Surve LSN Tentang “Partai Islam”

Juni 28, 2012

Harusnya mereka jadi pembela, pahlawan, dan panutan. Tapi malah jadi badut-badutan…

Baru-baru ini Lembaga Surve Nasional (LSN) membuat surve tingkat elektabilitas “partai Islam” dan “tokoh partai Islam” selama bulan Juni 2012. Hasilnya negatif. Tingkat elektabilitas partai-partai itu rata-rata di bawah 5 %. Paling tinggi PKS sekitar 5 %. Partai-partai lain seperti PAN, PPP, dan PKB rata-rata nyungsep. Begitu juga tingkat elektabilitas tokoh-tokoh partai itu seperti Hidayat Wahid, Hatta Rajasa, Yusril Ihza, dan lainnya juga memprihatinkan.

Jika dibandingkan per pemilu, hasil pemilu terbaik bagi partai Islam ialah Pemilu 1955, mencapai sekitar 45 %. Pada era Reformasi, hasil terbaik sekitar 38 % pada tahun 2004. Tahun 2009 perolehan partai-partai itu turun menjadi sekitar 29 %. Pada Pemilu 2014 nanti diperkirakan suara partai itu akan turun lagi, menjadi sekitar 15 %. Untuk info lebih jauh, silakan cari di media-media cetak atau online; banyak yang membahasnya. Salah satu sumber berikut ini: Keterpilihan “Partai Islam” Rata-rata di Bawah 5 %.

KOMENTAR:

[1]. Hasil surve yang disebarkan LSN itu sangat menyesatkan. Bukan karena soal hasilnya yang kecil, bukan sama sekali. Tetapi klaim LSN bahwa partai seperti PKS, PPP, PAN, dan PKB sebagai partai Islam. Ini adalah kebohongan besar. Mana ada partai Islam di antara partai-partai itu? Rata-rata mereka adalah partai sekuler yang sedang menjalankan politik haram. Kaum Muslimin tidak boleh mendukung partai-partai seperti ini, sebab mereka sekuler, jauh dari Syariat Islam; bahkan ketakutan untuk memperjuangkan Syariat Islam. Tidak ada satu pun partai-partai itu yang merepresentasikan partai Islam. Sekedar sebagai pembanding, Masyumi di era Orde Lama adalah partai Islam, karena mereka memperjuangan Syariat Islam, bahkan Konstitusi Islami. Sementara pada hari ini tidak ada satu pun partai yang memperjuangkan Syariat Islam. Rata-rata uber-uberan kekuasaan, syahwat, dan harta doang.

[2]. Kalau partai-partai itu tingkat elektabilitasnya rendah, ya wajar. Wong mereka sering membohongi Ummat Islam dengan janji-janji segunung. Mereka tidak amanah dan layak disebut sebagai orang munafik. Mengapa? Karena Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menceritakan karakter orang munafik: Kalau berkata dusta, kalau berjanji ingkar, kalau diberi amanah khianat, kalau berdebat melampaui batas. Lha, ciri-ciri ini kan berhamburan di tengah partai-partai sekuler seperti PKS, PAN, PPP, dan PKB itu.

[3]. Politik yang berkembang di Indonesia saat ini, sekalipun dengan label “partai Islam”, pada dasarnya ialah politik badut-badutan. Orang-orang ini sering mencaplok agama, istilah dakwah, perjuangan Ummat, kepentingan kaum Muslimin, bahkan politik Islami. Namun pada dasarnya semua itu hanyalah penipuan belaka. Tidak ada yang lurus dari kerja-kerja politik manusia-manusia itu. Mereka telah menjadikan agama sebagai “alat mencari nafkah” melalui jalur politik. Politik badut-badutan seperti ini sangat mengundang murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka seharusnya melakukan Amar Makruf Nahyul Munkar; tetapi malah mengikuti jalan kaum yang dilaknat dari kalangan Bani Israil, Amar Munkar Nahyul Makruf.

Apa yang dilakukan LSN pada hakikatnya adalah sebuah KEBOHONGAN BESAR. Mereka bermaksud menutupi aspirasi kaum Muslimin yang menghendaki terbitnya partai Islam pro Syariat. Caranya dengan mengklaim, bahwa partai-partai itu adalah partai Islam. Dengan demikian, diharapkan, ke depan partai-partai sekuler berbaju Islam itu terus berperan di panggung demokrasi. Bahkan kalau perlu, terus ikut pemilu Ila Yaumil Qiyamah. Sehingga di tengah kita tidak pernah terbit kekuatan politik pro Syariat; cukuplah semuanya diwakili oleh badut-badut politik itu. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.

Iklan

Contoh Nyata Sikap Politisi Islami…

Oktober 12, 2010

Tulisan ini hanya meng-kopi artikel yang dimuat oleh http://www.hidayatullah.com. Ini hanya kopian saja. Saya biarkan apa-adanya, dari sononya. Tulisan asli sebagai berikut: Menag Akan Segera Bubarkan Ahmadiyyah? Oh ya, artikel ini dimuat 12 Oktober 2010, jam 10.34 WIB. Selamat membaca!

MENAG AKAN SEGERA BUBARKAN AHMADIYYAH?

Hidayatullah.com—Rencana Menteri Agama  (Menag) Suryadharma Ali yang akan membubarkan  aliran Ahmadiyah, kembali disampaikan. Pernyataan ini ia sampaikan saat melepas keberangkatan calon jamaah haji asal Medan, Senin malam.

“Awalnya saya berprinsip dua alternatif, membiarkan atau membubarkan. Kedua-duanya pasti beresiko. Namun setelah melalui anjuran MUI, PBNU dan Muhammadiyah, kelompok Ahmadiyah harus dibubarkan di Indonesia,” kata  Menteri Agama, tadi malam saat melepas jamaah Kloter 1 asal Labuhan Batu, Medan.

Hanya lebih kurang 1,5 jam melepas jamaah, Menag akhirnya  bergegas balik ke Jakarta untuk menghadiri wisuda anaknya.

Menurut Menag, dirinya bukan benci keberagaman beragama, namun keberadaan Ahmadiyah tidak dapat dipertahankan lagi, bahkan menimbulkan risiko lebih besar pada masa-masa akan datang.

Kata Menag, kelompok Ahmadiyah diakuinya menganut ajaran Islam, namun  paham yang mereka anut bertentangan dengan agama Islam, sehingga merusak akidah.

“Kalau itu terus dibiarkan akan menambah dosa di kalangan umat Islam dan menambah konflik kalangan umat yang penduduknya berjumlah lebih 90 persen beragama Islam. Makanya harus dibubarkan,” ujarnya.

Menag menegaskan, orang boleh berkata macam-macam, namun kenyataannya  Ahmadiyah itu tidak benar, banyak menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan umat.

Kebebasan Beragama

Pernyataan Menag ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya,  Suryadharma Ali menegaskan, jemaah Ahmadiyah harus membubarkan diri. Suryadharma beralasan, Ahmadiyah telah bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.

“Harusnya  Ahmadiyah segera dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan masalahnya  akan terus berkembang,” katanya  usai mengikuti  rapat gabungan di Gedung DPR, Senayan, Senin 30 Agustus 2010.

Selain itu, menurut Suryadharma Ali, dalam SKB dengan jelas dinyatakan, ajaran Ahmadiyah tak boleh disebarluaskan karena menyimpang dari Islam. Menurutnya, aliran Ahmadiyah menyebut,  al-Quran bukan kitab terakhir.

“Juga karena prinsip nabi Muhammad bukan Nabi terakhir, sangat bertentangan dengan agama Islam. Kalau itu yang dimaksud kebebasan beragama kebablasan namanya,” katanya.

Jika prinsip Ahmadiyah ini disebut kebebasan beragama, Suryadharma mempertanyakan, bagaimana dengan hak asasi umat lain yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir.

“Siapa yang melindungi hak asasi mereka. Karena dalam kebebasan itu harus ada prinsip menghormati kebebasan orang lain. Hak ini yang harus dilindungi ketika ada sekelompok orang yang mengatakan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir,” ujarnya. Mudah-mudahan gagasan Menag ini dapat segera dilaksanakan. [was/ti/hidayatullah.com].

Ini contoh sederhana sikap politisi Islami. Memang harus begitu, selalu bermuatan amar makruf nahi munkar. Bukan dijajah oleh konsep “maslahat dakwah”, lalu boleh menabrak apa saja dari bagian-bagian Syariat Islam ini.

Tentunya, kita tidak mengklaim seseorang telah bersikap lurus 100 % sesuai kaidah politik Islami. Tidak demikian. Tetapi kita mengapresiasi prestasi kebaikan-kebaikan yang nyata ada.

Dan ternyata, politisi-politisi Muslim produk lama, lebih banyak yang bersesuaian dengan Syariat Islam, daripada produk baru. Sangat disayangkan ya!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.