Mengelola Isu Wahabi di Mata Orang Awam

November 13, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tidak diragukan lagi, isu Wahabi sudah lama muncul. Buya Hamka rahimahullah pernah menulis seputar isu Wahabi di tahun 55-an, ketika menjelang Pemilu 1955. Waktu itu Partai Masyumi diidentikkan dengan Wahabi, lalu Buya Hamka memberikan penjelasan-penjelasan. Ternyata, sampai saat ini juga isu Wahabi masih dipakai dalam “permainan politik” seputar Pemilu dan Pilkada.

PKS sering diserang lawan-lawan politiknya dengan isu Wahabi ini. Sayangnya, mereka kurang bagus dalam diplomasi, seperti kasus Pilkada Jakarta kemarin, dimana PKS tidak mau dikaitkan dengan Wahabi; tetapi sembari memojokkan Wahabi juga. Cara begitu tidak benar.

Dalam hal ini ada kaidah dasar, yaitu:

Masyarakat Awam Cenderung Sensitif dan Simplisit. Perlu Komunikasi Khusus dalam Menghadapi Mereka.

[a]. Menjelaskan ke masyarakat awam tidak bisa dengan bahasa ilmiah, telaah mendalam, atau komparasi pendapat-pendapat. Bukan maqam mereka diajak berpikir dalam tataran ilmiah, apalagi akademik. Mereka perlu diberi penjelasan yang cespleng. Maksudnya, sederhana, tidak berdusta, tapi juga mudah mereka pahami.

[b]. Boleh saja siapa pun memiliki pendapat politik tentang Wahabi, atau bersikap kepadanya; tetapi jangan lalu memojokkan, jangan menyebarkan stigma (penodaan citra), jangan pula membohongi masyarakat. Hal-hal demikian bisa merusak ukhuwah dan persatuan ummat, serta mencerai-beraikan hubungan di antara sesama Muslim.

Nah, terkait upaya mengelola isu Wahabi di mata masyarakat awam ini, ada beberapa ide retorika diplomatis yang bisa disampaikan disini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Ketika seseorang, suatu lembaga, suatu partai, atau suatu gerakan ditanya: “Apakah Anda Wahabi atau bukan?” Jawabannya bisa positif, bisa negatif. Jawaban positif maksudnya meng-IYA-kan, jawaban negatif maksudnya men-TIDAK-kan. Kedua jawaban sama-sama boleh, tetapi argumentasinya harus baik dan tidak menyesatkan.

[2]. Atas pertanyaan di atas, bisa saja seseorang atau sebuah lembaga menjawab: “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi.” Lalu dijelaskan: “Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.” Atau jawaban lain: “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”

[3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi juga Mauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

[4]. Mungkin orang akan mendebat lagi: “Tapi kan orang Wahabi menghancurkan kuburan-kuburan, rumah-rumah para Sahabat Nabi, dan sebagainya?” Lalu dijawab: “Itu dulu, dan terjadi di Arab sana. Kalau di Indonesia tidak ada yang begitu. Wahabi dulu beda dengan sekarang. Wahabi di Indonesia beda dengan di Arab.”

[5]. Bisa juga diberikan jawaban negatif seperti: “Bukan, kami bukan Wahabi.” Jawaban begini boleh, sebagaimana bolehnya seseorang mengaku diri sebagai bagian dari Wahabi. Tetapi kemudian tambahkan penjelasan sebagai berikut: “Kami bukan Wahabi, tapi kami juga bukan musuh Wahabi. Kita semua ini Muslim, kita bersaudara. Kita diperintahkan oleh agama untuk saling bersaudara, saling berkasih-sayang, dan bantu-membantu dalam kebaikan.”

[6]. Atau berikan jawaban yang sekaligus berisi nasehat: “Sudahlah jangan diungkit-ungkit masalah Wahabi atau non Wahabi. Kita semua ini Muslim. Kita bersaudara. Kita harus bersatu-padu, saling tolong-menolong. Jangan berpecah-belah dan jangan pula memberi kesempatan agar musuh memecah-belah kita semua.”

Intinya, berikan penjelasan yang bersifat mudah, argumentatif, meskipun ia bersifat simplisit (menyederhanakan masalah). Karena memang kadar pemahaman orang awam sulit untuk diajak memahami yang rumit-rumit.

Sebuah contoh, Pak Prabowo Subianto sering mendapat stigma: “Buat apa memilih presiden yang pembunuh?” Maksudnya, beliau dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa Trisakti saat Kerusuhan Mei 1998. Bahkan pihak korban, aktivis LSM, juga kalangan media sangat mudah mengangkat isu Trisakti itu untuk membarikade Prabowo agar tidak menjadi Presiden RI. Sampai sejauh ini, tim Prabowo masih kesulitan mengatasi stigma-stigma itu.

Level berpikir orang kecil sangat mudah dipengaruhi hal-hal simplisit seperti itu. Maka ketrampilan komunikasi kita, perlu terus ditingkatkan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Rahiim.

(Abinya Syakir).


Diskusi dengan Seorang Rabi’iyun

Desember 1, 2008

Tulisan ini awalnya dari artikel yang saya tulis tentang HT. Tujuan saya tentu bukan untuk sepakat dengan hal-hal yang keliru dalam pergerakan HT. Masak kita akan setuju dengan kekeliruan itu, sedangkan dalam kehidupan kita menjauhinya? Hanya saya merasa kagum dengan kesungguhan HT dalam isu penegakan Syariat Islam, pentingnya Khilafah Islamiyyah, dan gerakan anti Kapitalisme. Ketiga hal itu sungguh sangat layak kita perjuangkan, baik ada atau tidak ada HT.

Kemudian muncul tanggapan dari seseorang yang menyebut dirinya @ orang awam. Seperti biasa, selain menyalah-pahami apa yang dituju, dia juga melancarkan celaan-celaan yang tidak sedap didengar. Tapi gaya bahasa dia masih jauh lebih sopan daripada maniak-maniak sesat pengasuh blog-blog fitnah, seperti Fakta dkk itu. Saya sendiri sudah menjawab tanggapan dia via e-mail, tetapi katanya e-mail itu tidak dia terima. Padahal dalam e-mail saya jelas disebutkan “message sent” dan tidak ada penjelasan bahwa e-mail tersebut gagal. Bahkan itu pun saya masih “kena semprot” sebagai pengecut luar biasa, hanya karena saya tidak menampilkan tanggapan dia di blog ini. Kalau misal tanggapan dia saya hapus lagi, misalnya begitu, mungkin saya akan dia sebut sebagai “pengecut akbar fil ‘alam”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik!

Dari sekian banyak poin-poin yang dia ajukan sebagian sudah saya jawab, sebagian tertunda. Nah, disini saya lanjutkan bagian-bagian yang tertunda. Karena penjelasannya cukup panjang, sengaja dimuat dalam sebuah artikel tersendiri. Biar semua pihak bisa mengambil pelajaran, meminjam kalimat @ orang awam itu. Diskusi seperti ini bukan sekali dua kali saya lakukan dengan orang-orang semacam ini, baik lewat buku, e-mail, forum diskusi MyQuran, surat-menyurat, sampai lewat SMS. Hanya saja, tidak semua orang mengikuti diskusi sejak awal, sehingga akhirnya harus mengulang hal-hal yang di tempat lain sudah dibahas. Tidak mengapa, demi menjelaskan kebenaran, mengusir keraguan, dan meneguhkan keyakinan, bi idznillah. Semoga sedikit tulisan ini bermanfaat! Amin.

Baca entri selengkapnya »