, 2010

Beberapa waktu lalu, Indra Maulana dari MetroTV dialog dengan beberapa narasumber soal video mesum Si Ariel Peterporn. Salah satu narasumber disana, Elza Syarif. Indra sempat bertanya, “Bagaimana kalau suami-isteri lalu membuat video seperti itu untuk koleksi pribadi?” Elza Syarif dan lainnya menegaskan, bahwa hal itu akan dijerat UU Pornografi dalam delik “membuat pornografi”.

Ternyata, alasan “koleksi pribadi” itu juga yang disampaikan Edward Aritonang, setelah dilakukan pemeriksaan sementara kepada Si Peterporn dan Si Luna Maya. Bahkan dalam wawancara yang akan ditayangkan di TVOne, Si Ariel dan Si Luna juga beralasan dengan “koleksi pribadi” itu.

Kalau dipikir-pikir, sebagian orang Indonesia itu pintar memelintir alasan-alasan, tetapi sebenarnya mereka tidak cerdas. Alasan “koleksi pribadi” itu jika terus ditunggangi oleh Si Peterporn, Si Luna (Pezina), dan OC. Kaligis, bisa jadi akan menyelamatkan dua sejoli tukang zina itu dari jerat hukum.

Disini, ada beberapa poin kritik terhadap alasan “koleksi pribadi” tersebut:

PERTAMA, alasan “koleksi pribadi” bisa dipakai oleh semua penjahat-penjahat pornografi untuk mengelak dari hukum. Bahkan alasan “koleksi pribadi” itu bisa membuang semua UU Pornografi yang baru saja berlaku di Indonesia. Nanti, semua tukang zina, pelacur, gigolo, maniak seks, penjaja media mesum, dll. mereka bisa berkelit dengan alasan “koleksi pribadi”. Nanti mereka bisa berkoar-koar, “Oh, gambar porno, video porno, atau cerita ngeres ini, semuanya ini untuk koleksi pribadi. Tidak untuk disebar-luaskan. Kalau tersebar juga, bukan salah kami. Yang salah, ya yang menyebarkan gambar atau video itu.”

KEDUA, apakah dalam video atau gambar mesum itu ada bukti-bukti bahwa semua itu dibuat untuk koleksi pribadi? Misalnya, disana tertulis “untuk koleksi pribadi”. Atau ada suara, “Video ini kami buat untuk koleksi pribadi.” Atau apakah sebelum membuat koleksi bejat itu mereka membuat surat pernyataan dulu, bahwa itu untuk koleksi pribadi? Tidak ada sama sekali. Mereka berkoar-koar soal “koleksi pribadi” setelah terdesak. Kalau tidak terdesak, mereka santai-santai saja dengan perilaku mesumnya itu.

KETIGA, apakah manusia mesum seperti Ariel, Luna, Cut Tari, dkk. itu terlalu bodoh ya, sehingga tidak tahu perkembangan jaman? Apakah mereka tidak pernah tahu bahwa selama ini sudah banyak beredar video-video mesum di internet, atau VCD porno? Termasuk dulu, video super bejat, “Video Itenas”. Apakah orang-orang seperti mereka tidak sadar dari peredaran rekaman video-video bejat itu? Kalau mereka sudah tahu resiko tersebarnya benda-benda mengerikan itu, mengapa masih membuat rekaman juga? Mereka otaknya dungu ya…

KEEMPAT, saat Ariel Peterporn sama Si Luna, atau sama Cut Tari, sedang asyik-asyiknya bermesum-mesum ria, apakah mereka terikat ikatan pernikahan? Apakah ketika itu mereka sudah bersuami-isteri? Apa buktinya bahwa mereka sudah bersuami-isteri? Coba apa buktinya? Kalau tidak, berarti mereka itu sedang merekam adegan perzinahan, bukan adegan hubungan seksual suami-isteri? [Kenyataannya, mereka memang berzina saat bermesum-mesum ria itu. Kalau mereka sudah suami-isteri, mereka pasti akan marah besar dan menuntut keras orang-orang yang menyebarkan rekaman pribadinya. Tapi lihatlah, mereka malah ketakutan, menyembunyikan diri, dan tidak bisa membuktikan dirinya sudah menikah].

KELIMA, kalau mereka benar-benar sah sebagai suami-isteri, dibuktikan dengan memiliki Surat Nikah, lalu untuk apa mereka membuat rekaman seperti itu? Apa untungnya membuat rekaman hubungan seksual seperti itu bagi pasangan suami-isteri? Dari sisi kebebasan berhubungan seks, mereka sudah bersuami isteri, mengapa masih harus membuat hal-hal seperti itu? Ini menandakan bahwa jiwa mereka sakit.

KEENAM, andaikan pasangan suami-isteri boleh membuat rekaman video aksi hubungan seksual mereka, misalnya dengan asumsi perkembangan teknologi tidak beresiko membuat rekaman itu tersebar luas, bagaimana kalau suatu ketika rekaman itu dilihat oleh anak-anaknya sendiri? Apakah mereka mau jika dilihat anak atau saudara mereka sendiri? Seharusnya, hubungan seks itu disembunyikan serapat-rapatnya, sebab memang memalukan kalau ketahuan orang lain. Tetapi ini malah direkam, dengan tidak dijamin, rekaman itu kelak tidak akan jatuh ke orang-orang di sekitar mereka. Benar-benar sebuah logika orang sakit, merekam aksi seks yang sangat private.

KETUJUH, hukum membuat rekaman adegan seks, meskipun itu suami isteri adalah HARAM. Lho apa dalilnya kalau haram? Mudah saja. Suami-isteri tidak akan selamanya tetap suami-isteri. Bisa saja, suatu saat terjadai perceraian antara suami-isteri itu. Coba bayangkan, apa jadinya kalau pasangan suami-isteri sudah bercerai, sementara di tangan mereka masih ada rekaman hubungan seks di masa lalu? Coba Anda bayangkan! Mereka sudah resmi cerai, sudah resmi menjadi orang lain, tetapi masih ada rekaman hubungan seks di antara mereka. Maka perbuatan seperti ini adalah HARAM, sebab jika pasangan suami-isteri sudah bercerai, mereka dilarang melihat aurat mantan suami/isterinya. Belum lagi pertimbangan, resiko tersebarnya rekaman itu ke tangan orang lain.

KEDELAPAN, jika alasan “koleksi pribadi” memperbolehkan setiap pasangan suami-isteri di Indonesia boleh membuat rekaman adegan hubungan seksual mereka, ya Allah ya Rabbi, bangsa Indonesia ini akan terjadi banjir video porno yang amat sangat mengerikan. Tidak terbayangkan jika hal itu terjadi. Ya Allah ya Rahmaan, jauhkanlah kaum Muslimin di Indonesia ini dari angkara murka dan kejahatan keji. Amin Allahumma amin.

Secara umum, orang-orang yang membuat “koleksi pribadi” rekaman hubungan seksual, meskipun mereka sudah suami-isteri, pada dasarnya mereka adalah ORANG SAKIT. Bukan sakit fisik, tetapi sakit di jiwanya. Perbuatan seperti itu bisa merugikan diri sendiri, dan bisa merusak jutaan manusia.

Baik Si Ariel Peterporn maupun Luna Maya Pezina dan Cut Tari Pezina, mereka itu bukan suami-isteri saat melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka berzina. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Kalau dalam Islam, orang-orang seperti ini harusnya dihukum mati (rajam). Karena mereka publik figur, dihukum gantung pun tidak apa-apa, demi membuat efek jera bagi yang lainnya.

Kalau suami-isteri yang sah saja HARAM membuat rekaman mesum, karena bisa jadi mereka akan bercerai sehingga haram saling melihat aurat masing-masing. Apalagi orang yang tidak menikah. Bahkan mereka adalah publik figur yang seharusnya memiliki moral baik.

Tapi manusia macam Ariel Rajaporn ini kan sudah amat sangat rusaknya. Sudah munafik, tak bermoral, tapi lagunya berjudul, “Buka Topengmu!” Nah, inilah contoh raja-raja munafik. Orang munafik tulen, tapi berlagak menuduh orang lain munafik. Ini dia, munafik teriak munafik!

Mari terus berjuang sekuat tenaga menjaga moral kaum Muslimin di negeri ini. Hanya dengan komitmen demikian, kita masih berharap ada KEHIDUPAN MANUSIA di negeri ini. Salam perjuangan. Allahu Akbar!!!

AMW.