Heroisme Seorang Dosen Muslim…

Desember 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Luar biasa perbuatan dosen Muslim di bawah ini. Dia sangat herois, menunjukkan antara kata dan perbuatan, secara nyata. Langka manusia demikian. Jika benar berita ini, semoga Allah mengistiqamahkan sang dosen sampai akhir hayatnya; memberi keberkahan besar buat keluarganya; menurunkan dari mereka anak-anak pejuang besar agama ini. Amin Allahumma amin.

Tulisan ini aku co-pas dari web Voa-islam.com; web Muslim “paling heboh” untuk saat ini. Semoga bermanfaat ya. Judul tulisan aku ganti, karena gak sesuai deh. Tapi secara umum isi tulisan dibiarkan seperti semula. Terimakasih Voa-islam.com ya.

BEGINI CERITANE….

Seorang Dosen UIN SGD Bandung masuk ke tempat pelacuran di daerah Bekasi dan mem-booking 8 PSK sekaligus, lalu diboyong ke satu kamar. Sekuriti berbadan besar oknum TNI menguntitnya. Menyewa 8 orang sekaligus tentu tidak wajar dan mencurigakan. “Dia punya kekuatan seks seperti apa?” Pikirnya. Tahu ada yang menguntit, sang dosen merasa terganggu, terjadilah adu mulut sampai si TNI itu tak berkutik.
Langkah Nyata, Lengkap, Penuh Risiko: Selamatkan Wanita

Langkah Nyata, Lengkap, Penuh Risiko: Selamatkan Wanita

Argumen sang dosen kuat, karena toh sudah di-booking adalah hak dia untuk melakukan apa saja dengan 8 perempuan itu dalam kamar. Sang dosen bertanya, “Sebagai apa kamu disini?” “Saya keamanan Pak!” Mendengar jawaban itu, sontak sang dosen marah: “Keamanan apanya ..?? Pekerjaan kamu disini bukan mengamankan tapi membuat mereka menderita. Kamu menjerumuskan dan mencelakakan mereka semua di dunia dan di akhirat. Keamanan apanya?” Sang centeng tak berkutik. Sekuriti itu pun ditantang duel kalau mengganggu acara sang dosen, tapi si oknum ini tidak berani, apalagi saat diancam akan dilaporkan ke atasannya jadi centeng “neraka” seperti itu. Ia pun takut, pergi dan minta maaf. Ke 8 PSK itu merasakan lain, ada hal aneh yang akan dilakukan tamunya ini mem-booking mereka banyakan.

Di dalam kamar, sang dosen meminta seprai dari dua kasur dicabut: “Tolong cabut itu seprai dan tutup badan kalian semua dengan kain itu. Saya tidak mau melihatnya.” 8 PSK itu kemudian dinasehati panjang lebar tentang kelakuan buruknya, tentang uang haramnya, akibatnya pada anak, durhakanya pada orang tua, alasan dustanya soal kebutuhan ekonomi, tentang bahaya penyakit kelamin dll. “Bayangkan kalau anak perempuanmu seperti kamu mau nggak? Kalau anak-anakmu tahu kelakuanmu seperti ini mau gak?” “Kalau ibumu tahu mau gak? Bayangkan perasaan mereka, betapa malu dan sakit hatinya. Inikah balasan pada ibumu yang sudah susah payah melahirkan, membesarkan dan mendidikmu?” dll … dll … (sekitar 2 jam dia bicara, di atas itu intinya saja). Ledakan tangisan 8 PSK itu muncrat semua, semua menyadari dan menyesali, tobat seketika, janji besok semuanya akan keluar.

Esoknya, sang dosen, datang lagi mengecek. Benar, 8 nama itu sudah tidak ada di daftar, sudah keluar. Beberapa hari kemudian, sang dosen mengunjungi ke 8 orang itu ke kampungnya masing-masing, mengontrol dan membina, dan komunikasi terus berjalan setelah beberapa minggu/bulan. 8 perempuan muda yang wajah-wajahnya aduhai itu, kini ada yang buka warung, buka kios, kerja di pabrik dll. Pada salah satu yang jualan gorengan, sang dosen ustadz berkata: “Naah … begituu … ini yang halal dan barokah. Rizki halal tidak susah asalkan dicari.” Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat amat telah keluar dari jerat pekerjaaan kotornya.

Dari ke 8 PSK itu, 6 orang bersuami dan direstui oleh suaminya jadi PSK (asalnya daerahnya Subang, Indramayu, Sukabumi). Yang suaminya menerima dan sadar, suaminya juga dibina. Yang suaminya menolak dan marah karena kehilangan income dari istrinya yang cukup besar, sang dosen memberikan instruksi: “Kamu harus bercerai dengan suamimu, wajib, karena ia telah menjerumuskan dan merusakmu. Suami macam apa seperti itu, sekarang pun ia tidak terima kamu telah sadar. Sekarang cari suami yang baik, masih banyak. Insya Allah saya akan bantu.” Yang suaminya tidak terima, semuanya diceraikan. Satu orang yang dari Indramayu, bukan hanya tidak terima malah menteror mantan istrinya dan keluarganya.

Ketika sang dosen dilapori, tidak menunggu, ia langsung berangkat mencarinya sendiri rumah orang itu. Laki-laki itu kembali ke rumah orang tuanya. Sang dosen masuk dan menceramahi laki-laki itu, bukannya berterima kasih dan bersyukur istrinya telah sadar dan kembali ke jalan yang benar. Laki-laki itu tetap tidak terima dan marah-marah. Ia bersungut-sungut menuduh laki-laki yang tak dikenalnya itu mengganggu kesenangannyalah, merusak rumah tangga oranglah, sok sucilah, dll. Sang dosen membantah: “Siapa yang merusak? Justru kamu yang merusak istri kamu dan kamu memerasnya. Suami macam apa kamu ini?”

Karena nasehat tidak akan masuk pada orang seperti ini, akhirnya sang dosen mengambil jalan akhir. “Sekarang gini aja, kamu ambil golok bawa keluar, ayo kita duel diluar tapi dengan catatan sampai mati dan harus disaksikan masyarakat, RT, RW dan Polisi. Siapa yang benar diantara kita.” Laki-laki itu hanya diam, sang dosen kesal, ia masuk ke dapur dan meminta golok pada keluarganya. Golok itu diberikan dan dipaksakannya agar laki-laki itu memegangnya dan dipersilahkan untuk menebas bagian mana saja dari tubuh sang sang dosen yang dia mau. Karena dia masih diam, sang dosen menggusur orang itu keluar rumah. Karena suasana ribut, tetangga pada keluar, nonton. Sekalian sang ustadz berteriak-teriak disitu menjelaskan betapa bodoh dan dungunya orang ini, istrinya disadarkan malah tidak terima berarti dia ini hakikatnya setan. Tetangga yang sudah menaruh curiga pada pekerjaan istri laki-laki itu membenarkan ucapan sang dosen. Mereka terus menonton.

Sampai ujungnya, laki-laki itu sadar, menangis, menyesali dan berjanji tidak akan mengganggu mantan istrinya lagi. Orang tuanya pun menyesalkan kebodohan anaknya itu. “Awas, mengganggu lagi mantan istrimu, dengan saya urusannya.”

Ketika kisah ini diceritakan pada saya, saya bilang “luar biasaa …” Ia berucap, “Yaa … menolong itu harus tuntas, jangan setengah-setengah, cuma menyadarkan saja tapi kesananya tidak bertanggung jawab, tidak di urus, ya gak akan bener, dia bisa balik lagi nanti.” Ini kisah nyata, bukan ngarang. Namanya disamarkan untuk menghindari riya. Subhanallaah …

Sanad: Dari Voa-islam.com, dari moeflich.wordpress.com, dari pelaku (hafizhahullah wa iyyana jami’an).

TAFAKKUR
Bagusnya Bapak ini, dia punya niat baik selamatnya cewek-cewek pelacur. Tapi tak cuma bicara gitu, dia terjun langsung melakukan amal nyata. Untuk “booking” macam begitu, apalagi sampai 8 orang, dia pasti harus punya duit kan. Darimana duitnya? Ngumpul-ngumpul kan. Habis itu dia harus punya nyali. Mau “bikin masalah” di hotel, jelas harus punya nyali. Semua hotel punya petugas keamanan kan. Setelah itu, dia harus menolak “keseksian” dari cewek-cewek itu. Padahal, karena “sudah beli”, dia tinggal “memakai” saja. Tapi dia tolak semua itu, padahal sudah di depan matanya. Ini beda lho sama model Gonamen Mokamet Cs… yang memang suka sama yang haram-haram gituan.
Lalu Bapak itu berani ceramahi cewek-cewek itu apa adanya, tak pakai slide, tak bawa buku, tak perlu pakai tele conference, tapi langsung, apa adanya. Ini butuh keberanian dan nyali. Habis itu dia persilakan mereka pulang; dia cek hotel apa mereka masih ada; lalu dia bina mereka, dia lakukan pemantauan; bahkan sampai dia tantang berkelahi suami atau mantan suami yang masih ndablek. Masya Allah, sebuah upaya kesungguhan yang lengkap. Ibaratnya, one stop shopping lah.
Moga-moga Bapak itu kuat menyembunyikan amalnya. Moga istiqamah sampai akhir hayat. Moga akan lahir pahlawan-pahlawan Mukmin lain, menghiasi kehidupan ini dengan rahmat Islam. Amin Allahumma amin.
Hidup pahlawan Islam! Lupakan Gunamen Cs !
(Abah).
Iklan

Ketika Trio ISMA Menjadi “Pahlawan”

November 18, 2008

Setelah eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali pada 9 November 2008 lalu, di atas kertas masalah ini telah selesai, tuntas. Ketika pelaku utamanya telah meninggal, otomatis kasus besarnya terkunci. Begitu logikanya. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bahwa rentetan persoalan ini akan masih panjang? [Lho, kok begitu?]. Iya, sebab pemberitaan intensif tentang sosok Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi (disingkat Trio ISMA) selama ini, justru telah menempatkan mereka ke level pahlawan sosial yang dikagumi oleh banyak orang.

Secara yurudis, Trio ISMA divonis sebagai teroris, pelaku peledakan bom, pelaku tindak kriminal. Menurut logika hukum seperti itu, tetapi di mata publik persoalannya tidak sesederhana itu. Publik memiliki logikanya sendiri. Di mata masyarakat Trio ISMA tidak tampak seperti penjahat dengan muka sangar, bertato, hidup bergelimang dosa; mereka terlihat shaleh, berwajah bersih, berwibawa dengan penampilan dan sikap khasnya. Mereka berani berkata tegas tentang perjuangan, ketika banyak orang hidup berselimutkan kebohongan dan sikap munafik. Hal itu menurut masyarakat sebagai bahasa kejujuran yang lebih membekaskan pengaruh.

Kemudian, sikap antipati secara berlebihan kepada Trio ISMA justru berbalik menjadi lautan simpati bagi mereka. [Ingat kasus 27 Juli 1996 di Jakarta yang mendorong lahirnya PDI Perjuangan]. Selama ini pemerintah, aparat hukum, para pakar, dan media massa secara intensif, massif, dan terus-menerus menempatkan ketiga tokoh tersebut sebagai sosok paling berbahaya bagi negara. “It’s the most dangerous enemies!” begitulah labelisasinya. Kemudian diberikan porsi liputan luar biasa terhadap ketiganya, sejak tertangkap, selama proses pengadilan, sampai saat eksekusi mati di Nirbaya Nusakambangan. Dalam pemberitaan, publikasi, penerbitan buku, diskusi, dll. Trio ISMA diposisikan sebagai teroris yang sangat jahat dan kejam. Sementara masyarakat tidak melihat bahwa pemuda-pemuda itu memiliki karakter seperti yang digambarkan.

Hampir semua TV swasta memberikan porsi perhatian luar biasa kepada Trio ISMA. Sebagai contoh, MetroTV. TV milik Surya Paloh ini jelas secara ideologis berlawanan 180° dengan keyakinan Trio ISMA. Tetapi berkali-kali MetroTV mengangkat topik Bom Bali dalam berbagai liputan khusus. Apapun nama program, durasi, dan waktunya; MetroTV sering mengangkat isu Bom Bali. Dalam salah satu episode Metro Realitas, redaksi MetroTV pernah membeberkan fakta-fakta kejanggalan di balik tuduhan teroris kepada Trio ISMA itu. Saya sendiri merasa aneh dengan kasus Bom Bali salah satunya karena acara Metro Realitas itu. Jika ada stasiun TV yang dianggap “suci” dari pemberitaan ini, mungkin SCTV. Sejak dulu, SCTV konsisten bersikap sentimen kepada ketiga tokoh tersebut. Meskipun, bisa jadi wartawan SCTV secara pribadi ada yang bersimpati ke mereka.

Jika pemberitaan seputar Bom Bali dianggap sebagai medan perang opini, maka sejak awal pemberitaan kasus ini sampai saat pelakunya dieksekusi, maka pemenang sejati dari perang opini ini adalah Trio ISMA sendiri. Segala bentuk pencitraan negatif atas diri mereka berbalik menjadi simpati, kekaguman, bahkan memunculkan citra kepahlawanan. Kharisma Trio ISMA sangat kuat, sehingga publik nasional dan internasional tidak bosan-bosan membicarakan mereka. Mungkin saja nada pembicaraan itu tetap menganggap mereka sebagai teroris, tetapi siapapun tidak bisa menampik, bahwa Trio ISMA melakukan aksi peledakan di Paddy’s Club itu karena misi perjuangan yang diyakininya. Motiv mereka bukan kriminalitas (materi), bukan kekuasaan, bukan dendam pribadi, atau alasan-alasan duniawi. Bahkan di antara korban Bom Bali sendiri, ada yang telah memaafkan mereka, tidak mendendam, bahkan mendoakan ketiganya. Arus seakan berbalik tajam.

Ada jihad lain di luar makna jihad yang diyakini oleh Trio ISMA. Ia adalah jihad menaklukkan hati masyarakat. Publik yang semula antipati, perlahan-lahan mulai bersikap netral, kemudian mulai memahami, hingga mengagumi. Bahkan menjelang eksekusi mati Imam Samudra, rombongan anak-anak TK datang ke rumah ibunya, untuk memberi dukungan. Begitu pula, setelah jenazah Imam dikuburkan, anak-anak SD dan masyarakat sekitar datang berkunjung untuk berziarah. Ribuan orang di Serang datang mengantarkan Imam Samudra ke pemakaman. Andai, tidak ada satu pun TV yang memberitakan acara pemakaman itu, ribuan orang tersebut telah menjadi bukti, bahwa Imam Samudra dan kawan-kawan, telah memenangkan jihad ini, yaitu jihad menaklukkan hati masyarakat. Hanya pertolongan Allah saja yang bisa membuat segala sesuatu berbalik arah.

Sungguh, stigmatisasi terhadap ketiga sosok tersebut, sangat luar biasa. Hingga ada orang tertentu yang menunjukkan sikap kebencian luar biasa lewat penulisan buku yang bernada melecehkan. Namun kemudian arus berbalik, sehingga penulisan buku itu mengundang kecaman dari sana-sini.

Baca entri selengkapnya »