Agar Negeri Muslim Tidak Dikuasai Syiah…

Maret 25, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya dalam teologi Syiah klasik, mereka menjauhi politik, birokrasi, dan perang. Bahkan aslinya Syiah itu tidak agressif seperti gerakan Zending Kristiani. Tapi sejak Revolusi Khomeini 1979, Syiah berubah. Mereka jadi agressif, ofensif, sangat berambisi terhadap kekuasaan. Awalnya, teologi Syiah bersifat PASIF, menanti kedatangan Al Mahdi Al Muntazhar. Tapi sejak Khomeini bergerak, Syiah (Imamiyah) menjadi bahaya bagi seluruh negeri Muslim Sunni.

Pertanyaannya, mengapa?

Syiah menjadi agressif karena ideologi mereka dimasuki pemikiran-pemikiran Pan Syiahisasi. Makna gerakan ini kurang lebih adalah: Khomeini menjadi simbol agama dan spiritual kaum Syiah Imamiyah, kemudian ditumpangi pemikiran anti Islam yang dikembangkan Barat (Amerika-Eropa). Singkat kata, Barat masih trauma kepada kaum Muslimin terkait Perang Salib masa lalu dan perang kemerdekaan di berbagai negeri Muslim. Untuk itu, mereka meminjam tangan-tangan Syiah untuk memukul kaum Muslimin (Ahlus Sunnah Wal Jamaah).

Berbuat untuk Menolong Bangsa dan Umat.

Berbuat untuk Menolong Bangsa dan Umat.

Bagi Barat, Syiah Imamiyah lebih baik daripada Islam, karena: (a). Ajaran-ajaran Syiah Imamiyah bersifat antagonis terhadap dasar-dasar akidah dan Syariat Islam. Tanpa ada Syiah pun, Barat harus membentuk disiplin ORIENTALISME dan ISLAM LIBERAL, dalam rangka menggembosi akidah Islam; (b). Secara historis, pasukan Salib Eropa sering kerjasama dengan Syiah, di masa lalu, untuk menghantam Islam. Bahkan Syiah tak segan kolaborasi dengan Tatar Mongol untuk menghancurkan Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Di mata Barat, berlaku prinsip: “Lawan musuhmu adalah kawanmu!” Lawan dari Syiah adalah kaum Muslimin. Maka Syiah menjadi teman bagi Barat untuk merealisasikan missi kolonialisasi dan eksploitasi mereka di tengah negeri-negeri Muslim.

Adanya gerakan Syiah yang agressif, offensif, dan provokatif, jangan merasa heran, terkejut, atau bimbang. Hal semacam itu sudah menjadi missi asli, sebelum Barat mendukung Revolusi Khomeini 1979. Sejak era Khomeini, maka tidak ada satu pun negeri Muslim yang ditinggalkan oleh Syiah. Mereka terus berusaha masuk, menyusup, berpengaruh, lalu menguasai. Kalau sudah berkuasa, pasti mereka akan KOLABORASI dengan kekuatan Barat (Amerika-Eropa). Itu pasti.

Ingat, sejak muda Khomeini tinggal di Paris, Perancis. Setelah janggutnya memutih, dia baru pulang ke Iran. Secara politik, intelektual, kepribadian, Khomeini disiapkan di Paris. Siapa yang menyiapkan? Ya anasir-anasir Barat itu. Mana mungkin semua jasa Barat ini gratis. Tidak mungkinlah. Bisa dikatakan, 70 % dari keberhasilan Revolusi Syiah 1979 adalah hasil kerja missi politik Barat. Kaum Syiah tahu itu. Maka mereka pun “berhutang budi” untuk membalas jasa-jasa Barat.

Syiah sejatinya adalah agen-agen kolonialisme Barat juga. Selain orientalis, kaum Liberal, kaum hedonis, media sekuler, para dai Syiah juga masuk bagian missi kolonialisme ini. Di mana Barat ingin menaklukkan sebuah negeri Muslim, mereka akan fasilitasi Syiah masuk ke dalam negeri itu. FAKTA BESAR yang harus Anda tahu semua: PBB, Amerika, dan Uni Eropa tidak memasukkan gerakan Syiah ke dalam tuduhan terorisme. Nah, kenapa bisa begini? Kalau pun Hizbula Libanon dimasukkan daftar teroris, karena mereka pernah beberapa kali menyerang Israel lewat tembakan mortir.

Jadi, negeri Muslim seperti kita, jangan pernah bermimpi akan bebas sama sekali dari gerakan Syiah. Ya itu tadi, Syiah sudah satu paket dengan missi kolonialisme Barat. Apalagi Indonesia memiliki kekayaan alam (negara) sangat besar.

Lalu, apa saja yang mesti harus terus kita adakan, agar negeri Muslim seperti kita ini bisa aman atau IMUN dari invasi Syiah yang sejak lama ingin menguasai dan mendominsasi?

Setidaknya ada 5 langkah strategis yang mesti kita lakukan, yaitu sebagai berikut:

[1]. Terus hidupkan pengajaran ilmu-ilmu agama, seperti Tajwid, bahasa Arab, Ilmu Al Qur’an, Ilmu Hadits, Tafsir, Fiqih, Tauhid, Akidah, Akhlak, Sirah Nabawiyah, Muamalah, dan sebagainya. Terus hidupkan ilmu-ilmu ini. Ia seperti mata air cahaya yang akan menerangi kehidupan insan. Jangan sampai kita tinggalkan mengajarkan ilmu-ilmu ini. Bagi yang tak mendapat guru, belilah buku-buku keislaman, dan baca, pahami, amalkan. Kesesatan manusia yang akhirnya terjerumus dalam Syiah, karena mereka jahil (gelap) dari ilmu agama.

[2]. Terus hidupkan pelajaran, pengajaran, hikmah, ceramah, taushiyah, kuliah tujuh menit, dengan materi KEUTAMAAN PARA SHAHABAT Radhiyallahu ‘Anhum. Ini sangat penting. Ajarkan kemuliaan Isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para Shahabat yang dijamin masuk surga, para Ahli Badar, para Muhajirin, para Anshar Radhiyallahu ‘Anhum jami’an. Ajarkan semua itu, ceritakan semua itu, teladankan kepada anak-anak kita. Pengajaran ini akan menjadi BENTENG HEBAT untuk mematikan dakwah Syiah secara alamiah. Insya Allah.

[3]. Ajarkan secara rutin, kontinu, berkesinambungan tentang HADITS NABI SAW. Ini sangat penting. Perkara yang sangat besar, bahwa kita disebut Ahlus Sunnah (bukan Syiah) karena kita selalu ISTIQAMAH dengan hadits-hadits Nabi tersebut. Umat ini akan runtuh, Ahlus Sunnah akan kalah, kalau kita lupa mengajarkan hadits-hadits Nabi SAW. Setiap keluarga Muslim sangat disarankan memiliki kitab-kitab hadits, seperti Riyadhus Shalihin, Bulughul Maram, Shahih Bukhari, atau Shahih Muslim. Lalu bacakan hadits-hadits ini secara rutin kepada keluarga. Bacakan saja. Tak usah penafsiran. Kalau ada masalah-masalah pemahaman, tanyakan kepada ustadz yang ahli.

[4]. Kita harus komitmen untuk memuliakan kaum wanita Muslimah. Menyuruh mereka memakai jilbab, berbusana Muslimah. Muliakan mereka, jaga mereka, terus bentengi mereka dari akhlak tercela dan pergaulan buruk. Mengapa hal ini kita lakukan? Karena Syiah terkenal dalam melecehkan wanita, merendahkan wanita, mengeksploitasi wanita. Maka itu, jaga dan pelihara baik-baik kaum wanita Muslimah, hal itu akan membentengi Umat dari kaum Syiah Rafidhah.

[5]. Dan hendaknya kita selalu berdoa kepada Allah, doa yang bunyinya sebagai berikut: Rob-bana ighfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquuna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Robbana innaka ra’ufur rahiim (wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dulu beriman dari kami, dan jangan adakan di hati kami kedengkian kepada orang-orang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Santun lagi Maha Penyayang). Faidah doa ini, selain berupa ampunan dan kesiapan bersatu dengan sesama Muslim, ia juga akan mengikatkan kita dengan para pendahulu Umat yang saleh, terutama para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. Dengan demikian, kita selalu berada dalam hubungan baik dengan para Pendahulu (Salafus Saleh), bukan seperti Syiah.

Lakukanlah hal-hal seperti di atas, sebagai bentuk tanggung-jawab untuk menjaga kaum Muslimin dari invasi Syiah dan kolonialisme Barat. Jika hal-hal demikian selalu kita hidupkan, insya Allah negeri kita akan sulit untuk ditaklukkan Syiah. Namun bila hal-hal di atas sudah krisis dari negeri ini, wallahu a’lam wa nas’alu ilaihil ‘afiyah lana wa lakum wa li sa’iril Muslimin. (Amin).

Demikian, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Bencana Alam di Negeri Muslim

November 22, 2010

PERTANYAAN:

“Kalau benar bencana alam itu terjadi karena dosa-dosa manusia, mengapa di negeri Muslim seperti Indonesia ini sering terjadi bencana alam? Mengapa negeri-negeri kafir justru jarang tertimpa bencana alam? Mohon dijelaskan!”

JAWABAN:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

[1] Bencana alam terjadi di berbagai negara, baik yang Muslim atau negara non Muslim. Contoh, di Jepang kerap terjadi gempa bumi, di China kerap terjadi banjir; di India, Srilangka, Filipina juga terjadi banjir. Di Yunani, Fuji, dan Iran juga terjadi gempa bumi. Di Amerika ada badai Catherina, badai Rita, badai Tornado, banjir, dan juga hawa panas menyengat. Belum lagi bencana seperti gunung meletus, tanah longsor, salju longsor, kebakaran hutan, dll. Jadi bencana alam tidak melulu di negeri-negeri Islam, di negeri non Muslim juga sering.

[2] Landasan pokok untuk memahami perkara ini adalah: “Wa lau anna ahlal qura amanu wat taqau la fatahna ‘alaihim barakaa-tin minas sama’i wal ardhi, wa lakin kad-dzabu fa’akhad-nahum bima kanu yaksibun” (dan seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka karena amal perbuatannya. Al A’raaf: 96). Intinya, kebaikan akan dibalas kebaikan, dosa-dosa akan dibalas siksa.

[3] Balasan bagi dosa manusia tidak selalu berupa bencana alam. Bisa pula berupa hal lain seperti konflik berdarah, peperangan besar, penindasan, kejahatan, penjajahan, kemiskinan, kelaparan, kehancuran moral, hilangnya kebahagiaan, dll. Bencana alam hanya satu di antara instrumen balasan atas dosa-dosa manusia.

Akibat Amukan Bencana.

[4] Pada awalnya alam itu baik, stabil, harmoni. Tidak ada alam yang kejam, bengis, atau senang menyengsarakan manusia. Hanya ketika dosa-dosa manusia sudah tak tertahan, alam bereaksi. Itu pun hanyalah reaksi kecil dibanding kekuatan alam sendiri. Andaikan alam mengerahkan kekuatannya untuk menyerang manusia tanpa henti, tidak akan ada yang eksis di muka bumi ini.

[5] Perbuatan-perbuatan manusia yang bisa mengundang datangnya bencana alam, misalnya: kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan; kezhaliman hukum, penindasan terhadap orang-orang lemah, korupsi dan pengkhianatan amanah, perbuatan zina, selingkuh, praktik ribawi, sikap bakhil, rasialisme, dll. Meskipun negeri Muslim, kalau perbuatan-perbuatan jahat tersebut subur, dijamin akan panen bencana.

[6] Perbuatan-perbuatan manusia yang bisa menolak bencana alam, misalnya: keimanan, ketakwaan, dan keshalihan; sikap adil dalam hukum; melindungi kaum lemah dan dhuafa’; birokrasi yang bebas korupsi; amanah-janji yang dilaksanakan; sikap dermawan kepada orang lemah (ingat, sedekah menolak bencana), sikap baik kepada binatang dan alam lingkungan, dll. Di negeri kafir sekalipun, kalau disana ditegakkan hal-hal yang baik, maka hal itu bisa menjadi penolak bala.

[7] Kadang orang kafir tidak segera dihukum atas dosa-dosanya. Dosa mereka dibiarkan dikumpulkan dulu sampai banyak. Kalau sudah sempurna, mereka baru dibinasakan sampai ke akar-akarnya (Al An’aam: 44-45). Inilah yang dikenal sebagai istidraj (diangkat berangsur-angsur, sebelum dihancurkan).

[8] Sungguh aneh kalau melihat keadaan negeri-negeri Muslim, misalnya Indonesia. Katanya ini negeri Muslim, tetapi kekafiran, kemusyrikan, dan kesesatan merajalela dimana-mana. Praktik ribawi dihalalkan, perzinahan dihalalkan, pelacuran diperbolehkan, perjudian diperbolehkan. Korupsi marak dimana-mana, sejak level RT sampai level Kepresidenan. Kezhaliman, penindasan, kesewenang-wenangan kepada fakir-miskin, terjadi dimana-mana. Mafia hukum, jual-beli hukum, kecurangan hukum terjadi tanpa malu-malu. Kerusakan moral, kerusakan adab, budi pekerti mati; yang ada hanyalah egoisme, sikap kasar, dan miskin rasa malu. Kadang kita bertanya-tanya, “Ini negeri Muslim atau negeri kafir? Kok perilaku rakyat negeri ini lebih keji dan biadab daripada orang-orang di negeri kafir?”

[9] Kalau bagi warga Muslim, bencana alam bisa menjadi penggugur dosa-dosa. Tetapi bagi negeri kafir, bencana merupakan siksa dan kehinaan. Sebelum nanti mendapat siksa Akhirat yang lebih perih lagi.

[10] Setiap perbuatan dosa manusia ada balasannya. Hanya saja, balasan itu tidak seketika diberikan, atau semacam mengikuti selera kita. Allah lebih tahu tentang bencana yang mesti diturunkan. Kekafiran dan kedurhakaan negeri-negeri kafir tidak akan dibiarkan. Semua dosa-dosa mereka diakumulasikan. Bila skor-nya sudah cukup, bila pintu-pintu tolak bala sudah tidak ada, maka bencana itu pun akan datang dengan tiba-tiba. Tanpa perlu permisi kepada manusia sedikit pun.

[11] Kadang Allah tidak segera menghukum suatu negeri kafir, karena di kemudian akan lahir anak-cucu mereka yang lebih baik, beriman, dan beramal shalih. Atau bisa juga bencana itu ditangguhkan, karena Allah ingin menyempurnakan nikmat atas negeri-negeri kafir. Bisa jadi, selama ratusan tahun mereka berjuang, bekerja keras, dan membangun. Jerih-payah itu akan diberi imbalan di dunia. Salah satu imbalannya, mereka dihindarkan dari bencana alam. Tetapi kalau imbalannya sudah habis, bencana pun akan mendatangi rumah-rumah mereka.

Allah Maha Adil, Dia menurunkan bencana dengan ukuran-ukuran yang sangat teliti. Karena dosa-dosa manusia maka terjadi bencana alam. Meskipun akibat perbuatan dosa tidak selalu dibalas dengan bencana alam. Allahu A’lam bisshawaab, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.