Sisi Menyedihkan Sinetron PPT (Para Pencari Tuhan)

Agustus 9, 2012

Sudah bertahun-tahun publik kaum Muslimin di Indonesia, setiap tiba momen Ramadhan, disuguhi tontonan serial sinetron PPT (Para Pencari Tuhan). Kini sinetron ini sudah masuk session ke-6. Luar biasa! Sinetron yang diproduseri aktor kawakan Dedi Mizwar ini pada mulanya banyak meraup pujian-pujian. Tapi saat kini, apalagi setelah sessi ke-6 ini, semakin jauh dari cita rasa sinetron berkualitas.

Maaf ya, bukannya kami ini suka mengkritik ini dan itu, atau merasa “nikmat” dengan mengkritiki orang lain. Tapi satu hal yang menjadi prinsip disini ialah memberikan yang terbaik bagi Ummat; janganmengeksploitasi mereka untuk tujuan-tujuan sempit atau komersial belaka. Hal demikian ini bahkan merupakan hak-hak publik sebagai konsumen siaran TV. Kalau memang sajiannya bagus, moralis, dan konstruktif, ya silakan dipuji; tapi kalau sajiannya sudah ngaco, ya jangan dipuji terus.

“Berikan yang Terbaik, Seperti Allah telah Memberi yang Terbaik.”

Setidaknya ada 3 kritik besar yang ingin disampaikan kepada insan-insan artis dan media yang berada di balik tayangan sinetron PPT. Silakan Anda cermati apakah muatan kritik yang kami sampaikan ini mengada-ada, atau memang realistik.

[1]. Sinetron PPT alur ceritanya semakin mbulet, rumit, dan tidak jelas. Kelihatan sekali kalau sinetron ini hanya bersifat “kejar proyek Ramadhan”. Sampai PPT sesi ke-3 alur ceritanya masih bagus dan runut. Tapi setelah itu, alurnya semakin kacau. Banyak muncul masalah-masalah baru secara tiba-tiba. Mengejutkan memang, tetapi kejutan-kejutan itu tidak ada ujungnya. Akhirnya kejutan-kejutan itu hanya bertumpuk dan menyisakan tanda tanya besar di benak para pemirsa. Dan herannya, seorang tokoh dalam sinetron itu bisa berwarna-warni karakternya. Misalnya, sosok Asrur yang semula miskin, banyak mengeluh, dan selalu menyimpan “dendam sosial”. Di lain waktu dia bisa kelihatan alim, seperti shufi, bijaksana, menyayomi, kaya materi, dan seterusnya. Pertanyaannya, plot karakter Asrur ini sebenarnya bagaimana ketika sinteron itu pertama dibuat? Apakah karakter dia bisa berubah-ubah, sesuai tuntutan skenario di tengah jalan?

[2]. Missi dari semua cerita dalam sinetron PPT ini sebenarnya apa dan bagaimana? Awalnya, kita tahu bahwa Bang Dedi Mizwar ingin menyajikan suatu tontonan sinetron yang ringan, punya bobot religi (moral), tidak menggurui, khas dengan bahasa sosial masyarakat, kadang apa adanya (tidak dibuat-buat). Sampai PPT sesi ke-3, warna idealisme itu masih kental. Tetapi semakin kesini-sini, semakin jauh dari harapan. Bahkan title “Para Pencari Tuhan” sendiri sudah tidak jelas apa maunya. Siapa yang mencari Tuhan? Apakah pencariannya sudah sampai? Mau kemana orang-orang yang mencari Tuhan itu? Serba tidak jelas. Singkat kata, mau dibawa kemana arah sinetron PPT itu? Apakah hanya untuk “kejar tayang Ramadhan” saja? Bang Dedi Mizwar pasti pusing kalau ditanya, mau Anda bawa kemana sinetron itu? Missi moral yang Anda usung apa dan bagaimana pencapaiannya?

[3]. Ini yang paling serius dan sangat ironis; setelah memasuki sesi ke-6 ini, ternyata tidak satu pun dari tokoh-tokoh dalam sinetron PPT yang bisa dijadikan teladan. Tidak satu pun. Bayangkan, sinetron ini telah kehilangan arah sedemikian rupa, sehingga seluruh tokoh-tokoh di dalamnya tidak memiliki karakter tetap dan positif yang layak dijadikan teladan. Sebagai perbandingan, dalam serial kartun Winni De Pooh. Meskipun ia kartun, tetapi karakter tokohnya sangat jelas dan kuat. Jadi para pemirsa kartun itu bisa mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh animalnya (kecuali Piglet yang mewakili karakter babi).

Dalam sinetron PPT, misalnya sosok Bang Jack (diperankan Dedi Mizwar). Dia ini selain memiliki kelebihan-kelebihan, juga merupakan sosok guru di mushalla yang oportunis, tidak tegas, berambisi menikahi ibu sahabatnya sendiri, seringkali tidak bisa menjadi penengah. Kemudian sosok Pak Ustadz Fery, dia punya kelemahan; berkarakter takut pada isteri, tidak memiliki pendirian tegas, seringkali tidak mampu mengendalikan jamaahnya, dan aspek keilmuwan agama-nya kurang. Secara ekonomis, Ustadz Fery mendapat income hanya dari hasil kebun; tapi kondisi rumahnya bagus, layak, dan kelihatan mapan. Suatu pemandangan yang ironis.

Begitu juga sosok Asrur, Pak Jalal, Azzam, Pak RW, Juki-Baron-Chelse, dan lainnya. Semuanya memiliki kelemahan-kelemahan mendasar yang membuatnya tidak bisa dijadikan teladan. Kalau hanya kelemahan dalam satu dua sikap, mungkin bisa dimaklumi; tapi kalau kelemahan karakter, bersikap lebay, plin plan, tidak teguh pendirian, hal itu justru jadi masalah.

Jujur, sebenarnya capek melihat kualitas karya-karya seperti ini. Bukan hanya dalam soal sinetron, tetapi juga dalam hal-hal lain. Kerap kali orang berpikir pendek: “Yang penting dapat duit, titik.” Dengan alasan komersialisasi murni itu, lalu kita abaikan hak-hak publik untuk mendapatkan kualitas terbaik. Kita sering berpikir pragmatis “Ah sudahlah, masyarakat kita kan bodoh-bodoh. Silakan saja deh ditipu sedalam-dalamnya!” Ya, jangan begitulah. Kita mesti memiliki sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama manusia, dalam hal ini masyarakat. Berikanlah yang terbaik untuk mereka; sehingga mereka pun akan menghargai karya kita; lalu Allah Ta’ala akan membalasi kesungguhan kita dengan nikmat-Nya.

Sebagai perbandingan. Produsen-produsen klas dunia, seperti Apple, Microsoft, Sony, Honda, Mercy, Samsung, Shell, Google, dan seterusnya; mereka selalu mengacu kepada prinsip memberikan kualitas terbaik. Dengan prinsip itu, produk-produk mereka laris-manis di tingkat global. Hampir tidak ada satu pun produk klas dunia yang kualitasnya jelek. Mengapa bisa demikian? Karena mereka berkeyakinan: kepuasan konsumen adalah garansi kelestarian bisnis kami!

Hargai konsumen-mu! Berikan yang terbaik yang bisa diberikan. Jika konsumen-mu puas, maka legalah hatimu, tenanglah tidurmu. Jika konsumen-mu kecewa, bersiap-siaplah untuk ditinggalkan!

Semoga catatan kecil ini bermanfaat, berarti, dan bisa menjadi inspirasi positif. Amin Allahumma amin.

AMW.

Iklan