Kisah Tragedi Hari Sabtu

Agustus 27, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sekelompok Bani Israil tinggal di kota pantai Eliah, di dekat Laut Merah, jalur antara Laut Mati dan Bukit Thur. Mereka nelayan. Beribadah setiap Sabtu.

Ketika terjadi kerusakan moral, mereka diuji dengan banyaknya ikan saat hari Sabtu. Secara aturan, tidak boleh mencari ikan di hari Sabtu.

Mereka cerdik, saat hari Jum’at menebar jala, saat hari Sabtu tidak melaut; saat hari Minggu mereka panen ikan.

Dikutuk Menjadi Ini

Dikutuk Menjadi Ini

Ketika dinasehati: “Ini kan sama dengan mengakali aturan Tuhan?” Mereka menjawab: “Tidak, tidak. Kami toh tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.”

Benar mereka tidak datang ke laut pada hari Sabtu, tapi jala-jala mereka bekerja intensif di hari Sabtu saat mereka sendiri sedang ongkang-ongkang kaki di rumah.

Usaha menasehati terus dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas dan peduli. Tapi sayang, ada saja orang yang mencela sikap itu.

Mereka berkata: “Buat apa kalian menasehati suatu kaum yang akan dibinasakan oleh Allah?”

Orang-orang yang ikhlas itu berkata: “Ma’dziratan ila Rabbikum wa la’allahum yat-taquun” (agar kami punya alasan di hadapan Allah –bahwa kami sudah menasehati mereka- dan agar mereka itu timbul rasa takutnya kepada Allah).

Benar saja, ketika waktunya tiba, Allah menimpakan hukuman berat bagi kaum Bani Israil itu, yaitu mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Sedangkan sekelompok orang yang peduli dan menasehati diselamatkan Allah dari kutukan ini. Termasuk yang terkena kutukan adalah orang-orang yang tahu ilmu, tapi enggan memberikan nasehat atau peringatan kepada kaumnya.

Allah SWT berfirman: “Anjainal ladzina yanhauna ‘anis suu’i wa akhadnalladzina zhalamu bi ‘adzabin ba’isin bi maa kaanu yafsuqun” (Kami selamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan buruk, dan Kami siksa orang-orang zhalim itu dengan siksa keras, karena mereka selalu berbuat fasik –melanggar aturan agama-). Al A’raaf: 165.

Rasulullah SAW juga menjelaskan, bahwa salah satu klan Bani Israil hilang dari sejarah, setelah mereka dikutuk akibat pelanggaran di Hari Sabtu.

HIKMAH: Ternyata, mengingatkan manusia (masyarakat) dari perbuatan aniaya, zhalim, pengkhianatan, kemaksiyatan, kesesatan, dan semacamnya TIDAK SIA-SIA. Usaha mengingatkan ini, apapun hasilnya, tetap bermanfaat bagi pelakunya. Mereka akan mendapat jaminan keselamatan, tatkala terjadi berbagai prahara kehidupan.

Ambil-lah pelajaran wahai saudaraku. Jangan lemah dan menyesal untuk mengingatkan di jalan kebaikan.

(Abah).

Iklan

Barakah Kehidupan Tauhid

November 22, 2010

ARTIKEL 08:

Beberapa tahun lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah Umrah. Itu adalah Umrah pertama yang saya ikuti. Hal ini berkat jasa baik seorang pengusaha Muslim di Jakarta. [Semoga Allah Ta’ala membalas jasa beliau berlipat ganda, memberkahi keluarganya, menolong usahanya, serta memberikan jalan keluar atas kesulitan-kesulitannya. Allahumma amin].

Disini saya ingin membagi sedikit sekali pengalaman Umrah tersebut, khususnya dari sisi pengalaman-pengalaman spiritual. Oh ya, saya tidak akan menyebut pengalaman spiritual saat di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram, saat di depan Ka’bah, dll. Justru saya akan menyebut beberapa pengalaman spiritual di luar situs-situs ibadah Islami tersebut. Ada beberapa hikmah pelajaran yang layak direnungkan.

Mari kita buka satu per satu…

[1] Saat mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, waktu ketika itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Semua penumpang harus mengikuti proses boarding terlebih dulu. Proses boarding mungkin memakan waktu sekitar 1 jam. Maklum, jamaah yang bersama kami ketika itu ada ratusan orang (termasuk dari biro perjalanan Umrah lain). Satu hal yang saya catat disini, aparat-aparat imigrasi di bandara Jeddah ini bekerja secara konsisten, dengan pelangaran aturan keimigrasian sangat kecil. Mereka konsisten dalam soal aturan. Tidak pandang bulu, berhadapan dengan siapapun. Tingkat kedisiplinan aparatur Saudi ini sudah dikenal. Justru yang kurang bagus ialah elit-elit pejabat mereka.

[2] Setelah tiba di Jeddah, kami mulai perjalanan ke Madinah melalui jalan tol. Jauh jarak bisa mencapai 400 km. Kalau tidak salah, perjalanan non stop memakan waktu sekitar 6 jam. Jalan tol di Saudi gratis, bahkan bensin pun dijual dengan harga sangat murah. Lebih mahal dari air minum di negeri kita. Dalam perjalanan bis di saat malam itu, saya hanya kuat bertahan beberapa lama. Selebihnya lelap dalam tidur. Dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa selama perjalanan itu. Padahal perjalanan malam, berjam-jam, kecepatan bis luar biasa. Kalau di tol Cikampek, yang jaraknya tidak sampai 100 km, sering terjadi kecelakaan, karena sopir kerap ngantuk.

[3] Dalam perjalanan antara Jeddah-Madinah itu, rombongan kami berhenti di tengah jalan untuk menunaikan Shalat Shubuh. Disana ada masjid transit yang telah disediakan oleh Pemerintah Saudi. Suasana pagi itu terasa sangat mempesona, langit mulai terang, angin semilir berhembus. Jamaah-jamaah dari negara lain juga Shalat disana. Saya perhatikan wanita-wanita Turki dengan jubah khas dan model kerudung bercorak melaksanakan ibadah dengan khidmat. Mereka tampak serius, tetapi tidak tergambar wajah tegang disana. Nuansa pagi itu terasa luar biasa. Rasanya 1 dari 1000 kemungkinan hal seperti itu bisa kita jumpai di negeri kita. Ia menjadi salah satu kenangan spiritual besar yang pernah saya rasakan.

[4] Satu hal yang saya rasakan istimewa ketika menjalani perjalanan Umrah itu. Selama di Saudi, makanan-minuman rasanya begitu melimpah. Dimana-mana kita dengan mudah bisa mendapatkan makanan. Saat masih di bis, saat di hotel, saat di luar masjid, bahkan saat masih di Saudi Airlines, makanan sangat melimpah. Hal ini juga dirasakan oleh berjuta-juta jamaah Haji Indonesia yang sudah menunaikan Haji sejak jaman dulu. Perkara makanan, di Saudi tidak ada problem sama sekali. Orang-orang yang dermawan banyak, dan mereka tidak hitung-hitungan untuk berbuat amal kebajikan. Maka itu banyak orang Indonesia nekad menjadi pendatang illegal di Saudi karena disana untuk urusan makan, sangat mudah.

"Disini Melimpah Rizki dan Barakah. Alhamdulillah."

[5] Kalau saya perhatikan masyarakat Saudi cenderung tenang, tidak berisik, tidak bising. Saya tidak pernah mendengar ada toko-toko yang memutar musik berisik, apalagi musik menghentak. Nyaris kehidupan sosial di Saudi berjalan minus musik dan jingkrak-jingkrak. Minus tingkah wanita hedonis dan liberal. Bahkan saya jarang melihat orang-orang Saudi nongkrong bareng, ngobrol rame, atau bercanda-canda. Berkali-kali saya berusaha mencari orang yang sedang membaca koran, atau mendengar radio, tetapi sulit menemukan. Di balik itu semua, ternyata kehidupan sosial di Saudi cenderung tenang, damai, tidak berisik oleh gerakan-gerakan politik yang meletihkan dan membingungkan.

[6] Di beberapa ruas jalan di Makkah, menuju komplek Masjidil Haram As Syarif, banyak ditemukan pengemis-pengemis kulit hitam (kerap disebut kaum Taqrani). Mereka ada yang cacat, ada juga yang kelihatan normal. Kalau pengemis wanita, tetap memakai abaya hitam-hitam, dan cadar. Pernah ada seorang pengemis kecil berteriak-teriak, “Ya Aloh, ya Aloh, ya Aloh,” sambil menggeleng-gelengkan kepala. [Sengaja ditulis “Ya Aloh” bukan “Ya Allah” atau “Ya Alloh”. Karena memang yang terdengar di telingan “Ya Aloh”]. Orang-orang pun segera memandang ke arah pengemis kecil itu. Eee, ternyata dia sedang asyik menggeleng-gelengkan kepala, dengan tidak peduli kepada orang-orang yang lewat. Ternyata, kata-kata “Ya Aloh, ya Aloh” itu hnya untuk menarik perhatian orang saja. Saya hanya tersenyum kalau ingat bocah kecil itu. Saudaraku, perlu Anda tahu, Kota Makkah sangat terbuka bagi siapapun yang ingin berlindung di dalamnya. Kota Suci ini memberi naungan kepada banyak sekali orang-orang malang dan lemah, dari negara-negara miskin di Afrika, Bangladesh, Pakistan, India, bahkan dari Indonesia.

Baca entri selengkapnya »