Ada Apa Setelah TRAGEDI GHAZA…

Januari 26, 2009

Setelah 3 pekan melakukan agressi sangat brutal, akhirnya Israel laknatullah kecapekan juga. Mereka khawatir tidak akan mampu berperang lebih lama, maka buru-buru menyatakan “genjatan senjata sepihak”. Tanpa diminta berhenti oleh para pejuang Palestina, mereka sudah berhenti sendiri.

Enak betul menjadi bangsa Israel. Dia boleh menyerang Palestina atau negara-negara tetangganya kapan saja. Boleh juga memakai cara-cara paling brutal sekalipun, seperti mengguyurkan bom fosfor membakar. Ibarat seorang petinju, Yahudi boleh menyerang musuhnya secara brutal, tanpa ampun; bukan hanya memukul, tetapi juga menendang, menggebuk dengan kursi, menyemprot serbuk merica, memukul dengan sabuk bermata logam, sampai menusuk musuhnya dengan pisau. Tetapi, giliran musuh Yahudi mau menyerang, wasit seketika menghentikan pertarungan. “Stop, stop, pertarungan dihentikan! Mari kita sama-sama istirahat!”

Sebagai perbandingan, ketika terjadi kerusuhan di Timor Timur pasca jejak-pendapat yang memenangkan kubu pro kemerdekaan, perwira-perwira TNI dituduh ikut terlibat dalam kerusuhan itu. Kasus ini selalu menghantui TNI sampai saat ini. Padahal korban yang jatuh sedikit atau skala kerusuhannya tidak besar-besar amat. Bandingkan dengan Yahudi laknatullah itu! Puluhan kali mereka melakukan kebrutalan-kebrutalan, seluruh dunia teriak-teriak mengecamnya, tetapi sampai saat ini dia tetap anteng-anteng saja. Pasca Tragedi Ghaza ini, besar kemungkinan Yahudi Israel akan lolos untuk kesekian kalinya.

Damai Sementara Saja

Sekitar 22 hari sejak 27 Desember 2008 lalu, kita setiap hari disuguhi berita-berita horor seputar kajahatan Yahudi laknatullah ‘alaihim. Kini situasi tenang kembali. Jatuh korban jiwa di kalangan masyarakat Palestina sekitar 1300 jiwa, korban luka lebih dari 5000 orang. Kerusakan fisik diperkirakan mencapai US$ 2 miliar (sekitar 20 triliun rupiah). Israel sudah menyatakan berhenti menyerang secara sepihak.

Tapi apalah artinya genjatan senjata, perdamaian, perundingan ini? Apa artinya semua itu? Toh, nanti seluruh dunia akan melihat seri kebrutalan Yahudi untuk kesekian kalinya. Sekarang saja mereka berhenti, tetapi sebentar lagi penyakit brutalnya akan kambuh lagi. Betapa tidak, kebrutalan demi kebrutalan Yahudi sudah terjadi sejak lama dan terus terulang sampai saat ini.

Andai Hamas memiliki kekuatan yang tangguh, lebih baik bgi mereka untuk meneruskan perlawanan. Sebab Israel tidak memiliki mentalitas untuk berperang dalam durasi lama. Mereka adalah spesialis teror terhadap warga sipil, tidak memiliki kemampuan untuk berperang secara berkesinambungan.

Namun karena kekuatan Hamas memang minim, tidak mengapa menyambut genjatan senjata sepihak bangsa laknatullah itu. Apa boleh buat? Itulah kesempatan terbaik yang saat ini ada.

Baca entri selengkapnya »

Iklan