Membaca Pikiran Sri Mulyani

Juni 11, 2009

Siapa tidak kenal Sri Mulyani Indrawati? Rasanya hanya orang kuper yang tidak tahu siapa dirinya. Selain sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menjabat Menteri Perekonomian. Jabatannya sangat prestisius, semua politisi dan partai politik sangat “haus” ingin mencapai posisi yang diduduki Sri Mulyani ini.

Sekitar seminggu lalu ada dialog khusus antara Wimar Witoelar dengan Sri Mulyani, di MetroTV. Acaranya, Wimar Live, tayang di MetroTV, sekitar jam 20.30 WIB. Tema yang dikaji waktu itu tentang “pengelolaan hutang negara”. Sebagai Menteri Keuangan, jelas Sri Mulyani sangat berkompeten menjelaskan pemikiran-pemikirannya seputar isu hutang negara itu. Sekaligus dia bisa jelaskan garis ekonomi Kabinet SBY selama ini.

Saya tidak mengikuti acara secara tuntas, hanya sekitar seperempat acara bagian akhir. Disini kita akan kemukakan beberapa poin pemikiran penting  Dr. Sri Mulyani Indrawati, ekonom jebolan FE UI, yang pernah bekerja di IMF sebagai salah satu supervisor lembaga tersebut.

SEBAGIAN PEMIKIRAN SRI MULYANI

Sri mengaku sebagai orang Jawa yang lahir di Indonesia, sekolah di UI, lalu melanjutkan sekolah ke Amerika. Lalu pulang kembali ke Indonesia. Dia merasa tetap sebagai orang Indonesia, tidak pernah berubah menjadi orang bule, meskipun selama studi bergaul dengan banyak orang bule. Sri merasa kemudian mendapati dirinya sebagai bagian dari tatanan dunia yang concern utamanya adalah manusia itu sendiri.

Sri menyebut rakyat Indonesia termasuk “short memory lost” (memorinya pendek, cepat melupakan kejadian-kejadian sejarah). Di jaman Orde Baru Sri mendapati sistem ekonomi tertutup, lalu muncul era Reformasi yang mendobrak sistem itu, sehingga menjadi terbuka (minim proteksi) seperti saat ini. Lalu Sri mempertanyakan, ketika ekonomi sudah terbuka, mengapa saat ini muncul ide-ide untuk kembali kepada ekonomi tertutup (seperti Orde Baru)?

Sri mendapati masalah utama di era Orde Baru ialah faktor korupsi. Mengapa setelah Reformasi tidak memaksimalkan upaya-upaya pemberantasan korupsi itu sendiri? Jadi tidak perlu kembali ke sistem ekonomi tertutup.

Sri menyebut masalah hutang negara itu biasa. Dalam sistem ekonomi yang dia pelajari selama ini, di dunia ini sudah ada mekanisme untuk mengatur soal hutang itu. Entah, kalau ada planet lain yang menerapkan cara lain. Kata Sri, hutang itu biasa, lumrah saja, asalkan diatur sesuai mekanismenya. Contoh, kata dia, hutang luar negeri di bawah 30 % nilai GDP itu masih wajar atau aman. Jadi, semua sudah ada mekanismenya, tidak usah dirisaukan. Ada parameter, ketentuan jatuh tempo, cara pembayaran, syarat-syarat, dan sebagainya.

Sri mengkritik pemikiran yang berkembang selama ini. Kata dia, ada sebagian orang yang selalu berdalih, “Hutang negara kita sekian-sekian, setiap anak yang baru lahir sudah terbebani hutang sekian juta.” Kata Sri, logika seperti ini sepintas tampak benar. Padahal menurut dia di Jepang dan China, meskipun negaranya berhutang besar, namun mereka bisa menjadi raksasa ekonomi luar biasa. Meskipun sekarang ada ide ekonomi Syariah, tetap saja di Arab mereka berhutang juga.

Demikian sekilas pemikiran Sri Mulyani yang bisa saya tangkap dari acara Wimar Live itu. Mungkin ada pengutipan-pengutipan yang tidak tepat. Mohon dimaafkan kalau tidak tepat benar. Tapi insya Allah, poin-poin di atas bisa di-check kembali ke pihak Sri Mulyani atau MetroTV.

MENGKRITISI EKONOM LIBERAL

Kalau kita cermat mengikuti pemikiran-pemikiran Sri Mulyani Indrawati, akan tampak jelas bahwa orang ini benar-benar penganut madzhab ekonomi liberal. Bukan hanya liberal secara pemikiran ekonomi, bahkan liberal secara kebudayaan. Apa yang dia sebut sebagai “bagian dari warga dunia yang concern dengan manusia”  adalah jargon-jargon globalisasi. Harus diingat, salah satu prinsip ekonomi liberal adalah= anti proteksi!  Mereka paling benci kalau suatu negara memproteksi ekonominya dari serbuan produk-produk asing. WTO sendiri jelas berdiri di atas prinsip “world without border line”. Globalisasi dan liberalisme, seperti dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kalau Sri menyebut dirinya sebagai orang Jawa, saya ragu. Dalam falsafah Jawa ada sebuah kredo, “Mangan ora mangan, syukur kumpul” (baik makan atau tidak makan, asal tetap berkumpul dengan keluarga). Prinsip ini sangat berbeda dengan konsep “warga dunia” yang diklaim Sri Mulyani itu.

Baca entri selengkapnya »

Iklan