Cerita Duka Bangsa Pecundang

Juli 17, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalli ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau diibaratkan pesawat terbang, saat ini kita menghadapi cuaca yang penuh turbulensi. Pesawat diguncang-guncang oleh awan, angin, serta kerapatan udara yang tidak stabil. Negeri Nusantara yang kita diami ini tengah seru-serunya menghadapi masalah. Baik masalah internal berupa arah Reformasi yang kacau-balau menjadi Liberalisasi. Masalah kualitas hidup dan budaya sosial yang semakin rusak. Rongrongan asing yang tiada pernah surut. Bahkan, kenyataan pahit yang kemudian sering disebut sebagai New Colonialism.

Semua ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia justru diundang oleh sifat-sifat rakyat Indonesia sendiri yang jauh dari karakter manusia yang tangguh. Lebih dari 500 tahun kita hidup sebagai bangsa Muslim, tapi keislaman itu sendiri seperti tidak ada dampaknya. Padahal, andai kita tidak memiliki apa-apa, selain keislaman di dada kita, hal itu sudah cukup untuk membuat bangsa ini hidup mulia. Betapa tidak, bangsa Arab hidup di tengah gurun, miskin air, miskin tanaman, berhawa panas di siang hari, sangat dingin di malam hari, angin menderu-deru seperti topan. Tetapi berkat Islam, mereka mampu membangun peradaban dunia yang luar biasa. Salah satu bukti kekuatan Islam. Eropa tidak akan pernah bangkit dengan Renaissance-nya, jika tidak mengambil khazanah ilmu-ilmu sains dari Andalusia Spanyol. Meskipun kemudian hal itu diklaim sebagai karya “original” ilmuwan-ilmuwan Eropa sendiri. Bangsa kita sekian lama telah menyia-nyiakan agamanya, sehingga hidup menjadi pecundang, hina-dina, dan lemah. Kalau kata Malik bin Nabi, kita telah memenuhi syarat-syarat bagi dihalalkannya penjajahan atas negeri kita.

Disini ada sebuah cerita dari khazanah fiksi dunia metafora. Cerita ini bisa menggambarkan dengan baik kemalangan sebuah bangsa.

Nun jauh disana, tersebutlah sebuah negeri bernama Ada Ada Saja. Disingkat AAS. Para pakar berselisih pendapat tentang singkatan AAS ini. Ada yang menduga hal itu juga memiliki arti: Anak Amerika Serikat, Alias Amerika Serikat, atau Aku Amerika Serikat. Tapi sejujurnya, AAS memang dari nama negeri itu, Ada Ada Saja.

Negeri AAS dihuni oleh sekumpulan manusia yang menjalani hidup aneh. Kalau melihat zhahirnya, mereka seperti Pak Haji dan Bu Hajjah. Memakai baju putih-putih, lengkap dengan kopiah putih, sarung Samarinda, membawa tasbih, serta sajadah yang warna-warni. Ibu-ibunya selalu memakai jilbab, berpakaian rapi, selalu mengumbar senyum. Tetapi batinnya: Mereka tidak mau diatur oleh Kitabullah dan Sunnah, selalu menuruti hawa nafsu sendiri, sangat takjub dengan segala budaya Barat, itu pun masih ditambah aneka rupa keyakinan klenik, mistik, khurafat, dll. Zhahirnya seperti Pak Haji dan Bu Hajjah, tetapi batinnya memeluk keyakinan “gado-gado”. Kalau diingatkan, mereka marah-marah. Bahkan tak segan menyerang orang yang mengingatkan, sambil menuduhnya: “Teroris Lu!!!”

Namun bangsa AAS itu memiliki sebuah istana yang sangat megah. Megah sekali, memukau semua mata di dunia. Istana mereka sangat megah, kaya raya, mentereng, penuh gengsi, full kemewahan. Selama bertahun-tahun mereka hidup menjadi penghuni istana itu. Bermacam-macam air liur telah menetes, demi menyaksikan kemegahan istana bangsa AAS ini. Banyak orang asing berlomba-lomba ingin diijinkan menempati ruangan-ruangan di istana itu.

Namun, entah karena alasan apa. Bangsa AAS merasa tidak peduli dengan istana megah yang dimilikinya. “Kami selama ratusan tahun hidup sebagai bangsa terjajah, hidup terlunta-lunta, menanggung segala duka dan derita. Kami tidak biasa dengan kehidupan istana ini. Kami sudah terbiasa hidup menderita. Kami tidak membutuhkan kemewahan istana. Kami merindukan hidup sebagai manusia terlunta-lunta,” begitu kata mereka. Tentu saja, pernyataan ini membuat shock semua orang-orang asing yang mendengarnya. Bukan shock karena sedih, tapi shock karena tidak percaya dengan perkataan yang didengarnya.

Lebih mengerikan lagi ketika salah satu elit politik negeri AAS itu secara resmi menyerahkan hak kepemilikan istana itu kepada orang-orang asing. “Sudahlah, kami ini orang kecil. Kami ini sudah biasa hidup menderita. Kami ikhlas saja kepada Allah, kami tawakkal saja. Kami hanya bergantung ke Allah, tidak bergantung ke istana. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, silakan Anda miliki istana ini. Kami ini orang kecil, kami tidak pantas memiliki istana semegah ini. Istana ini adalah dunia, dunia itu cobaan, dunia itu fitnah, bisa memalingkan hati manusia dari mengingat Allah. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, Anda kelola istana ini, kami ikhlas, tawakkal, dan husnuzhan kepada Anda semua. Kami ini orang cinta damai, tidak mau berselisih, tidak mau saling serang, tidak mau menyakiti hati orang lain. Sudahlah, istana ini hanya godaan dunia. Kata Allah, Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal,” begitu kata elit politik itu mendalili kebejatan pikirannya.

Kalau semula Mister dan Sinyo-sinyo itu shock, sekarang mereka kejang-kejang. Malah sebagian langsung mati mendadak, karena serangan jantung. Bukan karena sedih lho, tapi karena kegembiraan amat sangat yang menusuk sampai ke ubun-ubun mereka. Sebagian orang itu mati seketika, karena serangan jantung. Seperti nasib “King Jacko”. Begitu gembiranya orang-orang asing itu menerima kunci istana, di hari itu mereka peringati sebagai hari raya. Perayaannya lebih megah dari tradisi Idul Fithri kita. Kemenangan besar mereka kemudian diabadikan dalam sebuah ungkapan: “Meminta kaca spion, diberi pabrik mobil!” Semula mereka hanya meminta sedikit tempat di istana itu, tetapi nyatanya malah diberi seluruh istana, sertifikat, sampai kunci-kuncinya.

Baca entri selengkapnya »