Musdah dan Si Bento

Februari 19, 2010

Senyum Musdah untuk orang kafir & kekafiran.

Di kampung, kami mengenal sebuah istilah unik, bento. Bento ini merupakan ungkapan yang dipakai untuk menyebut seseorang yang bodoh parah, tetapi juga ngeyel. Tidak sadar dirinya bodoh, dan ingin memaksakan kebodohannya kepada orang-orang di sekitarnya. Dalam banyak hal, saya melihat “sindrom bento” ini telah menimpa Musdah Mulia, seorang mufti agama Liberal sekaligus guru besar UIN Jakarta.

Dalam diskusi bersama Dr. Adian Husaini di MetroTV tadi malam (18 Februari 2010), dengan presenter Indra Maulana, sangat tampak ciri-ciri kebentoan wanita satu ini. Dalam diskusi seputar “Kontroversi Nikah Sirri”, banyak pandangan-pandangan Musdah yang dibantah Ustadz Adian. Tetapi ya itu tadi, karena memang bento, maka dia tetap ngeyel dengan segala kesesatan pikirnya.

Disini kita akan bahas tentang beberapa bentuk KECURANGAN pemikiran yang dilontarkan oleh Musdah. Sepertinya, di mata Musdah dan kawan-kawan, menjadi “pelacur pemikiran” adalah sah-sah saja, sebagaimana mereka tidak keberatan ada manusia menjadi pelacur (WTS).

[A] Logika yang selalu diulang-ulang oleh Musdah adalah, pelarangan nikah Sirri (nikah agama) semata demi menjaga hak-hak kaum isteri dan anak-anak. Tetapi yakinlah, semua ini hanya omong kosong Musdah dan para sekutunya dalam kesesatan (dan keterkutukan). Mereka it omong kosong, berlagak menjadi pembela kaum isteri dan anak-anak. Padahal tujuan sejati mereka, adalah merusak moralitas masyarakat. Apa buktinya kalau mereka hanya omong kosong? Mudah sekali. Sekarang lihatlah apa yang dilakukan oleh Musdah dan kawan-kawan terhadap para ibu dan anak-anak di Indonesia. Jangan yang nikah Sirri, yang nikah baik-baik saja, yang nikah di KUA, dengan memperoleh buku akta nikah. Coba apa yang sudah dilakukan Musdah terhadap penderitaan kaum isteri dan anak-anak, dari pernikahan legal di KUA! Apa yang sudah dia lakukan? Nothing. Demi Allah, alasan membela kaum isteri dan anak-anak itu, hanyalah omong kosong belaka.

[B] Berkali-kali Musdah ditanya oleh Ustadz Adian tentang orang yang zina, kumpul kebo, melacur, tetapi tidak dipenjara, mengapa yang menikah baik-baik hendak dipenjara? Dan Musdah tidak bisa berkata apa-apa, selain memalingkan pembicaraan ke masalah-masalah lain. Saya menyarankan, kalau nanti benar-benar ada pelaku nikah agama yang dipenjarakan oleh negara, silakan para keluarganya menggugat Musdah dan kawan-kawan itu. Kalau tidak mampu menggugat, doakan Musdah Cs dan keluarga mereka, agar mereka dikutuk oleh Allah Ta’ala, karena telah melakukan sesuatu yang menyengsarakan kehidupan kaum Muslimin.

[C] Adalah sebuah kebohongan besar yang dilontarkan oleh Musdah -semoga Allah merusak kehidupannya dan menerlantarkan keluarganya- ketika dia mengatakan, bahwa UU yang melarang nikah Sirri (nikah agama) sangat dibutuhkan untuk melindungi hak-hak kaum isteri dan anak-anak. Dia beralasan, bahwa di seluruh dunia Islam ada pencatatan pernikahan. Ya memang, pencatatan nikah itu perlu untk tertib administrasi. Hal ini tidak dibantah. Tetapi memidanakan pelaku nikah agama adalah KEZHALIMAN besar terhadap kaum Muslimin. Mana di Dunia Islam yang memidanakan pelaku pernikahan agama? (Musdah hanya menyebutkan satu negara, Yordania). Sungguh, perlindungan terhadap nasib para isteri dan anak-anak itu tidak bisa hanya dengan buku nikah atau sertifikat KUA. Fakta sosial selama ini bicara, bahwa ada ratusan ribu atau jutaan kasus pelanggaran hak-hak isteri dan anak, terjadi pada rumah-tangga yang menikah baik-baik di KUA. Kartu nikah itu tak bisa mencegah manusia berbuat zhalim, jika memang moralitas pemegang kartu nikah itu buruk.

[D] Dampak terbesar dari dari UU yang memidanakan nikah Sirri adalah kehancuran moral masyarakat. Analisisnya sebagai berikut: (1) Tidak semua generasi muda dimudahkan untuk menikah di KUA, dengan segala piranti administrasi dan biayanya. Kalau mereka tak sanggup menikah secara resmi, kemungkinan mereka akan memilih seks bebas atau melacur. Ini sama saja dengan merusak moral mereka; (2) Kalau menikah secara sah sulit, kemungkinan banyak orang akan memilih kumpul kebo. Mereka berpikir, “Daripada menikah tetapi dipidanakan, sekalian saja tidak usah menikah, tapi kumpul kebo. Lebih enak, tidak dipidanakan;” (3) Dengan larangan nikah Sirri, pasti orang kesulitan melakukan poligami. Akibatnya, akan banyak perzinahan, selingkuh, isteri simpanan, dan lain-lain; (4) Bahaya yang sangat mengerikan, ketika masyarakat saling mengadukan pelaku nikah Sirri ke polisi. Ini bisa menyebabkan kekacauan kehidupan sosial yang besar. Dendam, permusuhan, konflik, pasti akan marak dimana-mana; (5) Jika nikah Sirri dilarang, maka yang akan bersorak-sorak gembira adalah industri seks, industri pelacuran, industri pornografi, industri homoseks, dan seterusnya. (Saya khawatir, Musdah memiliki salah satu industri itu, sebab dia pernah mengeluarkan fatwa yang membolehkan homoseks dan lesbian. Perlu dilakukan penyelidikan, untuk mengetahui apakah Musdah memiliki bisnis esek-esek).

[E] Sebuah pertanyaan besar perlu diajukan kepada siapa saja yang berniat memidanakan pelaku nikah Sirri (nikah agama) dan mendukung ide tersebut. Pertanyaan ini juga diajukan kepada Mahfudh MD, seorang mantan Ketua MK, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Ana Muawanah dari Fraksi PKB, dan semua orang sejenis. Pertanyaannya: “Apakah adanya buku nikah menjamin terpeliharanya hak-hak sosial isteri dan anak-anak?” Coba mereka jawab pertanyaan ini sejujur-jujurnya, tidak usah banyak omong. Atau dengan kalimat lain, “Apakah setiap rumah-tangga yang telah memiliki buku nikah KUA, hak-hak isteri dan anak-anak di dalamnya terjamin dengan baik, sebagaimana yang diinginkan oleh UU?” Coba Mahfudh MD, Ketua MK saat ini, ikut menjawab pertanyaan ini! Begitu pula, apakah keluarga yang tidak memiliki buku nikah terbukti secara mutlak zhalim kepada isteri dan anak-anaknya?

[F] Sungguh, ini adalah penghujatan besar kepada Syariat Islam. Orang-orang dungu seperti Musdah mulia dan kawan-kawan hendak memidanakan pelaku nikah agama. Padahal dalam Islam, hukum asal pernikahan itu tanpa pencatatan. Nabi Saw, para Shahabat Ra, para imam kaum Muslimin, dan seterusnya, mereka menikah secara Syariat dan tidak dilakukan pencatatan di KUA. Apakah dengan demikian, Musdah dan kawan-kawan, akan mengatakan, bahwa Nabi Saw dan para Shahabat Ra, layak dipidanakan? Allahu Akbar!

Dan terakhir, saya sangat terkesan ketika Musdah mengatakan, “Saya, sebagai seorang Muslim.” Ya Allah ya Rabbi, Musdah mengaku dirinya Muslim. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Mungkin KTP dia tertulis Islam, tetapi iman itu telah keluar dari hatinya. Dia memakai kerudung untuk menunjukkan dirinya Muslim, padahal segala perbuatan dan pemikirannya, telah mengingkari status keislamannya. Musdah Mulia, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Dawam Rahardjo, dan kawan-kawan; mereka semua ini bukan Muslim, sama sekali bukan Muslim. Mereka ini para penghujat Islam, sehingga statusnya bukan Muslim lagi.

Sebagai Muslim, kita dilarang untuk mengucapkan salam, menikahi atau menikahkan, mempercayai, menyalati mereka ketika mati. Sama sekali dilarang. Wong, orang-orang itu bukan Muslim kok. Hati-hati dari menyebut mereka sebagai Muslim, sebagai ulama, sebagai cendekiawan Muslim. Tidak, tidak sama sekali!

Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, serta menjaga agama ini dari penodaan orang-orang kafir yang memakai pakaian Islam. Semoga Allah menimpakan balasan yang 1000 kali lebih pedih kepada para penghujat Islam, setiap mereka melakukan hujatan. Allahumma amin ya Karim ya Aziz. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.

Iklan

Mengapa Mereka Menghujat Islam?

Februari 2, 2010

Setelah Abdurrahman Wahid meninggal, komunitas AKKBB membuat manuver-manuver. Mereka seperti panik karena baru kehilangan dedengkot kesesatan nomer wahid. Manuver paling baru AKKBB, mereka hendak menggugat UU penistaan agama yang sudah berlaku sejak tahun 1965. Kata mereka, UU itu bertentangan dengan Konstitusi, khususnya pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Mereka menuntut UU penistaan agama itu dicabut.

Di jaman ketika kondisi kehidupan masyarakat sedang sumpek (ruwet) seperti ini, adalah logis jika bangsa Indonesia menata kembali moralitasnya. Hal itu pula yang dilakukan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan membangkitkan semanagat religius rakyatnya. Di Rusia ada gelombang kegairahan baru di kalangan generasi muda disana untuk mendatangi gereja-gereja. Pemerintah Jerman pun telah memasukkan kurikulum pelajaran agama ke sekolah-sekolah umum di Jerman. Pelajaran agama Islam sedang dikaji untuk diberikan kepada putra-putri Muslim di Jerman. Eropa dalam dekade-dekade terakhir sudah menyadari pentingnya nilai-nilai agama untuk mengatasi krisis demografi yang sangat parah disana. Pangeran Charles di Inggris, pemuka agama, serta otoritas moneter Inggris, mereka bersikap simpatik terhadap nilai-nilai Syariat Islam. Bahkan Inggris ingin menjadi gerbang ekonomi Syariah terbesar di Eropa. Sementara Pemerintah Yahudi Israel sejak lama meyakini bahwa eksistensi negara mereka sangat bergantung kepada pengajaran nilai-nilai Yudaisme kepada generasi muda Israel.

Menata moral sangat dibutuhkan, agar bangsa ini selamat dalam menghadapi segala turbulensi (guncangan) kehidupan seperti saat ini. Maka itu di jaman Orde Baru dulu, Pemerintah Soeharto memasukkan prinsip “Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” sebagai prinsip pembangunan dalam GBHN. Ya bagaimana lagi cara kita akan bangkit, kalau tidak kembali ke dasar moralitas kita sebagai bangsa religius? Bangsa manapun yang mengalami keterpurukan, asti akan membangun moralnya, sebagai landasan membangun kebangkitan.

Namun dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, kita menyaksikan betapa derasnya arus penghujatan agama. Herannya, yang menjadi sasaran utama penghujatan ini adalah ISLAM. Agama-agama lain seolah selamat dari segala kasus penghujatan, hanya Islam yang menjadi sasaran utama. Lebih mengherankan lagi, yang menghujat Islam bukanlah orientalis, komunis, atau orang-orang non Muslim. Para penghujat Islam itu justru dari kalangan kyai, cendekiawan Muslim, tokoh ormas, dosen IAIN (UIN), guru besar perguruan tinggi Islam, mahasiswa IAIN, dan sejenisnya. Rupanya, para penghujat itu memerlukan simbol-simbol Islam sebagai KENDARAAN untuk menyerang Islam itu sendiri. Persis seperti Snouck Hurgronje.

Disini kita ambil beberapa contoh kasus penghujatan Islam, antara lain:

[o] Ulil Absar Abdala dengan tulisannya di Kompas, Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan. Tulisan ini jelas melecehkan ajaran-ajaran Islam.

[o] Ucapan Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Utan Kayu, “Menurut saya kitab suci yang paling porno adalah Al Qur’an. Ha ha ha..”

[o] Ucapan Dawam Rahardjo yang mendesak, jika Ummat Islam sulit diatur, agar Islam dilarang saja di Indonesia.

[o] Buku karya Sumanto Al Qurthubi, berjudul Lubang Hitam Agama.

[o] Karya tulis mahasiswa UIN Yogya, Menggugat Otentesitas Wahyu. Isinya sangat melecehkan kesucian Al Qur’an.

[o] Fatwa Musdah Mulia yang mengklaim bahwa Islam memperbolehkan homoseksual dan lesbian. (Maka itu Musdah bisa disebut sebagai “pakar homoseks dan lesbian”).

[o] Seruan pembubaran MUI dan Departemen Agama.

[o] Gerakan menentang UU Sisdiknas yang memasukkan materi keagamaan dalam pendidikan umum.

[o] Kampanye menentang legalisasi RUU Anti Pornografi-Pornoaksi yang sebenarnya ditujukan untuk melindungi moralitas masyarakat.

Bagaimana Ummat Islam di Indonesia akan hidup tenang dengan segala hujatan-hujaran seperti di atas? Semua itu sama saja dengan upaya menghancurkan sendi-sendi Islam dari dasar-dasarnya.

Anehnya, para penghujat itu tetap dikenal sebagai tokoh Islam, panutan Ummat, kyai haji, cendekiawan Muslim, aktivis Islam, dan sebagainya. Padahal pernyataan mereka –menurut hukum fiqih- mengandung konsekuensi kemurtadan. Tetapi media-media massa tidak peduli dengan semua itu. Media-media massa terus menjadi corong publikasi penghujatan-penghujatan tersebut. Kompas, Media Indonesia, Tempo, media-media TV, sering menjadi corong praktik penghujatan. Selain tentu saja media-media yang mereka kelola sendiri.

Sebuah pertanyaan mendasar: “Mengapa mereka bergerak secara sistematik menghujat Islam?”

Kalau mengikuti pernyataan-pernyataan di situs JIL, mereka melakukan gerakan LIBERALISASI (baca: menghancurkan konsep Islam dari dasar-dasarnya) dengan niatan antara lain: (1) Melawan pemahaman-pemahaman fundamentalis Islam yang merebak di masyarakat; (2) Mendukung kehidupan demokratis; (3) Mempertahankan Indonesia sebagai negara yang multi kultural/majemuk.

Tapi Anda jangan cepat percaya dengan omong kosong orang-orang JIL itu. Mereka hanyalah kaum pendusta, yang hidup meminum kedustaan, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Untuk membantah pernyataan-pernyataan JIL tersebut, disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, yaitu:

[a] JIL hanya menjadikan Islam fundamentalis sebagai sasaran, sementara mereka tidak pernah sama sekali bicara tentang Nashrani fundamentalis, Freemasonry fundamentalis, Zionis fundamentalis, Kapitalis fundamentalis, atau Liberal fundamentalis. Jadi yang dilawan JIL hanya Islam fundamentalis, sedangkan komunitas-komunitas fundamentalis lainnya tidak disentuh sama sekali.

[b] Jika memang JIL melawan Islam fundamentalis, mengapa sasaran mereka adalah dasar-dasar ajaran Islam itu sendiri? Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an perlu diedit lagi, atau hadits Nabi dianggap tidak relevan dengan jaman modern. Dengan hujatan seperti itu, semua pemeluk Islam, bukan hanya Islam fundamentalis, kena semua. Bahkan anak-anak kecil yang belajar IQRA’ juga kena hujatan itu.

[c] Kalau JIL dan kawan-kawan memang demokratis tulen, mengapa mereka menyerang pemahaman Ummat Islam? Bukankah demokrasi itu identik dengan menghargai pendapat orang lain? Apa artinya demokrasi, kalau sebagian orang diperbolehkan menghujat keyakinan sebagian yang lainnya? Sangat jelas sekali, agressi JIL dan kawan-kawan terhadap Islam, benar-benar bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

[d] JIL mengklaim sangat mendukung kehidupan multi kultural. Mereka membawa slogan “Bhineka Tunggal Ika” kemana-mana. Tetapi sikap JIL sangat memusuhi dasar-dasar pemahaman Islam. Ini jelas bukti kuat, bahwa mereka sangat tidak menghargai realitas multi kultural. Bahkan mereka terus memicu konflik di tengah-tengah masyarakat. Provokasi AKKBB dalam kejadian Insiden Monas 1 Juni 2008 adalah bukti besar, bahwa mereka menyuburkan konflik.

[e] Nah, ini fakta besar yang sulit dilupakan. Jika JIL sangat menghujat nilai-nilai Islam, maka perhatikanlah dengan sangat cermat, bahwa mereka TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENGHUJAT AGENDA NEO LIBERALISME di Indonesia. Orang-orang JIL itu kerjanya hanya menghujati konsep-konsep Islam, tetapi mereka tidak pernah menghujat usaha-usaha pengerukan kekayaan nasional oleh kekuatan-kekuatan asing dan pengusaha-pengusaha kapitalis.

Perlu dicatat dengan jelas, orang-orang JIL dan sejenisnya, mereka sama sekali tidak peduli dengan gelombang Neo-Liberalisme yang melanda Indonesia. Dalam Pemilu 2009 lalu, mereka mendukung pasangan SBY-Boediono. Padahal kalau mau jujur, masalah Neo Liberalisme ini adalah bahaya besar yang mengancam seluruh bangsa Indonesia. Mengapa JIL dan kawan-kawan malah menghujat Al Qur’an, menghujat Sunnah Nabi, menghujat hukum Islam, menghalalkan homseksual-lesbian, menghujat MUI, mendukung pornografi-pornoaksi, dan lain-lain?

Disini kita bisa menarik BENANG MERAH. Hujatan-hujatan JIL, AKKBB, Abdurrahman Wahid, Ulil Absar, Luthfi Syaukani, Musdah Mulia, dll. bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Itu sangat terkait dengan missi lain, yaitu KOLONIALISME BARU. Ketika Ummat Islam sedang sibuk menghadapi JIL dan kawan-kawan, pada saat yang sama, gelombang eksploitasi kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing dan kaum kapitalis berjalan intensif.

JIL menempati posisi menyibukkan kaum Muslimin, khususnya Islam fundamentalis, sementara gerakan eksploitasi ekonomi dimainkan dengan sangat kencang oleh perusahaan-perusahaan asing dan jaringan mereka. Sebagi upahnya, JIL dan kawan-kawan diberi bantuan dana oleh lembaga seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Libforall, dan kawan-kawan. Mereka mendapat upah sedikit dengan cara mengorbankan kehidupan masyarakat luas dan anak-cucunya.

Untuk ke depan, kita jangan berbasa-basi lagi menghadapi kawanan JIL ini. Mereka adalah sekeji-kejinya manusia, karena rela menjual bangsanya demi keuntungan sedikit. Mereka menjadi kanker mematikan di dalam tubuh Ummat Islam, untuk mematikan semangat militansi dalam menghadapi kolonialisme baru.

Tawarkan kepada JIL beberapa tantangan. Satu, ajak mereka berdebat terbuka, disaksikan oleh masyarakat umum. Dua, ajak mereka mubahalah, perang doa, agar Allah melaknati siapa yang terbukti berdusta. Tiga, ajak mereka berhenti dari segala pengkhianatan, atas nama Islam, atas nama semangat kebangsaan. Jika tidak mau berhenti, doakan mereka agar celaka, binasa, beserta keluarga dan anak-keturunannya. Empat, adukan hujatan-hujatan mereka terhadap Islam, kepada kepolisian. Jika menyangkut perdata, tuntut mereka setinggi-tingginya, agar binasa dalam kemiskinan. Lima, sadarkan masyarakat luas, bahwa siapapun yang merusak tatanan moral, mereka adalah agen-agen Neolib. Enam, lakukan upaya-upaya pembelaan yang memungkinkan, demi menjaga eksistensi Islam.

Semoga bermanfaat. Amin ya Karim.

AMW.