Realitas Penjajahan Baru di Indonesia

November 20, 2010

ARTIKEL 04:

Bismillahi, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dekade 1940-an dianggap sebagai momen besar perubahan sejarah dunia. Di masa itu negara-negara dunia ke-3 di Asia-Afrika yang semula mengalami penjajahan, rata-rata mendapatkan kemerdekaan. Indonesia termasuk negara yang merdeka di dekade itu, setelah dianiaya negara Protestan Belanda, selama ratusan tahun. Dan kebetulan juga, decade 1940-an merupakan masa-masa akhir Perang Dunia II, dengan kemenangan di pihak Amerika dan Sekutunya.

Negara-negara di dunia, termasuk Amerika dan Uni Soviet, waktu itu sangat berkomitmen untuk membangun dunia baru yang damai, bebas dari perang, bebas dari penindasan. Amerika sendiri memiliki sejarah baik, ketika Abraham Lincoln memulai gerakan menghapuskan perbudakaan di negerinya. Untuk merealisasikan tujuan-tujuan baik itu dibentuklah lembaga dunia, United Nations (PBB). PBB selanjutnya secara aktif bekerja mendukung pembangunan peradaban manusia dan sekaligus menjaga perdamaian dunia. PBB memiliki intrumen dan aturan internasional yang ditujukan untuk memelihara perdamaian dunia.

Singkat kata, era 40-an adalah masa-masa akhir praktik penjajahan negara kolonialis terhadap negara-negara Asia-Afrika. Negara-negara kolonialis itu umumnya beragama Nashrani seperti Inggris, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, dll. Ada juga yang Komunis seperti Uni Soviet dan Shinto seperti Jepang. [Tetapi tidak semua praktik penjajahan tersebut berakhir, sebab waktu itu Inggris masih berkuasa di Hongkong, Uni Soviet menjajah negara-negara Asia Tengah, Amerika berusaha menjajah Vietnam, China menjajah Mongolia, bahkan saat ini Amerika sedang menjajah Irak dan Afghanistan].

Penjajahan Baru: Tidak Dipahami Masyarakat!!!

Suatu kenyataan yang aneh. Setelah dunia masuk ke abad 21 (dihitung sejak tahun 2001), ternyata praktik penjajahan itu tidak berakhir. Praktik penjajahan tetap terjadi, hanya berubah bentuk. Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai The New Colonialism (penjajahan baru). Penjajahan jenis ini ternyata lebih dahsyat dari penjajahan klasik. Dan salah satu korban paling parah dari penjajahan ini adalah negeri kita sendiri, bangsa Indonesia (NKRI).

Setidaknya ada beberapa perbedaan significant antara penjajahan baru dengan penjajahan klasik. Setiap Muslim Indonesia perlu memahaminya, agar tidak terlena dengan keadaan yang ada.

[1] Penjajahan modern tidak memakai serangan militer, perang, pengerahan senjata, dll. tetapi lebih banyak memakai sarana: pemberian hutang luar negeri, investasi, pembelian asset nasional dengan harga murah, memaksakan mata uang dollar sebagai standar ekonomi, kontrak karya pertambangan yang monopolis dan licik, menanam agen-agen di berbagai sektor kehidupan, dll.

Penjajahan modern tidak tampak seperti penjajahan, tetapi dampaknya sangat terasa. Persis seperti logika “bau kentut”; bentuknya tidak kelihatan, tetapi busuknya membuat orang menutup hidung.

[2] Penjajahan klasik sangat jelas siapa lawan yang dihadapi, sebab pasukan musuh melakukan invasi ke sebuah negara. Sedangkan penjajahan modern, tidak perlu pengerahan pasukan. Penjajahan dioperasikan dari jauh melalui sambungan telepon, fax, email, telekonferensi, surat-menyurat, kurir, dll. Para penjajah modern tidak perlu susah-payah berperang, sehingga tangan berdebu dan jatuh korban. Mereka cukup menjajah sebuah negara, misalnya Indonesia, dari kejauhan.

[3] Penjajahan klasik sangat disadari oleh masyarakat yang dijajah. Mereka amat sangat tahu kalau dirinya sedang dijajah, sebab pasukan musuh mondar-mandir di depan hidung mereka. Tetapi penjajahan modern amat sangat sulit dipahami oleh rakyat. Mereka merasa hidup baik-baik saja, padahal sejatinya sedang dijajah. Ditambah lagi, Pemerintah suatu negara selalu mengklaim sedang melakukan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan; padahal sejatinya, kekayaan negeri mereka terus dijarah oleh para kolonialis.

Seperti di Indonesia ini. Setiap hari rakyat disuguhi tontonan hiburan oleh RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, ANTV, GlobalTV, MNC TV (dulu TPI), dll. Tontonan bisa berupa musik, film, kartun, sinetron, lawak, kuiz, reality show, hiburan pengajian, sepakbola, hobi, kuliner, dll. Itu masih ditunjang oleh hiburan lain seperti video, internet, bioskop, kaset, CD/DVD, dll. Masyarakat merasa hidupnya baik-baik saja, tenang-tenang saja, banyak hiburan. Padahal semua hiburan itu hanyalah menipu akal mereka. Agar mereka tidak sadar kalau negaranya sedang dijajah oleh orang-orang asing; agar mereka tidak sadar kalau harta kekayaan negaranya terus dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing.

Anak-anak muda yang sangat potensial disibukkan oleh tontonan bola, rokok, narkoba, pornografi, dan seks bebas. Akal mereka tidak bisa berjalan normal karena sudah dihabisi oleh bola, rokok, shabu-shabu, video mesum, dan perzinahan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Misalnya, di Bandung ada ratusan ribu penggemar Persib yang sangat fanatik kepada klub asli Bandung itu. Tetapi dari ratusan ribu Bobotoh Persib itu, berapa orang yang berani menentang penindasan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan asing? Paling hanya 6 atau 7 orang saja. Urusan bola, disembah-sembah seperti berhala;  tetapi urusan ekonomi rakyat, diabaikan begitu saja. (Miris kalau memikirkan anak-anak muda ini. Akalnya seperti tidak berfungsi, padahal sehari-hari mereka juga hidup susah).

[4] Penjajahan klasik biasanya dilakukan oleh suatu negara tertentu. Misalnya negara Nashrani seperti Inggris, Perancis, Portugis, atau Spanyol. Satu wilayah dikuasai oleh satu negara saja. Tetapi di jaman modern ini, penjajahan berlangsung sangat dahsyat. Seperti terjadi di Indonesia, negara penjajah berasal dari banyak negara, seperti: Amerika, Inggris, Jepang, China, Korea, Australia, Belanda, Singapura, Taiwan, Jerman, Belgia, Finlandia, Denmark, dll. Mereka berasal dari aneka bangsa, tetapi tujuannya satu, yaitu: mengeruk kekayaan kita untuk diangkut ke negeri masing-masing. Caranya bisa berkedok kerjasama bisnis, investasi, perdagangan, penjualan teknologi, konsultasi teknik, dll.

[5] Penjajahan klasik diakui secara kesatria oleh pelakunya sebagai penjajahan. Tetapi penjajahan modern tidak demikian. Mereka tidak pernah mengaku sebagai penjajah, tetapi selalu berkedok investasi, kerjasama perdagangan, memberi pinjaman hutang, membeli asset-asset, membeli SUN, dll. Intinya, menyedot kekayaan kita, tetapi caranya tampak sopan, halus, dan modern. Tetapi hakikatnya ya mengeruk kekayaan itu. Karena inti penjajahan memang: mengeruk harta benda negara lain secara licik! Covernya bisa macam-macam, tetapi intinya seperti semboyan penjajahan klasik dulu, “Gold, Gospel, Glory.”

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Apakah Indonesia Bisa Menjadi Baik?

Mei 29, 2010

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pernahkah Anda membayangkan negara ini akan menjadi lebih baik, lebih bermartabat, lebih adil dan sejahtera?

Jika Anda pernah bermimpi demikian, apakah Anda yakin bahwa harapan itu akan tercapai? Jika Anda pesimis dengan nasib Indonesia, lalu persiapan apa yang telah Anda siapkan untuk menyambut era kehancuran Indonesia nanti?

Terus terang, pertanyaan ini untuk kita semua, untuk saya dan untuk Anda semua, wahai para pembaca. Anda kan orang Indonesia, maka Anda harus menentukan apakah akan masuk golongan “masih optimis”, atau masuk golongan “sudah pesimis”? Setelah itu, sebagai golongan apapun, apa yang akan Anda lakukan?

"Negara dibangun untuk melayani hawa nafsu kaum ELIT atau PRIYAYI."

Mohon, pertanyaan ini dijawab oleh setiap pembaca tulisan ini, yang saat ini sedang memandang monitor, sedang online, serta hatinya masih ada di dada. Mohon Anda jawab, sebagaimana saya juga harus menjawab pertanyaan tersebut, sebab saya menjadi bagian dari orang Indonesia.

Lambat atau cepat, suka atau tidak suka, biarpun Anda hendak bersembunyi di liang semut sekalipun, sebagai orang Indonesia, Anda harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika Anda tidak berani menjawab, bahkan tidak bisa berpikir apapun untuk menjawab, ya sudahlah banyak-banyak saja beristighfar, sambil menanti saat datangnya maut. Ya, hidup seperti itu tak ada bedanya antara kematian dan kehidupan; hidup tapi mati, mati tapi masih hidup.

Bulan April lalu ada sebuah tulisan kecil di koran Pikiran Rakyat. Judulnya, “Perubahan Sistem Tak Ubah Iklim Koruptif”, edisi 12 April 2010, halaman 16. Dalam artikel itu disebutkan pandangan Ketua MK, Mahfud MD., tentang kegagalan proses Reformasi di Indonesia. Pak Mahfud mengatakan, bahwa meskipun sistem manajemen lembaga negara sudah diubah, nyatanya korupsi tetap subur.

Disini coba saya kutip ulang artikel di PR tersebut:

Perubahan sistem perbankan dan peradilan sejak era Reformasi, sepertinya bukan jawaban dalam mengatasi lembaga negara yang koruptif, karena langkah strategis ini nyatanya melahirkan mafia hukum di peradilan ataupun di perbankan. “Maka skandal Bank Century, Yayasan Pengembangan Bank Indonesia (YPBI), skandal pajak, hakim disuap, semua menunjukkan bahwa perubahan system bukan jawaban mengatasi masalah,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi, M. Mahfud MD saat berbicara di Yogyakarta, Minggu (11/4).

Dia mengatakan, belum ada strategi lain untuk mengatasi masalah perbankan dan lembaga negara, selain perubahan sistem. Kenyataannya, perubahan sistem di perbankan, peradilan, dan perpajakan, tetap saja melahirkan berbagai mafia hukum. Itu pertanda, perubahan sistem bukan terapi mengatasi masalah. Menurut dia, BI sebelum independen dianggap sering diintervensi oleh Pemerintah Orde Baru. Ketika BI independen pun, sejumlah skandal korupsi muncul dari dalam. Hal yang sama dialami peradilan. (Pikiran Rakyat, 12 April 2010, hal. 16).

Pernyataan Mahfud MD. ini sangat berarti, sebab ia muncul dari seorang Ketua MK yang mempelajari perubahan-perubahan tatanan hukum sejak era Reformasi berlangsung. Singkat kata, “Bangsa Indonesia ini susah menjadi baik. Perubahan aturan atau tatanan apapun, korupsi tetap merajalela.”

Kalau dengan bahasa saya sendiri, “Reformasi selama 12 tahun terakhir hanya basa-basi saja. Kulitnya berubah, tetapi hakikat sistem korupsinya tetap tidak bergeming. Seakan sistem korupsi itu sudah berurat-berakar, sehingga bila terjadi perubahan, hanya berubah person-nya saja, tidak berubah sistemnya.”

PKS pernah membuat kampanye publik lewat spanduk-spanduk yang berbunyi, “Harapan itu masih ada!” Tetapi secara pribadi, saya tak yakin dengan optimisme seperti itu, selama kita tidak mau bicara AKAR masalahnya.

Kerusakan yang menimpa bangsa Indonesia ini sudah sangat akut. Andaikan di negeri ini terjadi 100 kali Reformasi, tetap saja susah berubah, jika yang diubah hanya kulit atau kemasannya saja. Tanpa ada perubahan yang radikal dan dramatis, rasanya susah berharap. Paling, bangsa ini akan “mati pelan-pelan”.

Lalu akar masalah bangsa kita apa?

Bangsa Indonesia menjadi rusak dan hancur seperti saat ini ialah karena dominasi sistem FEODALISME. Dulu feodalisme itu dikaitkan dengan raja-raja, keluarga raja, dan kaum bangsawan; dominasi politik di tangan kaum bangsawan. Para bangsawan ketika itu berkuasa dan keluarganya hidup nyaman karena mengabdi kepentingan kaum KOLONIAL. Sebagai imbalan atas jasanya bagi kolonial, mereka diberi gaji, kedudukan, jabatan, tanah, perlindungan, dll.

Ternyata, sistem seperti itu belum berubah sampai sekarang. Kalau dulu, dominasi oleh para bangsawan, sekarang oleh KAUM ELIT. Bisa elit politik, elit birokrasi, elit pengusaha, elit akademisi, elit militer/kepolisian, elit media, dan lain-lain. Tanpa disadari, kaum elit inilah yang selama ini mendominasi percaturan kehidupan di Indonesia ini. Dan tidak berlebihan jika kebanyakan mereka masih memiliki garis keturunan dengan kaum bangsawan di masa lalu.

Seharusnya, negara dibangun untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Tetapi dalam praktiknya, negara ini bekerja melayani nafsu hedonisme kaum elit. Negara sebesar ini dengan kekayaan besar luar biasa, bukannya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk segelintir kaum elit yang rakus kesenangan dunia. Boro-boro mereka ingat dengan rakyat, ingat dengan anak-isterinya sendiri saja, mereka jauh. Ketika selingkuh, mereka lupa anak-isterinya.

Lalu bagaimana kaum elit itu bisa eksis dan mendominasi?

Jawabnya mudah saja: Mereka dipelihara oleh para KOLONIALIS baru. Konsorsium para penjajah asing sangat berterimakasih dengan kehadiran kaum elit durjana dan terkutuk itu, sebab merekalah yang menjadi makelar untuk menjual kekayaan bangsa ke tangan asing. Para kolonialis justru sangat tidak suka jika ada peranan orang-orang yang idealis dan mencintai negerinya, sebab bila mereka banyak berperan, proses penjajahan akan sangat terganggu.

Jadi kondisinya masih sama seperti jaman penjajahan Belanda dulu. Masih sama saja. Tidak banyak berubah. Dulu kaum bangsawan menjajah rakyatnya sendiri dalam rangka melayani nafsu Belanda. Kini kaum elit menjajah rakyatnya kembali, demi melayani konsorsium penjajah asing. Sama belaka, Mas!

Selama sistem FEODALISTIK ini masih bercokol kuat, jangan berharap Indonesia akan berubah. Itu omong kosong belaka. Apa yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD, bukan sesuatu yang aneh. Andai ada perubahan sistem sampai 100 kali pun, selama dominasi kaum elit pelayan penjajah ini tidak diamputasi, jangan pernah berharap ada masa depan bagi Indonesia.

Tugasku disini hanya mengingatkan, sebatas amanah yang Allah bebankan ke pundakku. Setelah itu semua persoalan kembali kepada Anda sendiri. Mau berubah, atau mau tertindas? Mau menjadi hamba Allah yang mulia, atau menjadi jongos orang kafir? Silakan, itu pilihan Anda. Senang atau susah, syurga atau neraka, ada dalam pilihan hidup Anda.

AMW.