[15]. Puncak Pendakian Seksual

Februari 26, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di antara bentuk kemurahan Allah Ta’ala, saat Dia memberikan anugerah kemampuan seksual kepada manusia. Inilah anugerah besar, sensasi tinggi, dan salah satu “entertainment” terbaik bagi manusia.

Namun banyak manusia salah mengerti. Mereka mengira, nikmat seksual tidak berbeda dengan nikmat makan-minum. “Kalau Anda lapar, tinggal makan. Kalau Anda haus, tinggal minum,” begitu logika mereka. Nikmat makan-minum bisa dicapai secara instan, tetapi nikmat seksual tidak. Ia butuh aneka prosedur untuk sampai pada kenikmatan yang tinggi dan melegakan.

Kalau diumpamakan, nikmat seksual seperti santan kelapa. Semua publik Nusantara tahu apa itu santan kelapa dan apa pula kegunaannya? Ia sangat nikmat dan lezat. Makanan apapun yang disentuh oleh santan kelapa, akan membuatnya gurih dan berwibawa (secara kuliner). Tetapi santan kelapa tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus dipadukan dengan bahan-bahan lain, lalu dimasak dengan proses tertentu, sehingga keluar sensasi lezatnya. Kalau santan kelapa langsung disantap, atau bahkan buah kelapanya yang keras dan tua langsung dikonsumsi; tentu hasilnya tidak enak. Apalagi kalau kelapa itu di-krakoti dari kulitnya, sabutnya, sampai batoknya; bukan kelapa yang kamu dapat, tapi gigimu yang akan rompal.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Nikmat seksual juga seperti itu. Ia sangat excited, sangat fantastic… Tetapi tidak bisa secara instan. Ada sekian prosedur dan proses yang mesti ditempuh, untuk sampai pada sensasi tertinggi. Prosedur itu ialah legalitas hubungan laki-laki dan wanita; dalam bentuk ikatan pernikahan. Tanpa legalitas ini, nilai nikmat seks hanya sedikit yang bisa dicapai; bahkan ia akan meninggalkan banyak risiko (secara sosial, kesehatan, spiritual, psikologis, religiusitas).

Kalau orang salah makan, paling akibatnya tersedak atau batuk-batuk. Tetapi kalau salah “konsumsi seks” akibatnya sangatlah perih. Tampak enak dan sensasional di permukaan, tapi begitu perih dalam keseluruhan kenyataan hidup. Sekedar contoh, dengan melakukan seks ilegal, dengan siapapun, ia akan terekam sangat dalam di memori dan selalu teringat-ingat untuk masa yang panjang.

Seks seperti pedang bermata dua. Satu sisi menghadap ke lawan, sisi lain menghadap ke diri sendiri. Kalau salah mengayunkan pedang ini, musuh tidak terkena, malah diri sendiri bisa terbunuh.

Solusi seks mestilah bersifat legal, tidak ada alternatif lain. Sebab di balik nikmat seks ada fungsi reproduksi. Ketika nikmat seks dirasakan, lalu terjadi pembuahan; maka hasil pembuahan akan membawa risiko sangat panjang, kalau sifat hubungan itu ilegal. Jika legal, mau lahir berapa anak pun, semua pihak akan menerima dan merestui.

Mungkin orang berkata: “Ya seks di zaman sekarang tidak mesti legal. Ilegal juga bisa, asal sama-sama dapat kesenangan.”

Tidak demikian berpikirnya. Salah satu karakter nikmat seks ialah membutuhkan KONTINUITAS. Nah, ini sangat berbeda dan bermakna. Mungkin sekali dua kali seseorang bisa melakukan seks ilegal; tetapi kebutuhan seks manusia bersifat jangka panjang. Manusia tidak bisa hanya menikmati 10 atau 20 kali hubungan seksual, tetapi bisa ribuan kali; karena tabiat seksual itu MELEKAT dengan kehidupan manusia.

Nah, kontinuitas ini yang tidak pernah dibahas oleh para pelaku seks bebas. Mereka selalu berlindung di balik gemerlap citraan atau sensasi yang dibuat-buat. Seks ilegal tidak bisa memberikan kontinuitas tersebut. Cobalah sebutkan siapa master seks ilegal itu? Bisakah dia menjawab seputar kebutuhan kontinuitas ini?

Legalitas adalah syarat mutlak menuju sensasi seksual yang sempurna dan jangka panjang. Disini koridornya ialah MORALITAS. Maka pendakian seksual tak bisa dilepaskan dari aspek moral. Antara seks dan moral, seperti dua bilah sisi pada mata uang logam. Dari paduan seks dan moral itu pula akan lahir manusia-manusia kuat di muka bumi.

Wahai insan, andaikan Anda tidak mendapati buah manis dari kehidupan seksual, bukan berarti solusinya seks ilegal. Tidak demikian, wahai sahabat dan saudara. Solusinya tetap LEGALITAS; tidak ada alternatif lain.

Jika ada masalah-masalah seputar ketidak-mampuan mencapai legalitas ini, jangan salahkan legalitasnya; tetapi salahkan sikap sosial masyarakat yang membuatmu tidak mudah mencapai legalitas. Solusinya, beranilah kalian melawan sikap sosial masyarakat yang membuatmu terkurung, sehingga tidak mudah mencapai legalitas. Capailah legalitas itu dengan semangat revolusi sosial-mu!

Legalitas dalam Islam sangat mudah. Untuk menikah, cukup ada mempelai laki-laki dan wanita, ada persetujuan wali, ada saksi, dan ada ijab kabul. Kalau mampu merayakan, rayakan; kalau tak mampu, sekedar syukuran terbatas juga bisa. Maka berbagai aksesoris sosial yang membuat kesusahan meraih legalitas pernikahan; lawan dan lawan itu! (Seperti semangat perlawanan Anas atas penzhaliman dirinya. He he he….).

Saudaraku…sungguh agama ini telah berbuat baik kepadamu. Agama ini menunjukkan solusi sempurna untuk mencapai seks dengan kualitas sensasi tinggi dan berjangka panjang. Agama ini juga memudahkan dalam urusan proseduralnya. Hanya aksesoris-aksesoris sosial itu yang membuatmu kesulitan mencapai legalitas.

Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah Ar Rahiim. Bila ada salah dan keliru, berhentilah di satu titik, dan jangan lanjutkan kesalahan dan kekeliruan itu. Sekedar salah makan atau minum, paling hanya akan tersedak; tetapi salah seksual akibatnya sangat jauh dan dalam. Janganlah dilanjutkan kekeliruan-kekeliruan itu. Kalian bisa berargumen: “Kesalahanku disini karena memang negaraku tidak memberi bimbingan, penjagaan, dan memudahkan urusan; akhirnya aku terpuruk seperti yang lain. Andai negara punya komitmen, tentu peluang selamat akan lebih besar.”

Aku menyarankan, beranilah kalian melawan aksesoris sosial yang membelenggu itu. Misalnya, biaya resepsi pernikahan, status sosial, status kerja, berbagai fasilitas mapan untuk menikah, dll. Termasuk cibiran soal poligami, nikah sirri, nikah dini, dan lainnya. Semua itu jangan dihiraukan, karena memang bukan esensi dalam kehidupan ini.

Kejarlah harapan untuk mencapai kenikmatan yang indah; dengan memperhitungkan legalitas dan moralitas; jangan menempuh cara instan, sebab itu akan menyusahkan kalian sendiri. Demikian, semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Ad-Mine).

Iklan

Tidak Takut Kepada Allah

Maret 30, 2011

Seperti "Raga Tanpa Jiwa"

Nun disana… ada sebuah partai politik. Menamakan diri partai Islam, bahkan “partai seruan”. Konon, tujuan partai itu, 24 karat, murni, untuk menegakkan Islam di bumi Nusantara.

Dalam perjalanan, partai ini menghadapi aneka masalah; maklum, namanya juga partai politik. Mana ada partai politik yang nihil masalah? Kalau ada yang begitu, pasti bukan parpol, tetapi “parahbur” (partai ahli kubur). Sudah jamak bin lazim, kalau terjun ke dunia politik, pasti panen masalah.

Harusnya, masalah-masalah dihadapi secara Islami, sebab namanya juga partai Islam. Tetapi sayang, manuver-manuver partai itu cenderung menghalalkan segala cara.

===> Saat Pilpres 2004, elit partai itu menerima dana SUAP dari pasangan calon W-SW. Jumlah dana suap Rp. 20 miliar, jumlah yang bisa dipakai mendirikan 20 pesantren dengan asumsi per pesantren Rp. 1 miliar. Partai itu dalam Pilpres 2004 tersebut diminta mendukung nama W-SW. Namun saat Pilpres tidak ada dukungan sama sekali, sebab semua anggota partai dibebaskan mau pilih siapa saja. Jadi, akad suap-menyuap itu tidak mereka jalankan. Anehnya, uang Rp. 20 miliar tidak dikembalikan ke pihak yang memberi suap. Kata orang, “Suara tidak diberikan, tetapi uang tetap dimakan!” Masya Allah, betapa memalukan ya.

===> Masih Pilpres 2004, menjelang Pilpres tahap kedua, partai itu terima lagi uang suap, lebih besar. Nilainya Rp. 34 miliar dari pasangan S-J. Uang ini diterima, setelah sebelumnya mengkhianati pemberian pasangan W-SW. Jadi, “rizki” semakin banyak saja. Uang ini adalah murni suap, sebab secara aturan main Pilpres memang tidak boleh ada sumbangan mengikat dari personal senilai itu. Lagi pula uang itu tidak pernah disiarkan secara terbuka, tetapi sangat tertutup. Padahal di partai itu banyak orang ngerti agama, tetapi kok perilaku begitu ya? Nilai 34 M tentu jumlah besar. Apalagi dalam Pilpres putaran k-2 itu mayoritas suara kaum Muslim akan memilih calon laki-laki, bukan perempuan. Hebat lagi, setelah Pilpres 2004 sukses, partai itu mendapat jatah 4 kursi menteri. Wih wih wih, rasanya “rizki nomplok” banget. Tapi kan semua ini bermula dari cara-cara kotor (SUAP).

===> Saat Pilkada DKI, partai itu terima “mahar politik” dari calon gubernur yang dijagokan, Rp. 40 miliar. Ini lebih besar lagi dari sebelumnya. Apa ada istilah dalam Islam, “mahar politik”? Lagi pula, uang itu diperoleh cari calon gubernur DKI yang notabene seorang mantan pejabat Polri. Kalau dirunut, darimana mantan perwira Polri itu mendapat uang Rp. 40 miliar? Dari gaji kah? Dari bisnis kah? Dari warisan kah? Nah, ini perlu diperjelas. Andai tokoh itu mendapat uang dari gaji resminya sebagai perwira Polri, pasti tidak akan mencapai 40 M, meskipun sudah bekerja siang-malam selama 50 tahun. Dan metode “mahar politik” ini akhirnya dianggap sebagai urusan HALAL di berbagai even Pilkada di Tanah Air. Tidak peduli darimana saja dana “mahar” itu diperoleh.

===> Seorang aktivis dakwah di Bandung , alumni Fikom Unpad, berinisial T pernah bercerita. Tahun 1998, gerakan mahasiswa di Salemba UI dibujuk oleh keluarga Cendana agar tidak demo-demo. Sebagai imbalan, mereka diberi dana 300 juta. Lalu dana itu dikonsultasikan ke senior-senior dakwah. Bagaimana solusinya? Solusinya sangat aneh: “Demo silakan jalan! Uang ambil saja!” Ya Allah ya Karim, kok bisa begitu ya? Kalau mau demo, harusnya kembalikan uang itu. Kalau mau terima duit, ya penuhi syaratnya (tidak demo).

===> Dan lain-lain.

 

Alasan yang sering dikatakan: “Untuk mendapat kemenangan politik, kita butuh duit. Tidak bisa tidak. Tanpa duit, nonsense akan dapat kemenangan. Mustahil!”

Jika demikian, harusnya mereka kaya, kreatif, dan tebal kantong dulu, sebelum memasuki pusaran politik yang keras itu. Jangan masuk gelanggang politik dalam keadaaan fakir-miskin. Nanti akibatnya bisa menjual “iman dan komitmen” hanya karena faktor duit. Dan hal itu kemudian terbukti dengan amat sangat gamblang.

Kalau memang kita tidak mampu bekerja di bidang politik ini, ya sudah bekerja saja di bidang lain. Tidak usah memaksakan diri, lalu menghalalkan yang haram. Kata Dr. Daud Rasyid, “Jangan terjerumus sikap takalluf politik!” Karena miskin dan kere, sementara politik butuh banyak dana, akhirnya menghalalkan segala cara. Ini membuktikan bahwa kalangan itu belum mampu masuk ke kancah politik.

Allah Ta’ala tidak membebani kita dengan beban berat, kalau memang kita tak sanggup. Siapa yang memaksakan diri, pasti akan dihukum oleh sikap ketergesa-gesaannya itu.

Saat bicara seperti ini, kita bukan bicara politik, tetapi soal MORALITAS. Mengapa di kalangan orang-orang yang mengklaim sebagai aktivis Islam, aktivis dakwah, ustadz, ulama, lulusan Timur Tengah, murabbi, pembela Ummat, mujahid, dll. harus muncul perbuatan-perbuatan nista seperti di atas? Seharusnya, sebagai orang berilmu, mereka bisa memberikan contoh yang mulia; seharusnya mereka memperlihatkan komitmen moral yang tinggi; seharusnya mereka lebih cemburu atas  pelanggaran-pelanggaran Syariat Islam. Minimal, sebagai manusia berakal, mereka bisa lebih memiliki RASA MALU.

Kalau komitmen moral itu tidak ada, lalu apa bedanya kita dengan manusia-manusia yang zhalim, koruptor, politisi busuk, pengkhianat bangsa, pemimpin tirani, diktator, dan lainnya? Jelas, tidak ada bedanya. Bedanya hanya NASIB saja. Para koruptor lebih dulu mendapatkan duit, sedangkan mereka lebih belakangan. Kalau koruptor mendapat duit dengan modus-modus penipuan tulen; kalau para ahli agama, mereka menipu masyarakat dengan dalil-dalil Kitabullah dan As Sunnah.

Ini bukan soal politik, tetapi MORALITAS. Manusia yang istiqamah tidak silau dengan kemenangan dekat yang gilang-gemilang, tetapi dengan resiko kelak mendapat kekalahan abadi di Hari Kiamat. Kalau manusia-manusia amoral justru sudah tidak memiliki obsesi lagi tentang Hari Kiamat. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan: “Sudah deh, jangan munafik lah. Kita ini sudah bejat. Kami bejat, Anda bejat, mereka bejat. Kita semua bejat. Negara ini juga bejat. Jadi, mari kita berlomba-lomba dalam kebejatan. Sudahlah jangan munafik. Anda doyan duit, cewek, dan popularitas kan?”

Ya, begitulah karakter manusia yang sudah TAMAT, sebelum hari kematian mereka diumumkan di koran-koran. Mereka sudah habis. Mereka berjalan-jalan di muka bumi, seperti “raga tanpa jiwa” (meminjam kalimat dari sebuah kelompok nasyid Jihad yang sekarang sudah lebay).

Kunci persoalan sederhana, yaitu: Bermain-main dengan ayat Allah dan sudah tak ada rasa takut kepada-Nya. Tentu saja, ini adalah perniagaan yang sangat merugi. Jika kini, baru sedikit kerugian yang menimpa, maka kelak akan terbuka apa-apa yang dijanjikan.

Cukuplah ayat ini sebagai peringatan bagi siapa yang menginginkannya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui“. (Al Anfal: 27).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.