Munarman Vs Thamrin Tamagola

Juni 28, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Publik Nusantara kembali geger. Kali ini isunya tentang Saudara Munarman, Jubir FPI, menyiramkan air ke muka Thamrin Tamagola, saat diskusi tentang sweeping menjelang Ramadhan, di TVOne.

Dalam kasus begini, biasanya publik akan terbelah menjadi barisan PRO dan KONTRA. Pihak pro merasa sangat senang, bahagia, dan mendukung aksi Munarman. Pihak kontra segera mengecam, menyalahkan, menyesalkan, menyayangkan, atau menuduh dengan serentetan tuduhan terhadap sosok Munarman (pelaku penyiraman).

Orang Begini Disebut Sosiolog? Kok Bisa.

Orang Begini Disebut Sosiolog? Kok Bisa.

Oh ya, sebelum kesana. Kita sedikit bicara tentang Thamrin Tamagola. Orang ini sudah terlibat dalam isu nasional, sejak era Konflik Ambon, tahun 1999 lalu. Ada yang menyebutnya pro Islam, ada juga yang menyebutnya mengecilkan konflik SARA di Ambon. Intinya, nama dia mulai dikenal sejak itu, tapi positioning-nya belum jelas.

Di kemudian hari Thamrin banyak berkomentar yang menyudutkan para aktivis Islam, khususnya FPI. Saya masih ingat ketika mencuat kasus video porno Ariel Peterpan. Di situ Si Thamrin ini mengklaim bahwa video semacam itu tak masalah. Dia mengaku, sewaktu mahasiswa juga sering nonton video begituan. Itu dia katakan, sambil tertawa-tawa.

Jujur saja, saya merasa tidak nyaman membaca status Thamrin Tamagola sebagai seorang SOSIOLOG, apalagi guru besar Sosiologi UI. Rasanya aneh, sangat aneh, ada Sosiolog tingkah lakunya seperti itu. Namanya juga Sosiolog, mestinya sangat paham Sosiologi masyarakat. Paham suasana kebatinan masyarakat, karakter, dan kebiasaannya. Paham budaya masyarakat, paham watak dan pembawaan mereka.

Tapi sungguh aneh “Si Sosiolog” satu ini. Kalau ngomong asal nyablak, main ketawa-ketiwi gak karuan,  tak segan-segan menyakiti hati komunitas masyarakat. Salah satunya, dia dengan seenaknya menyebut masyarakat adat Dayak biasa melakukan hubungan seks bebas. Bahkan saat dia membela video Ariel Peterpan dan ngaku saat mahasiswa suka nonton film BF; aku pikir orang ini lebih tepat disebut SEKSOLOG, bukan Sosiolog.

Menurutku, sosok Sosiolog yang tepat, proporsional, atau setidaknya lebih bijak itu seperti Imam B. Prasodjo itu lho. Dia layak disebut Sosiolog. Cara bicaranya kalem, analisisnya kena, perspektifnya juga ada. Bukan kayak semodel Si Thamrin Seksolog, eh maaf maksudnya Sosiolog itu.

Malu malulah UI punya pakar seperti dia. Dia itu sama sekali tak mewakili gambaran Sosiolog teoritik, apalagi praktik. Mestinya, Si Thamrin ini dilengserkan gelarnya, karena tidak sesuai antara ilmu dan kelakuannya.

Oh ya…kok jadi kemana-mana ya. Maaf, maaf. Kembali ke monitor…. Balik ke topik semula.

Saat Munarman menyiram air ke muka Thamrin Tamagola, untungnya itu air putih. Kalau kopi atau teh, atau cappucino bagaimana? Tentu akan lebih parah lagi.

Mungkin saat diskusi sedang berlangsung, Munarman merasa mencium bau yang kurang sedap. Bisa jadi hidung Munarman sangat peka mencium keringat orang yang belum mandi. Mungkin lho ya. Lalu dia ada ide “memandikan” seseorang secara instan. Bisa jadi ketika itu ada kata-kata “mandi dulu ya”, tapi mungkin -karena ada konspirasi- jadi kata-kata itu tak terdengar di media. Mungkin lho ya… 🙂

Kalau melihat kondisi Thamrin Tamagola itu, kita jadi teringat kejadian lebih besar, ketika George Bush dilempar sepatu oleh seorang wartawan, di Irak. Publik dunia menyayangkan kejadian itu, tapi lebih banyak yang mendukung dan bersyukur. Kenapa? Ya karena sosok George Bush sangat-sangat memuakkan dunia. Dia pantas dihinakan seperti itu.

Tapi disini saya tak mau terjebak dalam sikap PRO atau KONTRA. Saya hanya ingin mengingatkan sesuatu. Sikap Munarman yang nekad menyiram air itu bisa menjadi semacam warning, bahwa masyarakat mulai muak dengan cara-cara formalitas, yang kelihatan sopan-santun, penuh etika; padahal sejatinya busuk, penuh kemunafikan, penuh kebobrokan. Nah, ekspresi spontan, terang-terangan, atau katakanlah main fisik, seperti menjadi antitessa dari segala bentuk wajah kemunafikan selama ini.

Hal ini menjadi warning bagi kita semua. Lihatlah kasus-kasus kekerasan di Tanah Air! Betapa masyarakat mulai tidak puas dengan cara-cara lunak, sopan-santun, formalitas, penuh etika. Mereka mulai ekspresikan sikapnya secara spontan, terbuka, terang-terangan, tanpa segan.

Maka bagi para pemimpin, elit politik, pesohor media, dan seterusnya, mereka harus hati-hati. Tindakan spontan dan fisik, bisa terjadi kapan saja. Bisa-bisa sepatu melayang, kursi melayang, atau cara lain semodel “hayo mandi dulu”.

Hati-hatilah! Ini sekedar mengingatkan! Terimakasih!

Mine.

Iklan

Seorang Munarman…

Juni 9, 2008

Ada rasa sedih, prihatin, bercampur bangga, jika berbicara tentang Pak Munarman. Prihatin dan sedih, beliau masuk DPO (Daftar Pencarian Orang), atau bahasa “gaulnya” menjadi buronan, seperti Noordin M. Top dan dr. Azahari dulu. Sedih, sedih sekali… Piye tho Mas, perjalanan kok sampai disini?

Tapi, ada rasa bangga juga… Masya Allah, seorang Munarman sedemikian rupa pengorbanannya dalam membela Islam dan kepentingan kaum Muslimin. Ya Rabbi, kalau ingat siapa dia dulu, rasanya mustahil Pak Munarman akan menjadi seperti ini. Tapi itulah, ketika Allah telah menakdirkan, segala sesuatu yang tampak mustahil akan terjadi juga. Baca entri selengkapnya »