Sikap Musdah dan Umi Kultsum!

Mei 31, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada berita menarik di eramuslim.com, tentang diskusi yang menghadirkan Musdah Mulia, di Makassar. Dalam debat itu Musdah dicecar oleh para mahasiswi Makassar dengan aneka gugatan. Beritanya bisa dibaca di artikel-artikel berikut ini: Musdah Ancam Mahasiswi Dipidanakan, Musdah Adalah Orang Amerika).

Intinya, Musdah merasa marah dan ingin menggugat mahasiswi yang bernama Umi Kultsum itu. Katanya, akan diadukan lantaran alasan pencemaran nama baik. Allahu Akbar, sebegitukah kualitas nalar Musdah?

Coba Anda perhatikan…

PERTAMA. Namanya forum diskusi, forum seminar, dan sebagainya. Jadi wajar saja ada yang menghujat, menggugat, protes, dan sebagainya. Wong, memang forumnya kondusif untuk itu. Kecuali kalau mahasiswi itu bicara di media, dia menjelek-jelekkan Musdah tanpa alasan. Itu baru bisa dipidanakan!

Betapa memprihatinkan nalar Musdah ini ketika hendak mengadukan seorang mahasiswi ke polisi karena pencemaran nama baik. Padahal forum yang ada disana forum diskusi, forum debat ilmiah. Apa Musdah tidak memahami istilah “kebebasan mimbar” di perguruan tinggi? Lalu, apa gunanya dong dia menyandang gelar profesor?

KEDUA. Musdah merasa dirinya dicemarkan nama baiknya oleh mahasiswi bernama Umi Kultsum itu. Lalu perhatikan ucapan Si Mudah yang saya kutip dari artikel di atas: “Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang.”

Lihat kalimat yang di-bold di atas. Musdah katanya merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, dia mencemarkan nama baik media Sabili dan Suara Islam. Kedua media disebut, “Bukan bacaan kaum intelektual.” Mungkin maksud Musdah, yang disebut bacaan kaum intelektual itu adalah teori-teori Liberal yang dia anut selama ini. [Yang begini sih bukan intelektual, Musdah. Tetapi “lakum dinukum wa liya din”].

Lihatlah dengan jeli, satu sisi merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, mencemarkan nama baik media-media Islam. Allahu Akbar!

KETIGA. Sangat memprihatinkan, Musdah hendak menuntut seorang mahasiswi karena melakukan pencemaran nama baik. Mahasiswi itu siapa, dan Musdah siapa? Apakah sebanding Musdah ingin mengadukan mahasiswi yang tentu saja masih sangat belia itu? Apakah Musdah begitu protektif, begitu otoriter, begitu paranoid?

Lalu bagaimana dengan klaim dia selama ini, bahwa dirinya kaum intelektual, maju, dewasa, bijak, terbuka, moderat, dll. Mana bukti ucapan itu? Mana bukti kedewasaan pemikiran Musdah ketika berhadapan dengan “anak kecil”, seorang mahasiswi Makassar itu? Sangat memilukan!!!

Akhirul kalam, kami sangat mendukung dilakukannya koreksi-koreksi kritis terhadap pemikiran kaum LIBERAL ini. Mereka merupakan tantangan yang nyata bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Islam. Pembelaan terhadap ajaran Islam dari serangan pemikiran oleh kaum Liberal dan orientalis, merupakan  bagian dari JIHAD membela agama Allah Ta’ala.

Semoga Umi Kultsum tetap istiqamah dan tegar. Jangan galau oleh tekanan-tekanan. Dan semoga Prof. Musdah bisa menunjukkan bukti kedewasaan dan keintelektualan sikapnya. Berteori atau pencitraan, mudah. Tetapi bukti riil di lapangan kehidupan, tidak mudah Bu!

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.


Musdah dan Si Bento

Februari 19, 2010

Senyum Musdah untuk orang kafir & kekafiran.

Di kampung, kami mengenal sebuah istilah unik, bento. Bento ini merupakan ungkapan yang dipakai untuk menyebut seseorang yang bodoh parah, tetapi juga ngeyel. Tidak sadar dirinya bodoh, dan ingin memaksakan kebodohannya kepada orang-orang di sekitarnya. Dalam banyak hal, saya melihat “sindrom bento” ini telah menimpa Musdah Mulia, seorang mufti agama Liberal sekaligus guru besar UIN Jakarta.

Dalam diskusi bersama Dr. Adian Husaini di MetroTV tadi malam (18 Februari 2010), dengan presenter Indra Maulana, sangat tampak ciri-ciri kebentoan wanita satu ini. Dalam diskusi seputar “Kontroversi Nikah Sirri”, banyak pandangan-pandangan Musdah yang dibantah Ustadz Adian. Tetapi ya itu tadi, karena memang bento, maka dia tetap ngeyel dengan segala kesesatan pikirnya.

Disini kita akan bahas tentang beberapa bentuk KECURANGAN pemikiran yang dilontarkan oleh Musdah. Sepertinya, di mata Musdah dan kawan-kawan, menjadi “pelacur pemikiran” adalah sah-sah saja, sebagaimana mereka tidak keberatan ada manusia menjadi pelacur (WTS).

[A] Logika yang selalu diulang-ulang oleh Musdah adalah, pelarangan nikah Sirri (nikah agama) semata demi menjaga hak-hak kaum isteri dan anak-anak. Tetapi yakinlah, semua ini hanya omong kosong Musdah dan para sekutunya dalam kesesatan (dan keterkutukan). Mereka it omong kosong, berlagak menjadi pembela kaum isteri dan anak-anak. Padahal tujuan sejati mereka, adalah merusak moralitas masyarakat. Apa buktinya kalau mereka hanya omong kosong? Mudah sekali. Sekarang lihatlah apa yang dilakukan oleh Musdah dan kawan-kawan terhadap para ibu dan anak-anak di Indonesia. Jangan yang nikah Sirri, yang nikah baik-baik saja, yang nikah di KUA, dengan memperoleh buku akta nikah. Coba apa yang sudah dilakukan Musdah terhadap penderitaan kaum isteri dan anak-anak, dari pernikahan legal di KUA! Apa yang sudah dia lakukan? Nothing. Demi Allah, alasan membela kaum isteri dan anak-anak itu, hanyalah omong kosong belaka.

[B] Berkali-kali Musdah ditanya oleh Ustadz Adian tentang orang yang zina, kumpul kebo, melacur, tetapi tidak dipenjara, mengapa yang menikah baik-baik hendak dipenjara? Dan Musdah tidak bisa berkata apa-apa, selain memalingkan pembicaraan ke masalah-masalah lain. Saya menyarankan, kalau nanti benar-benar ada pelaku nikah agama yang dipenjarakan oleh negara, silakan para keluarganya menggugat Musdah dan kawan-kawan itu. Kalau tidak mampu menggugat, doakan Musdah Cs dan keluarga mereka, agar mereka dikutuk oleh Allah Ta’ala, karena telah melakukan sesuatu yang menyengsarakan kehidupan kaum Muslimin.

[C] Adalah sebuah kebohongan besar yang dilontarkan oleh Musdah -semoga Allah merusak kehidupannya dan menerlantarkan keluarganya- ketika dia mengatakan, bahwa UU yang melarang nikah Sirri (nikah agama) sangat dibutuhkan untuk melindungi hak-hak kaum isteri dan anak-anak. Dia beralasan, bahwa di seluruh dunia Islam ada pencatatan pernikahan. Ya memang, pencatatan nikah itu perlu untk tertib administrasi. Hal ini tidak dibantah. Tetapi memidanakan pelaku nikah agama adalah KEZHALIMAN besar terhadap kaum Muslimin. Mana di Dunia Islam yang memidanakan pelaku pernikahan agama? (Musdah hanya menyebutkan satu negara, Yordania). Sungguh, perlindungan terhadap nasib para isteri dan anak-anak itu tidak bisa hanya dengan buku nikah atau sertifikat KUA. Fakta sosial selama ini bicara, bahwa ada ratusan ribu atau jutaan kasus pelanggaran hak-hak isteri dan anak, terjadi pada rumah-tangga yang menikah baik-baik di KUA. Kartu nikah itu tak bisa mencegah manusia berbuat zhalim, jika memang moralitas pemegang kartu nikah itu buruk.

[D] Dampak terbesar dari dari UU yang memidanakan nikah Sirri adalah kehancuran moral masyarakat. Analisisnya sebagai berikut: (1) Tidak semua generasi muda dimudahkan untuk menikah di KUA, dengan segala piranti administrasi dan biayanya. Kalau mereka tak sanggup menikah secara resmi, kemungkinan mereka akan memilih seks bebas atau melacur. Ini sama saja dengan merusak moral mereka; (2) Kalau menikah secara sah sulit, kemungkinan banyak orang akan memilih kumpul kebo. Mereka berpikir, “Daripada menikah tetapi dipidanakan, sekalian saja tidak usah menikah, tapi kumpul kebo. Lebih enak, tidak dipidanakan;” (3) Dengan larangan nikah Sirri, pasti orang kesulitan melakukan poligami. Akibatnya, akan banyak perzinahan, selingkuh, isteri simpanan, dan lain-lain; (4) Bahaya yang sangat mengerikan, ketika masyarakat saling mengadukan pelaku nikah Sirri ke polisi. Ini bisa menyebabkan kekacauan kehidupan sosial yang besar. Dendam, permusuhan, konflik, pasti akan marak dimana-mana; (5) Jika nikah Sirri dilarang, maka yang akan bersorak-sorak gembira adalah industri seks, industri pelacuran, industri pornografi, industri homoseks, dan seterusnya. (Saya khawatir, Musdah memiliki salah satu industri itu, sebab dia pernah mengeluarkan fatwa yang membolehkan homoseks dan lesbian. Perlu dilakukan penyelidikan, untuk mengetahui apakah Musdah memiliki bisnis esek-esek).

[E] Sebuah pertanyaan besar perlu diajukan kepada siapa saja yang berniat memidanakan pelaku nikah Sirri (nikah agama) dan mendukung ide tersebut. Pertanyaan ini juga diajukan kepada Mahfudh MD, seorang mantan Ketua MK, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Ana Muawanah dari Fraksi PKB, dan semua orang sejenis. Pertanyaannya: “Apakah adanya buku nikah menjamin terpeliharanya hak-hak sosial isteri dan anak-anak?” Coba mereka jawab pertanyaan ini sejujur-jujurnya, tidak usah banyak omong. Atau dengan kalimat lain, “Apakah setiap rumah-tangga yang telah memiliki buku nikah KUA, hak-hak isteri dan anak-anak di dalamnya terjamin dengan baik, sebagaimana yang diinginkan oleh UU?” Coba Mahfudh MD, Ketua MK saat ini, ikut menjawab pertanyaan ini! Begitu pula, apakah keluarga yang tidak memiliki buku nikah terbukti secara mutlak zhalim kepada isteri dan anak-anaknya?

[F] Sungguh, ini adalah penghujatan besar kepada Syariat Islam. Orang-orang dungu seperti Musdah mulia dan kawan-kawan hendak memidanakan pelaku nikah agama. Padahal dalam Islam, hukum asal pernikahan itu tanpa pencatatan. Nabi Saw, para Shahabat Ra, para imam kaum Muslimin, dan seterusnya, mereka menikah secara Syariat dan tidak dilakukan pencatatan di KUA. Apakah dengan demikian, Musdah dan kawan-kawan, akan mengatakan, bahwa Nabi Saw dan para Shahabat Ra, layak dipidanakan? Allahu Akbar!

Dan terakhir, saya sangat terkesan ketika Musdah mengatakan, “Saya, sebagai seorang Muslim.” Ya Allah ya Rabbi, Musdah mengaku dirinya Muslim. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Mungkin KTP dia tertulis Islam, tetapi iman itu telah keluar dari hatinya. Dia memakai kerudung untuk menunjukkan dirinya Muslim, padahal segala perbuatan dan pemikirannya, telah mengingkari status keislamannya. Musdah Mulia, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Dawam Rahardjo, dan kawan-kawan; mereka semua ini bukan Muslim, sama sekali bukan Muslim. Mereka ini para penghujat Islam, sehingga statusnya bukan Muslim lagi.

Sebagai Muslim, kita dilarang untuk mengucapkan salam, menikahi atau menikahkan, mempercayai, menyalati mereka ketika mati. Sama sekali dilarang. Wong, orang-orang itu bukan Muslim kok. Hati-hati dari menyebut mereka sebagai Muslim, sebagai ulama, sebagai cendekiawan Muslim. Tidak, tidak sama sekali!

Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, serta menjaga agama ini dari penodaan orang-orang kafir yang memakai pakaian Islam. Semoga Allah menimpakan balasan yang 1000 kali lebih pedih kepada para penghujat Islam, setiap mereka melakukan hujatan. Allahumma amin ya Karim ya Aziz. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Musdah Mulia dan Nikah Beda Agama

Oktober 11, 2008

Pengantar

Akhir-akhir ini sangat banyak masalah yang dihadapi Ummat Islam Indonesia. Selesai satu persoalan, segera muncul persoalan-persoalan lain. Sementara respon kita atas masalah-masalah itu rata-rata lambat, lemah, dan sporadis. Saat suara kalangan Islam phobia bisa berpengaruh kuat mengarahkan kebijakan publik, maka suara dakwah Islam terdengar sangat lemah. Hal semacam ini terjadi berulang kali menyebabkan kekalahan-kekalahan di berbagai medan pertarungan pemikiran melawan ideologi-ideologi sekuler. Pada gilirannya nanti, kekalahan itu semakin terakumulasi, meresap dalam, mengkristal, dan akhirnya terstrukturisasi dalam bentuk kekalahan peradaban. Di titik itu, seruan-seruan para dai seperti “angin yang membentur karang”, tidak didengar, tidak dihargai, hanya diacuhkan saja.

Saat kita merasa sepele atas serangan-serangan yang terus dilancarkan kalangan Islam phobia (apapun ideologi mereka); atau kita terlalu paranoid sehingga tidak berani berbuat apapun, meskipun sekedar bersuara; atau kita selalu berlindung di balik alasan “sekarang belum waktunya”; sebenarnya saat itu kita sedang bersungguh-sungguh menggali kekalahan Islam, sedalam-dalamnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Lihatlah, betapa kreatifnya para pemuda Islam saat mencari alasan, hujjah, atau dalil untuk menghindari resiko perjuangan. Mereka terus mencari-cari udzur (alasan pembenar), bahkan udzur yang sangat mustahil sekalipun; pada saat yang sama mereka mencela para munafikin Madinah yang selalu meminta udzur kepada Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Saat ini, kegemilangan Islam hanya tinggal retorika saja, tanpa wujud dan eksistensi. Memalukan memang; tetapi apalah artinya rasa malu ketika kita telah terbiasa menikmati hidup tanpa perasaan itu, dimanapun dan kapanpun. Allahu Akbar, walillahil hamdu.

Ya Allah, kuatkanlah diri kami, luaskanlah rahmat-Mu, lindungi kami dari kezhaliman musuh-Mu. Semata kepada-Mu kami menghiba dan mengadukan kemalangan diri. Ya Allah, tidak ada yang sia-sia dalam kesungguhan, kepedulian, dan pengorbanan, sebab Engkau tidak menyalahi janji. Rahmati kami ya Rahmaan ya Rahiim. Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »