Matinya Militansi Kita…

Juni 28, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini kita hidup dalam situasi SERBA TAK MENENTU. Keadaan di sekitar kita penuh dengan gejolak, khususnya gejolak ekonomi, sosial, dan politik. Kondisi kehidupan kita serta tidak stabil. Para politisi dan birokrat sering mengatakannya, kondisi INSTABILITAS.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan bisa terjadi secara mendadak, tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bisnis yang direncanakan akan eksis setelah 3 tahun, ternyata bangkrut sebelum genap berusia 6 bulan. Proyek yang diharapkan selesai dalam 6 bulan, ternyata melar sampai 3 tahun, karena uangnya dibawa lari mandor proyek. Tanaman yang diharapkan panen saat anak-anak mulai masuk sekolah, ternyata gagal karena dimakan wereng dan keong emas. Begitulah…banyak kondisi-kondisi tidak menentu.

Harapan Manis yang Kian Sirna...

Semua ini terjadi ialah karena SISTEM KEHIDUPAN yang berlaku di sekitar kita sudah keluar dari jalur sebenarnya. Ibarat seperti kereta-api yang keluar jalur, lalu mbrasak-mbrasak ke kebun singkong, masuk sawah, atau menubruk tanggul-tanggul sungai. Seharusnya kereta berjalan di rel, tetapi malah keluar jalur. Akibatnya, terjadi kecelakaan berat.

Sistem kehidupan yang saat ini berkembang, semakin menunjukkan wajah aslinya. Itu bukan wajah kehidupan Islami, atau nasionalis, atau harmoni, atau natural, atau humanis, atau kehidupan maju. Tetapi ia memperlihatkan kedoknya sebagai SISTEM PERBUDAKAN modern. Bisa saja istilahnya maju, seperti “negara industri”, “pertumbuhan ekonomi tinggi”, “iklim investasi pesat”, “indeks saham gabungan mantap”, “cadangan devisi kuat”, dan seterusnya. Istilahnya keren, padahal hakikatnya PERBUDAKAN.

Apa benar ini perbudakan?

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Untuk Apa Mereka Mau Rayakan HUT Israel?

Mei 16, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini publik dibuat heboh oleh ulah sebagian orang yang menamakan diri sebagai komunitas Ziokindo (Zionis Kristen Indonesia) dengan tokohnya Unggun Dahana; mereka ingin merayakan HUT Israel ke-63, pada 14 Mei 2011, di Jakarta.

Niatan yang aneh ini tentu saja langsung memicu reaksi publik. FPI segera bergerak, melakukan penelusuran dimana lokasi peringatan HUT itu. Hidayat Nurwahid berkomentar, sebaiknya orang-orang yang ingin merayakan HUT Israel itu dicabut saja status WNI-nya. KH. Syuhada Bahri, Ketua DDII, juga bereaksi keras atas rencana tersebut. Sementara dari Mabes Polri dikatakan, tidak ada rencana peringatan HUT Israel tersebut. Setelah memantau informasi di jajaran instansi Polri, disebutkan tidak ada rencana peringatan itu. Tentu saja media-media online Muslim aktif memantau terus perkembangan isu ini.

Sedang Mengukur Dalamnya Air.

Pertanyaannya: “Apa sebenarnya makna rencana perayaan HUT Israel itu? Apakah ia benar-benar memiliki makna tertentu, atau ia hanya sebuah strategi politik saja?”

Dari analisis yang kami lakukan, rencana perayaan HUT Israel oleh Ziokindo di Jakarta itu tak lebih dari  testing the water saja.  Mereka sengaja menghembuskan isu nasional, dengan tujuan “ngetes dalamnya air”. Makna terkuatnya -menurut kami- ke arah ini.

Orang-orang itu tak benar-benar serius mau MEMUJA Israel di negeri ini. Tetapi mereka ingin memancing reaksi kaum Muslimin, khususnya organisasi-organisasi Islam yang dianggap garis keras. Jadi, isu tersebut tak lebih dari sarana “penelitian” belaka. Mereka mau mengukur kedalaman “emosi” organisasi Islam.

Kalau organisasi Islam bereaksi sangat galak, itu pertanda proses yang selama ini mereka kerjakan, dalam rangka menghancurkan moral, kultur, ekonomi, dan pikiran kaum Muslimin, belum berjalan memuaskan. Tetapi kalau Ummat Islam bereaksi melempem, itu pertanda pekerjaan mereka -khususnya melalui gerakan HEDONISASI di media-media TV- berjalan sangat memuaskan.

Jika respon masyarakat Muslim lemah, maka mereka akan segera masuk fase gerakan selanjutnya. Bisa jadi tujuan strategisnya nanti: membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel, Indonesia mengakui eksistensi Israel, agama Yahudi diperbolehkan hidup di Indonesia, dan lobi-lobi Yahudi diberi ruang besar untuk bermain secara legal di Indonesia (dalam rangka menganiaya kehidupan kaum Muslimin sesadis-sadisnya).

Sekedar mengingatkan, saat tahun 1999 lalu, terjadi Tragedi Ambon Berdarah. Menurut sebagian informasi, korban dari kaum Muslimin di Ambon bisa ribuan orang. Mereka mengalami pembantaian, pembakaran, kekejaman, pengusiran, dll. secara keji. Pelakunya adalah kelompok-kelompok Kristen Protestan ekstrim dari Ambon dan sekitarnya. Di antara mereka menginduk ke gerakan RMS.

Reaksi Ummat Islam ketika itu sangat hebat. Ummat Islam menyatakan berlakunya Jihad Fi Sabilillah di Ambon (dan kemudian melebar ke Maluku Utara). Para pejuang Muslim segera berdatangan ke Ambon. Katanya, ada juga yang berasal dari luar negeri. Respon ini sangat hebat, sehingga kaum kufar berpikir berulang-ulang untuk meneruskan gerakan mereka.

Tetapi saat ini, tahun 2011, tampaknya situasi sudah berubah sedemikian rupa. Masihkah Ummat Islam siap sedia terjun berjihad, bila ada panggilan ke arah itu? Masih adakah keberanian Ummat ini? Masihkah pemuda-pemuda Islam siap menyambut seruan Jihad untuk menolong saudara-saudaranya yang teraniaya? Wallahu A’lam bisshawaab.

Komunitas antek Yahudi merasa perlu untuk mengetahui respon Ummat Islam tersebut. Maka dibuatlah isu, rencana peringatan HUT Israel di Jakarta.

Secara logika, rencana seperti itu sangat naif. Selain Indonesia belum ada hubungan diplomatik dengan Israel; dalam Pembukaan UUD 1945 ada kalimat “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”; dan lagi pula, sangat jarang masyarakat suatu negara ingin merayakan HUT negara lain, kecuali dari warga negara itu sendiri yang sedang tinggal di suatu negara.

Intinya adalah ayat berikut:

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al Baqarah 120).

Orang kufar itu demi Allah tak akan bisa tidur tenang, sebelum menyaksikan kaum Muslimin menderita. Ada memang kufar yang baik dan adil, tetapi jumlahnya sedikit. Jangan pernah menyangka mereka akan selalu damai saja, atau pluralis. Tidak demikian. Makar demi makar, adalah konsumsi sehari-hari. Kalau Ummat Islam lemah, mereka akan mempercepat aksinya; kalau Ummat Islam kuat, mereka akan berpikir berulang-ulang sebelum melakukan agressi.

Satu pesan besar: Gelorakan lagi syiar kita atas ayat “wa lan tardha” itu (al Baqarah 120). Ayat ini sudah sangat jarang kini dibacakan. Itu pertanda Ummat Islam semakin lalai. Kalau terus lalai, “hari panenan” akan segera tiba. Na’udzubillah min dzalik.

Semoga menjadi renungan dan perhatian! Amin!

Abi Syakir.