Cara Licik Mencari Duit!

Maret 19, 2011

Banyak cara mencari duit. Ada yang halal dan ada yang haram. Cara haram pun bermacam-macam. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang terang-terangan, ada yang tersembunyi. Ada yang dilakukan secara kolektif, ada yang sendiri-sendiri. Intinya, mencari duit (get income).

Salah satu modus mencari duit secara licik ialah dengan: Menciptakan ancaman (create a threat). Cara ini banyak digunakan. Tetapi para penggunanya rata-rata pintar. Kalau orang “tidak pintar”, kecil kemungkinan akan memakai cara ini.

Modus operandinya sederhana. Pada suatu tempat disebarkan ancaman-ancaman, dalam bentuk apa saja. Ketika muncul ancaman, orang-orang di tempat itu segera mencari solusi. Nah, pihak yang menciptakan ancaman itu sudah punya solusinya. Maka masyarakat pun berbondong-bondong memakai produk mereka untuk mengatasi ancaman itu.

***

"Kitab Suci-nya" Manusia Berhati Bengis. Na'udzubillah Min Dzalik.

Contoh. Seorang pawang ular menyebarkan ular-ular di suatu kampung. Setelah ular tersebar, penduduk kampung geger dan gelisah. Maka mereka memakai jasa pawang ular itu untuk menangkapi ular.

Contoh lain. Seorang tukang ban menyebarkan paku-paku kecil di sekitar tempat bengkel “tambal ban” miliknya. Setiap motor yang terkena paku-paku itu ban-nya bocor. Maka mereka pun mendatangi bengkel motor itu untuk mendapatkan solusi.

Contoh berikutnya. Seorang kepala preman memerintahkan anak buahnya untuk berbuat onar di suatu pasar. Banyak pedagang merasa takut dan terancam. Lalu kepada preman itu pura-pura datang sebagai pahlawan. “Biarlah kami atasi preman-preman perusuh ini. Mereka hanya biang onar,” kata kepala preman tersebut. Sejak itu, pedagang pasar mau membayar iuran keamanan kepada kepala preman itu.

Contoh lain lagi. Sebuah pabrik racun tikus menyuruh anak buahnya menyebarkan tikus di sawah-sawah. Para petani kecewa, sebab hasil padinya banyak dimakan tikus. Lalu para sales racun tikus datang ke petani-petani itu. “Nah, ini racun tikus yang hebat, Pak. Silakan dicoba. Perusahaan kami sangat mengenal sifat tikus ini.” (Ya, gimana tidak mengenal, wong mereka sendiri yang mengembang-biakkan tikus itu?).

***

Di dunia modern. Bisnis dengan “menciptakan ancaman” juga banyak dipakai. Contoh, perusahaan-perusahaan software aktif membuat virus untuk menyerang pemakai komputer. Virus disebar via internet. Lalu mereka menawarkan program Anti Virus tercanggih untuk mengatasi virus-virus itu. Siapa yang buat, siapa yang mengatasi?

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan vaksin dunia sengaja membuat virus penyakit manusia. Virus itu disebarkan di negara-negara berkembang, misalnya berupa virus Flu Burung atau virus Flu Babi. Maka wabah penyakit pun bermunculan. Tanpa menunggu waktu lama, permintaan vaksin anti virus itu segera berdatangan dari penjuru dunia. “Waktu panen sudah tiba, kawan!” kata salah satu manajer pemasaran vaksin itu.

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan senjata kebingungan. Mereka terus produksi senjata, tetapi permintaan terus merosot. Maka mereka pun mengutus agen-agen tertentu untuk membuat adu-domba di Afrika. Mereka harus memantik konflik di Afrika. Setelah beberapa tahun bekerja, konflik berdarah pun terjadi. Maka mereka pun menawarkan produknya kepada suku-suku Afrika itu. “Ini produk terbaru kami. Pengembangan dari versi AK47 dengan ditambah tenaga nuklir dan efek sinar laser,” celoteh penjual senjata dengan segala bumbunya.

Contoh lain. Lembaga-lembaga keuangan dunia bingung untuk mencari debitor (negara pengutang). Maka dicarilah cara agar negara-negara tertentu mau berhutang kepadanya. Kalau mereka berhutang, jelas pintu-pintu kekayaan terbuka lebar di depan mata. Maka lembaga-lembaga itu pun menerbitkan: HASIL SURVE, INDEKS KEMAJUAN EKONOMI, INDEKS KUALITAS HIDUP, dll. Intinya, melalui indeks-indeks itu, negara-negara berkembang ditekan agar merasa rendah diri, merasa miskin, merasa terbelakang, dll. Setelah perasaan putus-asa itu muncul, barulah lembaga-lembaga itu menawarkan paket pinjaman keuangan.

Licik ya… Tapi nyata… Ya, itulah sebagian tingkah manusia…

***

Lalu ada lagi bisnis lain yang sama modusnya. Ini seputar “bisnis keamanan”. Banyak lembaga/instansi keamanan bermunculan. Baik yang resmi atau swasta. Mereka mencari duit juga. Caranya, dengan memberikan: jasa pengamanan situasi.

Untuk sampai ke tahap PANEN, tentu mereka harus menciptakan masalah dulu. Istilahnya, “menciptakan rasa tidak aman”, atau “menciptakan ketidak-amanan”, atau bisa juga disebut “menciptakan suasana terteror”. Masyarakat harus merasakan suasana penuh ketakutan. Kalau tidak begitu, bisnis tidak akan jalan. Namanya juga jasa pengamanan, kalau masyarakat merasa tenang dan nyaman, jelas tidak ada income.

Misalnya, di sebuah negara XYZ. Disana dibentuk sebuah badan, misalnya saja nama badan itu: Instansi untuk Mengatasi Gangguan Keamanan (disingkat IMGK). Badan IMGK ini mendapat biaya operasional dari Pemerintah negara XYZ. Tetapi dengan syarat, badan itu harus jelas kerjanya. Kalau tidak ada kerjanya, ia akan dibubarkan. Itu otomatis. “Buat apa memberi anggaran ke sebuah badan yang tak ada kerjanya?” kata seorang Menteri Keuangan sambil bersungut-sungut.

Para pemimpin di lembaga IMGK itu putar otak. “Gimana nih caranya, agar badan kite tidak dibubarkan? Kita harus mencari cara agar anggaran terus mengucur. Kita harus menciptakan kondisi yang membuat masyarakat membutuhkan keberadaan kita. Apa ya kira-kira?”

***

Hidup di jaman modern memang tidak mudah. Banyak orang sudah keburu hidup dengan standar biaya tinggi. Mereka tidak bisa hidup dengan duit sedikit. Sekali duit merosot, merosot juga kesenangan mereka. Ya maklum, mereka tidak bisa berharap apa-apa lagi; selain kesenangan dunia ini. Mereka sudah yakin akan masuk NERAKA, karena dosa-dosa perbuatan mereka sudah terlampau amat banyak. Dosa darah, dosa nyawa, dosa kemaluan wanita, dosa kepada anak-isteri, dosa kepada agama, dosa kepada masyarakat, dosa kepada Allah Ta’ala. Banyak, banyak sekali.

Mereka terus menekuni bisnis “ala Mafia”. Panduan hidup mereka, buku Mafia Manajer. “Kadang, bisnis menjadi lebih mudah, dengan sedikit tekanan dan todongan pistol,” begitu filosofi dasarnya.

Orang-orang ini sudah tercebur dalam arus kotornya bisnis, dan kejinya usaha. Mereka tidak bisa keluar darinya. Apa yang bisa mereka lakukan, hanyalah menciptakan ancaman, membuat fitnah, menyebarkan onar, lalu ujungnya memanen income. Kasihan sekali memang!

Ya, namanya juga manusia. Makar manusia bisa bagaimana saja. Tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Kuat. Makar mereka pasti akan digulung, dipatahkan, dan dilipat sampai tuntas. Hanya waktu saja yang kita nantikan. “Innallah laa yukhliful mi’aad” (sesungguhnya Allah itu tidak mengingkari janji-Nya). Orang-orang yang berbinis licik itu, pasti akan menangis, meraung, dan menjerit-jerit seperti lolongan srigala. Amin.

Semoga Allah menetapkan kita selalu istiqamah dalam kebaikan, sampai akhir hayat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

Bank Century dan Moralitas Pejabat

Januari 19, 2010

Skandal Bank Century merupakan TRAGEDI BESAR dalam sistem keuangan negara kita. Tentu saja Skandal BLBI masih jauh lebih besar dari skandal Bank Century. Tetapi modusnya sangat mirip. Disini uang negara dengan seenaknya dipakai untuk mem-bailout sebuah bank yang sebenarnya sakit dan kriminal. Alasannya dibuat macam-macam; bahkan pihak-pihak yang bertanggung-jawab, seolah berusaha memainkan “melodi” yang sama. “Bela, dan bela terus bailout Century. Logis gak logis, urusan belakang!” Seolah begitu prinsip yang dianut.

Skandal Bank Century masalah besar dan berat. Selain dana yang dipakai disana mencapai 6,7 Triliun. Modus serupa pernah terjadi dalam jumlah lebih mengerikan pada tahun 1997-1998 lalu. Pelaku utamanya adalah pejabat-pejabat keuangan negara berkolaborasi dengan bankir-bankir kriminal. Jika modus seperti ini tidak dihentikan, alamat hancur masa depan negara ini. Nanti semua pejabat negara dengan seenaknya bisa mengacak-acak keuangan negara. Mereka bisa beralasan, “Sikat dulu duitnya, soal alasan bisa dicari-cari!” Ini sangat mengerikan, sebab menyangkut hidup rakyat Indonesia semua.

Tanggal 13 Januari 2010, Sri Mulyani dipanggil oleh Pansus DPR. Dalam sesi dialog dengan Pansus, Sri Mulyani sangat percaya diri, sebagaimana pembawaannya selama ini. Bu Menteri ini memang termasuk istimewa; smart, percaya diri, karakter suara jelas, dan penampilan selalu simpatik. Sri seolah memiliki manajemen “citra diri” khusus, di luar keahliannya di bidang moneter.

Apa yang disampaikan oleh Sri Mulyani dalam pemeriksaan Pansus, tidak ada yang baru. Dia kembali mengulang-ulang argumen yang sama seperti sebelumnya. Malah Sri Mulyani mengatakan secara verbal, kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak layak diucapkan seorang pejabat negara. Sri mengatakan, bahwa bailout kepada Bank Century tidak merugikan keuangan negara. Malah katanya, LPS untung dengan mengambil-alih Bank Century tersebut.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui, argumen yang dibangun oleh semua pendukung bailout Bank Century, termasuk “pahlawan baru” Christianto Wibisono, kurang lebih sebagai berikut:

“Bank Century harus diselematkan, tidak boleh ditutup. Kalau ditutup, khawatir akan menimbulkan dampak sistemik ke seluruh sistem perbankan nasional. Penutupan Bank Century bisa memicu keresahan seluruh nasabah bank di Indonesia, lalu mereka menarik dananya beramai-ramai dari semua bank tempat mereka menyimpan uang (istilahnya, rush). Kekhawatiran itu beralasan, sebab pada tahun 1997 lalu perbankan Indonesia pernah hancur-lebur, ketika 16 bank nasional ditutup oleh Pemerintah. Perlu diingat, kondisi ketika penutupan Bank Century, Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan, akibat pengaruh Krisis Moneter Global. Data-data moneter, seperti indeks saham, kurs rupiah, likuiditas perbankan, indeks emiten, dll. sudah menunjukkan penurunan. Waktu itu harus dilakukan langkah berani, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional, agar tidak terjadi lagi kehancuran sistem perbankan seperti tahun 1997. Ibaratnya, seperti seseorang yang sakit jantung, perlu tindakan operasi. Di kemudian hari, bisa saja pasien itu merasa sehat, setelah lewat masa kritisnya. Ketika saat kritis, jika tidak dioperasi, dia mungkin sudah mati.”

Sebenarnya malas juga bantah-bantahan seperti ini. Sebab meskipun sudah diberi alasan seperti apapun, para pendukung bailout Bank Century akan tetap membenarkan bailout tersebut. Seperti seorang terdakwa korupsi yang tertangkap basah melakukan tindakan korupsi, dia tetap akan membela diri. Mereka akan beralasan, “Apa gunanya ada penasehat hukum, kalau tidak bisa membela diri?” Sementara di jaman kita ini, “kebenaran hukum” itu bisa diperjual-belikan.

Sedih memang. Hidup di jaman seperti ini serba bergantung kepada uang. Siapa yang memiliki akses keuangan besar, bisa melakukan apa saja. Soal alasan-alasan hukum, itu bisa dicarikan kemudian. “Pokoknya sikat aja dulu. Urusan hukum, nanti dipikirkan,” begitu prinsip yang banyak dianut. Jadi masyarakat sulit mendapatkan cercah kebenaran yang bisa menuntun hidup mereka, sebab kebenaran itu kemudian terkait dengan loyalitas uang. Siapa memberi uang, siapa memberi bonus, siapa yang mengancam karier; akan menjadi sasaran pengabdian hidup.

Disini kita akan coba buka lagi debat “skandal bank”. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan wawasan seputar kasus-kasus perbankan ini. Insya Allah, ada sisi-sisi tambahan pengetahuan dibandingkan perdebatan sebelumnya. Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

[1] Logika Sri Mulyani: “Bailout kepada Bank Century harus dilakukan, kalau tidak akan berdampak sistemik merusak sistem perbankan nasional.”

JAWAB: Ketika Bank Indovert di Belanda dan Bank IFI ditutup pada April 2009, hal itu tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi bank nasional. Padahal semula penutupan itu juga dikhawatirkan akan berdampak sistemik. Perlu disadari nilai Bank Century dalam perbankan nasional hanya sekitar 0,5 % aset bank nasional. Ibaratnya, Bank Century itu seperti jari kaki yang terinfeksi parah dan harus diamputasi. Jika diamputasi, tidak akan membunuh jiwa orang tersebut. Kerugian jelas ada, tetapi tidak akan sampai mematikan seluruh tubuh.

Masalahnya, Sri Mulyani, Boediono, para politisi, dan ekonom pendukung mereka, semuanya mendramatisasikan kasus Bank Century ini. Dramatisasi menjadi metode inti mereka untuk membela diri. Sama saja seperti seseorang yang sakit batuk-batuk, lalu divonis: “Awas, sakitmu ini bisa mematikan. Kamu bisa kena stroke karena batuk-batuk itu!”

Justru analisis yang mengatakan, bahwa Bank Century jika tidak di-bailout, akan membunuh seluruh sistem perbankan nasional, ini mencerminkan suatu kenyataan, betapa rapuhnya fondasi sistem perbankan di Indonesia. Hanya gara-gara bank yang nilainya 0,5 % bisa hancur berantakan. Jika demikian, apa saja kerjaan Bank Indonesia, sehingga struktur perbankan nasional bisa begitu rapuh?

Maka disini muncul pertanyaan, “Apakah para pendukung bailout Century itu sepakat bahwa sistem perbankan nasional begitu rapuh, sehingga hanya digoyang oleh sebuah bank kecil, bisa hancur-berantakan?” Jika mereka mengatakan, “Ya! Perbankan kita memang rapuh!” Nah, kalau keluar pernyataan seperti ini dari mereka, barulah seluruh nasabah bank boleh cemas. Ternyata, mereka menyimpan uang di bank-bank yang sangat rapuh.

Dan satu lagi pertanyaan, “Andaikan dampak sistemik itu ada, berapa nilai pengaruhnya bagi sistem perbankan?” Harus jelas dong! Apakah dampak sistemik itu bisa menghancurkan 100 % perbankan nasional, apakah 50 % perbankan nasional, apakah 10 %, atau 5 %, atau bahkan hanya 0,5 % sesuai nilai Bank Century itu sendiri? Baik Sri, Boed, Christianto “IMF” Wibisono, dll. harus bisa menjawab secara pasti perkiraan dampak sistemik itu.

Mereka bukan “anak SD” yang menempuh kebijakan keuangan negara hanya berdasar perasaan-perasaan. Harus ada parameter kuantitatifnya!

[2] Logika Sri Mulyani: “Tahun 2008 waktu itu ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius, akibat Krisis Moneter dunia. Berbagai parameter makro ekonomi menunjukkan kemerosotan itu. Waktu itu situasinya sulit, banyak usaha gulung tikar, ribuan karyawan di-PHK. Jadi, lihat situasi ketika itu, jangan hanya dilihat situasi sekarang!”

JAWAB: Betul, ketika itu memang situasi ekonomi Indonesia sulit, sebagai dampak Krisis Global. Betul, shahih, sepakat! Justru nilai indeks yang macam-macam itu yang menunjukkan, bahwa ekonomi kita memang sedang tertekan kuat. Ini fakta! Tidak bisa diingkari lagi. Tapi harus dicatat, semua negara mengalami kondisi yang sama. Sekalipun China, juga mengalami tekanan. Permintaan barang ke negara itu merosot, seiring Krisis Global. Eropa apalagi, tekanannya lebih hebat. Jadi, Krisis Global itu suatu fenomena umum, menimpa siapa saja.

Letak kesalahan Sri, Boed, dan kawan-kawan, mereka membela bailout Century dengan “membonceng” isu Krisis Global. Padahal keduanya, dua kasus berbeda, pada domain berbeda. Berbeda wilayahnya, berbeda pula sifatnya.

Bank Century rusak bukan karena Krisis Global, tetapi karena kejahatan keuangan di dalam bank itu sendiri. Bank Century bahkan sudah bermasalah sejak menjadi bank hasil merger. Bank ini sudah dibicarakan sejak lama, jauh-jauh hari sebelum terjadi Krisis Global pada tahun 2008. Tanpa Krisis Global pun, Bank Century sudah sakit. Mengaitkan kasus Century dengan Krisis Global sungguh tidak tepat.

Logika yang ditempuh para pembela bailout Century: “Pertengahan 2008 lalu kondisi ekonomi Indonesia tertekan, akibat Krisis Global. Jika menutup Bank Century ketika itu, khawatir terjadi rush yang akan menghancurkan sistem perbankan nasional. Jadi penyelamatan Bank Century bisa dianggap sebagai patriotisme dalam rangka menyelamatkan sistem bank nasional. Ini bukan kesalahan kebijakan, justru merupakan kepahlawanan yang hebat.”

Tetapi Krisis Global menimpa semua negara, menimpa seluruh sisi kehidupan bangsa Indonesia, bukan hanya sektor perbankan. Bahkan menimpa semua bank, bukan hanya Century. Nah, mengapa di mata Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan KSSK, yang terlihat hanya Bank Century? Ada ribuan entitas nasional, baik berupa bank, institusi, komisi negara, organisasi, lembaga, perusahan bisnis, dan sebagainya. Nah, mengapa yang mendapat perlakuan khusus hanya Bank Century saja, padahal semua pihak terkena dampak Krisis Global?

Tampak jelas ada kecurangan pada pembela bailout Century. Mereka menjadikan alasan Krisis Global untuk membenarkan tindakan bailout, sekalipun tindakan itu sangat tidak logis. Andaikan para pembaca ketika tahun 2008 lalu gagal menikah, atau gagal lulus kuliah, atau gagal menjadi PNS, atau gagal membuat proyek, atau gagal studi ke luar negeri, dll. Apakah atas kegagalan itu, Anda juga akan membuat alasan atas nama Krisis Global? “Maklum ketika itu lagi Krisis Global. Jadi saya mengalami kegagalan.” Begitukah cara berpikirnya? Ini sama dengan “mencuri kesempatan di tengah kesempitan”. Nanti semua penjahat di tahun 2008, mereka bisa membuat alasan yang sama untuk membenarkan kejahatan mereka?

Andaikan bailout Century dianggap sah dan benar, pertanyaannya: “Mengapa dana bailout itu membengkak lebih dari 10 kali lipat?” Semula bailout disepakati Rp. 632 miliar rupiah. Ternyata realisasi Rp. 6,7 triliun rupiah. Membengkak 10 kali lipat (atau 1000 %) menandakan disini terjadi kecurangan besar.

OK-lah, Sri Mulyani dan kawan-kawan boleh beralasan dengan dampak sistemik. Katakanlah, kita terima alasan itu. Tetapi ingat, itu untuk bailout yang nilainya Rp. 632 miliar rupiah. Lalu bagaimana dengan dana bailout yang akhirnya menjadi Rp. 6,7 triliun? Mengapa terjadi pembengkakan 10 kali lipat?

Saya rasa pertanyaan itu semakin mengerucut: “Mengapa dana bailout membengkak dari 632 miliar menjadi 6,7 triliun?” Sebab kasus Bank Century menjadi kasus raksasa, karena alasan 6,7 triliun itu. Andaikan bailout itu hanya 632 miliar rupiah, mungkin masyarakat luas tidak akan terlalu care, meskipun tetap saja ada kemungkinan suara-suara protes. Apalagi BPK sudah membuat analisis, ada penggunaan dana ilegal senilai 2,8 triliun rupiah dalam kasus bailout Bank Century.

Baca entri selengkapnya »